Dicerai Karena Dekil(Dinikahi Bos Mantan Suami)

Dicerai Karena Dekil(Dinikahi Bos Mantan Suami)
Chap 37


__ADS_3

"Yura! Ini tak seperti yang kamu pikirkan." Danu menurunkan ego dan emosinya, dia ingat Yura sedang hamil anaknya.


"Seperti apa mas, seperti apa, jelaskan seperti apa?" Yura masih emosi menatap Danu penuh amarah.


"Kami hanya membicarakan tentang Kay, anak kami. Tidak lebih."


"Huuuuuuhhh... Benarkah?" sedikit menurun Emosinya, "Kau bilang kau tidak akan mendukung finansial mereka."


"Memang!" ucap Danu pelan. "Aku hanya ingin bertemu dengan Kay. Sungguh." Danu mengangkat kedua jarinya bersumpah.


"Apa kau mencoba bohong padaku Mas?"


"Tidak Yura sayang. Aku menyayangimu. ada anak diantara kita, tak mungkin aku berselingkuh. Cukup sekali saja aku lakukan. Aku tak mau melakukannya padamu. Aku menyayangimu. kamu mengerti Huuumm?" memeluk tubuh Yura.


Yura yang sempat tersulut emosinya sedikit meluluh.


"Jangan hianati aku mas, aku tak akan tinggal diam."


"Aku tau Yura."


Akan kusimpan semua bukti foto itu, juga tentang aku melabrak wanita jallaaang itu. Sampai aku menemukan bukti lain Mas. Kali ini kau kumaafkan. Aku sangat mencintaimu.-batin Yura


Aku harus menjaga,jangan sampai dia melabrak Embun. mengingat bagaimana sifat Yura. Bisa kacau jika dia sampai melabraknya. Aku makin kesulitan mendekat nanti. semua usahaku akan sia-sia. danu


______


Toktoktok..


Embun menoleh, melihat ke pintu kamarnya yang terbuka lebar. Ada Malvin disana bersandar miring pada pintu dengan melipat tangannya di dada.


"Ini sudah malam. kenapa belum tidur?"


"Aku sedang memakai lotion."


Malvin berjalan mendekat. "Biar kubantu."


"Baiklah, biar aku selesaikan bagianku dulu." senyum Embun mengusapkan lotion ke sekitar pahanya,


Malvin dengan segera berbalik membelakanginya.


Embun tersenyum lucu.


"Kenapa berbalik?"


"Aku tak mau tergoda."


Embun tergelak.


"Aku sudah selesai Daddy."


Malvin berbalik lagi. menerima lotion yang Embun ulurkan kearahnya. Dia mengambil kursi dan duduk sejajar di depan Embun yang duduk di kursi depan meja riasnya.


"seperti yang kamu bilang sebelumnya, Yura mendatangiku."


Malvin tersenyum tipis. mengusap lotion ditangan Embun.


"Dia membuat keributan. tapi aku sudah mengatasinya."


"Bagus, berikutnya buat Danu mabuk diapartemenmu."


Embun terdiam sejenak.


"Benarkah kita perlu melakukannya? Aku jadi kasian pada anak dalam kandungan yura."


"Jadi kamu mau berhenti?"


"Aku dendam pada yura dan Danu. bukan pada anaknya."


"Semua pilihan ada padamu. Kamu mau melanjutkan atau tidak."


Malvin merubah posisinya, dia berjongkok didepan Embun dan mengusap betisnya hingga ujung kaki nya dengan lotion.


"Akan ku siapkan campange di apartemenmu."Malvin melanjutkan,"aku kirimkan nomor yura untuk berjaga-jaga jika dia tak menghubungi nomor Danu."


"Walau itu kemungkinannya kecil."Malvin menyelesaikan.


"Baiklah."Ucap Embun lesu.


Malvin berdiri, Embun juga ikut berdiri. Pria itu mengusap pipi Embun dan mengangkat dagunya dengan jarinya, Dengan lembut mengecup bibirnya. Embun membalasnya, hingga lidah mereka bertemu dan menyatu. Tangan Malvin meraba paha Embun dan mengangkatnya hingga kepinggang pria itu, Embun mengalungkan tangannya dileher Malvin agar tak kehilangan keseimbangan. Dengan cepat Malvin mengangkat tubuh Embun dan menggendongnya, bergerak perlahan menuju pembaringan.


