Dicerai Karena Dekil(Dinikahi Bos Mantan Suami)

Dicerai Karena Dekil(Dinikahi Bos Mantan Suami)
Chap 61


__ADS_3

Danu keluar dari mobilnya begitu sampai dihalaman rumah. Rumah itu kosong, pintunya bahkan terkunci. Danu gundah, panik, marah,


"Kemana mereka?" danu mengusap rambutnya kasar. dia frustasi.


Danu menatap berkeliling teras rumahnya, salah satu tetangganya datang dan mengabarkan jika Yura sudah dibawa ke RS.


"Mbak Yura sudah di bawa ke. RS hayam muruk pak Danu." kata ibu-ibu tetangganya.


"Benarkah?" tanya Danu meyakinkan, dia sedikit lega. Namun dia masih ada rasa gelisah.


"Tadi dibawa pake ambulan sama bi inah juga."


"Oo iya. makasih buk. saya mau ke RS kalau gitu." pamit Danu berjalan menuju mobilnya.


"Iya pak Danu, semoga mbak yura dan anaknya baik-baik aja."


Danu membawa mobil silvernya ke RS hayammuruk. Dia langsung ke UGD di pintu ugd ada Bi Inah yang menunggunya. Dengan segera Danu menghampiri.


"Gimana bik Istri saya?"Panik Danu dengan gelisah.


"Sedang ditangani oleh dokter pak. yang sabar ya." ucap Bi Inah prihatin. Walau sebenarnya Dia tak begitu suka dengan Yura majikannya itu, tetap saja dia prihatin.


"Boleh masuk nggak sih Bi kedalam?" Danu celingukan.


"Masuk aja pak Danu, dari pintu kaca ini langsung ke petugas. Tadi nanyain berkas. Saya bilang tunggu suaminya."jelas. Bi inah.


"Iya. makasih bi." Danu memasuki UGD dan menuju ke petugas dibalik meja.


"saya suami pasien atas nama Yura aprilia."


"Tunggu sebentar pak." petugas itu terlihat mengecek,"Bapak bawa berkasnya?"


"Apa saja ya sus?"


"KTP, BPJS atau kartu jamian kesehatan jika ada. dan mengisi form ini"


"Makasih sus."


Danu mengisi form,lalu keluar menemui Bi Inah.


"Bi, aku pulang dulu mengambil berkas pendukung. kalau ada apa-apa hubungi aku ya bi."ucapnya


"Iya tuan."


"Saya nitip yura."pesan Danu


Danu kembali kerumahnya mencari berkas-berkas apa saja yang dibutuhkan untuk menunjang pengobatan istrinya. Setelah semua siap, Danu segera berlari ke RS ,disana Yura pun masih ditangani oleh dokter ahli.


Dokter pun meminta agar Yura dioperasi, pendarahan yang dia alami sangat banyak dan itu membahayakan nyawanya.


"Jadi pak Danu, mohon tanda tangani ini." ucap Dokter setelah memberi penjelasan pada Danu.


Danu terkulai lemas. Nyawa yura dan anaknya terancam. Dan Danu harus merelakan anak yang bahkan belum dia lihat itu pergi selamanya.


Di lorong ruang operasi Danu duduk lemas dilantai. Danu memukul dan menjambak rambutnya. Dia frustasi, dia menyesal, apa lagi Yura mengalami pendarahan karena dia emosi dan mendorongnya tadi.


Air mata pun lolos juga.

__ADS_1


"Maafkan Ayah nak!" lirihnya. Bulir itu terus keluar dari mata Danu. Banyak penyesalan yang dia rasakan. Dari perceraiannya dengan Embun, menyakiti Kayla, penggelapan dana, dan yang terakhir membuat Yura keguguran.


Danu memukul-mukul kepalanya. Dia meraung di depan pintu operasi.


"AAAAARRRRRGGGG.....!!!"


Kenapa hidupnya jadi seperti ini? Kenapa semua seolah memojokkannya? Apa salahnya?


_______


Disisi lain... di lain waktu....


Embun berjalan keluar dari kamar, dia berjalan perlahan melangkah dan berhenti didepan foto Hana yang terpajang tak jauh dari kamar catty.


Embun menatap foto itu lamat-lamat, memang benar, kini dia seperti melihat pantulan dirinya sendiri di foto itu. Tatapan Embun berubah menjadi sendu, dan sangat pilu.


Kenapa kita begitu mirip? Dan kenapa nasib kita berbeda? Kenapa kita bersuamikan orang yang sama? Dan kenapa itu malah menyakitkan bagiku?


