Diam-Diam Married

Diam-Diam Married
Part 56


__ADS_3

"Hah! Maksudnya?" cicit Inggit beringsut. Biru sedikit membungkuk dengan kedua tangan kanan dan kirinya bertumpu pada meja belajar, mengurung Inggit posesif. Inggit membuang muka saat wajah pria itu bergerak semakin dekat.


"Tatap mata aku, Nggit," ucap pria itu lirih, namun terdengar cukup tegas.


"Nggak mau, kamu serem," jawabnya sedikit grogi. Sumpah demi apapun, ditatap dalam jarak beberapa centi pasti rasanya bercampur nggak karuan.


Ya ampun ... jantung gue, please ...


Biru menangkup dagu gadis itu dan mengarahkan wajahnya, agar netra mereka bertemu.


"Katakan, apa kamu mencintai Ares?" tanya Biru dengan sedikit penekanan. Inggit benar-benar gugup.


"Nggak tahu," jawabnya sedikit takut-takut.


"Nggak tahu ya?" ucap Biru dengan seringai manis yang menghiasi pipi. Sepertinya pria itu tengah mati-matian mengelola emosinya dengan baik.


"Kamu tahu, seorang pria bahkan bisa sangat menikmati aktivitasnya walapun tidak ada cinta ataupun perasaan, tapi aku tidak mau ngelakuin itu dengan mu, karena aku menganggap kamu beda, lebih, dan .... " Biru menatap lekat gadisnya.


"Istimewa," sambung pria itu dalam hati. Beringsut menjauh dan lagi-lagi meninggalkan Inggit begitu saja. Tak lupa dentuman keras pintu kamar menghiasi aksi protes pria itu.


"Astaghfirullah ... tuh orang kenapa sih, semakin hari semakin nggak jelas!" gumamnya pelan, mengelus dada dramatis.


Biru memilih pergi dari rumah sejenak, mencari angin segar, pikirannya sedang kacau, ditambah suasana rumah yang tidak bersahabat membuat pria itu serasa mau pecah. Ia melajukan motornya dengan kecepatan rata-rata, apartement Devan adalah tempat pelariannya.


"Kusut amat muka lo, jelek tauk," seloroh Devan menilik sahabatnya. Biru bergeming, mengabaikan Devan begitu saja. Tak berselang lama Nathan juga datang.


"Wih ... tumben Kartoyo awal," sapa Nathan sinis. Lagi-lagi pria itu hanya diam, tak menanggapi bayolan kedua sahabatnya.


Merasa ada hal yang beda dengan si player insyaf, Nathan dan Devan bertukar pandang, saling menyimpulkan terus manggut-manggut. Keduanya menatap serius sahabatnya yang bermuka masam.


"Lo kenapa Al, sepertinya galau berat, sudahlah Al, jangan banyak bersedih, biarin saja Hilda dengan yang lain, 'kan lo yang mutusin, kenapa jadi elo yang galau?" Devan pikir Biru tengah meratapi putus cinta, tapi nyatanya ada yang lebih genting, soal Hilda ia malah mungkin sudah lupa.


"Gue tahu alasan lo mutusin Hilda, dia jalan sama om-om, 'kan? Lebih milih pria dewasa ketimbang lo. Tapi bentar-bentar, ketawain orang lagi sedih dosa nggak sih? Masalahnya gue cuma mau bilang, player diselingkuhin lucu. Hahaha!" Nathan berseru jahat, tidak ada niat membuat pria itu terpuruk, tapi lebih ingin menyentil hatinya, agar pikiran pria itu terbuka.


Biru sedikit heran atas pengakuan sahabatnya itu, sebelumnya Inggit juga pernah berkata begitu, apa memang selama ini Hilda berselingkuh? Terus, kenapa Inggit tidak menjelaskan apapun kalau ia tahu banyak tentang sahabatnya itu, apa maksudnya?


"Kondisikan tuh muka, nggak usah heran gitu, jadi kemarin gue jalan ke mall sama cewek gue, dan tidak sengaja gue lihat tuh cewek sama om-om, tapi gue cuma merhatiin, nggak penting juga mau ngasih tahu ke elo, lo bilang 'kan udah putus, gue juga sempet ambil beberapa gambar, ada di ponsel cewek gue. Seketika gue mikir, buaya di kadalin. Gak gak gak!!" Devan tergelak-gelak.

__ADS_1


"Tertawa aja terus, ketawain. Tertawalah sebelum ketawa itu dilarang!" ucap Biru kesal. Devan dan Nathan berseru puas.


"Lho ya pasti itu, lo pikir hidup sekali cuma mau nurutin emosi dan ambisi. Bahagia itu penting bro ... jadi, pertahankan dan perjuangkanlah apa-apa yang pantas dan layak untuk di perjuangin, dan lepaskanlah bila itu tidak menumbuhkan manfaat dihidupmu," nasihat Devan bijak.


"Sok ustadz lo, kaya dirinya udah nerapin aja," cibir Nathan mendrama.


"La iya, ini prinsip hidup." Devan terus mengoceh yang selalu mendapat tanggepan Nathan.


