Diam-Diam Married

Diam-Diam Married
Part 34


__ADS_3

Mata Biru menyorot tajam tangan mereka yang saling bertautan. Bahkan, Inggit sama sekali tidak melihat dirinya sedikitpun perempuan itu berlalu dengan muka ceria.


"Al, ayo masuk, kok diem aja?" Hilda bingung sendiri melihat kekasihnya yang tiba-tiba bengong dengan muka masam.


"Lo kenapa sih, nggak semangat nonton, jemput terlambat sampai nyuruh Nathan, dan sekarang nggak semangat gini. Lo tuh kenapa Biru? Kalau nggak minat ya nggak usah pergi, bikin bete aja."


"Iya, sorry Da, gue sedikit nggak enak badan. Ini gue sempetin buat ke luar demi lo, udah nggak usah ngomel lagi, ayo masuk," ajaknya dengan hati gusar.


Mereka sudah masuk ke gedung bioskop dan duduk sesuai nomor kursi masing-masing. Film yang mereka tonton bergenre horor romantis. Film yang kurang disukai Inggit sebenarnya, karena ia penakut, namun kendati demikian, gadis itu merasa penasaran.


Mereka duduk berderet, namun tidak berdekatan. Posisi sejajar, antara Biru, Hilda, Inggit, dan Ares. Semua mulai menikmati tayangan film yang tengah diputar. Tapi, tidak dengan Biru, bahkan laki-laki berstatus suami Inggit itu nampak gusar gundah gulana. Sebab, posisi duduk Inggit yang terus berdekatan dengan Ares. Entah mengapa, itu mendadak menjadi pemandangan yang paling menyebalkan.


Sepanjang film berlangsung, Biru sama sekali tidak fokus. Ia malah sibuk sendiri dengan pikiran dan hatinya, yang mulai galau dengan apa yang dirasakannya.


"Nggit, kalau nggak kuat nggak usah dilihat," ucap Ares perhatian.


"Iya sih, takut tapi penasaran. Aku ke toilet bentar ya?" pamitnya pada Ares yang masih fokus menenteng cemilan, sesekali memasukkan ke mulutnya.


"Butuh diantar?" Pria itu merasa khawatir.


"Nggak usah, berani kok," jawab Inggit yakin.


Hal yang sama juga dilakukan Biru, melihat pergerakan Inggit pria itu mengekori istrinya. Ares yang melihat itupun ikut berdiri dan menyusul Inggit ke belakang. Ia merasa kurang nyaman dengan gelagat Biru yang sedari tadi mengawasi Inggit dari tempat duduknya.


"Ngapain lo? Ngikutin gue?" sinis Biru menyorot Ares.


"Mengantisipasi siapa tahu lo mau ngerjain Inggit, gue nggak bakalan ngebiarin lo nyakitin dia," jawabnya santai.


"Ck," Biru tersenyum miring. "Asal lo tahu, lo nggak bakalan bisa bersatu dengan Inggit, sekeras apa lo berusaha, lo nggak akan bakalan bisa," ucap Biru yakin.


"Jangan terlalu percaya diri, Al. Gue sama sekali tidak keberatan dengan status Inggit nantinya, yang gue tahu diantara kita berdua, ada cinta yang siap berjuang," jelas Ares. Biru tertawa sinis.

__ADS_1


"Lo memperjuangkan orang yang salah bung, Inggit tidak akan pernah bisa ke luar dari apa yang telah mengikatnya."


"Kita lihat saja nanti, kepada siapa cinta akan memilih."


Fiks sejak malam ini, Ares dan juga Biru menabuh genderang perang.


Kedua pria yang tengah berdebat itu, langsung terdiam begitu mendapati Inggit ke luar dari toilet.


"Kalian ngapain di sini? Kok pada di depan toilet wanita?"


"Nungguin kamu lah, siapa tahu kamu takut, 'kan filmnya serem," jawabnya jujur.


Sementara Biru bergeming, menyorot istrinya tajam, seakan ingin menelan hidup-hidup.


"Inggit!" seru Biru menghentikan langkah mereka berdua. "Gue mau ngomong," tukas pria itu.


"Apa?" Biru mendadak kelu mau mengutarakan protes terhadap istrinya. Inggit jelas tidak akan mendengar, terlebih selama ini pria itu juga berlaku kurang mengenakan sudah pasti gadis itu tidak mau mendengar.


"Owh ... lihat nanti," jawab Inggit lalu.


