
Malam itu suasana makan malam cukup hening. Hanya dentingan suara sendok dan piring yang terdengar.
"Cat,Kay."panggil Malvin memulai membuka suara.
"Besok pagi kalian akan mulai bersekolah ditempat yang baru."
Kayla dan Catty menegakkan kepalanya, melihat searah pada Daddy Malvin.
"Catty sudah tak ada homeschooling lagi dan Kay, akan pindah ke sekolah internasional yang baru. Daddy sudah mengurusnya. Dan besuk kalian bisa berangkat bersama."
"Tapi...."lirih kay.
"Kenapa Daddy seenakknya begitu?"protes Caty memotong.
"Karena kamu harus belajar secara normal. Punya teman dan bersosialisasi."
"Aku sudah melakukannya di panti."
"Tidak ada bantahan! Daddy selesai denganmu!" ucap Malvin beralih menatap kearah Kay.
"Dan Kayla. Ayahmu mungkin akan mencarimu disekolah. karena itu demi keamananmu, Daddy memindahkanmu ke sekolah yang sama dengan Catty. Daddy Mal harap kamu bisa mengerti. Heemm?"
"Daddy?"Ucap Catty sangsi.
"Mulai sekarang Kay panggil Daddy. Heemm?"
"Kenapa Daddy selalu seenaknya begitu?"protes Catty.
"Keputusan Daddy sudah mutlak. Tidak ada bantahan dari kalian. Dan mulai sekarang kamu panggil Aunty Embun. Mommy."
Catty melirik Embun, yang sepertinya tidak memberikan reaksi apapun. lalu Catty beralih melirik Kay. Temannya itu memilih makan dalam diam. Lalu menyelesaikan makan malamnya dan beranjak dari dudukny.
"Aku sudah selesai makan. terima kasih makan malamnya. Aku akan masuk kekamar." ucap gadis itu berlalu kekamarnya.
Catty menghela nafasnya.
"Dengar Dad. Aku tidak suka ini. suasana yang tidak menyenangkan ini. Catty masih belum memaafkan Daddy, jadi Catty tidak akan memanggil Daddy sampai Kay juga memanggil Daddy."ucap Catty sambil menjulurkan lidahnya membuat Malvin tertawa jengkel.
Catty beranjak dari duduknya.
"Tapi, Catty akan memanggil Mommy Embun. Cat sudah selesai makan, Caaty mau tidur."
Catty berjalan meninggalkan ruang makan dengan muka merajuknya, tentu saja itu ditujukan pada Daddynya.
"Anak itu semkin lama semakin susah diatur. Seharusnya memang dia tak pegang ponsel."gerutu Malvin."Dia terlalu cepat dewasa."
"kenapa mengambil keputusan sepihak?"ucap Embun pelan.
"kenapa? kamu juga mau protes?"beralih menatap Embun.
"Mm.. tidak."balas Embun lesu.
"Oo.iya kamu sudah mulai perawatan?"
"sudah. Kennan yang mengaturnya. aku hanya mengikuti saja."
"Apa rencanamu besok?"
"Pagi hanya kesalon yang ditunjuk Kenan."
"Bagus. besok pagi datanglah kekantor setelah kamu pulang dari sana."
"Tidak apa-apakah? Terakhir kali aku kesana tidak mengenakkan."ucap Embun agak ragu.
"Telpon aku begitu sampai di lobi."
Disisi lain,
Caty yang berdiri di depan pintu kamar Kay, mengetuk.
"Kay. Catty masuk ya."
Pintu dibuka, Catty berjalan masuk kekamar, disana Kay sedang belajar.
"Ada apa Cat?"Kay menoleh.
"Kamu sedang apa?"Catty berjalan mendekat.
"Belajar."
__ADS_1
"Hmmm.. kamu sering belajar. Kamu pasti sering rangking satu."
Kay tersenyum. "Ada apa?"
Catty mengambil kursi dan duduk tak jauh dari Kay.
"Apa kamu tak keberatan dengan keputusan Daddy?"Tanya Catty ragu-ragu.
"Keputusan yang mana?"
"Pindah sekolah."
"Tidak. Mungkin disana aku akan mendapat teman baru, lagi pula kita satu sekolah. Tidak akan sulit."
"Heemmmm... begitu."Catty manggut-manggut.
"Apa kamu keberatan?"Kay balik bertanya.
"Tidak. Dari dulu Catty memang ingin satu sekolah dengan Kay. Tapi Daddy tidak mengijinkan."
Kay tertawa kecil. "Sekarang kita akan satu sekolah Cat."
"Kay. Apa kamu tidak suka memanggil Daddy Mal dengan sebutan Daddy?"
Kay terdiam sejenak.
"Aku hanya belum terbiasa."
______
Keesokan paginya, Embun berdiri didepan gedung CRD corp. Dengan menatap ragu pada pintu kaca didepannya.
Embun mengambil hp-nya perlahan memencet tombol dan menempelkannya ditelinga.
"Aku sudah didepan."
"Masuklah. Ken ada dilobi."
Embun menutup telponnya. Dengan memantapkan diri Embun melangkah memasuki gedung. Memang benar. Ada Kennan di lobi sedang berbincang dengan FO girl disana.
Embun berjalan mendekat sebelum Ken berbalik dan tersenyum ramah padanya. Pria itu menunduk hormat padanya. membuat Embun merasa canggung.
"Aaaa... terima kasih." Embun mnggaruk pipinya yang tidak gatal dengan jari telunjuknya.
Ken beralih bicara dengan FO girl. Gadis itu terlihat terkejut melihat Embun. dia adalah gadis yang sama yang dulu meneriakinya penyusup.