Hanaa.... Siapa aku sebenarnya? Siapa kamu? Apakah kita berhubungan? Ataukah ini hanya kebetulan? Tapi kenapa sesakit ini?


Seberapa dalam Malvin mencintaimu? Hingga dia bisa merubahku menjadi sepertimu?


Hati Embun tiba-tiba berdenyut, rasa sakit semakin meremas hatinya. bulir bening perlahan turun dari genangan di netranya yang basah. Embun menutup mulutnya, menahan agar tak terisak. Bahunya berguncang menahan tangis dan perih didadanya.


Aku mengerti, kenapa dia ingin membantuku. membuatku berubah sedrastis ini. Dia pasti sudah menyadarinya.


Dalam ingatan Embun, kembali terlintas semua perlakuan manis dan baik dari pria yang kini menjadi suaminya itu.


Bagaimana Malvin menghiburnya, memeluknya, tersenyum hangat padanya. Dan cara Malvin menatapnya penuh kerinduan.


Embun masih sesenggukan....


Malam itu Embun hanya merintih di depan foto mendiang Hana. Hingga dengan sendirinya Embun menenang. Dia mengusap pipinya dan beranjak melangkah. Dia tidak kembali ke kamarnya, Embun berjalan dan mengunjungi dapur. Disana dia menghidupkan saklar, menatap ruang kosong yang sepi.


Para koki dan pekerja dapur sedang beristirahat. Embun melangkah dan mengambil beberapa bahan untuk dimasak. Memasak membuatnya tenang.


Dengan memasak hatinya berangsur baik dan riang. Embun tengah membolak mbalikan masakannya, saat sepasang tangan menyusup memeluk perut. Embun tersentak kaget, menoleh kebelakang.


"Aku mencarimu dikamar. Kenapa disini?"


"Aku memasak."


Malvin mematikan kompor.


"Ayo kembali."


"Biar aku selesaikan masakanku. Tanggung." ucap Embun kembali menghidupkan kompornya.


"Apa yang kamu masak?"


"Tokpokgi."


"Makanan korea?" tanya Malvin menempelkan pipinya di pipi Embun.


"Heemm.. aku sedang ingin membuatnya."


"Baiklah, setelah ini kita kekamar. Aku nggak mau tidur sendirian, saat membuka mata aku juga ingin melihat wajahmu pertama kali"

__ADS_1


Embun tersenyum kecut.


"Wajahku? atau wajah Hana?"


Mimik muka Malvin berubah kesal, jelas dia tak senang Embun kembali membahasnya. Malvin mematikan kompor memutar tubuh istrinya. Menangkup wajah sendu Embun.


"Tidak ada wanita lain dihatiku selain kamu."tegas Malvin yang mengerti kegundahan hati Embun, "Hanya ada kamu disana."


Malvin mendekatkan wajahnya melummaaat bibir istrinya dengan lembut. Lidah mereka bergelut, bergulum lembut dan perlahan.


"I love you baby."bisik Malvin, kembali menautkan bibir dan lidahnya, bergulum lembut dan perlahan.


"Mal,"


"Heeemmm?" Malvin menyatukan keningnya dengan kening Embun.


"Bagaimana menurutmu jika aku menghentikan perawatan?"


Malvin terdiam sejenak, ia tau kemana arah tujuan ucapan Embun.


"Lakukan saja."


Embun menarik nafas panjangnya.


"Aku.... Akan kembali jadi Embun yang dekil."


Malvin mengulas senyum."Aku lebih suka kamu yang dulu."


"Benarkah?"tanya Embun sedikit ragu."bukan wajah ini?"


Malvin tersenyum lagi,"wajah ini membuatku tak tenang. Terlalu banyak yang melirikmu sekarang."ucapnya menautkan lagi bibirnya, mengecup ringan bibir istrinya.


"Jika wajahmu yang dulu, kamu hanya milikku." lanjut Malvin.


Embun tersenyum, ada sedikit kelegaan disana.


"Malam ini aku sudah tidak memakai krim lagi."


Malvin memeluk tubuh Embun. Kembali menautkan bibirnya. Malvin menarik tali pengikat baju tidur Embun, dan melepasnya, menyisakan linggeri yang menggoda ditubuhnya. Malvin juga melepas sendiri baju tidurnya, dan melemparnya sembarang.


"Kamu yakin akan melakukannya disini?"


Malvin tersenyum geli.


"Joo!" sebut Malvin dengan suara lebih keras.


"Iya Tuan."sahut suara dibalik tembok.


"Jangan biarkan siapapun memasuki dapur."


____€€____


Dukung othor terus ya😢 biar semangat upnya😉


like dan komen


terima kasih

__ADS_1


Salam____


😊


__ADS_2