"Pintu masih terbuka lebar Mal." Bisik Embun menjeda ciumannya.


"Aku tau."Dessaahh Malvin. kembali melahap bibir Embun.


Malvin kembali melangkah, hingga kakinya terpentok pinggiran ranjang dan terjatuh di atasnya. Bibir Malvin berpindah ke leher Embun, membuat beberapa tanda kepemilikan disana. Sementara tangan wanita itu mengusap kepala Malvin. Embun melenguh.


"Maaf." Malvin menatap wajah Embun yang pasrah dengan mata berkabut. Nafas hangat Malvin menerpa wajah Embun yang menghangat.


"Aku akan kembali kekamarku." ucapnya lagi sembari bangkit.


Aku harus berhenti sebelum lepas kontrol. aku tak ingin melakukaannya sebelum kau benar-benar menjadi milikku. batin Malvin.


Embun yang terbaring menatap pria itu sendu. Malvin berbalik mengambil langkah lebar.

__ADS_1


"Kau jahat Mal." lirihnya dengan nafas memburu , Malvin berhenti. Pria itu menoleh. melangkah sekali lagi mendekat dan mengulurkan tangannya.


"Ayo cari udara segar. Disini terlalu panas."


Embun menampik tangan itu dan menggeser tubuhnya.


"Aku mau tidur saja disini." meringkuk membelakangi Malvin.


Malvin tersenyum lucu.


"kalau begitu,aku paksa." mengangkat tubuh Embun.


"Apa-apaan kau ini?" meronta.


"Diamlah! Kau berat!"sambil berjalan.


Embun membuang nafasnya, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Malvin. menempatkan tangannya di dada pria itu. Malvin membawanya ke halaman belakang di samping kolam.


Malvin menurunkan Embun duduk direrumputan hijau yang tertata rapi bagai karpet itu. Lalu ia sendiri berbaring miring dan menjadikan paha Embun sebagai bantalnya. Embun mendessaah kesal. lalu mengelus kepala Malvin.


"Rasanya tenang bila menatap heningnya air."ucap Malvin.


"Heeemm...."


Hening.


Untuk sesaat mereka terdiam, merasakan desiran angin malam yang membelai kulit mereka. Angin yang dingin, hingga serasa menusuk kulit.


Malvin melipat tangannya didada menyimpan telapaknya diketiak.


"Dingin."


Embun terkekeh.


"Ini yang kamu cari."Embun melirik Malvin,"kamu sudah mendapatkannya."


Mereka terkekeh bersama.


"sudah mau kembali ke kamar?"


"Sebentar lagi."


______


Ke esokan paginya Malvin yang baru saja keluar dari ruang rapat Dewan berjalan cepat menuju ruanganya diikuti oleh beberapa sekertaris wanita termasuk Mayra dan Ken.


"Ini laporan penyelidikan internal yang anda minta Tuan."ken menyerahkan berkas pada Malvin.


"Baiklah. kita lanjutkan diruanganku."


####


Pintu lift terbuka


Ting!


Malvin beserta ekornya keluar, Malvin dan Ken berjalan menuju ruangan Malvin sementara Mayra dan yang lainnya berhenti di ruang seketariat menduduki meja kerja masing-masing.


"Mayra, buatkan kami kopi." titah Malvin sambil membuka pintu ruangnya.


"Baik tuan."


Malvin duduk di kursi kebesarannya, kembali melihat berkas yang diterimanya dari ken tadi. Malvin tersenyum kecut.


"Jadi dia orangnya?" gumam Malvin,"kenapa dunia ini sempit sekali."


"Maaf Tuan. Saya salah dalam menilai."


"Bukankah dia baru dua bulan ini menjabat sebagai plan direktur?"


"Benar."


"Dia sungguh berani." Malvin berfikir sejenak. "Lakukan sidak internal seminggu sebelum aniv Coren. Lalu umumkan setelahnya."


"Baik tuan." ucap Ken."Anda yakin akan menunggu selama itu. Mungkin kerugian anda akan semakin banyak jika dibiarkan."


"Tidak apa, aku ingin menyempurnakan rencanaku." mengulas senyum.


