Dicerai Karena Dekil(Dinikahi Bos Mantan Suami)

Dicerai Karena Dekil(Dinikahi Bos Mantan Suami)
Chap 67


__ADS_3

Dengan koneksi yang Malvin punya, Danu berangkat ke kota S dimana Yura berada sekarang. Danu bekerja disalah satu Gerai makanan yang ada disana.


Danu berjanji, tidak akan melakukan kesalahan yang sama, tidak akan serakah dan benar-benar akan memanfaatkan kesempatan yang diberikan padanya.


Selain berfokus pada pekerjaan, Danu masih harus menyusul Yura istrinya. Seperti yang Malvin minta, Danu akan memperjuangkan cintanya. Mengejar lagi hati yang sudah dia patahkan. Sudah cukup sekali saja dia gagal. Dipernikahan kedua ini. Danu tak ingin.


Danu membawa mobil silvernya kerumah pak Damar. Danu langsung memarkirkan mobilnya dihalaman terbuka rumah bergaya joglo itu. Danu disambut hangat oleh pak Damar dan Bu Damar mertuanya.


"Yura mana pak, buk?"tanya Danu setelah menyalami keduanya.


"Masih dikamar Nu."


"Kesini kok nggak bilang-bilang?" tanya Ibuk lembut.


"Ada kerjaan bu disini." jawab Danu singkat. Pak Damar menyuruh Danu masuk.


"Masuklah Nu."


"Jadi kamu ngineep sini kan?" tanya bu Damar meletakkan kopi untuk Danu beserta kue kering di meja.


"Mmmm, Yuranya gimana bu."


Pak Damar dan Ibuk saling berpandangan.


"Tunggu ya Nu, ibuk coba panggil yura dulu." pamit ibuk beranjak dari duduknya.


"Aku dengar, Yura minta cerai ya Nu?" tanya Bapak menatap tajam Danu.


DEG!


"iya pak."


"Kenapa?" tanya Bapak Damar lagi."Apa karena keguguran?"


"Iya pak."angguk Danu."Saya memang salah. Jika saja saya tidak emosi dan menyebabkan semua ini..." Sesal Danu menundukkan kepalanya.


"Sudah! yang lalu biarlah berlalu." ucap pak Damar."Sekarang apa rencanamu?"


"Saya ingin tetap membina rumah tangga dengan Yura pak." tegas Danu,"Akan saya lakukan apapun, apapun agar Yura mau kembali pada saya."


"Saya sudah pernah gagal sekali, saya tidak mau gagal lagi pak." tutur Danu lagi.


Pak Damar manggut-manggut. Bu Damar keluar dari sebelah dalam rumah. lalu mengambil duduk disamping suaminya.


"Nu, sebenarnya situasi Yura sedang tidak baik."


"Maksud ibuk?"


"Sejak dari kota Yura hanya mengurung diri dikamar. Dia hanya diam tidak merespon ketika kami ajak ber interaksi." jelas Ibuk dengan guratan wajah sedih.


"Apa buukk?"


"Yura seperti kehilangan semangat hidupnya."jelas bu Damar.


"Boleh saya melihat Yura Bu?"izin Danu dengan hati-hati.


Bapak dan ibuk saling berpandangan. Lalu mereka mengangguk bersamaan.

__ADS_1


Ibuk mengantar Danu ke kamar Yura. Danu berhenti diambang pintu. menyaksikan pemandangan yang memilukan.


Yura hanya terdiam menatap keluar jendela. terus begitu tanpa menggerakkan seujung jari pun.


Danu berjalan mengikis jarak. duduk dipinggir bibir ranjang, Danu menatap Yura dengan lembut.


"Yura sayang, ini Mas." ucap Danu.


Yura tak merespon.


"Yura?" panggil Danu, "lihat Mas sebentar." pinta Danu dengan suara parau. Air matanya menitik.


"Ini mas Danu Yura."


Yura masih terdiam, tanpa bergerak. pandangan matanya masih berfokus pada luar jendela.


Danu sesenggukan menggenggam tangan Yura. Sementara pak Damar dan ibuk hanya saling menguatkan dan menatap sayu pada Danu.


"Buk, boleh saya menginap disini?"


_____


Langit yang cerah tak berawan dengan taburan gemintang di langit. Bulan yang bersinar malam itu, membawa kedamaian tersendiri bagi beberapa orang yang bernaung dibawahnya.


Angin malam menembus jendela kamar Embun yang terbuka. Menggoyangkan tirai putih nan tipis yang menari-nari kesana kemari.


Embun dengan balutan baju tidurnya keluar melaui pintu ke balkon kamarnya. Merasakan dinginnya malam menyentuh kulitnya. Setelah beberapa hari sejak pertemuannya dengan Kakek Bram, Embun masih gelisah.


