Dicerai Karena Dekil(Dinikahi Bos Mantan Suami)

Dicerai Karena Dekil(Dinikahi Bos Mantan Suami)
Chap 34


__ADS_3

Embun terbangun pagi itu merasakan tubuh hangat yang memeluk erat tubuhnya dari belakang. Embun tersenyum membalikkan tubuhnya. menghadap pria yang kini tertidur pulas.


Semalaman Malvin tidur dengan memeluknya. Pria itu terlihat rapuh, walah guratan ketegasan tergaris diwajah tampannya. Namun dalam tidurnya dia terlihat begitu tenang pagi itu walau dimalam sebelumnya dia terus menatap Embun dengan pertanyaan akan hatinya milik siapa.


Embun tersenyum. Ini pertama kali nya mereka tidur bersama. walau hanya tidur bersama dan tak melakukan apapun. Hanya tidur dan saling memeluk memberi kehangatan dan menyalurkan rasa cinta tanpa napsu.


"Aku mencintaimu Mal, jangan ragukan aku." gumamnya.


Malvin mengeratkan pelukannya. Menarik tubuh Embun agar lebih mendekat dan masuk dalam dadanya. Matanya masih terpejam. Pria itu mengecup hangat punca kepala Embun.


Mereka kembali tenggelam dalam tidur mereka hingga suara alarm berbunyi nyaring. Dengan Malas Malvin mengambil hpnya yang tergeletak atas nakas disamping ranjangnya. Matanya sedikit membuka lalu terbuka lebar.


"Oouuuuugggghhh Shiitt!" umpatnya segera bangun dan berlari kearah kamar mandi.


Embun ikut terbangun. Dia melihat jam sudah pukul setengah delapan. Itu artinya Malvin kesiangan.


jam 7.45 pagi. Malvin berjalan cepat hingga ruang utama apartemen Embun,dengan memakai baju dan memasang dasinya.


"biar kubantu."


Embun membantu Malvin memasang dasinya. "sedikit menunduk Mal, Kamu terlalu tinggi."


Malvin menunduk, dia menyisir rambutnya dan Embun memasang dasinya dengan sangat rapi. Malvin meliriknya lalu menciumnya, mereka saling bertukar ludah saling membelit lidah tangan Malvin sudah melingkar ditubuh Embun. Memeluk erat tubuh mungilnya. Hingga nafas Malvin menjadi memburu. Ciuman nya semakin dalam dan menuntut.


Embun menyudahi mendorong sedikit tubuh pria yang masih menginginkan ciumannya itu.


"Kamu bisa terlambat." ucap Embun pelan.


Malvin melihat arlojinya.


"Aaahh, shiitt!" umpatnya, berjalan cepat ke pintu. "Kenapa harus ada rapat pemegang saham sepagi ini?" gumamnya.


"Selamat bekerja." ucap Embun yang mengantar Malvin hingga pintu depan.


"I love you honey." memberi cium jauh dengan tangannya. Embun menangkap udara, seolah menangkap ciuman yang Malvin lempar lalu menyimpannya disaku.


Malvin tertawa lebar. dan menghilang setelah berlari menuju lift. Embun tersenyum geli. Dia menutup pintu apartemennya.


"Baiklah, aku juga harus bekerja." gumamnya.


Embun mengecek beberapa hidangan di dapur. Sebenarnya, embun bukalah seorang chef ataupun koki resmi bersertifikat. Dia hanya seorang yang memiliki keahlian, dia tidak bersekolah di bidang itu juga tidak mencari gelar dibidang per chef an. Hanya masakan nya Enak. Restorannya pun bukan restoran yang menyajikan masakan bangsawan. Namun bisa membuat para bangsawan itu datang mengunjungi restorannya, sekedar mencicipi rasa makanannya.


Setelah memastikan seluruh aktifitas dapur aman Embun kembali keruangannya. Mengecek beberapa laporan keuangan dan ketersediaan bahan. Sebenarnya sudah ada yang bertugas melakukan itu. tapi sekali-kali Embun juga suka melakukannya.


Setelah semua beres Embun merebahkan diri di sofa tamu ruangannya.


Masih lama untuk jadwalku perawatan kesalon. Aku istirahat sebentar kurasa tak masalah. pikirnya memejamkan mata.


Pintu ruangannya diketuk.


Ya ampun aku bahkan belum sempat terlelap. gerutu batinnya.


"masuk!"


seorang pekerjanya masuk,


"ada apa?"

__ADS_1


"ada yang ingin bertemu dengan koki utama nona Embun."


