
Malvin masih bersandar pada kaki meja, tubuhnya terasa lemas. Semangatnya seolah hilang begitu saja. tatapannya sendu. Pria itu menghela nafas panjangnya.
Mungkin aku memang harus melepasmu. Apapun yang bisa membuatmu bahagia walau harus kukorbankan hatiku..
Hp Malvin berdering. Dengan malas Malvin mengambilnya dari kantong celananya. Nomor tak dikenal. Malvin ragu, namun dia terima juga.
"Hallo?" ucapnya lesu.
"Daddy! Ini Kay!" suara Kayla disebrang sana terdengar memburu dan cemas.
"Kayla? Ada apa sayang?"
"Ibu!" Kayla mulai menangis.
"Kenapa dengan Ibu?"dengan suara sedikit khawatir mendengar tangis Kay.
"Seseorang membawa Ibu.."
"Appaa??" Malvin terkejut, hingga tubuhnya seketika On dari kelesuannya.
Kayla menangis lagi,,
"Ibu diculik Dad!" ucap Kayla sesenggukan,"Tadi kay lihat pria besar mendorong ibu masuk kedalam mobil dan membawanya pergi."
"Okey Kay, tenangkan dirimu. Kamu dimana sekarang?"
"Restoran ibu."
"Tetap disana, Daddy akan kirimkan Jo untuk menjemputmu pulang, Daddy yang akan mencari Ibumu, Okey?"
Ssnniiiffff....(menghisap ingus) "Eeemmm..."
Dengan wajah cemas, Malvin keluar dari ruang kerjanya,dia menghubungi bodyguard yang mengikuti Embun selama ini.
"Dimana?" tanyanya melalui sambungan telpon.
"Masih dalam perjalanan Tuan. Kami mengikuti Nona Embun. Seseorang membawanya paksa."
"Bagaimana ini bisa terjadi?"kesal Malvin
"Maaf tuan Malvin kami kecolongan."
"Jika terjadi sesuatu padanya habis kalian."
"Itu tidak akan terjadi, Tuan. Kami pertaruhkan nyawa kami."
"Beri aku perkembangan selanjutnya."
Malvin berjalan cepat keluar dari mansionnya, dengan mobil merahnya Malvin melaju, mengikuti petunjuk dari pengawal Embun. sebelumnya dia menyuruh Jo untuk menjemput Kay di restoran Embun.
Malvin membawa beberapa bodyguard bersamanya. mereka sampai di lokasi beberapa saat, dua bodyguard Embun sudah melumpuhkan beberapa orang penjaga. Malvin dan beberapa orangnya merangsek ikut menghajar mereka.
seseorang tampak keluar dari dalam gedung kosong itu. Malvin memukulnya hingga dia terjungkal kedalam.
BRRRAAAAKKKK
Malvin merangsek masuk kedalam bangunan itu. Darahnya mendidih mendapati orang yang di cintainya sedang tergeletak dibawah tubuh seorang pria.
Pria itu bangkit, Mereka sempat saling pukul sebelum dua bodyguard Malvin datang dan merobohkan pria itu. Malvin mendekat kearah yang Embun sudah bangkit terduduk, Malvin melepas jaketnya dan menyelimutkannya ditubuh Embun.
"Maafkan aku. Aku datang terlambat." ucapnya.
Melihat Malvin Embun menangis lega, dan akhirnya meraung dalam pelukannya. Malvin mengecup punca kepala wanita itu, membopongnya keluar bangunan tua itu. Sementara beberapa bodyguardnya masih tinggal mengurus para pria tak beradab yang menyekap kekasihnya itu.
Malvin dan Embun duduk dijog belakang, salah satu bodyguardnya yang menyetir. Malvin memeluk wanita yang masih terguncang itu. Sesekali dia mengecup kepala Embun.
Sesampainya di kediaman Malvin Kayla menyambut ibunya dengan wajah cemas. Gadis kecil itu langsung memeluk ibunya. Menangis dalam dekapan sang ibu. Embun berusaha setegar karang didepan anaknya. Mengusap punggung Kayla dengan senyum yang sedikit dipaksakan.
Malam semakin larut Embun duduk bersandar pada kepala ranjang kamarnya.
Toktoktok.
Pintu kamarnya terbuka dari luar. Malvin muncul dengan membawa nampan berisi makanan. Meletakkannya dinakas samping ranjang Embun. Malvin duduk dipinggiran ranjang menghadap Embun.