Rasa marah karena dulu sempat diabaikan dan dibuang oleh keluarganya sendiri membuat dia enggan menerima kembali orang yang katanya keluarga itu.


"Kenapa malam-malam malah meninggalkan kamar dan berdiri disini?" tanya Malvin mengeratkan pelukannya."Apa yang jadi pikiranmu, heemmm?"


Embun mengelus lengan kekar Malvin. "Apa kamu tau semua cerita tentang kakek itu dan hana?"


Malvin terdiam. Bukan tanpa alasan, hanya dia sudah tak mau lagi membahas hal yang hanya membuat Embun kembali salah paham. saat dia sudah tenang seperti ini.


"Kenapa diam?"


"Kenapa kamu masih menanyakannya? Apa kamu begitu penasaran? Aku bisa mengatur agar kalian bisa bertatap muka."ucap Malvin, mengecup pundak Embun.


"Aku tak mau kamu kembali salah paham."lanjutnya.


"Kalau memang begitu katakan semuanya."pinta Embun, "jangan setengah-setengah. Kesalahpahaman itu terjadi karena kita tak tau keseluruhannya."


Malvin menghela nafas beratnya.


"Sejujurnya aku tidak tau banyak."


Embun menoleh, memiringkan wajahnya menatap wajah suaminya dari samping.


"Aku akan memberitahumu apa yang aku tau saja."


"Baiklah." kata Embun, "Jelaskan."


"Aku dan Hana dulu dijodohkan oleh tetua kami."Malvin mulai bercerita, "Sebenarnya, Hana saat itu masih sangat muda. Aku tak tau kenapa mereka malah mau menikahkannya diusai yang semuda itu. Dengan lelaki berumur sepertiku."


Embun tersenyum geli."Berapa umurmu saat itu?"

__ADS_1


"Hana saat itu masih enam belas tahun dan aku dua puluh enam tahun."


"Kamu tidak setua itu. Umur dua puluh tahun masih termasuk pas untuk menikah."


"Apa Hana dulu juga dibuang sepertiku?"


"Setauku dia lebih beruntung darimu. Jika kamu dirawat dipanti, Hana diadopsi oleh sebuah keluarga yang berkecukupan."terang Malvin.


"Aaaahh,, begitu."


"Kurasa kakek Bram menjodohkan kami agar bisa lebih dekat dengan Hana. Dulu keluarga ku pernah berhutang budi pada kakek Bram karena itu...."terang Malvin mengeratkan pelukannya.


"Aku sangat bersyukur, karena kamu kembaran Hana."


"kenapa?"


"Kakek tua itu menuntutku untuk menikahi saudara Hana setelah dia meninggal, dan itu menyiksaku beberapa hari yang lalu. Disatu sisi, aku mencintaimu, aku tak ingin menyakitimu. Disisi lain aku juga harus menepati janji yang sudah kubuat."jelas Malvin mengecup ringan tengkuk Embun.


"Aku benar-benar dilema dan gamang." lanjut Malvin tersenyum kecil.


"Saat aku jatuh cinta padamu,aku bahkan tak memikirkan janjiku. Aku sedikitpun tak ingat jika aku sedang mencari keberadaan kembaran Hana."


Malvin memutar tubuh Embun hingga mereka berhadapan. Membingkai wajahnya dan mengecup bibirnya.


"Apa kamu tau kenapa mereka membuang kami?" tanya Embun menatap wajah Malvin.


Malvin menggeleng."Tanyakan itu pada kakek Bram." saran Malvin.


"Apa kamu mau menemuinya?"tanya Malvin."Aku bisa mengatur waktu untuk itu."


Embun menggeleng."Tidak."


"Kenapa? Kamu masih kesal?"


Embun tersenyum tipis."Tentu saja. Tapi aku harus menemuinya cepat atau lambat kan?"


"Aku hanya perlu menenangkan hati dulu. aku akan menyiapkan hati untuk bertemu mereka." Embun merangkulkan tangannya dipundak Malvin.


"Bagaimana dengan orang tuaku?"


"Aku tidak tau. Mereka sangat tertutup. Aku belum pernah bertemu mereka. Hanya kakek Bram saja. Yang kudengar mereka sudah meninggal, tapi ada juga yang bilang jika mereka di usir. Aku tak tau pasti." terang Malvin.


Malvin mencium pipi Embun. "Kulitmu dingin, ayo masuk." ajaknya.


"Tunggu sebentar."


___€€€___


Readers, mohon dukungannya ya,biar othor semangat up terus.


Like dan komen.


Terima kasih


Salam____


😊,

__ADS_1


__ADS_2