
Sudah satu setengah bulan berlalu sejak kejadian Kay minggat dari rumah. Danu sekalipun tak pernah mencari Kay, apalagi sekedar menjenguknya di panti atau sekolah.
Danu keluar dari kamarnya. Melihat seisi rumah. dia menghela nafasnya. Lalu duduk di meja makan. di dapur ada seorang ART yang dia sewa karena Yura sudah tak kuat bekerja sekaligus membereskan rumah. Yura selalu mengeluh capek hingga beberapa hari setelah Kay pergi, rumah sangat berantakan dan tak ada makanan sama sekali. Tidak masalah sih, Toh sekarang Danu sudah dipromosikan menjadi manager Utama di pabrik tempatnya bekerja.
"Masak apa Bi inah?"
"Gulai ikan pak."
Haaahh... Gulai ikan buatan Embun enak sekali. bagaimana jika orang lain yang membuatnya? -batin Danu.
"coba saya icip dikit Bi."
"Baik pak."
Bi inah mengambil secawan kecil kuah gulai dan sepotong ikan. lalu meletakkannya dimeja.
Memang tak seenak buatan Embun tapi tak apalah. Haaahh.. Apa yang dia lakukan sekarang? Apa kuperkerjakan saja dia jadi ART ku? lumayan dari pada dia hanya jadi pengantar makanan di resto duitnya tak seberapa. -batin Danu lagi.
Tak lama Yura datang dengan perut yang sedikit membuncit.
"Mas Danu udah bangun?"
"Sudah sayang."
Danu mengelus perut Yura. "Anak papa jangan nakal ya didalam." lalu mengecup perut Yura.
Yura tersenyum senang. Yura duduk tak jauh dari Danu.
"Bi inah. aku juga mau makan. tolong disiapkan ya."
"Baik Bu."
Yura beralih menatap suaminya.
"Mas. Minta uang."
Danu terlonjak menatap istrinya itu.
"Apa?" ucap Danu "uangmu sudah habis?"
Yura memutar matanya malas.
"Ya ampun Mas Danu. Aku harus ke salon buat perawatan. lihat nih, sejak hamil wajahku jadi timbul jerawat." Yura menunjukkan jerawat dikeningnya.
"Ya Ampun Yura. itu kan cuma satu."
"Mass.. Mas dari satu bisa jadi seribu. Pliss deh. Beri aku uang. Emang Mas mau Yura jadi jelek seperti mantan istri mas itu?" Yura cemberut.
"Iiihh.. ya enggak lah sayang. Amit-amit. Ya udah. Mas kasih. Kamu mau berapa?"
"Dua juta."
__ADS_1
Danu terlonjak kaget.
"dua juta? cuma buat perawatan aja?"
Yura memutar matanya malas lagi.
"Ya ampun Mas. ini aja udah murah. Mas mau istri mas cantik nggak?"
"Ya mau lah."
"Makanya jangan pelit. Cuma dua juta doang kok."
"Ya udah. nanti Mas transfer."
"Janji ya." merangkul manja lengan Danu.
"Iya. Janji." Danu tersenyum.
_____
Yura memesan taksi online untuk bisa sampai ke sebuah salon yang terkenal dan sangat dirokomendasikan diseluruh negri.
"Haaaahhh... sekali sekali coba perawatan disini bolehlah. walau harganya mencekik. tak masalah. yang penting udah pernah coba." gumam Yura.
Yura memasuki salon disambut oleh karyawan disana.
"Aku ingin perawatan untuk jerawatku ini. dan yang aman untuk ibu hamil." ucapnya dengan sedikit angkuh. Maklumlah dia berada di salon berkelas.
Setelah melakukan registrasi. Yura pun memulai perawatannya. Di kejauhan melalui pembatas kaca,Yura melihat sekilas seorang wanita cantik berkulit putih dan berambut panjang melintas.
Yura menghela nafasnya.
Wanita itu cantik sekali. Pasti dia sering perawatam disini. Orang sultan. apalah aku ini yang hanya istri manager utama PT COREN. -batin Yura.
Haruskan aku mencari suami lain yang lebih kaya? Haahh.. aku sedang hamil. siapa yang mau menikahi wanita hamil. Sudahlah. Mas Danu juga sudah cukup. -batin Yura lagi.
Tapi rasanya aku pernah melihatnya... Dimana yaa? -batin Yura bertanya-tanya.
_____
Danu dan beberapa rekan kerjanya makan siang disebuah restoran yang sedang viral beberapa minggu terakhir ini. Karena makanan disana sangat enak. Suasana di dalam restoran itu juga sangat elegan, bagus dan instagramable. Membuat banyak anak muda dan semua kalangan berhuyun-huyun datang ke restoran itu.
"Bagaimana pak Danu? makanan disini enak bukan?" tanya seorang rekannya.
"Iya enak sekali." ucap Danu. "Tapi nama restoran ini membuatku tak enak."
"Bukankah namanya sudah sangat bagus?" balas temannya yang lain.
"Sebening Embun." balas yang lainnya.
"Hahaha...." tawa Danu
__ADS_1
Ini mengingatkanku pada sidekil Embun yang jelek itu. -batin Danu.
"Heemmm... makanan disini sangat enak. aku jadi ingin bertemu dengan kokinya."
"Aku dengar salah satu koki disini pemilik dari restoran ini."
"Benarkah?"
"Sangat beruntung jika kita bisa mencicipi dan bertemu dengannya."
"Ya. Aku dengar dia sangat cantik."
Danu yang hanya mendengarkan percakapan temannya itu jadi sedikit penasaran juga. Dia melihat salah satu pelayan yang kebetulan lewat. Lalu memanggilnya.
"Bisa kah kami bertemu dengan koki sekaligus pemilik Restoran ini? Kami ingin mengucapkan terimakasih dan memujinya."
"Akan saya coba tanyakan tuan pelanggan. Tapi mohon jangan berharap banyak." ucap ramah pelayan itu.
"Baiklah. terima kasih."balas Danu.
pelayan itu pergi.
"Hei! Berani sekali kamu memintanya."
"Tak ada salahnya mencoba. bukankah kalian juga penasaran?"
"Yang kudengar hanya orang tertentu yang bisa bertemu dengannya. Dia sangat susah dijangkau."
"Yahh.. mana tau ini hari keberuntungan kita."ucap Danu santai. dia tak begitu antusias. tapi dia cukup penasaran.
Tak lama pelayan datang.
"Maaf membuat anda menunggu tuan pelanggan."ucapnya sedikit membungkuk.
Danu menoleh, karena memang pelayan itu berdiri dibelakangnya. dia hanya datang sendiri.
Ah. berarti memang tak mungkin untuk bertemu.-batin Danu. Lalu berbalik lagi.
"Koki kami sedang membuat menu baru. Mohon tunggu sebentar. Beliau akan segera kemari." ucap pelayan itu.
"Benarkah? Jadi dia bersedia bertemu?" ucap teman Danu bersemangat.
Pelayan itu tersenyum dan mengangguk.
"Tidak menyangka. ini hari keberuntungan kita."
pelayan itu pergi, sementara kumpulan pria itu asyik dengan percakapan mereka. Tak lama, pelayan tadi kembali lagi.
"Maaf Tuan pelanggan. Ini koki kami."
Danu yang membelakangi pun memutar badanya dan menoleh. Dia terkejut...
__ADS_1
"Selamat siang! terimakasih karena sudah memilih restoran kami sebagai tempat bersantap siang."