Dicerai Karena Dekil(Dinikahi Bos Mantan Suami)

Dicerai Karena Dekil(Dinikahi Bos Mantan Suami)
Chap 58


__ADS_3

Malvin duduk diatas kursi kerjanya. Dia mengecek beberapa email di komputernya. Tak lama pintu diketuk. Kenan masuk dan sedikit membungkuk memberi salam.


"Bagaimana kabar inspeksi internal PT CORREN?" tanya Malvin.


"Tersangka mencoba membuat alibi dan account baru. Sepertinya dia berusaha membuat rekannya menjadi satu-satunya pelaku."


"Licik!"ujar Malvin sedikit kesal."Selesaikan secepatnya Ken. Tidak perlu membawa kasusnya sampai ke pihak berwajib. Cukup keluarkan saja dia."


"Baik." balas Kennan."Anda yakin? Dia sudah sangat merugikan Corren."


"Tak apa, Aku masih menghormati Embun. Aku juga ingin melihat reaksinya jika tau kasus ini."


"Baik Tuan." tersenyum tipis.


Tok tok tok


"Dia sudah datang."Malvin tersenyum lembut.


Kennan membuka pintu ruangan Malvin dari dalam. Embun tepat didepan pintu tersenyum manis dengan membawa dua bungkus bekal.


"Masuklah nyonya."ucap Kennan ramah mempersilahkan Embun masuk.


"Terima Kasih." Embun melangkah masuk kedalam ruangan Malvin.


"Saya pamit undur diri nyonya dan tuan." ucap Kenan.


"Ok. Selesaikan hari ini Kenan."titah Malvin yang masih duduk bersandar pada kursinya.


"Tunggu sebentar."Embun yang membawa dua box bekal makanan mengulurkan satu pada Kennan.


"Aku membawa satu untukmu."ucap Embun, "Ambillah."


Kenan menatap bungkusan bekal berwarna biru itu. Dia melirik Malvin, seolah meminta ijin bolehkan menerimanya.


"Kenapa malah melihatnya. Kamu sudah bekerja dengan keras, Ambillah."kata Embun yang menyadari kearah mana lirikan Kennan.


"Iya, cepat ambil Ken, dan pergilah. Kami butuh privasi."ujar Malvin beranjak dari duduknya."Atau kamu mau lihat pertunjukan live, heeeemm?"memeluk tubuh Embun dari belakang.


Ken mengambil bungkusan itu."Terima kasih nyonya."


Kennan berbalik dan membuka pintu ruangan Malvin.


"Ken!" panggil Malvin


"Iya tuan?"


"Carilah pasangan, biar nggak terlalu ngenes."


Embun menepuk tubuh Malvin yang menurutnya asal berbicara, yang ditepuk malah cengengesan.


Kenan tersenyum tipis."Baik tuan. setelah semua selesai saya akan cari pasangan."


Kenan lalu menghilang dibalik pintu.


"Sampai dimana kita?" mengecup pipi Embun.


"Ayo makan dulu." melepas pelukan Malvin.


"Ck. Aku bahkan belum menciummu. Kamu sudah mengajakku makan." Malvin memeluk lagi.


"Kamu sudah mencium pipiku tadi." kesal Embun mencicit.


"Bibirmu belum."Malvin menyambar bibir istrinya.

__ADS_1


"Hmmmpp...dasar otak mesum." gumam Embun membalas suaminya.


_____


"Apa Kennan juga mendapat menu yang sama denganku?" tanya Malvin melihat makan siangnya yang menggugah selera itu.


"Heemmm.. tapi tanpa cinta." jawab Embun mengulas senyum."Yang ini spesial."


"Baiklah Nyonya Malvin. Karena ini spesial, jadi akan kumakan." ujar Malvin melihat makanan didepannya menyeluruh."Suapi aku."


Embun terkekeh. "kenapa aku merasa seperti bertambah anak baru?"


"Hahaha.. kemarilah!" Menepuk pahanya.


Embun berpindah duduk paha Malvin."Sekarang apa?"


"Aaaaaa...." Malvin membuka mulutnya lebar-lebar.


Embun mengulas senyum, dia mengambil sesendok nasi dan menyuapkannyan ke mulut Malvin.


"Kunyah kunyah dan telan."Ucap Embun mengelus jakun Malvin. "pintar."


"Hei! kamu pikir aku anak kecil?"kesal


"Hahahah... Aaaaa" Embun kembali menyuapi Malvin.


Malvin membuka Mulutnya dan melahap. Malvin menatap wajah Embun yang sibuk menjejalkan makan kemulutnya.


Semakin kesini, dia semakin mirip dengan Hana. Hanya ada beberapa hal dari mereka yang berbeda. batin Malvin


"Embun, tunggulah disini, aku mau ketoilet sebentar."


"Baiklah." Embun berpindah duduk disofa. Malvin beranjak dari duduknya mencium pipi Embun lalu melangkah keluar ruangan. Tinggalan Embun sendiri disana.


