
Biru nampak kesal dan gusar dalam duduk, menatap nyalang dua manusia yang tengah saling dekat satu sama lain. Bagaimana bisa, Inggit bahkan tidak menjaga jarak sedikitpun pada laki-laki lain, ia mendesah kecewa. Kakinya hampir terayun dan berniat menghampiri mereka, dadanya semakin sesak melihat perlakuan manis Ares.
Sial, apa yang harus gue lakukan. Manusia macam apa gue selama ini?
Biru urungkan niatnya, kepergiannya ke Jogja bahkan tanpa sepengetahuan Inggit. Laki-laki itu tidak mau Inggit tahu dan malah semakin membencinya. Nyatanya kehadirannya cukup membuat serpihan luka tanpa disengaja. Biru terngiang-ngiang saat istrinya menangis tempo lalu. Inggit bahkan meminta dirinya untuk tidak ikut campur ranah privasinya seperti Inggit membebaskannya pada Hilda, kenapa sekarang begitu sakit? Haruskah ia tetap membiarkan kekacauan rumah tangganya tetap seperti ini. Atau keras kepala memperjuangkan dengan paksa, bagaimana kalau Inggit terlanjur membencinya dan menolak itu? Seandainya Ares lah orang yang tepat yang mampu membuat gadis itu bahagia, apakah Biru harus mengikhlaskan?
Biru bermuka muram, hatinya panas, tapi ia seperti penonton yang tak mampu berbuat banyak, terus memperhatikan istrinya dari kejauhan. Nathan memarkirkan mobilnya di tempat parkir, sengaja ingin berjalan kaki saja menyusuri Malioboro.
"Dari pada lihatin mereka gue panas, kita lebih baik cari sensasi lain," hibur Nathan lebih kepada diri sendiri. Ia tidak pernah menyangka Biru lebih panas dari dirinya.
"Lo jalan duluan deh, gue mau ngadem di mobil sebentar," elak Biru datar. Mereka berpencar di Jalan Malioboro. Suasana kota Jogja semakin malam semakin ramai. Nathan dan Devan entah pergi ke mana, Biru masih betah bersender di badan mobil seraya meneguk minuman kaleng. Diam-diam ia masih memperhatikan Inggit yang masih asyik bercengkrama duduk di sebuah bangku santai pinggir jalanan.
Setelah menghabiskan dua minuman kaleng kemasan. Biru akhirnya memberanikan diri memergoki mereka yang tengah tertawa tanpa perasaan.
"Inggit, sebenci apapun lo ke gue, lo nggak berhak terlalu dekat dengan pria lain. Pernahkah lo berpikir apa yang lo lakukan bisa membuat hati orang lain terluka?" ucap Biru dengan lantang. Ia langsung menarik tangan Inggit agar menjauh dari Ares. Inggit terkesiap di tempat, tetapi sedetik kemudian gadis itu menepis dengan kasar tangannya yang saling bertautan.
"Jangan mengganggunya!" seru Ares lantang. Membuat Biru murka dan tanpa pikir panjang langsung berbalik mencengkram kaus pria itu.
"Lo yang pengganggu, dasar benalu rumah tangga orang. Berhenti mendekati istri gue!" bentaknya kesal. Mendaratkan satu pukulan ke wajah Ares.
Ares yang merasa tidak salah pun berbalik menyerang Biru dengan pukulan yang sama. "Lo yang pergi dan sadar diri, istri hanya dalam khayalanan lo saja, nyatanya lo tidak pernah menganggapnya sebagai istri!" murka Ares lantang. Tangan Biru mengepal sempurna, ia melayangkan tinju begitu saja.
Bugh!
__ADS_1
"Adoh ...!" seseorang di dekatnya nampak meringis menahan sakit dan kesal.
"Lo kesurupan ya? Sakit be*go!" bentaknya kesal. Biru terhenyak sesaat, ia menatap sahabatnya yang mendesis marah sambil memegangi pipinya.
"Eits ... sorry, sorry gue ngelamun tadi, gue kira bukan elo, tapi .... "
Biru benar-benar tidak sadar, lamunannya reflek mengakibatkan luka ringan di sudut bibir Devan. Saking fokusnya menahan kesal dan rasa muak yang membuat pria itu berfantasi menyerang Ares yang ternyata khayalannya saja. Ia menatap dari jauh, Inggit dan Ares sudah tidak ada di bangku sana. Ke mana perginya? Bukannya memperhatikan Devan yang mengomel, pria itu malah sibuk mencari-cari sosok istrinya yang tak nampak lagi dari jangkauan matanya.
