
"Apa?"ucap Yura tak terima melihat seorang wanita cantik berkulit glowing berdiri angkuh didepannya."Siapa kamu berani sekali menghinaku?"
Wanita itu tersenyum tipis.
"Aku hanya salah satu pelanggan disini."ucap wanita itu.
"Rasanya sangat tidak etis jika kamu sudah menggunakan layanan disini tapi masih komplain dan terkejut pada tarif yang sudah jelas tertera disana."ucap wanita itu lagi. "Itu menunjukan seberapa levelmu."Melirik rendah pada yura.
Yura membuang nafas kesalnya."Kurang ajar sekali kau!"hardiknya.
Tampak petugas kasir menerima panggilan telpon ditengah kedua orang itu berdebat sengit.
"Sebaiknya kamu duduk dipojokan sana menghitung uangmu. Biarkan aku membayar lebih dulu." ucap wanita itu dengan langkah sombong mendekati Meja kasir.
Yura menyentak nafas kesalnya lagi."Apaaa??"
Yura kesal, sangat kesal. Bagaimana bisa dia dihina seperti ini. Ingin rasanya dia menjambak rambut wanita itu, tapi...
"Berapa tagihan saya?" ucap Wanita itu pada kasir.
"Tagihan anda sudah dibayar nona Mayra." jawab petugas kasir ramah.
"Apa?"kaget banget."Siapa?"
Yura yang kesal lalu mendatangi kasir. "aku juga mau membayar." mengeluarkan uang tunainya.
"Tagihan anda juga sudah dibayar nyonya Yura."
"Apaa?"Yura kaget banget mungkin lebih kaget dari Mayra."Si-siapa yang sudah membayarnya?"
"Hanya salah satu pelanggan VVIP kami. Beliau tidak ingin melihat keributan disini. Jadi mohon untuk segera keluar dari ini." jawabnya ramah namun sedikit memaksa.
"Apa? Maksudnya aku diusir begitu?" Yura terlihat tak terima.
"Mohon untuk tidak membuat keributan nyonya."pinta petugas kasir itu,"Perlukah saya memanggil Keamanan!"
Beberap saat kemudian, kedua wanita itu terlihat berjalan keluar dengan muka kesal. Saling menatap sengit lalu berbalik ke arah yang berlawanan.
Diruang khusus, lantai atas salon itu dari jendela kaca seorang wanita melirik sinis dengan senyum tipis pada kedua wanita yang baru saja keluar itu.
"Aku memang tidak begitu mengenalmu Yura, tapi sepertinya kamu memang suka mencari musuh." gumam Embun keluar dari ruangan itu.
Embun menerima kembali kartunya, setelah menyelesaikan beberap tagihan dikasir tadi.
"Terima kasih, sebenarnya kamu tak perlu melakukan itu Embun."ucap pemilik salon setelah menyerahkan. kembali kartu Embun.
"Tak apa aku hanya membantu seseorang menghabiskan uangnya."balas Embun mengedipkan sebelah mata lentiknya.
"Okey, aku mengerti, jangan seperti orang yang punya penyakit mata seperti itu." tertawa lucu.
"Baiklah, aku pulang dulu." cipika cipiki.
Embun keluar dari salon seusai perawatan rutinnya. Berkat inilah dia bisa menjadi seputih dan secantik sekarang, tentu saja ini tidak murah dan cepat. butuh waktu satu setengah bulan lamanya. hal yang sangat jauh dari yang bisa Danu lakukan.
Embun membawa mobil nya ke restorannya memarkirkan diarea parkir khusus. Embun keluar dari mobilnya. Embun lihat mobil Malvin sudah terparkir disana. Dia tersenyum, lalu melihat kearah lantai 3 dimana ruangannya berada. Pria itu berdiri di balik jendela kaca sedang melihat kearahnya juga,dengan kedua tangannya yang dia simpan dalam saku celananya.
Tiba-tiba wajah pria itu berubah. Seseorang menarik paksa lengan Embun.
"Akhirnya!"ucap suara pria yang cukup Embun kenal."kenapa kamu susah sekali untuk ditemui?" terdengar jengkel.
__ADS_1
Embun menatap dingin padanya.
"Ada perlu apa denganku, mas?"
"Dimana Kayla?"
"Kenapa mencari Kayla?"Embun menarik tangannya hingga terlepas dari cengkraman Danu.
"Dia anakku Embun."ucap Danu penuh penekanan."Aku ayahnya. Aku berhak untuk bertemu dengannya."
"Benarkah? setelah apa yang kamu lakukan padanya kau masih menyebut dirimu ayah?"Embun berbalik menekankan ucapannya.
Danu menatap mata Embun yang jelas dimata wanita itu terpancar kemarahan. Danu menyadari apa yang sudah dia lakukan memang sudah keterlaluan. Dia terbawa emosi. Hingga bisa begitu kejam terhadap anaknya sendiri. Danu menundukkan pandangannya, menelan ludahnya dengan sangat susah, lalu kembali melihat mata Embun.
"Aku menyesal."
Embun tertawa remeh.
"Aku ingin minta maaf padanya."
"Akan kusampaikan padanya. Walau aku tidak yakin dia mau bertemu denganmu." Embun melangkah menjauh dari Danu.
"Embun."panggil Danu.
Embun berhenti tanpa menoleh kearah arah mantan suaminya itu.
"Aku benar-benar menyesal. Sampaikan maafku padanya dan aku ingin bertemu dengannya. Aku rindu."
Embun tersenyum tipis. lalu melanjutkan langkahnya meninggalkan Danu yang menatap nanar padanya.
