
Yura membanting hp nya di atas ranjang kamarnya. dia kesal beberapa kali mendial nomor Danu namun tidak aktiv. Bahkan dia juga sudah mengiriminya pesan, namun tak satupun dibaca.
"Sialan!" geramnya, "Kemana mas Danu?"
Yura berjalan mondar mandir di dalam kamarnya. Dengan gelisah Yura menggigiti kuku jempolnya. pikiran bahwa Danu berselingkuh darinya terus berkelebat dikepalanya.
"Apa mas Danu benar-benar berselingkuh?" gumamnya menyalurkan isi pikirannya.
Huuuuuuhhh... Yura menendang udara.
"Mas Danu awas saja jika kamu berselingkuh dariku!" geram Yura menampakkan deretan gigi putihnya.
Keesokan paginya Yura memoles wajah cantiknya di depan cermin. Dia menunggu balasan dari seorang detektif yang dia sewa untuk memata-matai Danu suaminya. Yura dengan gelisah melirih hpnya, pesan yang dia kirim ke nomor Danu masih belum dibaca. Dia sangat kesal, jengkel dan geram.
"Mas Danuuu....."Yura melempar kotak kosmetiknya sembarang.
"Berani sekali kamu mengabaikanku."
Hpnya berdering, buru-buru Yura mengangkatnya.
"Halo?"
Yura terdiam sejenak.
"Baiklah, tunggu aku di kafe Xxx."
Dengan membawa tasnya, Yura keluar dari rumahnya, setelah mengunci pintu Yura mencegat taksi menuju kafe Xxx dimana dia dan detektif sewaannya janjian untuk bertemu.
Yura memasuki kafe, matanya menjelajahi seisi kafe mencari detektif pria yang dia sewa. Dulu mereka pernah bertemu sekali, jadi tidak sulit menemukannya.
Ketemu! Pria dengan berumur skitar 40tahunan dengan baju kasual membuatnya terlihat lebih muda dari umurnya. Yura berjalan dengan anggun menuju meja dimana detektif itu duduk.
Yura mengambil duduk didepan detektif itu. Pria itu tersenyum misterius.
"Langsung tunjukan hasilnya."
Pria itu menggeser amplop coklat diatas meja kearah Yura tanpa mengatakan apapun. Yura menatap pria itu. lalu beralih melihat amplop didepannya. Dengan segeraYura mengambil dan membuka amplop itu. Foto-foto hasil penyelidikan Perselingkuhan Danu tersebar didepan nya.
Dengan mata membulat Yura melihat satu persatu foto-foto itu. Yura meremas foto yang dia pegang dengan mata merah penuh amarah.
"Siapa wanita ini?"
"Dia pemilik sebuah restoran."
Yura menelan ludahnya dengan sangat susah, amarahnya sudah memuncak.
kenapa wajah wanita ini sangat familiar. siapa dia? Dasar Danu brengsek! dia tak bisa melihat wanita cantik, langsung saja dia selingkuh dariku. Kurang ajar kau Danu! Aku akan membuat perhitungan pada mu dan wanita jallaang pelakor ini!
"Dimana letak restorannya?"
Detektif itu tersenyum lagi.
"semua yang kamu ingin ketahui ada didalam amplop itu."
__ADS_1
Yura melihat lagi dalam amplop ada selembar kertas yang terlewat. Dengan cepat Yura menarik kertas itu dan membacanya.
Wajahnya berubah pias. dia lalu tertawa...
Hahahahhaha....
"Jadi dia? Huuuuhhhh, aku tidak percaya ini. wanita jalllaang itu ternyata kamu!" yura menyeringai.
______
Yura mengambil langkah cepat saat taksi yang ditumpanginya berhenti tepat di depan restoran 'Sebening Embun'.
Yura memasuki restoran itu, dengan lantang dia berteriak membuat keributan.
Embun sedang berada didapur, membuat sajian untuk tamu vvip-nya. Dia telah selesai memplating saat seorang pelayan datang dengan wajah tegang dan gelisah.
"Nona Embun, Ada wanita yang datang membuat keributan mencari-cari anda Nona." paniknya,
Embun tersenyum tenang, seolah sudah tau siapa wanita yang membuat keributan itu, dan siap menghadapinya.
"Baiklah, aku akan menemuinya." embun melwpas celemekny dan menyerahkannya pada pelayan tadi."Antarkan ini ke ruangan Vvip dua. " menunjuk hidangan dimeja yanh baru selesai dia kerjakan
"Baik Nona."
Embun berjalan dengan santai dan anggun menuju ke depan dimana Yura sedang mengamuk membuat keributan.
