
Malam itu, Embun berada dalam mobilnya menuju rumah saat telpon selulernya berdering. Wanita itu memasang handsfree.
"Ada apa Mal?"
"Jangan pulang! pergilah ke Apartemen."
"Danu mengikutiku?"terkejut.
"Hmmm...."
"Apa yang kulakukan disana? Bagaimana jika Danu menerobos masuk?"
"Kamu punya bodyguard yang selalu menjagamu. Dan semua sudut apartemenmu dipasang cctv termasuk kamarmu."
"Benarkah?"
"Jadi jangan ganti baju dikamar."
"Lalu dimana aku ganti baju?"
"Pakai saja di kamar mandi atau ruang ganti."balas Malvin.
"Aaahh... baiklah." ucap Embun. "Apa kamu selalu mengintai kamarku? menungguku mengganti baju?"
"Hei! Kenapa malah membicarakan ini?"Malvin jadi kesal.
"Hihihi... Maaf aku hanya penasaran."senang membuat Malvin kesal.
Malvin menghela nafas beratnya.
"Jaga dirimu. Aku masih mengawasi melalui cctv."
"Baiklah."
"Aku mencintaimu."
"Aku juga."
Sambungan telpon terputus. Embun melirik kaca spionnya.
"Haaahh.. tidak terlihat apapun, benarkah Danu mengikutiku?" gumamnya.
Embun membelokkan mobilnya menuju apartemennya. Memarkirkan mobilnya di basement. Embun memasuki lift dan menekat lantai 9, pintu lift mulai menutup, saat itu Danu menerobos masuk melalui celahnya.
Pria itu tersenyum lebar menatap Embun.
Brengsek ini benar-benar mengikutiku kemari. -batin Embun menatap dingin padanya.
"Kita bertemu lagi Embun."
Embun tersenyum tipis, berusaha tak terpengaruh.
"Kau mengikutiku kemari,Mas Danu?"
"Kenapa mengabaikan pesanku, panggilanku?"cerca Danu berbalik bertanya. tubuhnya semakin mendekat.
"Kenapa tidak?"
"Apa?" Danu tertawa kesal."Kau jadi cantik dan sekarang kamu mengabaikanku?"
"Aaahh, benar, Aku jadi cantik dan kamu mengejarku sekarang?"
Danu tersentil. Embun yang ini terus menyerangku. Jelas bukan hanya fisiknya yang berubah, tapi kepribadiannya juga. Semakin membuatku penasaran.-pikir Danu bergairah.
"Aku ingin bertemu Kay." ucapnya beralih topik.
__ADS_1
"Untuk apa?"tanya Embun tetap bersikap dingin.
Danu tertawa jengkel.
"Untuk apa? Aku ayahnya Embun!"
"Ayah yang sudah mengurung dan memukulnya. Kau ingat?" mata Embun menatap nyalang pada pria didepannya. Tampak sekali kemarahan di matanya.
"jangan lupakan itu mas Danu."ketusnya.
Danu terdiam. Dia terlihat menyesali perbuatannya pada kayla.
"Aku tau! Karena itu ijinkan aku menemuinya. Aku akan memperbaiki semuanya. Termasuk hubungan kita." Danu berucap penuh keyakinan.
Embun tersenyum tipis, tatapan matanya memandang remeh pada Mantan suaminya itu.
"Berusahalah!" tantangnya.
Pintu lift terbuka dilantai sembilan. Embun melangkah keluar. Dia berjalan menuju pintu apartemennya. Danu mengikuti dibelakang.
Embun membuka pasword pintu apartemennya dan memasukinya perlahan. Danu bersungut mengikuti.
Kini mereka berada dalam ruang utama. Embun berhenti.
"Aku tidak menyuruhmu masuk mas Danu." sinis embun menoleh sedikit dan masih membelakangi Danu.
"Dimana Kayla? Suruh dia keluar." pinta Danu berdiri tak jauh dibelakang Embun.
"Dia tak ada disini!" jawab Embun mensedakepkan tangannya dengan masih membelakangi Danu.
Danu tertawa remeh.
"Kau boleh memeriksanya jika tak percaya." ucap Embun lagi-lagi tanpa menoleh.
"Kau menemukannya?"remeh Embun tanpa menoleh kearah Danu.
"Dimana Kayla?"kekeuh Danu bertanya.
"Dikota B" Embun menjawab asal yang penting di luar kota.
"Apa?" Danu tersentak kaget. mengambil duduk di sofa seberang Embun duduk.
