
"Berhenti berkelahi, sebaiknya kita mencari Inggit sekarang, dan bagaimana caranya melenyapkan foto-foto itu dari jejaring media."
"Tapi dia keterlaluan, Res, gue nggak terima!" seru Nathan masih dikuasai emosi, Devan sampai mencekal tubuh pria itu agar tidak menerjang sahabatnya.
"Gue tahu semua marah, tapi emosi lo tidak akan menyelesaikan masalah kalau tidak segera bergerak." Keempat pria itu hanya saling terdiam, sibuk memikirkan langkah selanjutnya lebih tepatnya.
"Sekarang kita berpencar, gue bakalan cek ke kontrol room dan lo semua ke sisi kampus, gue yakin Inggit masih ada di sekitar kampus mengingat motor dia masih di parkiran."
Mereka berpencar, Biru terlihat sangat kacau, Nathan Bingung, hanya Devan dan Ares yang sedikit lebih tenang. Kabar tersebut pun sampailah ketelinga Dekan, sudah pasti kasus tersebut menjadi sorotan, apalagi terjadi di lingkungan kampus, secara tidak langsung ikut menyeret deperteman kampus itu sendiri.
Inggit dikenal mahasiswa aktif yang cerdas, ia juga mempunyai jalur mahasiswa berprestasi untuk jenjang pasca sarjana. Namun, karena kasus ini, sudah pasti perempuan itu dalam masalah.
"Pah, tolong Pah, izinkan Ares ke control room untuk mengetahui keberadaan Inggit, Pah, dan tolong jangan ambil tindakan sebelum semua terungkap," mohon Ares menghadap Ayahnya langsung.
"Ares, kampus itu punya wewenang dan aturan, kenapa kamu begitu khawatir dan cemas, kampus akan menindak tegas untuk siapapun yang melanggar sanksi, tidak memandang bulu, siapapun itu."
"Pah, aku yakin Inggit nggak salah, dia pasti dijebak dan difitnah, pokoknya Papa harus usut dulu baru memberi sanksi."
"Kamu terlihat begitu peduli, tumben sekali kamu peka dengan lingkungan sekitar, apa kamu mencintai Inggit?" tanya Pak Darren penuh selidik.
"Dia baik Pah, pinter, cerdas, dan ... cantik, semua pria juga pasti kagum dan jatuh hati padanya," jawab Ares tenang.
"Sudah jelas ada di depan mata, tetep saja buta, memang suka dan cinta itu beda tipis."
"Tapi ... Inggit itu sudah menikah Pah, dan yang ada di dalam foto itu adalah suaminya."
"Kamu mencintai istri orang?"
"Ya," jawab Ares mantap. "Tapi bukan itu yang Ares maksud, Ares hanya ingin Papa menegakkan keadilan di kampus ini."
"Sudah Papah duga," jawab Darren ambigu.
"Hah, duga apa?"
__ADS_1
"Silahkan bantu anak itu, kalau kamu bisa membuktikan Inggit tidak bersalah, Papa pasti akan membebaskan dari sanksi apapun, dan kampus akan membantu mengembalikan nama baiknya. Tapi, hanya sekedar membantu, Papa tidak merestui kamu mencintai istri orang," imbuh pria itu.
Ares terdiam, terlepas kedepannya bagaimana, pikir nanti saja, yang penting hari ini bisa menemukan Inggit dalam keadaan baik-baik saja. Ares langsung menuju control room untuk melihat detail kejadian. Sementara Biru mengunjungi tempat-tempat yang sering dikunjungi gadis itu semasa di kampus. Devan dan Nathan sambil berjalan masih nampak sibuk mencopoti gambar yang tersisa.
"Apa sudah ada info di mana Inggit berada, siapa yang menempel gambar-gambar itu, sudah pasti ada kaitannya sama yang ada di sosmed?" tanya Biru menghubungi Ares.
"Tidak jelas orangnya, dia memakai hoddi dan penutup kepala, melakukan itu di pagi buta, sebelum aktivitas kampus dimulai, tapi gue yakin, doi anak kampus sini juga."
"Terus, Inggit di mana?" Jeda, untuk beberapa detik Ares tidak menanggapi.
"Ares, tolong, katakan sesuatu, gue ingin menemuinya."
"Biar gue saja, sepertinya untuk saat ini, Inggit sedang tidak ingin bertemu denganmu."