"Suruh saja Tika yang menemuinya."


"Baik."


Embun kembali memejamkan matanya. pintu diketuk lagi.


ya ampun! Apa lagi sih ini? gerutu batinnya kesal.


"masuk!"


pekerja yang tadi masuk lagi.


"Ada apa kali ini?"


"Tamu itu ingin bertemu dengan Anda nona."


"Ya ampun! kenapa begitu menyebalkan. Katakan aku tak ada."


"Dia melihat mobil anda. juga melihat anda diruangan ini."


Astaga! kenapa orang ini begitu memaksa. kesal Embun.


"baiklah. Aku akan menemuinya."


Embun berjalan keluar ruangannya mengikuti arah pegawainya itu berjalan. Cukup jauh karena ternyata tamu misterius itu memilih meja sebelah dalam yang masuk ke areal taman di ujung bangunan restoran Embun. Bahkan tempat itu hampir dekat dengan dapur.


Embun berhenti didepan ruang VIP.


Tunggu jika disini dia bukan orang biasa. Pasti orang berpengaruh. Tapi kenapa mau bertemu denganku?


"Baiklah buka."


Pegawai itu membuka pintu ruang VIP Embun memasuki ruangan itu. Ada banyak balon dan bunga yang bertebaran menghiasi ruangan itu.


Embun tersenyum.


Malvin?


Embun melangkah semakin masuk kedalam tampak punggung seorang pria berdiri membelakanginya. Pria itu lalu berbalik, mengulurkan sebuah buket bunga didepan wajahnya.


Huuuuuuhhh....


Embun membuang nafasnya.


"Mas Danu! Apa yang kamu lakukan disini?"


"Kenapa sambutanmu dingin begitu?"mengulas senyum.


"Bukankah ini masih jam kerja?"


"Ini jam istirahat makan siang."


Embun memutar matanya malas.


"Ada apa mencariku?"

__ADS_1


"Waktuku sebentar. Temani aku makan siang."


"Aku masih kenyang."


"Ayolah. tidak enak makan sendiri."


"kalau begitu ajaklah teman."


"Benar! Aku mengajakmu sekarang." mengulas senyum lagi. Bunga yang dia sodorkan tidak juga diterima embun. Akhirnya Danu meletakkannya begitu saja di meja.


"Ayolah!"


Embun menyentak nafasnya kasar Huuuuuhhh!


Namun dia duduk juga dan ikut menikmati makanan.


"Aku anggap ini sebagai layanan kepada tamu."


"Terima kasih atas kerendahan hatimu nona."


"Terserah."


Setelah acara makan siang mereka berakhir Danu pamit dengan memaksa Embun menerima bunga nya. Danu mengambil tangan embun, dan meletakkan buket bunga itu disana. Hingga embun mau tak mau menerimanya juga.


setelah Danu pergi, Embun melemparnya ditong sampah.


"Bunga ini tidak bersalah, tapi pantas ditempatkan disana. seperti pemberinya." gumamnya. lalu pergi keruangannya.


Hari semakin malam, Embun kembali mengendarai mobilnya pulang menuju apartemennya. Malvin sudah memberitahunya untuk pulang ke apartemen saja. kemungkinan Danu masih akan datang.


Embun telah siap membersihkan diri dan berganti baju saat bel rumahnya berbunyi. Embun dengan malas membukanya. Benar saja Danu sudah ada didepan pintu dan langsung menerobos masuk. Membuat Embun kesal.


"Aku bahkan tidak menyuruhmu masuk Mas Danu." menyusul Danu yang sudah duduk diruang utama.


"Tidak masalahkan? Kau sudah membukakan pintu. itu artinya sama saja." Danu yang membawa beberapa pan piza dan kantong Burger meletakannya diatas meja.


"Ayo makan. Ini kesukaanmu dulu kan?"membuka box pan piza dan burger.


"Aku tidak lapar. makanlah sendiri."walau terlihat menggiyurkan bagi Embun.


Kruyuuuukk~


Danu tergelak.


"Sepertinya perutmu menghianatimu Embun."ucapnya meledek. "Ayolah! makan!"


Embun membuang nafasnya, dia ikut duduk dan memakan potongan piza,


"Kenapa membawanya kemari? Bagaimana dengan istrimu?"


"Kami sempat bertengkar tadi."


"Lalu kamu kabur kemari?"


"Heeem.. Aku berniat menginap.."


"Apaaa?" Embun langsung berdiri dari duduknya. menatap nyalang pada Danu.

__ADS_1


Benar-benar tak tau malu!


__ADS_2