Embun melihat berkeliling, pandangannya menyapu seluruh ruangan itu. Embun beranjak dari duduknya melangkah perlahan ke meja kerja Malvin. Jari tangannya mengusap meja berbahan kaca tebal itu. Embun lalu duduk dikursi dibalik meja.


"Apa kamu selalu memandang kami saat bekerja?" lirihnya mengusap foto berbingkai itu.


Embun mengalihkan pandangannya, dia menarik laci meja. Di dalam sana hanya ada beberapa kotak obat dan entah apa, di ujung laci terdalam Embun melihat ada foto yang terbingkai indah. Embun mengambilnya. Dalam foto itu ada Malvin yang sedang memeluk dirinya dari belakang tersenyum menatap kamera.


Embun tertegun. Itu bukan dirinya, ia tak pernah berfoto seperti itu dengan Malvin. Ditambah lagi Malvin terlihat lebih muda.


"Jadi dia hana?"


"Setelah selama ini, aku baru menyadari kami memang mirip."gumam Embun lirih.


Embun tertegun. Ia teringat dirumah sebesar itu hanya ada satu foto Hana yang terpajang. Itupun disamping kamar Catty.


"Apa alam bawah sadarmu, yang menuntun datang padaku? Karena kemiripan kami?" lirih Embun berucap menyentuh foto itu. Menatap sendu.


jika benar begitu,akan sangat menyakitkan


CEKLEK!


suara pintu dibuka, dengan segera Embun memasukkan bingkai foto itu dan menutupnya kembali. Dengan wajah gugup menatap Malvin yang baru saja masuk.


"Ada apa? Kenapa wajahmu begitu?"


"Tidak ada." tersenyum kecut.


Malvin berjalan mendekat, berdiri tepat disamping istrinya duduk memandang foto diatas meja.


Malvin tersenyum, dia mengambil foto itu.

__ADS_1


"Apa kamu terharu melihatnya?"


"Melihat apa?"


"Ini!" menunjukan foto yang dia pegang.


"Aku selalu memandanga setiap kali merasa lelah atau buntu. Kalian penyemangatku." MLvin meletakkan kembali bingkai foto itu ke meja. Dia memutar kursi yang diduduki Embu hingga berhadapan dengannya.


"Kamu selalu menjadi yang paling kurindukan." Malvin menautkan bibirnya. Sesaat bergelut lidah dengan Embun. sampai dia merasa cukup. Malvin mengangkat tubuh Embun dan mendudukkannya diatas meja.


"Apa dulu waktu dengan Hana kamu juga seperti ini?"


Malvin terdiam sesaat, sangat kaget dengan pertanyaan Embun yang tiba-tiba.


"Kenapa menanyakan hal yang sudah berlalu. Itu tidak penting."


"Aku sangat ingin tau." menggigit bibir.


"Lepaskan! nanti sariawan." kata Malvin yang melihat Embun menggigit bibir. Dia menyentuh dagu Embun dengan jarinya.


"Mal,"


"Heeemmm?" menyatukan keningnya dengan kening Embun.


"Kenapa dirumahmu...."


"Rumah kita.."


"Aaahh, iya rumah kita hanya ada satu foto Hana?"


"Kamu sungguh-sungguh ingin membahas Hana?"


Embuun mengangguk.


"Baiklah. Sebenarnya aku tidak ingin membicarakan orang yang sudah meninggal. Tapi karena kamu sangat penasaran, sepertinya."Melirik manja Embun."Aku akan menceritakannya."


"Baiklah. Kamu mau aku mulai dari mana?" Menatap Netra Embun.


"Kenapa di rumah hanya ada satu foto Hana?"


"Itu karena, aku tidak ingin Catty terlalu bersedih, bila mengingat atau melihat mommynya. Kamu tau? Hana meninggal setelah menjemput Catty. Hanya Catt yang selamat dalam kecelakaan itu. Dan itu cukup membuat Catty terguncang. Karena itu jugalah Catty jadi homeschooling."


"Kasihan sekali Catty."Embun merasa prihatin."Aku tak tau gadis sekecil itu akan mengalami hal semacam ini. Apa semua sikapnya itu bermula dari ini?"


Malvin tersenyum kecut. Itu saja sudah cukup menjawab pertanyaan Embun. Sepertinya gadis kecil itu sudah terlalu banyak mengalami hal yang menimbulkan trauma.


"Aku sangat bersyukur dia bertemu dengan kalian ditaman. Catt sudah banyak berubah. Banyak sekali. Dan itu semua berkat kalian."


Embun tersenyum tipis


"Terima kasih."ucap Malvin tulus.


"Kapan kamu mulai menyukaiku Mal?"


"Entahlah. Aku tidak begitu ingat."


"Not Love at first sight?"


____€€€____


Dukung othor terus ya


Like dan komen

__ADS_1


salam


😊


__ADS_2