Embun berjalan cepat semakin cepat dan berlari kearah ruangannya, saat pintu itu sudah mulai terlihat oleh matanya. Embun membuka pintu ruangnya. Melihat Malvin berdiri tak jauh dari jendela kaca. Mata Embun berair. Pria itu tersenyum. Embun berlari dan memeluknya, tangan kekar itu berbalik memeluk lembut padanya,
Embun menghirup aroma menenangkan ditubuh Malvin. Pria itu selalu bisa memberinya kenyamanan, rasa aman dan rasa dicintai.
"Kamu mau mempertemukan mereka?"
Embun menggeleng.
"Kalau begitu jangan! Katakan Kay ada diluar kota."
Embun melonggarkan pelukannya mendongak melihat wajah Malvin. Malvin menagkup wajah Embun,
"Ayo duduk. Aku capek dari tadi berdiri disini."Malvin menuntun Embun ke sofa.
"Apa kamu berdiri disini dengan gaya seperti itu dari tadi?"
"Heemmm.. apa aku terlihat keren?"Malvin dudukkan bokongnya dan menarik tangan Embun hingga wanita itu terduduk di pangkuannya.
Embun tertawa geli.
"Berapa lama?" Melingkarkan tangannya di leher Malvin
"satu jam."
Embun tergelak. Malvin tersenyum kecil menatap sayang pada wanita didepannya. Saat tawa Embun berakhir, Malvin mencium lembut bibirnya. Memeluk erat tubuhnya.
"Jangan berhenti."lirih Embun meminta saat Malvin mengakhiri ciumannya.
Malvin kembali menciumnya, membelit lidah Embun yang berbalik menyesapnya, hari ini Embun sedikit lebih agresif membuat Malvin tertawa lucu.
__ADS_1
"Jadwalku sedikit padat hari ini. Mungkin nanti aku akan pulang malam."Ucap Malvin."Aku akan langsung masuk ke kamarku. Jadi jangan menungguku."
"Baiklah."
"Ayo kita susun rencana untuk nanti malam."
______
Malam itu Danu dan Yura memulai makan malam di restoran Embun. Tanpa Yura tau itu restoran milik mantan istri suaminya. Tentu saja Yura sangat senang, jamuan dan makanan yang sangat enak. suasana yang romantis membuat Yura betah dan bahagia malam itu.
"Aku tau restoran ini sedang viral. tapi aku tak tau tempat ini seramai ini."
"Itu karena makanan disini sangat enak."
"Benar! Enak sekali Mas, juga nggak membosankan, seperti mencoba masakan baru."ucap Yura memandang berkeliling."Suasananya juga sangat romantis."
Danu hanya tersenyum tipis.
"Terima kasih Mas Danu."
"Tentu saja sayang. Untukmu dan anak kita." balas Danu.
Seorang pelayan datang, dengan membawa dua gelas dan satu botol minuman.
"Saya tidak memesan ini." ucap Danu pada pelayan.
"Koki utama kami yang memesankan ini. Beliau terkesan dengan keromantisan kalian." ucap pelayan sambil meletakan dua minuman itu.
"Benarkah?" Yura bersemangat. berbeda dengan Danu, dia tau betul siapa koki utama yang di maksud.
"Istri saya sedang hamil. Tak seharusnya meminum minuman seperti ini."tolak Danu dengan halus.
"Ini bukan minuman beralkohol tuan. Anda bisa mencobanya." ucap sang pelayan ramah.
"Tapi, botol itu...." Danu terlihat sangsi menatap botol minuman yang cukup mahal ada dinampan yang dibawa pelayan. Pelayan itu tersenyum.
"Maaf. Ini pesanan meja lain. saya hanya sekalian membawanya. Maaf bila membuat anda salah paham." ucap sang pelayan lagi.
"Baiklah. Maaf sudah salah sangka." balas Danu dengan senyum lega.
"Katakan padanya kami sangat berterima kasih."
Pelayan itu undur diri.
Sepertinya aku terlalu jauh berfikiran tentang Embun. Dia tak mungkin sengaja memberi alkohol pada Yura yang sedang hamil. Huuhh kenapa aku jadi berfikiran buruk padanya. Batin Danu menyeruput minuman yang baru saja diantar sang pelayan. Ini Enak! Sepertinya dia masih punya perasaan padaku.
"Baik sekali koki utama restoran disini..Kita bahkan ditraktir minuman ini." ucap Yura menghabiskan minumannya. "ini enak Mas Danu!"
Danu melihat jauh dibelakang Yura, Embun sedang tersenyum tipis padanya. Wanita itu terlihat semakin cantik dengan make up diwajahnya, dan baju terusan berwarna terang yang menggoda. Embun mengangkat gelas yang dia bawa seolah mengajak bersulang jarak jauh, lalu menyesapnya perlahan. Kemudian berjalan menjauh dan menghilang. Membuat Danu membulatkan matanya, dia tak boleh kehilangan wanita ini kali ini.
"Aku jadi ingin bertemu dengannnya."suara Yura yang kemudian mengalihkan perhatiannya.
"Tidak usah!"ucap Danu cepat. "Ayo kita pulang ini sudah terlalu malam."
Danu berdiri dan menarik tangan Yura.
"Mas?" Yura bingung namun ikut berdiri dan mengikuti Danu.
"Mas Danu!"
__ADS_1
"Mas Danu?"
Embun,, Aku tak akan membiarkanmu lolos kali ini. Aku pasti mendapatkanmu kembali. batin Danu.