Diam-Diam Married

Diam-Diam Married
Part 68


__ADS_3

Ares menemukan Inggit di ruang lab komputer. Gadis itu tengah menangis sendiri. Hati Inggit semakin hancur melihat gambar dirinya ada di jejaring media. Apa yang harus ia jelaskan pada kedua orang tuanya, dirinya telah membuat aib untuk keluarganya. Rasanya terlalu sakit, dan sesak. Marah dan kecewa, siapapun orang yang telah berbuat dzolim padanya, Inggit tidak akan memaafkan dan menjadikannya mudah, itu terlalu sakit.


"Sepertinya kamu butuh bahu untuk bersandar, kemarilah, jangan merasa sendiri, karena aku percaya kamu orang baik, dan apapun yang terjadi padamu, rasa ini tetap sama. Jangan khawatir, aku akan membantumu menyelesaikan masalah ini," jelas Ares panjang lebar, hatinya sakit melihat Inggit begitu terpuruk.


Inggit yang sejatinya kalut, tiada tempat, arah dan tujuan memilih menepi ke ruang lab yang lebih dominan sepi ketimbang tempat lainnya. Ia butuh waktu untuk sendiri, menenangkan risalah hatinya yang berkecamuk luka. Gadis itu mendongak, melihat sosok tampan yang selalu menjadi pahlawan untuk dirinya. Ketika pria itu menawarkan bahu, Inggit secara refleks langsung menumpahkan tangisnya di sana, tanpa berkata apapun, hanya tangis yang keluar dari tubuhnya.


"Ares, kamu tidak merasa jijik denganku setelah foto itu menyebar, apa kamu juga berpikir aku wanita murahan seperti tuduhan mereka?"


"Sshhhtt ... aku percaya padamu, Inggit, jangan pernah berpikir semua laki-laki itu sama, aku akan berusaha membuat foto-foto itu lenyap dari dunia. Kamu tenangin diri kamu ya?"


"Bagaimana kalau pihak kampus tahu, apa aku bakalan di drop out?"


"Itu tidak akan pernah terjadi, kamu sebaiknya tenang dan jangan banyak pikiran, berhenti menangis, kemejaku basah olehmu, lagi-lagi kau mengotori kemejaku," selorohnya lembut, sengaja dibuat menggerutu untuk mengembalikan mood gadis itu.


"Sudah selesai nangisnya? Bahu ini cukup bermanfaat, jangan lupa cuciin kemejaku lagi, dan kemas yang rapi." Tangannya terulur mengusap puncak kepalanya. Ia yang sedari tadi menangkap bayangan sosok Biru di ruangan itu, berusaha menghibur gadis itu, sedikit mengurai pelukan yang sejatinya enggan ia lepaskan. Biar bagaimanapun, Ares sadar, mencintai istri orang itu sakit, karena tidak bisa memiliki. Bisakah dia menjadi egois dan ingin memilikinya, itu hanya akan terjadi kalau perempuan itu sendiri mau.

__ADS_1


Sementara Biru tak bisa berkata-kata, hatinya dirundung duka melihat Inggit menangis sesenggukan. Ingin sekali menarik gadis itu dan membawa ke dalam pelukannya. Tapi, sayangnya ia terlalu pengecut untuk melakukan itu. Ia hanya mampu melihatnya tanpa bisa mencegah, kekasih halalnya dalam pelukan orang lain itu sakit. Marah, tentu saja marah, cemburu jelas, tapi ia lagi-lagi hanya bisa diam, tanpa kata. Menunggu maaf, yang mungkin sulit ia dapatkan.


Ares menyadari kedatangan Biru yang mematung di ambang pintu, jujur ia merasa tak enak, namun tentu saja bersikap masa bodoh, Inggit butuh seseorang yang bisa membuatnya nyaman, dan itu tentu saja dirinya. Ares pikir, Biru akan marah, tapi nyatanya pria itu hanya terdiam seribu bahasa tanpa bisa menyela. Ya, anggap saja Ares memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, di mana ada peluang di situ ia masuk, tapi sesungguhnya dalam hati terdalam, ia lebih tidak ingin menyakiti, ingin memiliki tapi tidak menyakiti hati orang lain.


