Diam-Diam Married

Diam-Diam Married
Part 31


__ADS_3

"Nggak perlu!" seru Inggit dan Biru kompak. Hilda dan Nathan menatap bingung. Terang saja Inggit menolak bareng Nathan, gadis itu sudah ada janji berangkat dengan pria lain.


"Cie ... barengan," ledek Devan. Inggit dan Biru tidak menanggapi.


"Ayo beb jalan, sekalian buat nanti sore," ajak Hilda semangat.


"Nanti sore gue jemput aja, habis ini mau pulang dulu," ujar Biru memberi tahu.


"Jangan telat ya beb," pintanya manja. Mereka masih berbincang asyik di gazebo kampus.


"Sorry gaes, gue duluan ya?" pamit Inggit hendak meninggalkan lokasi.


"Eh, Nggit tungguin, bareng aja pulangnya," seru Hilda mengekor.


"Lo beneran nggak mau di jemput?" tawar Nathan menyakinkan sekali lagi.


"Nggak Than, makasih, nanti ketemuan aja di sana," ucap Inggit kalem. Meninggalkan lokasi menyisakan trio bossy.


"Kalau nggak mau jangan maksa dong, Than." Biru yang menjawab.


"Nimbyung aja lo, gue lagi usaha bego ... " ujar pria itu ngegas.


"Sans dong, ajak yang lainnya aja napa sih, nggak harus Inggit 'kan?" usul Biru.


"Kok lo ngatur tentang asmara gue, emang lo mau gue suruh putus sama Hilda, nggak mau 'kan?" ujarnya sedikit meninggikan suaranya.


"Kok jadi gue, lo lah. Inggit tuh nggak jelas, lo ngerasa nggak sih dia cuma mainin perasaan lo doang, kalau dia respect sama lo, kenapa dia juga deketin Ares, apa coba kalau bukan cewek gampangan," jelas Biru provokator.


"Ares kayaknya juga suka, nambah satu lagi saingan gue," gerutu Nathan kesal. Ia tidak menyadari saingan dia yang paling berat ya suaminya.


"Apa bagusnya sih buat rebutan, kaya nggak ada cewek lain aja," celetuknya jengah.


"Nggak ada Biru, nggak ada, lo kalau benci jangan provokator dong, ingat! Jangan terlalu benci, awas aja kalau lo ujung-ujungnya naksir."


"Nggak bakalan, gue udah punya cewek."


"Beneran ya, sumpah demi apa kalau lo sampai naksir Inggit."

__ADS_1


"Nggak mungkin, dia itu bukan tipe gue," jawabnya percaya diri.


"Kalau lo beneran naksir? Apa jaminannya?"


"Gue bakalan traktir lo berdua di kantin sebulan," jawab Biru yakin.


"Beneran lho ya, Devan saksinya. Iya kan, Van? Diingat-ingat Van, kalau bocah ini sampai naksir Inggit, kita bakalan kenyang selama sebulan makan gratisan."


"Woho ... gue udah save di memori," kata Devan berbinar.


Sementara trio bossy masih beradu mulut sengit, Inggit dan Hilda menuju rumah sakit. Hilda menjenguk Romo yang tengah di rawat.


"Siang Tante," salam Hilda sopan, menyalami Ibuknya Inggit.


"Siang, temannya Inggit ya? Terima kasih sudah datang."


"Iya, Tante, semoga Om cepat sembuh ya, bisa beraktifitas lagi seperti sedia kala," doa Hilda tulus.


"Terima kasih nak, Hilda," ucap Bu Tami.


Usai menjenguk ayahnya Inggit, Hilda pamit dari sana. Inggit pun mengantar sahabatnya untuk pulang. Tetiba di Koridor rumah sakit, Hilda melihat Biru yang tengah berjalan gontai. Belum menyadari keberadaan Hilda, Biru terus melaju dengan tenang.


"Apa Da?" tanya Inggit bingung.


"Itu Biru 'kan? Katanya tadi mau pulang, kok berkeliaran di rumah sakit, mau ngapain?" Arah pandang Inggit mengikuti Hilda, benar saja Biru tengah berjalan mengarah ke arah mereka.


"Owh ... iya, mungkin mau jenguk saudara yang sakit," ucap Inggit spontan.


"Oh ... kira-kira sudara Biru yang sakit siapa? Jangan-jangan orang tuanya, gue ikut jenguk aja kali ya?" ujar Hilda bersiap menyapa Biru.


