
Seminggu ini Inggit benar-benar fokus mempersiapkan untuk sidang skripsi. Biru juga tak jarang menemani istrinya belajar, keduanya terlihat kompak sibuk di kursi belajar. Inggit
"Sayang, udah belajarnya, simpan energimu untuk besok, isirahatlah!" seru Biru seraya mengacak pucuk kepalanya.
"Cuma mengulas sedikit kok Mas, kamu istirahat gih, nanti aku nyusul," telapak tangannya membalas buaian lembut di dagunya.
Cup
Bibirnya mendarat mulus di kening Inggit, pria itu beringsut menjauh dari meja belajar. Mendahului merangkak ke ranjang.
"Aku tunggu di kasur, nggak bisa merem kalau kamu bukan gulingnya," ujar pria itu menjauh.
Inggit tersenyum, suaminya itu terlihat begitu manja kalau malam tiba. Seperti layaknya bayi yang tidak bisa jauh dari ibunya, sama dengan Biru yang akan menempel bak perangko pada amplop. Menjadikan istrinya sebagai guling hidupnya.
"Sayang, aku sudah ngantuk, kok nggak kelar-kelar," rengek pria itu menyeru dari atas kasur. Inggit masih menyiapkan untuk keperluan besok, barang apa saja yang akan digunakan untuk keperluan sidang.
"Bentar Mas, udah beres kok, tinggal bobok," jawabnya tanpa menoleh. Tangannya masih sibuk memasukan laptop ke dalam tas.
"Ya ampun ... tidur Mas, aku 'kan nggak ke mana-mana." Perempuan itu menggeleng heran.
"Nggak bisa merem, sebelum meluk sama nyium badan kamu," ujarnya menarik tangan istrinya supaya lebih mendekat.
Inggit membuai pria itu agar terlelap, pria itu akan memeluknya sepanjang malam. Wajahnya ia sembunyikan di bawah cerukan leher istrinya. Ajaib, Biru akan mudah terlelap setelah dijinakkan oleh pawangnya. Inggit benar-benar bagai pasang untuk Biru, pria yang dulu sempat menolak mentah-mentah dan membenci akut, kini telah berubah haluan menjadi begitu perhatian dan manis.
Pagi harinya saat perempuan itu terjaga, merasakan sesuatu yang berat itu bersarang di perutnya siapa lagi pelakunya, kalau bukan Biru, pria itu menjadikan perut Inggit sebagai bantalan. Rupanya pria itu mrmindah posisi kepalanya sesuai keinginan dan kenyamanan.
Inggit beringsut mundur, memiringkan tubuh dan dengan hati-hati menjauh untuk bangkit dari ranjang.
"Mas bangun!" perempuan itu menepuk lembut pipinya.
"Hmm ... sebentar lagi sayang," ujarnya bergumam pelan.
Inggit menggelitik punggungnya, perempuan itu akan bereaksi jika suaminya susah untuk dibangunkan.
"Ya udah, tidur aja terus sekalian nggak usah bangun, aku mau cari imam baru kalau kamu nggak mau jadi imam sholatku!" ancamnya merajuk.
"Jangan! Iya sayang ... aku bangun, aku melek, tunggu aku sebentar siap-siap dulu." Pria itu langsung bangkit dan bergegas ke kamar mandi.
Mengambil wudhu dan berganti pakaian dengan yang bersih. Inggit sudah menunggu dengan stylean muslimnya di atas sajadah. Dua rakaat mereka tunaikan bersama.
__ADS_1
Namanya pasangan muda itu, pasti inginnya bermanja-manja dengan pasangan. Bahkan akan terasa malas untuk beranjak dari kasur.
"Mau ke mana?" tanya pria itu menahan istrinya yang hendak beranjak.
"Bangunlah, bantuin mama siapin sarapan," jawabnya datar.
"Nggak usah, udah ada mbok, ngapain? Sini aja temenin aku bobok lagi."
"Mandi Mas, aku udah nggak ngantuk," jawabnya lalu.
"Kalau gitu, kegiatan yang lainnya saja." Biru mengerling.
"Hmm ... nanti ya, janji deh ... jangan pagi ini, aku 'kan mau sidang skripsi nanti nggak nyaman banget pagiku, paham 'kan?" Perempuan itu memelas.
"Iya sayang, iya ... Mas sabar kok, semangat! Aku mandi dulu deh kalau gitu."
