
Jantung Embun mengentak kuat. Menggedor rongga dadanya hingga dia kesulitan bernafas apa lagi menggerakkan tubuhnya. Langkah kaki terdengar mendekat kekamarnya. Embun yang panik itu bergegas lari kepintu kamarnya yang terbuka lebar.
Buru-buru Embun menutup pintu, belum sempurna pintu ditutup. Sebuah kaki terselip diantara pintu hingga tercipta celah. Embun panas dingin, keringatnya mengalir melalui pungnggungnya mengucur deras.
Embun menaikkan kepalanya yang menunduk. Netranya memgikuti kaki yang terselip, semakin keatas, pinggang,perut, dada dan wajah.
Wajah itu terseyum lebar, menampakkan deretam gigi putihnya. Jantung Embun berdetak lebih cepat dari biasanya.
Tampan!!
Batinnya memuji.
"Kenapa wajahmu begitu?" tanya Malvin yang merangsek masuk kekamar. Memeluk pinggang Embun dan langsung menciumnya.
Malvin memajukan langkahnya, hingga Embun mau tak mau bergerak mundur hingga dia terpentok pinggiran ranjang kamarnya dan jatuh. Malvin semakin getol merapatkan tubuhnya, bibir pria itu menyusuri leher Embun. Membuat tanda-tanda merah kecil dikulit putihnya.
Embun melenguh, membuat Malvin makin lepas kontrol Dia tarik pengikat bathrobe hingga terlepas. Menyibak menampakan tubuh Embun menyisakan pakaian dalam saja.
Tangan Malvin sulit dikondisikan, bergerak kesana kemari menjelajahi tubuh wanitanya. Nafasnya semakin memburu, bibir pria itu sudah sampai di perut Embun dan bergeser kepinggangnya. Malvin terdiam, mendengar lenguhan Embun berulang kali. Dia berhenti dan menatap tubuh putih itu tak mulus lagi, dipenuhi lukisan berwarna merah yang dia buat. Malvin memasang kembali bathrobe ditubuh Embun yang tersingkap.
Embun membuka matanya, menatap Malvin dengan nafas yang masih terengah. Pria itu pun tanpa sadar sudah setengah telanjang, memamerkan tubuh bagian atasnya yang berbentuk.
Malvin mengulurkan tangannya.
"Ayo bangun! Aku lapar." ucapnya."Kita makan dulu"
"Lagi?"
"Aku lapar Embun." masih mengulurkan tangannya.
"Selalu begini, tak bisakah kamu selesaikan apa yang sudah kamu mulai?" menggerutu menatap pria yang berdiri didepannya itu kecewa.
"Akan kuselesaikan bila sudah waktu." balas Malvin mengulas senyum."Ayoo."
"Kalau begitu. Jangan mencuri start!" Menyamplak tangan Malvin dan bangkit sendiri, meleyos keluar kamar.
Malvin tersenyum lucu.
Embun kesal, melangkah dengan menghentakkan kakinya membuang nafas kesal,
Selalu begitu! Tidak pernah tuntas, cuma mancing mancing giliran mau dimakan langsung ditarik. Sakitnya tuhh disini? Apa dia nggak ngilu begini terus? pikir Embun jengkel.
Huuuuuhhhh.... Sabar Embun. Lain kali nggak usah ditanggepin. Biar ngrasain sakitnya digantung. Haaaaahhh..... Embun masih kesal.
Netranya menangkap tumpukan di meja ruang utama. Embun melangkah mendekat lalu berhenti diruang utama melihat banyaknya bungkusan box makanan.
"Apa ini?"
"Makanan." jawab Malvin dari belakangnya, Embun menoleh dan melihat Malvin yang berjalan melewatin.
Pria itu mengambil duduk disofa dengan memakai kemejanya tanpa dia kancingkan, membuat tubuh depannya ter-ekspose.
Embun menelan ludahnya.
Astaga Malvin, apa dia sengaja menggodaku seperti ini? batin Embun tak habis pikir.
"Kamu mau sampai kapan berdiri disitu?" tegur Malvin."Cepat kemari! Bantu aku habiskan ini semua."
__ADS_1
Embun menyentak nafasnya. Lalu duduk di lantai disebelah Kaki Malvin yang duduk disofa. Embun menatap banyaknya makanan junkfood yang menggoda seleranya. Embun mengambil sepotong piza dan menggigitnya.
"Bagaimana caramu membawa sebanyak ini?" tanya-nya sambil mengunyah.
"Tentu saja dengan tangan."
"Maaallll!!!" menoleh menatap protes Malvin.
Malvin mendekatkan wajahnya, semakin dekat.
Apa? apa aku akan terpancing lagi?
Malvin berhenti hanya beberapa senti dari wajah Embun. lalu tertawa geli.
"Lihat mata julingmu itu." ledeknya, masih tertawa hingga bahunya berguncang.
Merasa dikerjai wajah Embun memerah karena marah dan malu, memepuk kaki Malvin kuat kuat.
