
Didalam kamar mandi dikediaman Keluarga Malvin Vorobyov.
Embun duduk dipinggiran meja beton wastafel panjang, didepannya Malvin berdiri, dengan menempatkan tangannya di pinggang Embun.
Dengan telaten Embun mencukur bulu-bulu halus yang tertutup krim di wajah suaminya. Sesekali dia mencelupkan kepala mata pisau nya pada kubangan air yang menggenang di ceruk wastafel.
"Mal, jangan bergerak, diamlah sedikit." gerutu Embun kesal mendorong dada Malvin, karena suaminya itu beberapa kali mencoba mendekatkan wajahnya.
"Aku gemas. Aku ingin menciummu." celoteh prianya itu.
"Ck... selesaikan dulu cukurnya."decit Embun.
"Lalu?"
"Lalu mandi."
"Kamu ikut?"
"Jangan bergerak!"larang Embun tanpa menjawab pertanyaan Malvin.
"Bagaimana kalau kita mandi bareng? Sudah lama aku tak menggosok punggungmu." ajak Malvin mengingat-ingat.
"Enggak! Nanti malah semakin lama."tolak Embun masih mencukur suaminya.
"Ayoollaahh..."rengek Malvin."Pasti sudah banyak daki disana."
"Enggak Mal, kalau mandi bareng nanti acaranya nggak cuma mandi, merambah kemana-mana."tolak Embun dengan tawa kecil.
"Kamu pelit banget sih." Malvin menyipitkan sebelah matanya.
"Sudah selesai."seru Embun meletakkan alat cukurnya.
"Baguuss!" Malvin langsung menggendong Embun.
"Mal,, apa-apan kamu ini?"protes Embun mencoba melepaskan diri.
"Ayooo mandi. Aku mandiin."Malvin tertawa mesum.
"Maaaalll..."pekik Embun.
####
Malvin dan Embun keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah. Embun menggunakan bathrobe sementara Malvin melilitkan handuk dipinggangnya.
Acara mandi mereka jadi molor dua jam karena diselingi kegiatan lain diluar mandi.😏
Malvin menyodorkan kepalanya kearah Embun dengan handuk yang menggantung dikepalanya. Embun dengan sigap mengusapkan handuk itu. Embun sudah mengerti suami manjanya itu minta dikeringkan rambutnya.
"Sore ini kita kunjungi kakek Bram. Kamu setuju?"tanya Malvin
"Sore ini?" Embun balik bertanya dengan mengernyitkan dahi. "Apa tidak terlalu cepat?"
"Heemm... kita ajak anak-anak sekalian."
"Kenapa harus melibatkan anak-anak?" protes Embun.
"Mmmm,, Ada pesta lampion di kota sebelah. kebetulan lokasinya tak jauh dari vila kakek." ucap Malvin lagi.
"Aku tak suka jika anak-anak ikut."
"Kenapa?"
"Aku takut, kakek itu mempengaruhi mereka."
Malvin tergelak. "Ayolah."
"Jadi menurutmu tak apa?"
"Yaaahhh.. Catty cukup dekat dengan kakek Bram. Sebenarnya orang tua itu menyukai anak-anak."terang Malvin. "Biarkan Kay juga mengenalnya. Heeemm?"
Embun menghela nafas panjang.
"Baiklah." Embun akhirnya menyetujui.
_____
Satu paket keluarga Malvin berangkat dengan satu mobil menuju vila Kakek Bram di puncak. Catty yang tau akan kerumah kakeknya sangat antusias, banyak hal yang dia ceritakan pada Kayla. Termasuk permainan apa saja yang ada di vila itu.
__ADS_1
Kakek Bram saking sayangnya pada Catty sampai membuatkan arena bermain sendiri disana.
"Di Villa kakek Bram, ada mini W2."
"Benarkah?"
"Heemmm.... Nanti kita liat-lihat dan main Kay."ajak Catty
"Tapi bagaimana jika kakek itu tak suka padaku?"tanya Kay kuwatir.
"Tenang aja, kakek bram itu baik kok."cicit Catty merangkul pundak Kay.
"Nanti kita bisa main pukul tikus... hihihi.."
"Apa? ada permainan itu juga."tanya Kay antusias.
"Heemmm..."
"apa roler coster juga ada?"
Mata Catty membelalak.
"hahaha.. ya nggaklah."geli Caty, "Nanti ikut aku aja setelah menyapa kakek."
Embun yang cukup mendengarkan percakapan anak-anak di jog belakang itu, beralih menatap Malvin yang fokus menyetir.
"Apa nanti kita tidak akan lama disana?"tanya-nya.
Malvin mengulas senyum.
"Kenapa? bukankah kamu ada banyak yang ingin ditanyakan pada kakek Bram?"