"Makanlah. Kamu sudah melewatkan makan malam."
"Aku nggak lapar Mal."
"Kamu lapar! Kamu belum makan sejak tadi." mengambil sesendok makanan dan menyuapkannya ke mulut Embun.
"Aaaaaaa...."
Embun membuka mulutnya,
"Dikunyah lalu ditelan."senyum.
Embun akhirnya makan beberapa suap,
"Sudah."ucapnya lemah.
__ADS_1
"Ini belum habis." kembali menyuapkan sesendok dimulut Embun.
"Apa kau tau siapa orang yang menyuruh mereka?"
"Sedang kami selidiki. Kamu nggak usah pikirkan. Serahkan semua padaku. Heemm?"
Embun terdiam sejenak.
"Apa menurutmu Yura dibalik semua ini?"
"Kau membacanya?"tersenyum tipis.
Embun ikut tersenyum tipis."Jadi benar dia?"
"Aku yang akan mengurusnya."
"Jangan terlalu keras padanya Mal, dia sedang hamil, lagi pula...."
Malvin masih mendengarkan, menunggu Embun menyelesaikan ucapannya.
"Lagipula?"
"Tidak! Terima kasih karena kamu sudah datang."Sedikit tersenyum, "Mereka belum bertindak jauh, hanya mengoyak bajuku dan...." Ucapan Embun tersekat, memgingat kejadian tadi.
"Dan meremas dadaku. Itu saja."lirihnya.
Tangan Malvin mengepal kuat. Sekuat itu dia menahan emosinya dan dengan memaksakan senyuman pada Embun.
"Kay yang menelponku."ucap Malvin akhirnya.
"Kayla?"
"Heeemm. Dia melihatmu dibawa pergi mereka dari restoran."
Embun terkesiap.
"Dia pasti sangat terguncang."
"Sama sepertimu."
Malvin beranjak. "Aku akan kembali kekamarku. Tidurlah yang nyenyak."
Malvin berbalik hendak melangkah. tangannya tertahan, oleh genggaman Embun, pria itu menoleh.
"Tidurlah disini! Aku masih sangat takut."pinta Embun.
Malvin tersenyum. "Baiklah."
Malvin membuka matanya. Turun perlahan setelah memastikan Embun sudah pulas. Malvin berjalan menjauh keluar dari kamar Embun, menghubungi salah satu bodyguardnya.
"Bagaimana?"
"Mereka sudah kami bereskan tuan."
"Bagaimana dengan dalangnya?"
"Kami sudah didepan rumahnya."
"Jangan terlalu keras padanya. Embun tak ingin kalian menyakitinya."
"Jadi sampai mana batas kami?"
Malvin tersenyum, "selesaikan versi kalian saja."
"Baik tuan! terima kasih."
Malvin menutup telponnya. Dia kembali lagi kekamar, berdiri menatap wajah kekasihnya yang tenang. Malvin menghembuskan nafasnya. Lalu kembali menghubungi bodyguardnya.
"Gertak saja."
Malvin menutup kembali telponnya dan menyimpannya diatas nakas. Malvin merangkak naik dan berbaring disisi Embun, mengusap rambutnya dan mengecup pelan keningnya. Dia memejamkan matanya dan tidur dengan bibir yang menempel di kening Embun.
####
Keesokan paginya Embun terbangun, mendapati wajah Malvin begitu membuka mata membuatnya tersenyum bahagia. Embun menyentuh bibir Malvin dengan jarinya.
"Kamu bilang akan melamarku, tapi tak terjadi apapun sampai sekarang."lirihnya bergumam. "Apa besok yang kamu maksud besok bulan depan? atau besok-besok kalau sempat?"
Embun mengerucutkan bibirnya, lalu tersenyum mengecup ringan bibir Malvin.
"Morning Kiss."
Embun bangkit dari pembaringannya dengan hati dan tubuh yang lebih segar. Dia sudah melupakan kejadian kemarin.
Minggu pagi, Embun sudah berada didapur, dengan koki keluarga Malvin. Embun ikut memasak. Pagi ini dia hanya membuat pasta, Malvin berdiri diambang penghubung dapur. Dia melirik para koki yang ada disana mengisyaratkam mereka untuk pergi, Embun menoleh dan berbalik melihat Malvin berjalan mendekat.
"Aku sudah selesai. Kalian tak perlu pergi."cegah Embun melihat para koki bersungut.
