
Embun dan Catty berjalan-jalan di taman dekat kamar mereka. Hanya merasakan angin malam yang membelai kulit. Catty mulai begidig karena dingin.
"Kamu mau masuk sekarang?"tanya Embun.
Catty menggeleng.
"Udah mulai dingin."Embun memeluk sikunya.
"Mommy!"panggil Catty
"Heeemm?"
"Apa Mommy beneran kembaran Mommy Hana?"tanya Cat.
Embun tertegun.
"Kamu dengar?"
Catty mengangguk.
"semua? Dengan Kay juga?"
Catty mengangguk lagi. Embun menghela nafasnya. Menatap pada bintang-bintang diatas sana. Tangan Catty bergerak mengenggam tangan Embun. Embun ber alih memandang Catty.
"Terima kasih sudah menjadi mommy ku."ucap gadis kecil itu.
Embun manatap sayu. lalu menyamakan tinggi dan memeluk Catty.
"Aku menyayangimu Cat."
"Catty juga."membalas pelukan Embun.
"Daddy Juga."
suara lain ikut terdengar. Caty dan Embun menoleh kearah suara bermula.
"Daddy!"sebut Cat.
dibelakangnya melongok Kay.
"Kay juga!"seru Embun berjalan mendekat.
"Kenapa kalian menyusul?"tanyanya.
"Kami pikir kalian pulang duluan dan meninggalkan kami"cengir Kay.
"Bagaimana bisa. Dasar anak nakal." Embun mencubit pipi Kayla.
akhirnya mereka malah jalan-jalan ditaman hotel itu sambil menikmati suasana malam kota. Lalu kembali tidur saat malam semakin larut.
Keesokan harinya, Keluarga kecil itu mampir ke danau dimana embun dan Malvin pernah kunjungi. mencari ikan, bermain air, dan berpiknik yang pasti. Di danau itu hanya ada mereka.
"Kita sudah membawa mereka. Apa lagi keinginanmu?"tanya Malvin yang duduk dipinggiran danau bersama Embun.
Anak-anak sudah asyik berdua dengan beberapa tanaman liar yang berbuah.
"Anak-anak, jangan jauh-jauh!"seru Embun pada mereka.
__ADS_1
"Yess Mom." jawab mereka serempak.
"Terima masih."ucap Embun."Ini menyenangkan. lain waktu kita ajak anak-anak bermain di alam liar saja."
"Baiklah."
"Mereka terlihat antusias."
Menjelang sore mereka kembali, karena esok berikutnya Embun dan Malvin kembali bekerja dan anak-anak kembali bersekolah.
Selang beberapa hari, sebelum Operasi kakek Bram, kesehatan kakek menurun. Malvin dan Embun segera berlalu kerumah sakit.
Begitu sampai di rumah sakit, kakek Bram sedang dalam perawatan medis. dengan beberapa selang ditubuhnya.
"Apa dia akan baik-baik saja?" tanya Embun dengan sorot mata zedih menatap kakek Bram yang terlelap.
"Tentu." jawab Malvin.
"Aku belum mwmgatakan apapun padanya. Setidaknya, aku ingin dia tau aku sudah memaafkannya."
"Tenang saja. kita pasti punya kesempatan itu." memeluk pundak Embun.
"Terima kasih karena sudah selalu ada disisiku Mal."
Malvin mengulas senyum. "Ingatlah selalu aku suamimu."
Embun menyenderkan kepalanya di dada Malvin. Ia sungguh merasa beruntung memiliki suami seperti Malvin.
"Mal."
"Heeemmm?"
"Berdasarkan informasi yang sudah kami gali dari kakek dan beberapa pelayan sebelumnya, kita sudah ada beberapa petunjuk." jelas Malvin.
"Benarkah?" Embun menatap wajah Malvin.
"Ayahmu, Masih disini."
"Benarkah?"
"Tunggulah sebentar lagi." ucap Malvin tersenyum teduh.
Beberapa hari setelahnya kondisi kakek bram semakin menurun, Dokter pun sudah semakin angkat tangan. Sudah tak ada lagi yang bisa mereka lakukan. Tumor itu sudah sepenuhnya bersarang di kepala Kakek.
Malam itu Embun, menggenggam tangan kakeknya. Ia mencoba memberinya kekuatan.
"Kakek, kami sudah memaafkanmu. Kami sudah sangat senang kakek mau mencari kami. Kakek, kami menyayangimu" lirih Embun yang duduk di samping brankar.
Tangan hangat Malvin menyentuh pundaknya.
"Tidurlah. Kamu sudah siaga terus menjaganya. Istirahatlah. Biar aku yang menggantikanmu."
Embu menoleh menatap suaminya. lalu mengulas senyum tegar.
"Aku baik-baik saja."
"istirahat Embun. Nurut ya sama suami." ucap Malvin lembut.
__ADS_1
"Baiklah tuan suami." Embun beranjak dari duduknya. dan berpindah ke sofa di ujung ruangan.
"Aku istirahat disini saja." Ucap Embun lalu merebahkan diri.
Sementara Malvin menggantikan posisi Embun duduk diatas kursi dekat brankar.
Waktu berjalan, dan belum ada tanda kakek sadar.
______
di lokasi lain.
Danu masih menginap dirumah Yura. Danu pun masih setia menunggui istrinya dari sore sampai pagi. lalu pergi bekerja.
"Apa yaang mengganggu pikiran anda pak?" tanya salah satu karyawannya.
"Tidak ada."jawab Danu singkat.
"Anda terlihat muram." tanyanya lagi."Seperti orang yang sedang banyak pikiran."
Danu diam tidak menanggapi. Karyawannya pun akhirnya memilih pergi,
"Yogi!"panggil Danu menggentikan karyawan yang tadi menanyainya.
"Iya pak?"
"Kamu tau cara menyembuhkan orang depresi?" tanya Danu tiba-tiba.
Yogi tertegun.
"Bawa saja ke rumah sakit jiwa."saran Yogi.
"Apa?"Danu tercenung tidak senang
"Sakit itu harus diobati pak."terang Yogi santai dengan senyuman.
"Aku tau."balas Danu memalingkan wajahnya.
"Dia sudah minum obat."lanjut Danu tanpa menoleh.
"Kalau begitu, cobalah ajak dia berinteraksi."
"sudah."
"Hmmmmm.." terlihat berfikir."Coba cari tau apa penyebabnya depresi. bila sudah bertemu cobalah atasi dengan itu. semua butuh proses. pelan-pelan karena ini menyangkut mental pak."
"Tapi saran saya sebaiknya di bawa ke RSJ saja."sambung Yogi. "Para dokter disana lebih tau apa yang harus dilakukan."
"baiklah. aku mengerti. terima kasih." ucap Danu.
___€€€___
Readers, mohon dukungannya ya,biar othor semangat up terus.
Like dan komen.
Terima kasih
__ADS_1
Salam____
😊,