"Rasanya, aku tak ingin berlama-lama."ucap Embun lirih.
"Nanti kita bisa mengaturnya. Heeemm?"bujuk Malvin, "Kamu hanya perlu bertemu dengannya, menuntaskan apapun yang mengganjal dihatimu. Selebihnya itu terserah padamu, mau seberapa lama disana. Kay dan Catty sudah punya rencana sendiri disana."
Embun menghempas nafasnya.
"Baiklah."
"Apa dulu kamu pernah berencana membawaku ke rumah orang itu?"tanya Embun curiga.
Malvin mengulas senyum.
"Maaf,"
Embun terkejut.
"Aku batalkan karena kamu sepertinya enggan bertemu dengan keluargamu yang sesungguhnya."terang Malvin.
"Lalu kamu mengajakku kedanau?"
"Kamu suka dengan danaunya?"
Embun tersenyum lucu dan menggeleng. Embun menoleh kebelakang melihat Kay dan Catty yang masih sibuk dengan cerita permainan dirumah kakek bram itu.
Embun kembali memancangkan pandangan kedepan. Lalu menarik nafas dan hembuskan.
"Apa kamu gugup?"
"Tidak!"balas Embun."Hanya, melihat mereka begitu antusias sepertinya kita akan menunda kepulangan."
Malvin merungkai senyuman.
###
Di vila kakek Bram menyambut kedatangan mereka di depan pintu utama.
"Selamat datang di vila ku,aku menantikan kedatangan kalian." ucapnya ramah.
"Kakekk!" seru Catty berhambur memeluk kakeknya.
Kakek Bram memeluk dan menggendong Caty.
"Kamu makin berat ya Catty." ucapnya."Sudah semakin besar. sudah lama kakek tidak melihatmu."
Menurunkan Catty, beralih menatap Embun dan Malvin juga Kay bergantian. Embun mengalihkan pamdanganya dan memeluk lengan suaminya.
__ADS_1
"Siapa gadis cantik ini?" tanya Kakek Bram mensejajarkan tinggi dengan Kay.
"Sa-saya Kayla."jawab Kay takut-takut.
"Apa kamu teman Catty?"
"Sa-saya saudari tirinya."jawab Kay
"Apa dia anakmu dari pernikahan sebelumnya?"Kakek Bram menatap Embun yang berdiri dibelakang Kayla.
"Ya." jawab Embun singkat.
Kakek Bram tersenyum mendapati Embun masih dingin terhadapnya.
"Baiklah Kayla, ayo kita masuk, kakek punya mainan banyak." ajak kakek Bram menggandengan tangan Kayla.
Kay menoleh menatap ibuknya seolah meminta ijin. Embun tersenyum dan mengangguk. Kay dan Cat berjalan mengikuti langkah Kakek Bram diselingi celotehan anak-anak gadis itu.
Embun menghela nafas panjangnya. Malvin merangkul Embun dan mengusap lengannya.
"Ayo!" ajak Malvin membawa Embun keruang keluarga.
Diruang keluarga, Malvin dan Embun duduk bersisihan. Pelayan sudah menyajikan teh kepada mereka berikut dengan kue-kue yang menggugah selera.
"Mal,"
Malvin menyeruput tehnya dan meletakkannya kembali kemeja.
"Heemm?"
"Sepertinya, aku butuh kekuatan lebih untuk bertemu dengannya. Maukah kamu memberiku sedikit kecupan?"
Malvin mengulas senyuman.
"Tentu." Malvin menvondongkan tubuhnya ke arah Embun, mengecup ringan bibirnya. Embun membalas kecupan Malvin, untuk sesaat mereka saling menbelit lidah, bergulat lembut dan perlahan. Malvin melepas pangutannya.
"Apa ini cukup?"
"Aku ingin lebih."
Malvin tertawa geli.
"Nanti kita lanjutkan dikamar." Malvin menyentil hidung Embun.
"Saat itu mungkin aku sudah tidak bergairah lagi."
"Tenang saja aku bisa membuatnya."ucap Malvin dengan senyuman yakin.
Embun tertawa geli.
Setelah menunggu beberapa menit, Kakek Bram datang dan duduk diseberang mereka.
"Aku senang kalian bersedia berkunjung kemari."ucap Kakek membuka suara."Terutama kamu Embun."
"Saya sangat tersanjung."
"Jangan berbicara formal padaku. Aku adalah kakekmu."
"Saya sungkan Tuan Bram."
"Bukankah kita sudah sepakat untuk memanggilku kakek?"
Embun tersenyum kecil...
Bersambung...
____€€€____
Readers, mohon dukungannya ya,biar othor semangat up terus.
Like dan komen.
Terima kasih
Salam____
😊,
__ADS_1