
Kembali ke situasi Embun dan Malvin.
Kedua insan itu duduk diruang keluarga, bersama dengan kedua anak gadisnya.
"Ibu dan Daddy Mal punya kabar bagus untuk kalian." ucap Embun memasukkan potongan buah kemulutnya.
"Appaaa Mommy?" cerca Catty tak sabar.
"Hmmm ...coba kalian tebak apa." goda Embun.
"Appaaa yaaa?" Kay mengetuk-ngetuk mulutnya."Mungkinkah liburan?"
"Hmmm hmmmm hmmm.." Embun menggoyangkan jarinya kekiri dan ke kanan.
"bukan ya?" Kayla kembali berfikir.
"Mungkin makan lagi?" tanya catty makin tak jelas.
"Bukan!"
"Hadiah?"
Bukan!"
"Ibuuu...."ucap Kay dan "Moommyy....."Catty bersamaan
Embun terkekeh.
"Bagaimana kalau ini?"
Embun mengulurkan foto usg. Batin Embun Mereka adalah anak sd. jadi tak mungkin mereka tau. Namun, lagi-lagi diluar dugaan.
"Bukankah ini foto USG?"ucap Catty manatap Foto itu dan Daddy Mal juga Embun bergantian. Tentu saja Embun tercengang, tapi dia ingat Catty memang gadis yang terlalu cepat dewasa dan mengenal hal-hal yang berbeda dari anak seusianya.
"Foto USG? itu kan untuk melihat Bayi." celetuk Kay."Apakah kami akan punya adik?" lanjutnya bersemangat.
Loohhh? Kay pun sama? Embun tercangang.
Embun mengangguk pelan.Catty dan Kay saling menatap satu saama lain.
"Jdi kami beneran akan punya adik?"
"laki-laki ataw perempuan ibu?"
tanya kedua nya tak sabar dengan mata berbinar.
"masih tiga minggu sayang. Belum kelihatan." ucap Embun senang, melihat kedua anaknya begitu antusias.
"Semoga laki-laki. Aku sudah punya kay. aku belum punya saudara laki-laki." mohon Catty menyatukan kedua tangannya didada.
"Heee... kamu juga berfikir begitu?" tanya Kay menatap Caty.
"apa Kay juga?"
"uuummm..." Mengangguk cepat dengan wajah senang.
"Lihat! anak gadismu juga menginginkan laki-laki." celetuk Malvin.
Embun terkekeh."Terserah bagaimana Tuhan mengaturnya saja. Heemmm?" ucap Embun tenang.''Mau laki-laki atau perempuan tetaplah anugrah."
"Iya Mooommm..." Catty dan Kay mendekat lalu memeluk ibunya.
"Kami mencintaimu Ibu..."
"ibu Juga."
Malvin mengikis jarak melihat anak gadisnya dan istrinya itu berpelukan hangat
"Daddy cemburu. Daddy juga sayang kalian." ucapnya ikut-ikutan memeluk.
Embun hanya tersenyum geli melihat tingkah mereka.
"ibu, kenappa disini kacangnya ada dua?" tanya Kay begitu mereka sudah meloloskan dari hangatnya pelukan berjamaah itu.
"coba kamu tebak Kay."ucap Malvin. Catti menepuk lengan kay.
__ADS_1
"Kay bodoh! Ini artinya kita akan punya dua adik sekaligus."ucap Catty yang lalu menutup mulutnya sendiri terkejut.
"Kembarr??" pekik nya.
"Benarkah ibu?" Kay juga ikut histeris.
Embun tersenyum geli dan mengangguk pelan. Catty melirik Daddynya.
"Daddy! inilah hasil mata kami yang tercemar. Dua kecebong jadi dua kacang."seru Catty meledek Daddy nya.
Astaga Catty
Embun sampai mendelik mendengar selorohan anak sambung nya. Malvin hanya menggelengkan kepala dan menyipitkan matanya , menatap anak gadisnya yang sudah tumbuh lebih cepat.
###
Kembali ke Danu.
Tubuh Danu terbaring dibrankar dengan luka disana- sini dan sudah tidak sadarkan diri. Dokter dan suster berlarian mengiringi brankar yang segera dibawa keruang operasi.
"Apakah tidak ada keluarganya?"tanya dokter yang mengiringi.
"Keluarganya belum datang."balas salah satu suster.
"Kamu sudah menghubungi pihak keluarga?"
"Kami masih berusaha dok."
"Gawat. dia harus segera menjalani operasi."
"Bagaimana ini dok. Nyawanya terancam bila tidak segera melakukan tindakan."
"Hhmmmm... Yang penting kita selamatkan nyawa pasien dulu "
Semua dokter dan perawat yang menangani masuk keruang operasi. Tepat saat itu Bapak dan ibu Damar datang.
"Bagaimana keadaan menantu saya?" tanya pak Damar pada Suster yang masih tersisa di depan ruang oprasi.
"Apa anda keluarga dari pak danuarta?"tanya perawat itu.
"Mohon tanda tangani prosedur operasi."ucap perawat.
"Appaaa?" pak Damar kaget, mengambil berkas yang disodorkan kepadanya. Lalu menandatangainya.
"Mohon selamatkan menantu saya." ucapnya penuh harap.