"Kalian berdua bisa diam nggak sih, gue lapar!" bentak Biru kesal. Bangkit berdiri, kakinya terayun mendekati kulkas.


"Hmm, enak nih ... " Biru bergumam senang ketika mendapati puding segar beraroma coklat terdampar di lemari pendingin itu.


"Jangan disentuh!" suara Devan memperingatkan.


"Hish ... pelit amat sih, cuma puding juga."


"Heh, Kartoyo! Sekate-kate kalo ngomong, ini puding cinta, dibuat dengan kelembutan dan kasih sayang, disirami lelehan madu asmara."


"Ngomong apa sih nggak jelas, bagi dikit."


"Nggak, nggak boleh, lebih baik gue kasih elo duit, terus lo beli di luar, puding ini hanya gue yang boleh makan."


"Dasar, bucin!"


"Biarin, gue sumpahin lo juga bakalan ngerasain bucin sama cewek yang nolak elo. Biar tambah sengsara. Hahaha, jahat 'kan emang gue," seloroh Devan.


"Aamiin .... " Nathan menimpali.


"Nggak ada akhak lo berdua, gue lagi ngencengin ikat pinggang, biar bisa terus hidup dengan dana pas-pasan," ucapnya sedih.


"Hah, maksudnya, jangan bilang bokap lo bangkrut, terus lo jatuh miskin gitu ... sampe mau makan aja susah," duga Nathan serius.


"Amit-amit, tapi lebih miris sih, nelangsa banget nih gue, sepertinya karma sedikit-sedikit mulai menyambangi hidup gue," keluhnya mendramatisir.


"Hadeh ... have fun lah, ngapain sih mikirin mantan, move on bro ...! Move on .... "


"Siapa yang mikirin mantan sih, ex threw in place!" jawabnya yakin.

__ADS_1


"Terus?" Devan memicingkan matanya.


"Gue lagi dihukum sama bokap, semua fasilitas gue diambil kecuali motor, itupun gue ngemis dulu sama bokap. Tapi ada yang lebih lara, cewek yang gue suka, dia mencintai orang lain, dan itu sakit."


"Jadi, lo udah move on tapi tengah berkabung karena lo di tolak sama cewek lo sekarang, begitu Al?" perjelas Nathan.


"Bisa dibilang begitu sih."


"Serem juga bokap lo, kalau gue mungkin nggak kuat dan bakalan nangis guling-guling sama mami," ucap Nathan lebay.


"Gue butuh pekerjaan, tolong dong infokan akses kerja part time apa aja, yang penting halal."


"Gimana kalau lo ngisi job kafe, suara vokal dan permainan gitar lo 'kan bagus, nanti gue coba hubungi saudara gue, masih cari orang nggak. Eh, ngomong-ngomong have fun yuk ... mlipir ajep-ajep. Nongkrong doang cuci mata," usul Nathan. Devan dan Biru bertemu tatap.


"Traktir!" seru keduanya kompak.


"Kuy lah, gas!" Biru yang merasa boring dan butuh hiburan tentu mengiyakan. Mereka bangkit dan menuju tempat hiburan langganan mereka.


Biru dan kedua sahabatnya mengambil duduk, mereka mulai menikmati alunan musik yang berdentum. Devan dan Nathan memesan minuman beralkohol rendah, sementara Biru memilih minuman bersoda untuk mengganti kering di tenggorokannya. Ia sedikit demi sedikit mulai enggan menyentuh minuman setan itu.


"Wih ... seksi bat," celetuk Nathan berbinar.


"Mana-mana?" Devan ikut menimpali.


"Njir ... Hilda?"


"Bukan lah, itu si montok berbaju marun."


"Nggak salah sih, mantannya Kartoyo, gila, beda lagi gandengannya, tuh cewek liar banget."


Biru yang awalnya tidak tertarik melirik juga, dan benar saja mantan kekasihnya itu sedang menikmati hidup. Seketika ia merasa begitu risih melihatnya.


"Lo nggak pa-pa 'kan, Al?" tanyanya memastikan, mengingat sahabatnya itu pernah menjalin hubungan dekat.


"Aman, gue udah nggak ada perasaan apapun, jadi terserah deh mau dia ngapain aja, gue nggak peduli."


Cukup malam ketiga pria itu pulang. Biru memasuki halaman rumahnya, mematikan mesin motor dan berjalan pelan membuka pintu dengan kunci cadangan yang ia bawa. Saat memasuki rumah, menemukan istrinya sudah terlelap di sofa, dengan TV masih menyala dan buku tugas berserakan. Sepertinya gadis itu ketiduran.

__ADS_1


Biru meraih remot TV dan menekan tombol off. Kemudian ia berjongkok, mengamati gadis yang sudah menyambangi mimpi itu dengan perasaan entah, membenahi selimutnya dan meninggalkan jejak sayang di pucuk kepalanya. Terasa begitu damai, menemukan dia yang anteng, manis dan imut. Suasana hatinya menghangat seketika menatap wajah lelap istrinya. Ia mengemas modul dan buku tugas yang berserakan di meja. Setelahnya memindah istrinya berbaring di kamar agar tidurnya nyaman.


__ADS_2