"Ares!"
Tuth
Panggilan ditutup sepihak, Biru mengumpat kesal, sebaik apapun rival tetaplah rival, ia sekarang menjadi paham, Ares begitu peduli karena jelas, ia menginginkan istrinya.
"Arkh ... kenapa foto itu bisa bocor, setahuku sudah aku simpan di tempat tersembunyi." Biru mulai memutar memorinya, kapan dirinya mengotak atik laptop, seingat pria itu, ia ingin menghapus tapi menjadi lupa sebab tertimbun banyaknya tugas dan pikiran yang melanda.
Satu kesalahan terbesar dalam hidupnya adalah, membuat orang yang ia cintai hancur, kalau sudah begini bagaimana dengan nasib pernikahannya, rumah tangganya. Inggit tidak murka saja, Biru sudah bersyukur, tapi bagaimana kalau gadis itu mengira dirinya yang menyebar foto tersebut.
"Al, gimana? Ada kabar dari Ares?" tanya Nathan penuh pengharapan.
"Ambigu, orangnya belum jelas."
"Sepertinya kita harus menyewa pakar IT untuk menyusut kasus ini, biar bagaimanapun ini sangat merugikan pihak Inggit."
"Ya, gue setuju," jawab Biru cepat.
"Sejak kapan lo dekat dengan Inggit, sejauh mana hubungan kalian, apakah kamu berniat meninggalkannya seperti meninggalkan perempuan yang habis kamu pakai?" Berondong Nathan bertubi, ingin mendengar klarifikasi langsung dari orangnya.
__ADS_1
"Gue sudah menikah, dan istri yang gue maksud itu adalah Inggit!" jawab Biru mantap.
"Apa?!" koor Nathan dan Devan senada.
"Lo nggak sedang ngeles untuk mangkir dari kasus ini 'kan? Gue nggak percaya!" sangkal Nathan penuh curiga.
"Sumpah demi apapun yang ada di dunia ini, gue udah nikah dengan Inggit dan foto itu memang benar foto kami berdua, itu cuma untuk dokumentasi pribadi, dan entah bagaimana caranya itu foto bisa menyebar."
"Ya Tuhan ... Biru, lo beneran udah nikah? Jadi selama ini lo diam-diam married dan menyembunyikan semua ini dari kita, buat apa Biru! Apa karena kamu tidak mencintainya?"
"Awalnya begitu, kami dijodohkan oleh orang tua kami, dan lo tahu sendiri gue sedang menjalin hubungan sama Hilda, tapi semakin ke sini gue semakin paham dan nyaman dengan hidup gue setelah dekat dengan Inggit, dan gue memutuskan memilih mempertahankan hubungan ini dengan sangat yakin mengakhiri hubungan dengan Hilda."
"Sialan! Lo! Dasar Kartoyo be de bah!" Nathan meninju lengan atas Biru dengan kesal.
"Kok lo mukul, sakit Than!" Biru yang tadinya mellow mendadak kembali kesal.
"Mau gue beri lagi, gue lebih sakit, parah lo si, nikungnya kejem amat nggak tanggung-tanggung, Inggit ... huhuhu." Nathan mendrama.
"Lebay! Kaya cewek cuma satu aja, pantang berebut sebelum janur kuning melengkung, ingat semboyan rese kita, itu artinya trio bussy cukup konyol."
"Itu artinya kita boleh nikung istri orang," jawab Nathan berbinar.
Bugh
Giliran Biru yang menabok kepala Nathan, "Tidak berlaku untuk gue dan Inggit, awas aja kalau lo nekat, mati di tangan gue!" ancam Biru sungguh-sungguh.
"Serem amad Kartoyo, ngeri bad, btw Ares mana sih kok nggak nongol, katanya ngasih kabar." Nathan bersungut-sungut.
"Iya nih, nggak jelas banget," timpal Devan
"Gue harus samperin Inggit, gue tahu dia di mana?" Biru baru menyadari satu hal. Pria itu lekas berlari, mengunjungi ruangan di mana gadis itu sering menghabiskan waktu senggangnya di kampus.
Hatinya langsung hancur tak berbentuk, melihat seseorang yang paling ia khawatirkan dan ia sayangi tengah menangis sesenggukan di bahu laki-laki lain.
__ADS_1
Sakit! Tuhan ... ini terlalu sakit