"Kami akan berusaha semaksial mungkin pak." ucap perawat itu lalu bergegas pergi.
Setelah melalui beberapa jam. Dokter dengan pakaian hijau keluar.
"Saya ingin menyampaikan. Operasi berjalan dengan baik. Pak Danu mengalami gegar otak dan beberapa patah tulang dibagian tubuhnya. Kemungkinan bapak Danuarta bila tersadar akan mengalami kelumpuhan. Namun kita tetap akan melakukan beberapa pemeriksaan dan test kedepannya. Saya hanya ingin anda mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk."
Bapak dan ibu Damar terasa lemas mendengar kabar mengejutkan itu. Ada apa ini? kenapa anak dan menantunya mengalami semua ini? Apa salah mereka?
###
Beberapa hari kemudian di kediaman Malvin.
Ponsel Malvin berdering malam itu. Malvin yang tengah memeluk tubuh Istrinya diatas pembaringan, perlahan membuka matanya, mengambil hpnya yang dia letakkan di atas nakas.
Panggilan dari Kennan.
"Aaahh,, ngapain jomblo satu ini telpon malam-malam."dengus Malvin."Hei, dia asistenku. wajarkan ya. harusnya ada hal mendesak."
Malvin segera menggeser tombol hijau.
"Ada apa Ken?"
("Tuan.....")
"Apaaa?" Malvin bangun terduduk, wajahnya sangat terkejut dan kaget mendengar kabar dari Kennan. Embun ikut terbangun karena pekikan Malvin.
"Ada apa sayang?" tanya Embun ikut bangun menyenderkan dagunya di pundak Malvin.
"Danu..... Kecelakaan."
__ADS_1
Sontak kabat itu membuat Embun terkejut. Walau bagaimanapun Danu tetaplah ayah dari anaknya Kay. Dia juga harus melihat keadaannya.
Malvin dan Embun bergegas menuju rumah sakit. Disana ada bapak dan ibu Damar. Mereka saling berpandangan ketika melihat Embun dan Malvin.
"Kami teman Danu dan Yura."
"Teman kerja."
Pak Damar menghela nafasnya.
"Sebenarnya, apa yang terjadi?" tanya Malvin duduk di kursi depan ruang isolasi tempat Danu dirawat. Setelah dia melalui operasi beberapa hari yang lalu.
"Sebenarnya, aku juga tidak yakin. Yang kutau. Danu kecelakaan dan kini masih belum sadar."
"Lalu dimana Yura?" tanya Embun"Kenapa aku tak melihatnya?"
Wajah Bapak dan ibu Dmar terlihat sangat murung. Namun akhirnya Pak damarlah yang bersuara.
"Yura sekrang sedang terapi di RSJ." terang pak damar lemas.
"Apaaa??" serentak Malvin dan Embun bersuara.
"Ba-gaimana bisa...." Embun nutup mulutnya tak percaya.
Pak Damar tak menjawab apapun hanya membuang nafas panjangnya saja. Sementara bu Damar terisak kecil. Embun jadi merasa iba pada mereka. Juga pada Yura dan Danu mantan suaminya.
Sepulang dari rumah sakit. Embun lebih banyak diam didalam mobil.
"Kamu baik-baik saja?"
"Mal, aku tak pernah mendoakan hal buruk pada mereka."lirih Embun. sesaat dia terdiam. lalu menggeleng pelan.
"Tidak! Aku dulu pernah mengharap mereka akan mendapat balasan yang lebih sakit. Tapi....." Embun mulai terisak. Malvin menepikan mobilnya dan berhenti.
"Honey." sebutnya, "Dengar! ini bukan salahmu."
"Aku tau....hiks hiks..."
Malvin menatap sayu pada istrinya itu.
"Kemarilah. Biar aku memelukmu." Malvin mendekatkan diri pada Embun lalu memeluknya.
"Kamu sedang hamil sekarang. Jangan pikirkan apapun yang tidak penting. oke?"
Embun mengangguk pelan. Malvin melonggarkan pelukannya. Manatap wajah cantik istrinya, membingkai wajahnya.
"Ingatlah aku selalu berada disisimu. Ingatlah kita memiliki keluarga yang utuh. bahkan kita mendapat anugrah lain. Ingatlah hal-hal yang baik. Jangan menangis dan bersedih. heeeem?"
Malvin menatap bola mata Embun menyakinkannya.
"I Love You." ucapnya mengecup bibir istrinya.
"I love you more Mal." membalas ciuman Malvin.
*Terima kasih Tuhan. Engkau telah memberiku ujian yang cukup dipernikahanku yang pertama, dan di pernikahanku yang kedua ini, semoga menjadi jalan bahagia kami.
saling menyayangi dan menjaga.
Untuk suamiku Malvin tetaplah mencintaiku walau aku akan berubah menjadi tua dan menyebalkan.
Untuk kedua anak gadisku. Selalu jaga diri dimanapun dan kapanpun. Akan kudidik kalian untuk menjadi pribadi yang tegar dan kuat.
Dan untuk bayi kecilku. Semoga kelak kalian... memiliki cerita sendiri... 😊*
DAH HABIS
___€€€___
Readers.. Terima kasih sudah menemani sampai sejauh ini. Cerita Embun dan Malvin sampai disini ya,
Jangan lupa like dan komennya.
salam.
😊
__ADS_1