"Hei hentikan! Sakit tau!" masih dengan tawanya. Membuat Embun makin berang. Memukul dengan lebih kuat dan sering.
"Hentikan! Hentikan! Sakit Embun!" menangkap kedua tangan Embun, "Maaf. Maaf oke? Heeemm?"
Embun menyentak tangannya hingga terlepas dari genggaman Malvin. Keduanya terdiam. Embun membenahi posisi duduknya menghadap meja. Dia mengambil sepotong piza lalu mengunyahnya. Bagitupun dengan Malvin, yang mengigit burgernya.
"Kenapa menekan bel dan menggedor pintu?"
Malvin menoleh,
"Aku sampai ketakutan tadi. Kupikir Mas Danu." lirih Embun setelah emosinya mereda.
"kami gedor pintumu karena kamu tak kunjung membukanya, karena panik mungkin terjadi sesuatu padamu, aku membukanya kasar."
Embun terperangah.
"Kamu mendobraknya?"
"Kau gila? Tentu saja tidak!"
"Kamu bilang membuka kasar."
"Aku membuka pakai pasword, begitu kunci terbuka, aku tendang pintunya karena tanganku penuh." ujar Malvin. "itu maksudnya."tersenyum kecil dengan memainkan alisnya.
Embun tersenyum kecut.
"Aku benar-benar takut tadi." Embun ikut tersenyum geli."Aku belum siap bertemu mas Danu lagi."
"Kenapa?"
"Hanya tak ingin." memakan lagi pizanya. "lagipula kamu melarangku."
Malvin merosot menyamakan posisi duduknya di lantai. Lalu merentangkan tangannya memeluk pundak Embun.
Embun menyenderkan kepalanya ditubuh Malvin dan memakan kembali pizanya.
Begitu saja, hanya diam tanpa percakapan. Hanya suara gigi yang beradu mengunyah makan.
###
__ADS_1
Hari yang dinanti telah tiba. Embun dipoles oleh seorang MUA profesional, menambah cantik dengan gaun pengantinnya. Kayla dan Catty juga menggunakan gaun indah berwarna biru cerah. Menatap ibunya.
"Mommy! Youre so beautyfuullll." mengacungkan dua jempolnya.
Embun mengulas senyuman.
"Kalian juga menggemaskan."mencubit pipi Kay dan Catty bersamaan.
"Ibu, Daddy pasti pingsan bila melihat ibu nanti."
"Mungkin akan kejang."timpal Catty sambil cekikikan.
"Catt, Dia Daddy-mu."
"Kepepet Mom." tertawa lagi, Embun ikut tertawa.
"Baiklah, Nona nona cantik, waktunya ke Altar." ucap MUA mendorong pelan punggung anak-anak.
Di gedung yang dihadiri kerabat serta beberapa rekan kerjanya dan orang-orang kepercayaannya, Malvin menunggu pengantinnya datang. Dengan jantung berdegub kencang namun senyuman tak lepas dari wajahnya. Dia sudah tak tau lagi bagaimana menjabarkannya. Yang jelas dia bahagia.
"Kenapa belum mulai juga?" tanya-nya pada Ken yang berdiri tak jauh darinya.
"Sabarlah tuan."Ken menenangkan, "Tenangkan diri anda, tarik nafas hembunskan, tarik nafas hembuskan, itu cukup berhasil untuk mengurangi gugup."
"Kamu meledekku?"
"Tidak tuan, hanya menyarankan."
Malvin tersenyum lucu.
"Ini bukan yang pertama kenapa rasanya segugup ini?"
Beberapa kali Malvin menarik nafas dan menghembuskannya untuk mengurangi kegugupannya. Dia juga mengelap keringat diwajahnya, walau AC diruangan itu cukup kencang.
Ken menarik sudut bibirnya melihat tuannya yang kentara begitu gugup.
Kriieeettt... suara pintu utama dibuka. Malvin menatap pintu itu dengan gugup. Kayla dan Catty muncul dengan membawa bunga ditangan mereka. Malvin tersenyum lebar,
"Putri-putriku cantik sekali." bergumam.
Kennan tersenyum lagi.
Dibelakaang mereka Embun berjalan dengan mengulas senyuman di wajah cntiknya. Malvin terdiam, dunia seolah berhenti berputar, hanya ada dia dan kekasihnya yang berjalan perlahan mendekat dengan bibir ramun yang terus mengulas senyum bahagianya.
"Kamu terpesona?" goda Embun begitu sampai disamping calon suaminya, mengerling nakal. "Lihat! air liurmu sampai menetes." ledeknya, walau tak ada apapun diwajah Malvin kecuali wajah tampannya.
Malvin merungkai senyum. Bersiap mengikrarkan janji sumpah setianya sampai akhir. Malvin kembali menarik nafas dalam dan menghembuskannya.
____€€€____
Readers kasih semangat ya buat Othor ini up lagi.😊
Like dan komen.____
^^Thank You^^
😊
__ADS_1