Suara deheman menginterupsi ruangan, Inggit yang tersadar di situ tidak hanya berdua pun langsung menoleh ke asal sumber suara. Ternyata itu suara Nathan, dengan Biru ada di antara mereka, hati yang sudah sedikit tenang kembali sesak melihat sosoknya. Benci, satu hal yang terlintas dipikiran gadis itu terhadap sosok yang ia anggap sebagai suami.


Punggung tangannya menghapus sisa air mata dengan kasar, Inggit mendekat, berusaha mengumpulkan kekuatan untuk berhadapan dengan orang yang paling Inggit benci saat ini.


"Inggit, aku minta maaf, sungguh itu bu---" Inggit mengangkat tangan kanannya ke atas, ia menyetop perkataan Biru dalam bentuk apapun, ia tidak terima maaf dari pria yang berkali-kali berbohong dan mengulang dengan kesalahan yang sama. Foto itu hanya Biru yang punya, dan Inggit jelas mengira Biru adalah pelakunya, yang berkedok insyaf.


"Aku tahu kamu benci sama aku, Al!" Biru menggeleng.


"Nggak, Nggit, itu tidak benar, aku sayang," ucap Biru pilu penuh nada lesu.


"Kamu! JAHAAT! Segitu bencinya kamu sama aku? Aku sadar diri, Al, aku bakalan pergi, tapi tidak begini caranya Al, kamu puas, pasti puas 'kan, menghancurkan hidupku, reputasiku! Puas, kamu Al, kamu berhasil membuat aku hancur, mulai sekarang aku akan dengan cepat mengabulkan permintaanmu. Kita pisah!"

__ADS_1


"Nggak, Inggit, jangan lakuin itu, aku mohon, jangan membuat keputusan yang aku sendiri tidak menginginkan itu." Biru berusaha meraih tangannya, namun Inggit menepis dengan kasar, ia melewati Biru begitu saja tanpa menghiraukan raungan maaf pria itu.


Inggit terus berlari, mengabaikan orang-orang yang mungkin memperhatikannya. Gadis itu langsung mengambil motornya di parkiran dan melesat pergi. Ketiga cowok yang menyaksikan adegan live di depan mereka, merasa ikut sedih. Nathan menepuk pundak Biru, menguatkan sahabatnya yang tengah dirundung pilu. Devan juga sama, mereka saling menguatkan. Hanya Ares yang melihat dari tempat yang lumayan berjarak, pria itu ikut prihatin. Walaupun ia mencintai Inggit, namun melihat kehancuran rumah tangga orang, jelas itu sakit.


"Kejar, Al! Kenapa diam, kamu lebih berhak atas dirinya, atau kamu ingin menyerah dan membiarkan aku masuk dengan mudah, aku cukup sportif untuk menjadi penikung!" ucap Ares seraya menepuk punggung atas pria itu. Biru menatap ragu, namun ia mengangguk, bergegas ia menyusul Inggit, berharap istrinya itu pulang ke rumah.


Sementara Ares, Nathan, dan Devan. Mereka melakukan briefing bersama, mencari tahu atas pelaku tindakan asusila pencemaran nama baik itu. Bila perlu, jalur hukum akan mereka tempuh untuk membuat keadilan, dan fitnah-fitnah itu jera.


Di sisi lain, Biru mengejar motor Inggit yang sudah melesat jauh, Ia begitu khawatir melihat Inggit membawa motor sendiri dalam keadaan kacau.


"Inggit, berhenti Inggit, jangan ngebut, bahaya!" teriak Biru lantang, berusaha menambah kecepatan laju motornya, untuk menghadang istrinya agar berhati-hati dan memelankan laju motornya. Pria itu tak lagi mengejar, takut Inggit malah semakin ngebut, Ia lebih memilih berbelok, tentu saja tak kehabisan akal, ia memutus jalan dan menghadang motor Inggit yang melintas berlainan arah.


Inggit langsung berhenti dan hendak berbelok begitu menyadari motor Biru menghadang dirinya. Gadis itu kalah gesit, sebab Biru langsung turun dari motor dan mencekal lengan gadis itu, mematikan deru mesin, dan mengambil kontak motornya.


"Rese' banget jadi orang! Gue bilang pergi! Gue benci lo Al, pergi!" Inggit mengamuk, sementara Biru terdiam dan sangat berusaha memeluk gadis itu agar tenang.

__ADS_1


Inggit mendorongnya dengan kasar, ia berlari menjauh.


"Inggit awas ....!!"


__ADS_2