
Embun berjalan cepat keluar dari restoran korean itu. Malvin yang mennyusul sedikit berlari kecil, menarik lengan Embun hingga wanita itu berbalik. Wajah sendu dengan genangan dimatanya Embun perlihatkan.
"Honey, dengarkan aku." Malvin menatap lembut pada Istrinya itu.
"Tak ada yang ingin aku dengar lagi Mal." potong Embun menggelengkan kepalanya, "Biarkan aku sendiri."
Embun mencoba melepaskan cengkraman tangan Malvin, pria itu begitu kuat menahan tangan istrinya.
"Lepaskan aku Mal." pinta Embun dengan suara bergetar.
"Kamu harus dengarkan aku dulu."pinta Malvin memohon.
Embun menggeleng kuat."Tinggalkan aku sendiri."
Malvin menatap pilu istrinya itu. Ia bersedih, tak ada kesempatan untuknya jika Embun dia lepaskan sekarang. Malvin menggotong tubuh Embun memikulnya bak karung beras dipundaknya.
"Malvin! Apa yang kamu lakukan!" pekik Embun terkejut, tiba-tiba Malvin menggotongnya seperti itu."Lepaskan aku!"meronta-ronta memukul tubuh Malvin dengan tangannya.
"Lepaskan aku! Lepas Mal." jerit Embun membuat orang-orang memperhatikan mereka.
"Pak ada apa ini. Kasihan mbaknya digituin."serbu seorang ibu-ibu mendekat.
"Dia istriku! Kami hanya sedang bertengkar." ucap Malvin saat ada beberapa ibu-ibu yang mendekat ke arahnya berjalan.
"Lepaskan aku!" ucap Embun meronta.
Malvin terus berjalan ke mobil merah yang terparkir, membuka pintu belakang dan memasukkan Embun kesana. Malvin sendiri ikut masuk. Kenan yang berada dibelakang kemudi terkejut melihat tuan dan nonanya tiba-tiba masuk.
Ada apa ini? Apa aku melewatkan sesuatu? kenapa ada nona Embun juga? bukankah harusnya makan siang bersama tuan Bram? Jangan-jangan..... suara hati Kenan yang masih terkejut bermonolog.
"Apa yang kamu lakukan?" sentak Embun marah mendorong tubuh Malvin,"kenapa tak kamu biarkan aku sendiri?"
"Jalankan mobilnya Ken."titah Malvin memeluk erat tubuh Embun.
"Baik tuan." jawab Kennan, melirik sekilas pada pasangan yang sedang bertengkar itu.
Yah, nggak jadi dapat makan gratis nih. dalam hati Kenan.
Mobil melaju perlahan dalam keheningan.
__ADS_1
"Apa ada yang ingin kamu jelaskan?"tanya Embun memecah kesunyian.
"Aku mencintaimu Embun."
Embun tersenyum kesal.
"hanya itu penjelasanmu?"
"Aku mencintaimu Embun." Malvin menatap dalam netra Embun.
"Aku tak mau dengar."Embun menutup kedua telinganya.
Malvin mengambil tangan Embun menjauhkan tangan itu agar lepas dari telinganya.
"Aku mencintaimu." mata Malvin terpantik pada wajah Embun.
"Aku mencintaimu lebih dari apapun."
"Aku tak mau dengar. Tinggalkan aku Mal, Kamu hanya mencintai Hana. Semua tentang Hana. Hanya Hana. Dia pergi lalu kalian semua mencariku. Aku hanya penggantinya... Aku.... uuummmmppp...."
Malvin membekap mulut Embun dengan ciumannya. Malvin bersedih, kenapa Embun masih saja berfikir begitu.
"Uuuummmmmpppp... uuummmmpppp....."
Malvin terus menciumnya, tak perduli seberapa keras Embun menolak. Tanpa peduli lidahnya yang sakit oleh gigitan Embun. Darah mengalir keluar dari mulutnya, Embun menangis, gigitannya melemah, dia tak lagi memberontak.
Isakan kecil membuat tubuhnya berguncang pelan. Malvin mengusap bibir Embun yang basah dengan jempolnya. Sorot mata sedih manatap Embun lembut.
Embun kembali terisak. Mengusap lelehan berwarna merah yang keluar dari mulut Malvin.
"Aku mencintaimu Embun. Bukan karena apapun. Bukan demi apapun."
"Bahkan jauh sebelum aku menyadari bahwa kalian mirip atau pun bersaudara. Jauh sebelum itu."