"Dia adalah istri Tuan Malvin. Bersikap ramahlah padanya, jika dia datang lagi kemari."ucap Ken dengan nada tegas.
"Baik Tuan Kenan." gadis itu menunduk lalu beralih menatap Embun.
"Maafkan atas kejadian sebelumnya. saya tidak tau."
Embun jadi merasa canggung.
"Tak apa. Kamu hanya menjalankan tugasmu dengan baik."senyum
"Ayo. saya antar anda keruangan Tuan Malvin." Ken melangkah lebih dulu.
Embun tersenyum sekilas pada FO girl itu lalu mengikuti langkah Ken.
"Tuan Ken?"
"Iya Nyonya? Anda tak perlu memanggil saya Tuan. Panggil saya Kennan."ucap Ken."Saya sudah mengatakannya berkali-kali. Panggil Ken saja"
"Maaf aku lupa ken." balas Embun, "kenapa menyebutku istrinya? Kami bahkan belum menikah."
"Sebentar lagi kalian menikah. Apa bedanya?"
"Tentu saja berbeda. aku masih seorang janda sekarang."
"baiklah. maafkan saya." tak ingin berdebat.
Begitu sampai di ruangan Malvin. Embun dipersilahkan duduk disofa tamu. Tak lama Salah seorang sekertaris wanita masuk dengan secangkir teh dan kue. Meletakkannya dimeja dan mempersilahkan Embun untuk menikmatinya. Wanita itu sedikit menatap aneh padanya. Namun Embun tak hiraukan.
"Tunggulah disini. Tuan Malvin akan segara kembali. Jika butuh apapun katakan saja padanya. Dia akan sedia membantumu."Ucap Ken menunjuk sekertari wanita itu.
"nama saya Mayra. salam kenal" ucap wanita itu memperkenalkan diri.
Ken nyuruhnya kembali ke mejanya, dan dia sendiri pamit karena masih ada pekerjaan yang lain.
__ADS_1
Embun menunggu diruangan itu. sendiri. Dia memandang berkeliling ruangan yang didominasi warna hitam dan putih itu membuat tempat itu terlihat manly dan elegan. Embun tersenyum,menutup matanya dan menghirup aroma lavender yang memenuhi ruangan.
Rasanya seperti berada diladang lavender saja. batin Embun.
Tak lama Malvin masuk.
"maaf. Aku sedikit lama."
mengambil duduk disisi yang lain.
"kenapa memamggilku kemari?"tanya Embun.
"menyusun rencana."ucap Malvin ringan."Kamu sudah memulai perawatan. Lanjutkan terus, salon itu sangat direkomendasikan untuk kulitmu. Lalu apa kamu bisa nyetir?"
Embun menggeleng.
"Berarti jadwalmu berikutnya adalah kursus menyetir."
"Untuk apa?"
"Kamu tidak bisa membawa motor terus. Kamu sudaah melakukan perawatan. Jadi kamu juga harus menjaganya."
"Baiklah."
"Kamu bisa berdansa?"
Embun menggeleng.
"kamu juga akan mengikuti kelas dansa."
Malvin berdiri dan mendekati mejanya mengambil gagang telpon dan melakukan sambungan.
"Ken keruanganku!"
Malvin kembali duduk ke sofa tak jauh dari embun. Tak lama Ken masuk dan berdiri tak jauh dari Malvin.
"Jadwalkan kelas mengemudi untuknya, dan juga kelas menari."
"Baik."
"Haruskah aku melakukan itu semua?"
"Heemm"mengangguk yakin.
"Kapan jadwal acara Aniversery PT. COREN diadakan?" menoleh kearah Ken.
"Tiga bulan lagi tuan."
Malvin mengangguk.
"Dalam waktu satu bulan kamu harus bisa menyetir dengan baik, sudah bisa berdansa dengan benar dan tentu saja sudah harus berubah menjadi cantik." ucap Malvin dengan senyum diwajahnya.
"kenapa?"ucap Embun, "kurasa dalam 1bulan tak mungkin bisa berubah secepat itu."
"Coba Kulihat." Malvin mendekat, dan bersimpuh didepan Embun,meraih dagunya dan menggerakkan kepalanya kekanan dan kekiri.
"Ini sudah ada perubahan, berapa kali kamu melakukan perawatan disana?"
"Tiga kali."jawab Embun.
"Hemmmm." Malvin masih memandang wajah Embun, tangannya juga masih menyentuh dagu Embun.
cup
Mata Embun membola. Bibir Malvin sudah menyesap bibirnya. Embun melirik Ken yang masih berdiri disana. Seolah merasa tak terganggu.
Masa bodoh dengan kehadiran Ken. Aku nikmati saja ciuman Malvin. - batin Embun.
Dengan sendirinya Ken keluar dan menutup pintu tanpa suara.
Setelah cukup lama berciuman hingga mereka bertukar posisi. kini Malvin yang duduk diatas sofa yang Embun duduki tadi dan Embun duduk dipangkuan Malvin, dengan kedua kaki diantaranya. Mereka duduk berhadapan. Tangan Malvin melingkar dipingganng Embun. Dan tangan Embun melingkar di leher Malvin.
Ciuman berakhir, deru nafas keduanya bersahutan dengan cepat. Pertanda mereka menginginkan lebih.
Sabarlah Mal. Dia mungkin belum membuka hatinya seutuhnya. Dan restu dari Kay belum kamu dapatkan.-batin Malvin menatap Manik mata Embun.
Tenangkan dirimu Embun. Kalian bahkan belum halal. Pikirkan juga bagaimana perasaan Kay. Jangan egois. -batin Embun.
Entah siapa yang memulai kali ini, mereka sudah berciuman lagi.
__ADS_1