Dicerai Karena Dekil(Dinikahi Bos Mantan Suami)

Dicerai Karena Dekil(Dinikahi Bos Mantan Suami)
Chap 93


__ADS_3

"Apa kau pikir kau sudah menang?"


Rudy yang sudah babak belur dan tersungkur dilantai ruangan yang remang itu mencibir.


"Kalian tidak akan bisa menang... Hahhahaha..."


Malvin mendekat, dengan sarung tangan yang terpasang.


"Sepertinya kita sudah cukup jelas disini. Siapa yang menyuruhmu?" tanyanya mendominasi.


"Ahahahhaa.... Apa kau pikir kau begitu baik sampai tak ada orang yang memiliki dendam padamu?" cibir Rudy memprovokasi.


"Sepertinya kau masih ingin menambah luka ditubuhmu.."


Malvin berjongkok didepan Rudy.


"Katakan siapa yang menyuruhmu?"


"Xixixixi.... acamanmu tidak berlaku untukku."


"Rudy, Aku paling tidak suka dengan orang yang bermain-main dengan keluargaku." tegas Malvin menatap tajam Rudy, "Ini akan jadi pertanyaan terakhirku. Siapa yang berada dibelakangmu?"


Rudy berbalik menatap tajam Malvin. Mulutnya membuka hendak bicara..


"Tuan Malvin!" panggil seorang dari pintu.


Malvin menoleh,


"Ada panggilan."


Malvin kembali menatap tajam Rudy. Lalu berdiri dan menerima telpon dari anak buahnya yang tadi memberi kabar.


"Yaa?"


Hening sejenak. Raut muka Malvin berubah, kini menjadi menakutkan sekaligus cemas.


"Baiklah terus pantau jangan sampai lepas."titahnya. "Dan lindungi anak-anak." dengan sorot mata sedih.


Malvin menutup telponnya. Rudy yang melihat air muka Malvin berubah cemas dan sedih itu mengulas senyum. Lalu perlahan bahunya berguncang dan tertawa terbahak-bahak. Tentu itu membuat Malvin tak senang. Malvin menendak pria itu hingga tersungkur dan kembali mengeluarkan darah dari mulutnya.


"Selamat menikmati kehancuran keluargamu!" seru Rudy mencemooh dengan seringai diwajahnya.


Gigi malvin menggeretak. Dia hendak memukul. Namun di urungkannya. Malvin memilih pergi.


"Awasi dia!" perintahnya.


"Patahkan saja kakinya jika dia kabur." peintahnya sambil sedikit menoleh melirik sinis pada Rudy.


"Baik tuan." sahut bawahannya patuh.


"HUAHAHAHHAH.... SAAT KAU SAMPAI DISANA SELURUH KELUARGAMU SUDAH MATI TENGGELAM!! HAHAHHA!!"Racau Rudy memprovokasi.


###


Embun duduk di dalam kabin pesawat dengan gelisah dan gusar. Tangannya terus saling meremas hanya untuk menenangkan dirinya. Seribu tanya terlintas dibenaknya. Apa yang terjadi? bagaimana anak-anaknya? Bagaimana suaminya? Kenapa semua serba tertutup dan tidak mau bicara. Mereka hanya meminta Embun untuk sabar menunggu.


Tentu saja sedari tadi Embun mencoba menghubungi suami dan anak -anaknya namun tak satupun Aktif dan merespon. Ada apa ini sebenarnya?


Beberapa saat berlalu. Malvin menampakan diri, Embun pun berdiri dengan gelisah. Pria itu sedikit berlari dan berhambur memeluk istrinya.


"Ada apa ini Beb?"tanya Embun dengan gelisah dan cemas. "Kenapa tiba-tiba mereka menjemputku? Dan anak-anak tak bisa dihubungi?" Berondong Embun tak sabar.


"Kita duduk dulu. Pasang sabuk pengamanmu dan segera kembali. Akan ku critakan di perjalanan." ucap Malvin membawa Embun duduk kembali, agar bisa segera lepas landas.

__ADS_1


####


Uuhuuuuhhhuuuuhhuuuhhuu.....


Kayla menangis sesenggukan. Tangannya memegang bahu kiri Seven yang tak henti mengeluarkan darah. Menahan agar darah segar itu berhenti..


"Uuhuhuuhuhuhu... Ayo kita kerumah sakit saja... huhuhu..."tangisnya,


"Nine te-tap di posi-si-mu...." Suara Seven yang tersengal. "Ki-ta ma-sih be-lum se-le-sai...."


"Kau terluka Seven! Kita harus menyelamatkanmu!" pekik Kay kesal bercampur menangis.


"Nine! Kem-ba-li ke-po-si-si-mu!" ucap Seven dengan mata marahnya mencengkram kerah leher baju Kay.


"Wa-lau aku ter-lu-ka, aku ma-sih pu-nya tang-gung ja-wab! Kem-ba-li ke-po-si-simu!" geram Seven lebih keras menghempas tangan Kay dari bahunya.


Kay masih sesenggukan ditempatnya. Seven berusaha bangkit dan duduk sempurna. Dengan seringai di wajahnya, dia mulai sibuk memainkan jari-jari di keyboard.