"Bagiku, kamu yang tangguh dan penyayang, kamu yang perduli dengan sesamamu, yang menuntun kami masuk dalam keluarga panti. Yang memberi kami kebahagian tersendiri. Kehadiranmu dan kayla merubah banyak hal di kehidupan ku dan Catty."
"Untuk itulah kami terpikat padamu, karena itulah kami menyerahkan diri padamu dan Kay."tutur Malvin menyatukan kening dengan kening Embun.
"Percayalah, kami mencintaimu karena sifat dan sikapmu. Karena ketulusan hati kalian. Dan itu tak akan pernah berubah. Walau tubuh dan fisikmu telah berubah sekalipun."
__ADS_1
Malvin kembali melummmaaatt bibir lembut Embun. Memeluk erat tubuh mungilnya, tenggelam bersama dalam gelora cinta yang sempat teragukan oleh hati Embun yang gamang.
Ya ampun... apa yang sedang mereka lakukan? Haruskah aku bergelincir keluar? jerit batin Kennan yang menyupir didepan. Tidak menyangka harus menjadi saksi bisu disana.
Sangat tidak enak rasanya, bagi jiwa jomblonya yang terus meronta melihat adegan dewasa melalui kaca mobil. Yaah, walau hanya ciuman. Tetap saja bikin ngenes😒
Ooohhh... Tuhan. Aku jadi ingin segera menikah. Kirimkanlah aku gadis, janda juga tidak apa-apa Tuhan! rintih Kennan lagi di dalam hati.😑 (Othor jadi kasihan sama mahluk satu ini. Ntar ya bang Kenan, awak carikan pasangan)
Malvin dan Embun masih dalam Love mode, mencium satu sama lain, berbagi ludah dan menyentuh kelembutan lidah pasangannya. Berbagi kehangatan pelukan. Malvin mengangkat tubuh Embun ke atas pangkuannya. Pria itu memeluk pinggang wanitanya dengan melummaat perlahan.
Embun membingkai wajah Malvin, menekan tengkuknya dan memperdalam ciuman. Menikmati setiap kecupan yang suaminya berikan. Embun melepas panguatannya. Menatap netra Malvin yang melihat matanya dengan kelembutan. Tatapan sayang yang sama dengan saat dulu Embun pertama kalinya berciuman dengan Malvin.
Nafas keduanya sudah memburu. Semakin tak sabar rasanya untuk sampai dirumah. Mereka kembali berciuman.
Kenan, menyetir tanpa tau kemana arah tujuannya. Melirik melalui kaca mobil. Dia seharusnya memberi privasi pada bosnya itu. Tapi dia justru terjebak didalam mobil.
"Seharusnya aku tidak didalam mobil. Lalu dimana aku seharusnya? Apa dibawah mobil? Aaarrgg....!!! Kenan
"Ken." panggil Malvin melepas pangutannya, matanya terpantik pada wajah Embun.
"Bawa kami ke hotel terdekat." titah Malvin tanpa melepaskan pandangannya dari Embun.
"Baik tuan."
Kennan memarkirkan mobil merah itu dihalaman parkir hotel yang dia lihat paling dekat dengan posisinya saat itu. Kenan keluar dari dalam mobil, memasuki lobi hotel dan melakukan regristasi. Lalu keluar lagi menuju mobil merah dimana bosnya masih sibuk melanjutkan aksi yang menyiksa matanya. Untung nggak kelihatan dari luar.
Kennan menghela nafas panjangnya. lalu mengetuk jendela pintu belakang. Malvin keluar bersama dengan Embun, Bos yang tidak peka terhadap bawahannya itu memeluk erat pinggang Istrinya. Setelah menyerahkan semua akomodasinya, Kenan pamit lebih dulu.
Malvin juga berpesan untuk mengambil mobil Embun yang tertinggal di restoran korea. Setelah keduanya memasuki hotel, Kennan bernafas lega.
Hufff.. Akhirnya penderitaan jomblo berakhir. Waktunya mengurus mobil Nona Embun. batin Kenan membuka pintu mobilnya. Gerakan tangannya terhenti sesaat. Matanya terpaku pada jalan keluar hotel. Dia menarik sudut bibirnya keatas.
___€€€____
Readers, mohon dukungannya ya,biar othor semangat up terus.
Like dan komen.
Terima kasih
__ADS_1
Salam____
😊,