Inggit dan Hilda yang diam di tempat, serta Biru yang terkesiap tiba-tiba diam berdiri dengan jarak yang tak begitu jauh. Mata mereka saling bersirobok, menatap satu sama lain. Inggit yang diam, cukup tenang menghadapi situasi yang ada.


"Biru, lo ngapain di sini? Mau jenguk saudara?" tanya Hilda.


"E ... gue ... iya, jenguk saudara," jawab Biru mengiyakan.


"Kebetulan sekali gue udah di sini, gue ikut jenguk saudara lo ya?" pintarnya.

__ADS_1


"E ... itu Da, saudara gue sedang sakit keras dan sepertinya belum bisa ditemui, iya," jawab Biru gusar. Pria itu melirik istrinya yang bermuka cuek tanpa mau tahu urusan pria itu.


"Kalau gitu hati-hati ya, Da, gue masuk dulu, udah ditungguin Ibuk," pamit Inggit berlalu. Biru jelas kesal, Inggit bukannya membantu berkilah malah mangkir dan seolah tak mau tahu.


Awas lo Nggit!


Biru melirik punggung Inggit sengit.


"Kamu nggak pulang? Kok masih pakai pakaian yang tadi?"


"Belum lah, ini mau pulang, anterin ya?" pinta gadis itu manja.


"Tapi gue ... " Biru bingung sendiri.


"Kenapa, katanya saudaranya belum bisa di jenguk, ya berarti pulang dong," ajak Hilda.


"Iya, ya udah ayo." Akhirnya Biru mengantar Hilda pulang ke kost.


"Turun dulu ayo ... gue buatin minuman kesukaan lo," ujar Hilda menarik lengan Biru.


"Gue langsung pulang aja Da, nanti gue jemput lagi, mau siap-siap 'kan?" kilahnya mencari alasan.


"Ikh ... bentar doang beb, nggak kangen apa sama gue," ujarnya bergelayut manja, tangan nakalnya bergerak lincah.


"Ayo Al, main dulu," rengek Hilda. Biru akhirnya mampir. Pria itu duduk dengan tenang seraya memainkan ponselnya, Hilda tengah mengambil minuman untuknya.


Hilda datang dan langsung bergelayut manja di pangkuan Biru, pria itu bergeming. Entah mengapa kadar napsu terhadap kekasihnya itu menurun, dulu ia akan sangat senang jika Hilda meminta main di kost. Tapi sekarang, entah mengapa hatinya tidak tenang, ada pikiran yang bercabang dan memintanya jangan.


"Beb, kok lo diem aja sih, ayo gue udah seksi gini," pintanya mencubit wajah Biru dengan gemas. Hilda memainkan perannya, perempuan itu mulai mencumbu Biru dengan liar. Sedikit Biru menikmati, membiarkan Hilda mencumbu bagian lehernya. Pria itu baru sedikit terjingkat dan langsung menahan tangan Hilda yang bergerak membuka kancing kemejanya.


"Kenapa sih!" bentaknya gusar.


"Sorry Da, gue sedang capek, lain kali saja ya, lo juga udah harus siap-siap kan katanya mau jalan," ujar Biru tenang. Berusaha menolak sesuatu yang harusnya ia jaga. Belakangan ia merasa tidak nyaman dengan kebiasaan lamanya.


Hilda gondok sendiri, langsung berdiri dari pangkuan Biru dan melesat ke kamar mandi dengan kesal. Perempuan itu pikir, Biru pasti sudah bermain di luar karena ia sudah tidak berhasrat padanya.


Sementara Biru semakin bingung dengan dirinya. Ia nggak tahu apa yang terjadi dengan tubuhnya saat ini, tapi yang jelas, ia kehilangan gairahnya saat bersama Hilda. Alih-alih menunggu Hilda selesai membersihkan diri, pria itu justru ingin segera pulang ke rumah. Ia juga mengirimkan pesan untuk Hilda kalau nanti sore ketemu di tempat biasa saja.

__ADS_1


Biru pulang dengan pikiran yang masih samar. Berusaha mencerna kejadian yang baru saja menimpa dirinya. Saat ia sampai di rumah, ia menemukan Inggit tengah bersolek di depan cermin. Nada ancaman yang sempat terlontar di rumah sakit menghilang begitu saja, seperti tersihir, pria itu menatap Inggit begitu lama dari balik punggungnya.


"Astaghfirullah ... Biru! Lo ngagetin aja sih!" Inggit terjingkat kaget mendapati Biru yang tiba-tiba muncul di belakang punggungnya.


__ADS_2