Dicerai Karena Dekil(Dinikahi Bos Mantan Suami)

Dicerai Karena Dekil(Dinikahi Bos Mantan Suami)
Chap 63


__ADS_3

Embun membuka pintu geser itu, dan memasuki ruang VVIP disana duduk seorang kakek tua dengan rambut yang putih sebagian, juga sedikit kumis dan jenggot.


Pria tua itu tersenyum pada Embun. Kakek itu bernama Bram.


"Senang akhirnya bisa melihatmu lagi." ucap Kakek Bram ramah. Menatap lembut pada Embun.


Embun membalas dengan tersenyum ramah juga.


Sebenarnya, Embun sedikit terkejut, beberapa hari yang lalu dia sempat bertemu dengan kakek itu disebuah mini market. Kakek itu ketinggalan dompetnya di kasir dan Embun mengembalikannya. Embun tidak menyangka akan bertemu lagi di reatorannya sendiri.


"Terima kasih sudah memilih restoran kami sebagai teman pagi anda tuan." ucap Embun mengulas senyum.


"Duduklah."titah kakek menunjuk kursi tak jauh dari Embun duduk.


"Saya masih ada yang harus dikerjakan."tolak Embun halus dan mengangkat tangannya.


"Aahh, sayang sekali. Padahal aku ingin mengobrol denganmu."wajah kaket terlihat kecewa. "Ada banyak hal yang ingin kusampaikan padamu."


"Maaf Tuan, Apa itu yang membuat anda ingin menemui saya?" Embun merasa tidak ada yang salah ataupun berkesan dengan pertemuan pertamanya dulu.


Kakek Bram tersenyum tipis lalu menyesap minumannya.


"Aku belum sempat mengucapkan terima kasih dengan benar kemarin."ucapnya dengan sedikit senyuman, ada kerinduan di sorot matanya.


"Jangan sungkan tuan, saya tidak melakukan apapun."balas Embun pelan.


"Jangan panggil aku tuan Embun, panggil Kakek saja."pinta kakek itu.


Embun mengulas senyum tipis. "Saya sungkan tuan."


"Jangan! kedepannya aku ingin kamu memanggilku kakek, aku sudah tua, rasanya sedikit tidak pantas dipanggil tuan. Lagi pula...." Kakek Bram tidak melanjutkan ucapannya. Dia kembali menyesap minumannya. Embun diam dan menunggu kata-kata kakek itu.


"Makanan di sini sangat enak dan aku terkesan."lanjut kakek Bram tanpa membahas kalimat sebelumnya.


"Terima kasih, akan saya sampaikan pada koki kami." kata Embun


"Dan, Tempat ini sangat bagus, pelayanannya lumayan, sejujurnya aku ingin menawarkanmu sebuah investasi jika kamu tidak keberatan." ucap kakek Bram lagi. "Kamu bisa mengembangkan lagi tempat ini."


"Terima kasih atas tawaran anda, saya sangat menghargainya. Saya sudah merasa cukup dengan semua ini."tolak Embun halus.


"Aku mohon terimalah, aku ingin membalas budi." ucap kakek itu sedikit memaksa."Entah apa yang mungkin terjadi jika sampai benda berhargaku itu hilang "


"Mmmm...Bagi saya anda sudah makan disini saja sudah sangat berarti besar, tuan."kata Embun merasa tak enak, ia hanya melakukan hal kecil, tapi kakek Bram justru ingin berinfestasi kepadanya. sungguh diluar dugaan.


Kakek Bram menghembuskan nafas panjangnya.


"Jika kamu, masih menolak, bagaimana jika aku mentraktirmu makan siang?"


Embun tersenyum kecil.


"Itu tidak terlalu besar bukan?" lanjut kakek Bram lagi."Tolong jangan menolakku. Aku benar-benar ingin mengucapkan terima kasih."

__ADS_1


Embun terdiam dan berfikir sejenak. Tak apa Embun hanya makan siang. Hormatilah kakek itu. Dia sepertinya tulus. pikir Embun.


"Baiklah." jawab Embun menyetujui akhirnya.


"Nona Embun, ada panggilan dari dapur." suara Ana dari luar.


"Mmm... saya pamit tuan."


"kakek."tegas kakek tua itu.


Embun tersenyum kecil, "Baiklah kakek. Saya pamit dulu ada panggilan untuk saya." pamit Embun meminta ijin.


"Okey Embun. Aku akan menghubungimu lagi nanti." kata kakek dengan senyum puas.