Embun menghampiri Malvin sebelum pria itu benar-benar masuk dapur, dengan membawa hasil masakannya.
__ADS_1
"Kau sudah bangun?"
"Heeemm.. Aku kesiangan."
"Ini hari libur, tak apa kesiangan." melirik Malvin dan melewatinya menuju meja makan.
"Ayo makan." ucapnya begitu meletakan pastanya dimeja.
"Makan apa?" berdiri dibelakang Embun
Embun membalikkan tubuhnya, dan bersedakep. "Pasta menunjuk dengan kepalanya."
"Aku mau memakanmu saja." dengan senyum lebar memeluk Embun menautkan bibirnya.
"Astaga! kenapa sarapan kami adegan dewasa seperti ini?" pekik Catty kesal.
Embun segera meloloskan diri dari Malvin, menatap malu pada kedua bocah yang menarik kursi makannya dan duduk.
"Kenapa kau selalu mengganggu kesenangan Daddy Cat?" protes Malvin menatap Catty dengan mata menyipit, "Anak macam apa kamu ini?"
"Huuuuuhhh.... Daddy macam apa yang terus meracuni pandangan anaknya dengan adegan dewasa seperti itu?" dengus Catty sengit."Bahkan tanpa malu menyalahkan ku?"
"Sudahlah. Maafkan kami Cat, Kay." Embun menengahi dan duduk mengambilkan mereka sarapan.
"Kenapa kau minta maaf padanya. Otaknya sudah tercemar."
"Astaga Daddy! Daddy lah yang mencemari Otakku!" dengus Catty lagi tak terima.
"Sudah! sudah! Ayo kita sarapan makanan. bukan sarapan debat. Heeemm?"
Seusai sarapan Embun bersiap hendak berangkat ke restonya, namun di tangga dia dicegat oleh Malvin.
"Mau kemana?"
"Ke SE."
"Hari ini dirumah saja." menarik tangan Embun menuruni tangga, dan berbelok ke halaman samping.
"Kenapa? ini week end, di SE pasti sedang ramai sekarang, setidaknya aku harus membantu Tika."
"Nggak! Kemarin kamu habis mengalami hal buruk disana, dan hari ini kamu hanya boleh dirumah."
"Mal?!"memaksa berhenti.
Malvin berbalik memegang kedua lengan Embun menatapnya intens.
"Aku tak mau hal buruk terjadi lagi padamu. Kali ini saja. ambil liburmu. Heeemm?"
Embun menghembuskan nafasnya, berbalik menatap Malvin. Lalu tersenyum, ia mengerti kekawatiran Malvin. Hingga ingin menjaganya tetap disisi.
"Baiklah! Sekarang apa?"
"Quality time. Anak-anak sudah menunggu dikolam." kembali berjalan.
"Kolam?"bingung, "Mau apa dikolam? Jangan bilang sepagi ini mau berenang."
Malvin terkekeh.
"Enggak berenang, tapi mancing!"
Begitu sampai di kolam samping yang banyak ikannya, disana Kayla, Catty dan juga Jo sedang bersiap memancing.
"Aku tak tau ada kolam ikan disini."
"Itu karena kamu kurang perhatian."
Embun tergelak.
"Aku selalu memperhatikanmu Mal,"
"Tapi kamu tidak memperhatikan rumah dimana kamu tinggal, buktinya kamu tidak tau ada kolam ini."
"Itu karena tempat ini terlalu luas."
"Kay tau."
"Itu karena dia suka menjelajah."
Malvin menatap Embun dengan mata menyipit seolah memprotes karena dari tadi terus membantah.
"Aku belajar darimu dan Catty." Embun terkekeh, seolah tau arti tatapan Malvin.
Hingga waktu menunjukan pukul sepuluh lagi, mereka asyik bercanda dan memancing, mereka juga membuat pembakaran hasil pancingan. Malvin menoleh ke kiri dan kekanan. Embun dan Catty sibuk dengan ikan dan bumbunya, sementara Jo mengotak atik jorannya.
Malvin yang sedang membuat api itu mengambil ponselnya yang bergetar. Panggilan dari nomor bodyguard Kayla.
Malvin tersenyum kecut. Dia kehilangan Kay. Malvin berjalan agak menyepi, menerima panggilannya.
"Katakan."
__ADS_1
"Nona Kay bertemu dengan Ayahnya di taman dekat CRD Corp, Tuan."
Malvin menatap Embun dari jauh. Lalu tersenyum getir..