"Ki-ta ti-dak ta-hu berapa ya-ng su-dah terge-letak di-luar sa-na Nine! Kau ma-u me-re-ka ma-ti konyol? Ka-rena kita tak ber-ha-sil me-robohkan mereka?"ucap Seven masih berjuang."Uuhuuuk! Kembali ke posisimu, Nine!"


Kayla mengusap lelehan di pipinya.


"Baiklah! Cepat kita akhiri ini dan kerumah sakit!" tekatnya kembali duduk didepan komputernya.


###


Sementara Ken, tepat dijalan batas aman yang sudah dipasang garis polisi. Berdiri menatap jauh kesana.


"Asisten Ken!" panggil salah satu pengawalnya.


"Kita hanya punya waktu satu jam."


"Baiklah! Siapkan ambulance dan keamanan, dan juga...."


****


Kenan memasuki mobil dengan tiga orang pengawalnya, menggunakan dua mobil. Masuk jauh ke area terlarang dimana tempat itu akan dialiri air dalam beberapa jam lagi.


"Kecepatan penuh!"


Kedua mobil itu melesat jauh dan berhenti disebuah gudang kosong yang remang dengan sedikit pencahayaan. Ada beberapa mobil disana, itu arttinya mereka berada dilokasi yang tepat. Dengan hati-hati dan kewaspadaan penuh Ken dan pengawalnya memasuki gudang terbengkalai. Tak ada apapun disana, bahkan mungkin tikuspun tak ada.


Ken mengisyaratkan dengan mata dan kepalanya.


"Sisir!"


Mereka menyisir seluruh gedung. tak ada apapun. Para pengawal itu kembali tak lama sesudahnya.


"Bersih!"


Wajah Ken menandakan tanya. Kemana mereka? Bukankah seharusnya disini? Lalu kenapa? Apakah mereka berpindah tempat?


"Kembali kedepan." ucap Ken."Kita tak punya banyak waktu, harus segera menemukan mereka."


Ken dan para pengawalnya berdiri trpat disamping mobil-mobil yang terparkir.


"Periksa sekitar gedung dan...." Ken memotong kalimatnya. Dia merasa curiga dengan mobil-mobil itu.


Gegas Ken mengintip melalui kaca yang gelap itu. Samar terlihat beberapa orang didalamnya, meringkuk dan terikat. Ken tersentak.


Apa yang terjadi? pikirnya terkejut.


"Om!"

__ADS_1


Kennan mendengar suara Caty. menoleh noleh.


"Diatas sini!"


Ken mendongak. Menyorotkan senter yang dia bawa keatas. Ken melihat Catty berada diatas atap.


"Catty!"


"Om Kenan!" dibelakang Catty muncul dua bocah kembar ikut meongok.


"A-apa yang kalian lakukan diatas sana?"


"Kalian! Cepat bantu mereka turun!" perintah Kenan pada para pengawalnya.


Dengan sigap dan cepat. Catty dan si kembar sudah berada dibawah. berkumpul dengan Kenan.


"Om penjahatnya ada didalam mobil!" celoteh Kian menunjuk mobil disamping Ken.


"Om tau!" sahut ken."Bagaimana bisa..."


"Om bodyguard kami terluka. Sebentar lagi tempat ini akan dialiri air, kita harus segera pergi dari sini!"jelas Catty.


"Hanya ada dua mobiil yang bisa digunakan. Yang lainnya sudah dikempeskan anak-anak ini." Catty menunjuk sikembar. Ken tersenyum antara kagum dan kesal dengan tindakan sembrono mereka.


"Satu berhasil melarikan diri, Kami tak bisa menyetir, dan paman pengawal terluka. Karena itu kami diatap agar tak terkena air nanti."


"Sudah ceritakan nanti diperjalanan saja. Masuk kemobil! Kita harus pergi sekarang!" potong Ken menginstruksikan pengawal dan anak asuh nya segera masuk kemobil.


GROOOOWWWWWWGGĢHHHH.....


"Suara itu...." cetus salah satu pengawal.


Apakah terlambat?


*****


Di depan jalan masuk yang masih dijaga oleh Pengawal Kenan dan garis polisi yang sudah terkoyak.


Malvin menghentikan laju mobil nya dan berhambur keluar bersama Embun. Wajah mereka terlihat begitu tegang dan kuwatir


"Berapa lama mereka didalam?" tanya Malvin pada pengawal yang standby disana.


"Satu jam lebih tuan."


"Apa? Apa mereka masih didalam?" Malvin semakin panik. "Cepat hubungi pihak kontrol masih ada orang didalam!"


"Sudah tuan...."


GRRRROOOOOWWWGGGGGGGHH...


"Suara itu...." pengawal yang berjaga.


"Hey! mereka masih disana!" panik Malvin mencoba menerjang melewati garis batas polisi. Namun cepat ditahan oleh pengawalnya yang membentuk barikade.


"Lepaskan aku! Anakku masih disana!" histeris Malvin meloloskan diri.


"Catty!"


"Minggir! Kalian kubayar bukan untuk menghalangiku!"sentak Malvin makin kacau.


"CATTYY!!!"


"CATTY!!"

__ADS_1


___€€€___


__ADS_2