"Cepat! suruh jallaaang itu keluar! Wanita perusak rumah tangga orang!" pekik Yura dengan suara bergetar kareena marah.
Embun berdiri dibelakang Yura yang sedang kalap itu. dia melipat tangannya didada dan tersenyum tipis.
"Embun! keluar kau!"
"Ada apa mencariku Nona Yura?"
Yura menoleh dan berbalik, melihat nyalang pada Embun yang kini jauh dari apa yang dia ingat dulu.
Yura tertawa frustasi. Perubahan yang membuat dia terkejut, juga dia pernah melihat Embun disalon ternama dimana dia melakukan perawatan. beberapa hari yang lalu. Wanita cantik berkulit putih yang dia anggap sultan.
Embun manatapnya dengan pandangan menantang dan meremehkan. Tak kalah dengan Yura yang menatapnya sengit.
"Hahahaha... Bravo Embun! Kau sudah cantik sekarang!" Yura bertepuk tangan. Embun hanya menyambutnya dengan senyuman tipis.
"Jadi kau bermaksud memikat lagi mantan suamimu itu? Hahahahha... benar-benar..."dengan nada rendah menahan emosi.
"Aku tidak memikatnya" ucap Embun santai.
"Huuuuuhhh.. Lalu apa ini haaahh?" Yura melempar foto-foto ke wajah Embun.
Embun tersenyum dan tak terpengaruh sedikitpun.
"Danu yang mendekatiku."
"Dasar Licik!"
__ADS_1
"Gunakan kata itu untukmu sendiri."balas Embun datar.
"Aku tidak akan membiarkanmu begitu saja!"
Embun tersenyum geli,
"Dari pada kamu susah-susah mencariku dan membuat keributan,lebih baik kamu jaga dan ajari suamimu baik-baik, agar matanya tak jelalatan melihat wanitan lain." ucap Embun pelan namun penuh intimidasi.
"Kaaauuuuuu!" pekik Yura geram.
"Foto-foto ini tidak akan ada jika kamu bisa menjaganya dan dia bisa setia padamu."
"Kau mengajariku?"
"Aku seniormu dalam menghadapi Danu, Yura, ingat itu."
"Kaaauuuu...." yura yang sudah makin kalap itu berjalan mendekat dengan tangan terangkat hendak menjambak rambut Embun, namun Embun sigap bergeser hingga yura terjengkal kehilangan keseimbangan dan jatuh.
"Ooohh, Ya ampun Yura, Kau sedang hamil, perhatikan langkahmu.." Ejek Embun pelan dengan sedikit membungkukkan tubuhnya dan jari-jari tangan yang menutup bibirnya.
Embun lalu menegakkan tubuhnya lagi,tersenyum melihat Yura yang menatap marah kearahnya.
"Kau butuh bantuan?" Embun memgulurkan tangannya, tentu saja itu hanya untuk membuat Yura kesal.
"Yura sudahi membuat keributan disini. pulanglah. Kau tak akan dapat apa-apa!" ucap Embun dingin.
dia melangkah menjauh,
"awasi wanita itu, jika dia membuat keributan lagi, lakukan tugas kalian." ucapnya datar pada keamanan disana.
"Baik nona." pria itu menunduk setengah badan.
Embun berlalu.
Yura kembali kerumahnya dengan perasaan marah. Marah pada Danu, pada dirinya sendiri dan pada Embun. tentu saja.
"Aku pasti akan membuat perhitungan dengan mu Embun! Lihat saja! jangan sebut aku Yura jika tak membalasmu!"
Yura keluar dari taksi yang ditumpangi hingga di depan halaman rumahnya. melihat mobil silver Danu terparkir dihalaman.
Dengan amarah dan geramnya, Yura berjalan cepat memasuki rumah, melihat danu sedang santai menonton tv. Dengan kasar Yura merebut remot ditangan Danu dan meatikan tv. Danu menoleh dengan wajah kesal.
"Apa-apaan kau ini Yura?"
"Apa? Mas Yang apa-apaan?" dengan nada tinggi.
"Bisa bisanya mas selingkuh dari istri mas yang hamil ini? dimana hati mu haaahh?" Yura kalap dipenuhi emosi.
"Dan lebih menggelikan lagi kau selingkuh dengan mantan istrimu? dimana muka mu mass?" sentak Yura tanpa memberi Danu kesempatan bicara."Kau sudah mencampakkannya!"
Danu tersentak.
Apaaa? Yura tau? bagaimana yura bisa tau?
__ADS_1