Toktok


Pintu ruangan Malvin dibuka. Mayra masuk dengan dua cangkir kopi.


"Tuan Malvin, setengah jam lagi waktunya pertemuan dengan utusan DN grup."


"Baiklah! aku mengerti."


Mayra pun pamit setelah meletakkan dua cangkir kopi di meja Malvin.


"Minumlah Ken."


Ken mengambil kopinya,


"Apa anda tidak terganggu dengan Mayra?"

__ADS_1


"Kenapa?"


"Kurasa pakaiannya sedikit terbuka."


Malvin tergelak.


"Itu bukan sedikit. Dia memang mengekspose tubuhnya."geli


"Saya yakin nona Embun tidak akan nyaman melihat dia ada disekitar anda."


Malvin tergelak.


"Bagaimana kalau kugunakan dia untuk membuat Embun cemburu?" mengerling nakal.


"Sebaiknya jangan."sedikit bergidig,"Wanita menakutkan bila cemburu."


"Hahaha... kau ini jomblo tau dari mana?"


"saya memang jomblo tapi saya lebih ekspert dari anda tuan."


####


sementara itu, diruang pantri sekertariat.


"May , kamu beruntung sekali ikut pertemuan dengan Tuan Malvin."


"hihihi.. Akan kugunakan kesempatan ini untuk merayunya."ucap Mayra membuka satu kancing kemeja atasnya, hingga menyembulkan sedikit bagian atas yang menonjolnya.


"Tidak ada bule yang tidak tergoda oleh keseksian seorang wanita cantik sepertiku."sambil memoles bibirnya dengan liptik.


temannya menggeleng. "Semoga sukses May."


####


Malvin serta Kenan dan Mayra berjalan memasuki lift, Malvin dan Mayra akan berangkat untuk pertemuan dengan DN GRUP di sebuah restoran skalian untuk makan siang bersama. sementara kenan melanjutkan tugasnya di gedung utama.


Malvin dan Ken yang lebih dulu masuk di ikuti Mayra, kaki wanita itu sengaja terantuk dan hampir jatuh kearah Malvin, tentu saja refleknya menangkap tubuh Mayra.


"Perhatikan langkahmu May." membantu berdiri tegak.


"Maaf Tuan." tersipu nakal. "saya terantuk."


Ken tersenyum tipis.


Dalam lift yang bergerak hanya ada keheningan. Hingga akhirnya Malvin bersuara.


"Berapa gajimu disini Mayra?" tanpa menoleh pada Mayra yang berdiri disebelahnya.


"Iya?" sedikit menoleh.


"Aku bertanya berapa gajimu?" Malvin mengulang.


Dengan tersipu Mayra menjawab nominalnya.


Mungkin Tuan Malvin berniat menambah gaji ku. hohoho.. batinnya.


"Itu cukup untuk membeli baju yang lebih tertutup." ucap Malvin.


Wajah Mayra berubah, dia tersenyum canggung, ia merasa tersentil.


" Aku tak mau citra perusahaan kita terpengaruh oleh gaya busanamu. Jadi belilah baju yang lebih pantas. Kamu mengerti?"


"Baik Tuan. Saya hanya mengikuti tren." menunduk sangat malu.


"Lakukan itu diluar perusahaan."tegas Malvin.


"Baik."


Ken kembali tersenyum tipis.


####


Mobil Dinas yang Malvin dan Mayra tumpangi berhenti didepan sebuah restoran. Dengan wajah sedikit terkejut, Malvin menatap restoran itu.


"Disini?"


"Iya tuan."


"Bukankah mereka mengajak di restoran jepang? kenapa malah kemari."


"Mereka mengubah lokasi pertemuannya. Anda keberatan?"


"Tidak. lagipula mereka sudah menunggu."


Malvin memasuki restoran itu. Yang ternyata restoran Sebening Embun.


Malvin dan Mayra menuju bagian kasir.


"Reservasi atas nama Tuan Anggara dari DN GRUP." ucap Mayra pada petugas kasir.


"Silahkan ikut saya tuan dan nona." ucap salah satu pelayan disana bukan pelayan sebenarnya, salah satu menejer." Tuan Anggara sudah menunggu."


___€€€____

__ADS_1


__ADS_2