Inggit kembali merampungkan menonton film, sementara Biru memilih menunggu di luar, dan ke luar dari gedung tersebut. Hilda terus mengomel karena Biru mengajak pulang sebelum film itu selesai.


"Gue udah bilang lagi kurang fit, kalau lo mau nerusin nonton silahkan, gue mau pulang dulu," ujar Biru pamit.


"Lo nggak asyik banget sih Al, baru juga datang udah main pulang aja, sana lah pulang duluan, gue mau tetep lanjutin," jawab Hilda cuek.


Belakangan ini hubungan mereka benar-benar menjadi dingin, dan Hilda sudah merasakan itu. Hilda sebenarnya kesal, tetapi melepas Biru, sama saja akan menyetop transferan bulanan uang jajannya. Tentu Hilda merasa sayang.


"Al, tunggu, gue temenin lo deh, gimana kalau kita jalan saja, sepertinya nonton kurang membuatmu suka, anterin gue belanja ya? Please ... " Biru mengiyakan ajakan Hilda.


"Yes!" pekik Hilda girang, bergelayut di lengan Biru sepanjang perjalanan.

__ADS_1


Alih-alih tersamarkan, Biru mendadak gusar membayangkan Inggit dan Ares yang hanya berdua di bioskop tanpa pengawasannya. Pria itu membayangkan apa saja yang kemungkinan terjadi, dan itu membuat hatinya semakin kesal.


"Da, belanjanya lain kali saja ya, nanti gue transfer, hari ini gue benar-benar lelah dan butuh istirahat," keluh Biru yang merasa tidak nyaman.


Hilda akhirnya mengiyakan, Biru terlihat tidak tenang dan banyak pikiran. Perempuan itu pun berpisah dengan Biru menggunakan taksi yang mengantar Hilda terlebih dahulu ke kost, baru membawa pria itu pulang.


Biru menghubungi ponsel Inggit berkali-kali, berharap gadis itu cepat ke luar dan memutuskan pulang juga. Namun, jangankan mendapatkan jawaban Inggit bahkan tidak mengangkat telfon dari Biru, perempuan itu sengaja mengabaikan panggilan itu. Karena bingung, Biru akhirnya ke rumah sakit dan mendrama di sana.


"Nak Biru, datang sendirian? Inggit mana?" tanya Bu Tami.


"Biru kira Inggit di rumah sakit, berkali-kali Biru telfon tidak di angkat Buk, Biru pikir sedang berada di sini mana aku sedikit pusing," keluh pria itu berakting.


"Biar Ibuk yang menghubungi Inggit, Nak, seharusnya dia sudah pulang," jawab Bu Tami seraya mendial kontak anaknya.


Terlihat panggilan dari Bu Tami langsung tersambung, dan menyuruh Inggit untuk pulang. Atau ke rumah sakit terlebih dahulu. Inggit yang baru saja ke luar dari gedung bioskop rencana mau menghabiskan waktu dengan makan malam terlebih dahulu. Namun, karena Ibunya yang memerintah, gadis itu langsung menurut untuk pulang diantar Ares.


Kejadian itu diketahui Bu Tami yang memergoki mereka berdua di halaman rumah sakit. Jelas, Bu Tami menyorot Inggit tidak ramah. Anak perempuannya sudah menikah dan sekarang pulang-pulang diantar cowok lain, sementara Biru sendiri ada di rumah sakit.


"Maaf Bu, Inggit baru saja keluar sebentar," sesalnya. Ares yang melihat tatapan tak suka dari Ibunya Inggit mengangguk dengan sopan dan langsung pamit.


"Kamu seperti wanita tidak tahu aturan, suamimu sedang sakit, kamu malah kelayapan dengan pria lain," tuduh Bu Tami langsung memarahi anaknya.


Inggit jelas bingung, ia baru saja bertemu dengan Biru dan laki-laki itu masih biasa-biasa saja, kenapa sekarang laporan sakit. Sebenarnya apa rencana Biru?


"Sekarang Biru di mana Bu?" tanyanya penasaran.


"Ada di ruangan Romo, lagi ngobrol," ucap Ibu. Berjalan menuju ruang rawat.


Inggit jelas kesal, ini pasti ulah suami rese'nya itu. Dirinya bahkan sangat yakin, pria berstatus suaminya itu baik-baik saja.


"Inggit, kamu dari mana? Aku cemas menelfonmu?" tanya Biru begitu istrinya menyembul di balik pintu.

__ADS_1


Inggit menatap tajam pria yang tengah berakting manis padanya.


__ADS_2