"Apa kau bilang?" Danu meminta penjelasan.
"Kayla ada di kota B."
"Kenapa? Kenapa kau membawanya kesana tanpa berdiskusi dulu denganku?" Danu kesal, sepertinya pupus sudah alasan dia untuk bisa bersama Embun lagi. Dia berniat menggunakan Kay.
Embun tertawa remeh.
"Apa kau berdiskusi dulu dengan ku sebelum menyiksa anakku? Haaahh?"sentak Embun menatap Danu dengan mata membola.
Danu menghela nafasnya. menutup matanya mencoba menenagkan diri, lalu kembali membukanya.
"Aku tau. Aku tau aku salah. Maafkan aku."
"Huuuuhhh." Embun memalingkan wajahnya.
"Aku benar-benar menyesal Embun. Maafkan aku! Biarkan aku memperbaiki segalanya. Aku mohon."
Embun mengalihkan pandangannya memalingkan wajahnya kesamping.
Danu berjalan mendekat. Berlutut didepan Embun.
"Maafkan aku."
__ADS_1
Embun tersenyum miring, tanpa mengalihkan pandangannya.
Tangan Danu bergerak menyentuh kaki Embun membuat Wanita itu terlonjak dan melihat kearah pria yang kini bersimpuh didepannya. Danu melepas sepatu hak tinggi Embun dengan penuh kelembutan. lalu mencium kakinya.
Embun membuang nafasnya tak percaya. Rasa itu menjalar dari ujung kakinya yang dicium Danu hingga ke hatinya.
Dia bahkan mencium kaki ku sekarang. batin Embun.
Malvin melihat semua adegan itu melalui cctv menatap dengan hati bergetar.
Jangan menatapnya seperti itu Embun. Kamu melukai hatiku. - batin Malvin
"Ini tak akan merubah apapun mas Danu."ucap Embun menguatkan hatinya.
"Aku tau."menatap wajah Embun dengan mata berkaca.
Embun hampir goyah, walau bagaimanapun Danu pernah mengisi hatinya.
Jangan lemah Embun. Dia pria brengsek yang sudah menghajar anakmu! Apa kau akan melupakannya begitu saja? Tidak! Tentu tidak! batin Embun
"Pulanglah." Embun menyentak kaki hingga terlepas dari tangan Danu, dia berdiri melangkah 2 jengkal dan membelakangi Danu.
"Istrimu pasti sudah menunggu dengan gelisah." sambungnya mensedakepkan tangannya.
Danu terdiam, dia terlihat berfikir sejenak lalu berdiri.
"Aku akan kembali lagi besok."
"Jangan! Urus saja istrimu dan calon anakmu yang berharga itu."
"Aku akan kembali" ucap Danu melangkah pergi.
Terdengar suara pintu depan menutup dan mengunci otomatis. Embun menghela nafas leganya.
"Maaf kan aku Mal." Gumamnya.
Embun berjalan ke kamar mandi, merendam tubuhnya dalam bak mandi yang terisi air hangat dan sabun aroma terapi. membuatnya sedikit menenang.
Embun menutup matanya, menenggelamkan wajahnya hingga kedasar bak mandinya. terdiam sejenak disana. Lalu kembali muncul dipermukaan. menghirup udara lagi dan menusap wajahnya.
Matanya membola, saat dilihatnya ada Malvin di ujung bak mandinya duduk menyandarkan bokongnya disana.
Embun mengusap wajahnya sekali lagi. Benar! Memang ada Malvin disana.
"apa yang kamu lakukan disini?"
"Kenapa menenggelamkan kepalamu di bawah sana?"
"Ini kebiasaanku..."
Malvin menggeser duduknya hingga mendekat kearah Embun mencondongkan tubuhnya meletakkan sikunya bertumbu pada kedua pahanya.
"Katakan padaku Embun. Apa masih ada Danu dihatimu?"
"Mal...." menatap mata Malvin. Mata pria itu begitu penuh harap.
"Tidak Mal. Hanya ada kamu."
"Lalu kenapa kamu tak mau menikah denganku?"
"Kamu juga tau alasannya bukan?"
"Kay." Malvin tertawa kecil. "lalu jika Kay ingin kalian kembali bersama Danu. apa kamu akan mengikutinya?"
Embun terdiam menatap sedih pada Malvin. Dia merasa bersalah. sangat menyesalkan pimikiran Malvin, tapi itu juga tidak sepenuhnya salah. Mungkinkah bila Kayla memintanya kembali, dia akan kembali pada Danu?
__ADS_1