Dicerai Karena Dekil(Dinikahi Bos Mantan Suami)

Dicerai Karena Dekil(Dinikahi Bos Mantan Suami)
chap 73


__ADS_3

Embun tidur di sofa tamu ruang kerjanya saat Malvin sampai disana. Pria itu berjongkok meenatap wanita yang tengah terlelap itu.


"semoga hanya kecapekan aja." gumamnya menyentuh kening Embun.


"Nggak panas. huuuff.."gumam Malvin pelan.


Malvin menatap wajah Embun lekat lekat.


"Sepertinya aku memang harus menunda sampai besok. kamu pasti akan terkejut mengetahui siapa ayahmu." gumam Malvin lagi.


"Ayah?" Embun membuka matanya perlahan memdengar gumaman Malvin.


"Kau sudah menemukan ayahku Mal?" embun duduk terbangun.


"Kau sudah bangun."tanya nya pada istrinya itu.


"Heemm..." dehem Embun."siapa ayahku?"


"Bagaimana keadaanmu? kita kesana saat kamu udah sehat."


"Aku baik-baik aja."jawab Embun yakin."kamu menemukan ayahku dimana?"


Malvin tersenyum melihat Embun begitu antusias.


"Kamu pasti udah nggak sabar buat ketemu ya?"tanya nya menyentil hidung Embun.


"Heemmm.."


"Bagaimana kalau malam ini kita makan dulu."ajak Malvin mendekatkan wajahnya, mengecup ringan pipi wanitanya itu.


"Baiklah."Embun menyetujui. Malvin dengan cepat melahab bibir Embun yang menggoda itu.


"Aku yang akan pilih tempat."bisiknya melepas pangutannya.


"Baiklah" ucap Embun tersenyum."Tapi jangan terlalu jauh."


"Tenang saja, tempatnya ramah anak kok. kamu bakal suka juga nanti."


###


Malam itu setelah mereka kembali ke rumah, embun dan malvin bersiap untuk makan malam. Tentu saja dengan kedua gadis mereka.


"Kenapa lama sekali?" protes Malvin pada anak-anak gadisnya.


"lihat! mommy kalian saja tidak selama kalian. bbagaimana kalian yang masih anak-anak bisa lebih lama."


"Come on dad." seru. Catty berjalan melewatinya.


"Daddy jangan menggerutu. tidak baik." ucap Kay menyusul cat.


Malvin menyipitkan matanya.


"Hei kita sudah bersatu mendidik mereka, kenapa sepertinya mereka makin menjadi?"


"Hahahaa..." kekeh Embun menepuk dada malvin lalu ikut melenggang menyusul anaknya.


Dalam perjalanan Embun lagi-lagi merasa tak enak badan. Beberapa kali Embun hampir muntah, dia sempat meminta keluar dari mobil. Malvin yang kawatir sempat menyodorkan mineral padanya.


"Gimana keadaanmu?"tanya Malvin cemas."Bagaimana kalau kita kembali saja?"


"Nggak usah."tolak Embun."lanjut aja."


"Tapi sayang... kamu...."


"nggak apa. ayo. masih jauh nggak?"


"nggak cuma di resto tempat kamu kerja dulu."


"ooohh yaa?"


Sesampainya di resto tempat Embun kerja dulu. Embun menatapnya menyeluruh. tersirat rasa rindu dimatanya.

__ADS_1


"Oooo,, pak Danang!" seru Kay,


Gadis itu memang dulu pernah ikut kesana saat dulu ia sempat kabur dari rumah.


Pria yang di sebut pak Danang itu menoleh, dia tersenyum sumringah melihat Kayla.


"Waahh, siapa ini?" seru nya bersemangat. Kayla berlari menyalami dan mencium tangan pak Danang.


"Malam Pak Danang."


"iihh.. udah besar kamu Kay." mengusap kepala Kayla.


Embun dan yang lain nya menyusul dan berhenti tepat dibelakang Kay.


"Hmmm.. udah sehat kamu Embun?"


"Udah pak, terima kasih untuk yang tadi."


"Ini?" menatap dan menunjuk Malvin.


"Suami saya."


Malvin tersenyum ramah dan mengulurkan tanganya berjabat tangan.


"Malvin," sebutnya.


"Danang."


"Dan ini anak saya juga, Catty."ucap Embun memperkenalkan.


"Waahh... udah nambah anak kamu Embun.. padahal baru sebentar. hahaha" Canda pak Danang.


Embun menyambutnya dengan senyuman.


"Kami kemari mau makan malam."ucap Embun.


"Sekalian untuk bertemu dengan anda pak Danang."sambung Malvin.


Baik Embun, juga pak Danang memasang wajah bingung.