'Ah sial! Ke mana mereka pergi!' batinnya kesal. Matanya nyalang menyapu ke sepenjuru jalan, Inggit benar-benar sudah menghilang. Kejadian tadi benar-benar cuma khayalannya saja. Tangannya mengepal sempurna seiring amarah yang menyesak di depan dada. Jangankan melarang, menegur saja Biru tak berdaya. Bukan karena takut, tapi lebih ingin menjaga perasaannya. Ia semakin merasa bersalah sejak tahu kejadian malam itu, di mana Inggit tidak pulang, dan dirinya hampir membuat istrinya celaka.
"Lo kenapa sih, kalau terlalu kalut mendingan lo balik ke penginapan. Lo marah sama siapa? Kenapa bisa mukul Devan sampai nggak sadar!" bentak Nathan kesal.
"Sumpah gue nggak sengaja, gue tadi refleks aja meninju tangan gue. Gue pikir samping gue tak ada orang mengingat gue berdiri sendiri," sesalnya.
Sesampainya di kamar, Devan mengobati lukanya sendiri. Sudut bibirnya pecah, rupanya pukulan Biru lumayan kencang.
"Sorry Dev, gue benar-benar melamun tadi," sesal Biru meminta maaf.
"Gue butuh penjelasan, lo seperti orang yang kesurupan, aneh." Devan menyorot kesal. Mereka mengistirahatkan tubuhnya di atas kasur. Namun, tidak untuk Biru, pikirannya melang-lang jauh entah ke mana.
Deringan telepon memekik, memecah keheningan di ruangan yang cukup longgar itu. Biru menatap layar ponselnya, nama Mama tertera di sana. Dengan tenang pria itu menerima panggilan dari Mamanya.
"Iya Ma?"
__ADS_1
"Hallo sayang, apa perjalanan kamu menyenangkan, di mana Inggit nak, Mama pengen ngomong?"
Mati gue
"Emm ... dia ... sedang istirahat Ma, sepertinya dia sudah tidur karena capek seharian." Biru mendrama, terdengar nada ******* napas kecil di ujung telpon, mungkin Mama merasa kecewa.
"Kasihan Inggit, ya sudah lah istirahat saja, besok saja ngobrolnya." Mama mengakhiri panggilan dengan menitip salam manis untuk menantu kesayangannya itu.
Dapat salam Nggit, dari Mama
Biru bergumam-gumam pelan, memindai matanya dari satu foto ke foto yang lain di layar ponselnya. Hingga pria itu tertidur, dan terbangun saat matahari sudah meninggi.
***
Hari terakhir peserta field trip di Jogja. Mereka menghabiskan di hari ketiga dengan mengunjungi tempat-tempat wisata. Dalam field trip tahun ini kunjungan tidak hanya di lokasi UMKM saja, namun juga peserta mengunjungi tempat-tempat wisata yang juga di jadikan objek pengamatan yang terkait dengan kegiatan bisnis dan kewirausahaan.
Siang ini, mereka terlebih dulu mengunjungi candi Borobudur. Candi bersejarah yang menjadi salah satu tujuh keajaiban di dunia. Seperti hari sebelumnya, Biru mengikuti kegiatan Inggit dan rombongannya. Bersama dengan Nathan dan Devan, mereka seperti layaknya orang berlibur yang berkunjung ke sana.
Semua sibuk sendiri menikmati keindahan candi yang besar, nan menakjubkan itu. Kebanyakan dari mereka mengabadikannya dengan mengambil gambar di sana. Biru terlihat sibuk mengambil gambar istrinya dari kejauhan. Pria itu masih setia mengamati. Bahkan hingga di tempat kunjungan selanjutnya. Parang Tritis sebuah pantai nan indah yang menutup perjalanan mereka di sana. Semua peserta nampak antusias bermain di sekitaran pantai. Lagi-lagi, hatinya mencelos saat Inggit terlalu dekat dengan Ares. Pria itu hanya mengawasi dari kejauhan sesekali menguatkan hatinya dengan bermain bersama Nathan dan Devan. Biru cukupkan hanya mengawasi saja, memastikan Inggit bahagia dan baik-baik saja.
Sore hari Biru dan dua sahabatnya memutuskan untuk pulang. Ia harus sampai di rumah lebih dulu sebelum Inggit sampai. Tepat pukul satu dini hari, Inggit sampai di rumah sederhana mereka. Sebelum sempat gadis itu mengetuk pintu. Biru nampak sudah menyambutnya. Ia mendengar sayup-sayup deru mesin mobil memasuki pekarangan rumahnya. Lagi-lagi Ares mengantar istrinya sampai rumah. Bus yang membawa mereka pulang hanya sampai di depan kampus. Ia sudah berharap Inggit meminta bantuannya untuk menjemput, tapi sepertinya itu tidak mungkin. Benar saja, Ares selalu ada untuknya.
"Baru pulang?" tanya Biru basa-basi.
__ADS_1
"Kamu kenapa belum tidur?"