Embun melangkah, membuka pintu geser dan pergi. Embun berjalan kembali ke ruangannya.


"Kenapa kakek sedikit memaksa. Haaaaahh... sudahlah. Dia hanya ingin mentraktir makan. Tidak masalah bukan? Jangan terlalu berfikiran buruk." Gumam Embun, lalu kembali fokus pada pekerjaannya.


____


Beberapa hari kemudian, Kakek Bram menghubunginya lewat orang suruhannya. Dia mengundang Embun makan siang di sebuah restoran korea. Dan Embun menyanggupinya. Sebenarnya Embun juga meminta Malvin untuk menemaninya, tapi Pria bule itu sudah punya janji makan siang juga, jadi dia tak bisa menemani Embun. Ya udahlah.


Embun mengendarai mobil orennya ke salah satu restoran korea yang terkenal dikota itu. Seusai parkir Embun memasuki restoran dan disambut oleh salah satu pelayan disana.


"Reservasi atas nama Tuan Bramasta." ucap Embun to the point.


"Anda tamu tuan Bram. Lewat sini Nona." kata pelayan itu ramah.


"Tuan. tamu anda sudah datang." Pelayan itu lalu membuka pintu geser dan mempersilahkan Embun masuk.


Embun memasuki ruang privasi itu, disana kakel Bram sudah duduk lesehan didepannya sudah ada beberapa hidangan korea. Kakek Bram sedang membakar daging diatas tungku.


"Duduklah Embun." katanya membalikkan slice daging diatas panggangan.


Embun tersenyum tipis lalu duduk disisi yang lain.


"Kamu suka makan korea kan?"


"Iya kakek." Embun mengangguk.


"Bagus kalau begitu. Berarti aku tidak salah pilih tempat."Kakek merilik sekilas lalu kembali fokus pada dagingnya.


"Berapa umurmu Embun?"tanya kakek menatap lembut pada Embun.


"Mmmm, dua puluh lima tahun." jawab Embun jujur.


"Apa kamu sudah menikah?"tanya kakek itu lagi.


"Sudah."


"bagaimana hubungan kalian?"

__ADS_1


"Itu,ranah pribadi saya, tak perlu membahasnya." ucap Embun mulai risih, ia paling tak suka jika orang asing banyak bertanya tentang kehidupannya.


"Maaf Embun, aku hanya basa basi saja. Jangan terlalu diambil hati."ucap kakek lembut, dengan senyum simpul diwajahnya.


"Sebenarnya aku memiliki seorang cucu."ucap Kakek itu. "Kira-kira dia seumuranmu,"


Embun menatap lekat pada kakek, mencoba mengulik wajahnya, tentang apa yang kakek itu maksudkan.


"Apa yang ingin anda sampaikan tuan Bram?"


"Jangan sinis begitu Embun, kamu membuatku sungkan."


"Apa yang ingin kakek bicarakan?"tanya Embun mengulang dengan sedikit memperbaiki kata-katanya.


"Kamu mengingatkanku padanya."ucap kakek Bram lagi."Cucuku pergi dan aku merindukannya"


"Kau tidak mau bertanya kenapa dan kemana dia pergi?"tanya kakek itu melanjutkan.


"Haruskah?"


Kakek tertawa lebar."Baiklah Embun, sepertinya kamu juga tidak begitu tertarik."


Embun tersenyum kecil. "Apa kita sudah bisa makan sekrang? Tujuan kita makan siang bukan?"


Kakek Bram mengulas senyum kecil, memgambil minumannya.


"Tunggu sebentar." ucap kakek sambil menyeruput minumannya."Aku masih ada seorang tamu lagi."


Embun menatap curiga pada kakek. Entah apa yang pria itu rencanakan. Embun tak merasakan bahaya, hanya dia membuat tidak nyaman.


Tak lama pintu ruangan itu diketuk.


"Tamu anda sudah datang tuan."kata suara dibalik pintu geser yang ditutup.


"Aaahh.. persilahkan dia masuk." wajah kakek begitu yakin menatap pintu yang perlahan bergeser.


Sosok pria memasuki ruang itu... Embun menoleh kearahnya. Embun terkejut, melihat siapa yang memasuki ruangan yang sama dengannya. Begitupun dengan sosok pria itu. Dia mematung ditempatnya, diambaang pintu geser.


Bersambung..


___€€€____


Readers, mohon dukungannya ya,biar othor semangat up terus.


Like dan komen.


Terima kasih


Salam____


😊

__ADS_1


__ADS_2