Satu paket keluarga Malvin dan pak Danang menemaninya, mereka memesan beberapa makanan disana dan menyantapnya. Diselingi canda dan gurauan.


"Sebenarnya tujuan kami kemari adalah untuk ini." Mavin menyodorkan dua lembar foto.


Pak Danang melihat kedua foto itu, Disana Dia dan Maia sedang tersenyum menatap kamera, dan satu lembar lagi, foto Maia yang sedang hamil besar. Wajah Pak Danang langsung berubah. Dia menatap Malvin dengan was was dan meminta penjelasan.


"Kami kerabat ibu maia."ucap Malvin seolah menjawab arti tatapan pak Danang.


"Apa yang kalian inginkan dariku?"tanyanya hati-hati dan sedikit curiga.


"Ibu Maia sudah meninggal."


"Apaa?" pak Danang terkejut hebat."Nggak mungkin. Bagaimana dia bisa meninggal?" Pak Danang tampak beremosi sekarng.


"Kami juga tidak tau pasti."jelas Malvin, "Hanya, Ibu Maia memiliki dua orang putri dan....."


"Mal!" sebut Embun yang dari tadi hanya menyimak."Mungkinkah....."Embun menutup mulutnya menatap pak Danang dengan mata berembun.


"Ada apa ini?"tanya pak Danang bingung sekaligus terkejut."Bicaralaah yang jelas."


"Apa anda tau jika anda memiliki anak dengan Ibu Maia?"


"Tentu saja!" tegas Pak Danang."Tapi mereka membunuhnya saat bayi kecilku masih didalam perut Maia. Kami akan pergi meninggalkan kota ini, namun mereka menemukan kami, dan membawa maia pergi. Sementara aku mereka buang ke jurang. Aku berhasil selamat. Dan aku mengganti namaku demi keamananku."


Malvin mengulas senyum.


"Syukurlah kami berhasil menemukanmu."


"Apa mereka....."


"Embun adalah buah cinta kalian pak."lanjut Malvin.

__ADS_1


"Apaa?"Pak Danang sangat terkejut melirik kearah Embun.


"Dan ada seorang lagi, namun dia sudah menyusul ibunya lebih dulu." terang Malvin lagi.


"Apaa?"


Pak Danang tampak tak percaya, menatap Embun dan Malvin bergantian. dia menyenderkan punggungnya. Dia terdiam sesaat memejamkan matanya lalu membukanya lagi setelah menghembuskan nafasnya.


"Saat aku melihatmu dulu, kamu sekilas mirip dengan ibumu." cerita Danang lemas, "Karena itu aku menerimamu, perjalanan hidupmu mengingatkanku pada diriku sendiri."


"Tapi aku tak pernah berfikir jika kau memang anakku."


"Kita bisa melakukan tes DNA untuk memastikan." ucap Malvin yakin.


Pak Danang mengulas senyuman. "Jadi kami memiliki anak kembar?"


"Heemmm...."


"siapa namanya?"


"Hana."


Pak Danang sekali lagi tersenyum, senyum getir.


"Embun dan hana." sebutnya."Apa yang mereka lakukan pada kalian?"


"Itu tidik penting pak Danang." haru Embun."Boleh aku memelukmu ayah?"


Pak Danang beranjak dari duduk dan berdiri menghampiri Embun, embun pun begitu. Lalu mereka saling berpelukan melepas rindu antara anak dan ayah.


"Putrikuu...."


"Ayaahhh...." lirih Embun... "Kenapa bapak jadi ayahku..."


Bahu pak Danang berguncang, antara tangis dan tawa.


"Benar." pak danang melepas pelukannya."Kenapa kamu bisa jadi putriku embun" ucapnya diselingi kekehan.


"kita bisa melakukan test DNA agar anda yakin pak." ucap Malvin dengan seberkas senyuman.


"padahal kita begitu dekat, tapi tak tau jika darahku mengalir ditubuhmu."ucap pak Danang lagi."kamu sangat menderita selama ini. Dan aku tak melakukan banyak untukmu."


"Sudahlah ayah."


Danang menghapus airmayanya.


"Jadi mereka cucuku?"


"Benar." Embun mengangguk pelan.


"Bagaimana bisa aku tiba-tiba punya cucu.hahaha."


"Ada yang lebih mengejutkan lagi." ucap Malvin pelan.


"Ini cucu dari hana." ucapnya menunjuk Catty,


"Dan ini cucumu dari Embun."lanjutnya.


"Dan kami satu keluarga sekarang." sambung malvin dengan seringai diwajahnya.


"Kau!"pekik Danang."kemaruk. semua anakku kau embat."


___€€€____


Readers, mohon dukungannya ya,biar othor semangat up terus.


Like dan komen.


Terima kasih


Salam____

__ADS_1


😊,


__ADS_2