Atasan putih, bawahan hitam sepatu dan perlengkapan lainnya. Semua sudah siap.
"Ya ampun ... berasa kaya karyawan kerja," gumamnya memperhatikan diri di depan pantulan cermin.
"Tetep cantik kok," jawab Biru memeluk dari belakang.
"Jangan rusuh Mas, nanti pakaian aku kusut," protes perempuan itu ketika Biru mulai mengendus tengkuknya.
Setiap hari sejoli itu akan sarapan dengan keromantisan terlebih dahulu sebelum sarapan yang sebenarnya di meja makan.
"Jangan sampai ada yang ketinggalan, pastikan semuannya aman!" seru Biru memperingatkan.
Inggit membuka tasnya kembali, laptop ready, hardcopy, fotocopy power point oke. Semua sudah aman di tas. Perempuan itu menggendong tas punggung itu dengan mantap.
Sebelum berangkat seperti biasa, sarapan bersama di meja makan. Tak lupa mertuanya memberi dukungan dan semangat untuk menantu kesayangan mereka.
"Berangkat dulu ya Ma," pamitnya seraya mengecup punggung tangannya dengan takzim.
"Good luck sayang, semangat! Semoga diberikan kelancaran." Mama menyemangati sebelum akhirnya Biru melajukan mobilnya.
"Tangan kamu mana?"
"Kenapa Mas," tanya Inggit bingung.
__ADS_1
Biru menengadah telapak tangannya, sedangkan Inggit menumpu di atasnya. Mereka bergandeng tangan di dalam mobil.
"Kamu sedang nyetir Mas," tegurnya khawatir.
"Tangan kananku yang nyetir sayang, bisa kok," jawabnya santai.
"Harus gini ya, aku 'kan nggak bakalan pergi."
"Huum, takut kamu lari setelah lulus nanti," jawabnya seraya membawa genggaman itu dalam dadanya. Biru sedikit menarik, spontan Inggit agak mendekat.
"Nggak lah, paling lari ke hatimu," jawabnya ngegombal.
"Jago ya sekarang, mantan play boy aja kalah sama yang ini."
"Kan ada suhu yang ngajarin, pinter banget lagi, setiap hari ngegombal dan ngebucin, semoga hati dan pikirannya sinkron, sehati dan klop, jangan sampai modus."
"Percayanya ditambah dong sayang, jangan seratus persen tetapi seribu persen, biar nggak nanggung."
"Tauklah ... kok gue nervous ya?" Mobil sudah sampai di parkiran kampus.
"Dibilangin genggam erat tanganku dan jangan sampai kamu lepaskan, aku bakalan bisikin mantra ketenangan."
"Jangan becanda Mas, sini tasnya biar aku yang bawa. Lepasin pegangan tangannya ini area kampus."
"Ah ... biarkan saja sayang, aku ingin membagi hal indah ini untuk mereka." Inggit akhir pasrah saja digandeng Biru sampai depan ruangan sidang.
Perempuan itu ada di urutan lima dari dua belas anak yang akan sidang skripsi hari ini.
Inggit masuk lima belas menit sebelum waktu dilaksanakan, sekali lagi memastikan semua aman. Laptop jelas, hardcopy, fotocopy power point oke. Inggit meneliti kembali.
TU Fakultas memeriksa kelengkapan berkas ujian terlebih dahulu baru kemudian membuka dan memimpin jalannya sidang. Di ruangan itu ada dua dosen penguji dan satu dosen pembimbing.
Setelah presentasi tanya jawab mengenai materi skripsi selama satu jam kini Inggit bisa keluar ruangan dengan lega dengan predikat Sarjana Ekonomi.
Biru menyambut istrinya di depan pintu keluar dengan senyum terkembang.
"Selamat sayang, kamu udah lulus." Pria itu memeluk haru, satu tangannya menyodorkan sebuah buket bunga yang teramat cantik.
"Makasih Mas." Inggit menyambut pelukan itu. Matanya berkaca-kaca karena haru.
__ADS_1
Sahabat-sahabat lainnya ikut menyambut. Ada Okta dan Ares di sana. Keduanya sudah lebih dulu sidang minggu kemarin. Mereka menyambut kelulusan Inggit dengan banyaknya buket jajanan.
"Thanks ... love you all ... atas semua support dan dukungannya," ucap Inggit terharu.