
"Aku akan menginap disini!" ucap Danu santai sambil memakan piza nya.
"Apaaaaa?"
Embun langsung berdiri dengan mata membulat. Dia menatap nyalang pada pria yang pernah menjadi suaminya itu.
Menginap? benar-benar tidak tau malu. Huuuuuhhh....
Embun tertawa kesal.
"Pulanglah Mas!"
"Aku tidak punya tempat pulang. Aku sudah bilang kami bertengkar. Bagaimana aku bisa pulang?"
"Kalau begitu pergilah cari tempat lain! Kenapa harus kemari? Apa semua hotel sudah tutup haaahh?" Embun meninggikan suaranya, emosinya sudah berada di ujung kepalanya sekarang.
Embun mengatur nafasnya. Emosi hanya membuatnya tak bisa berfikir jernih.
" Mas Danu! Carilah hotel. Apa kau sudah tak punya uang?"ucap Embun memelankan suaranya."karena itu kau kemari?"
Danu merogoh kantongnya lalu melemparkan dompetnya diatas meja dekat Embun.
"Aku akan membayar! Ambillah sebanyak yang kamu mau!"
Embun menatap dompet Danu diatas meja. Dia tertawa..
"AHAHHAHAHAHAH....."
Dulu saat aku masih menjadi istrinya sepeserpun dia perhitungkan. Sekarang? dia bahkan menyerahkan dompetnya padaku! benar-benar menggelikan!!
Embun mengambil dompet Danu dengan masih posisi berdiri. Dia melihat isi, ada banyak kartu disana. Embun kembali tertawa kesal. Dia lalu mengambil uang tunai didalam dompetnya. Embun hanya menyisakan selembar uang 20rb didalam dompet Danu.
"Tidurlah disini selama yang kamu mau malam ini. Tapi kau harus sudah pergi besok pagi!"ucap Embun dingin sambil melempar kembali dompet Danu.
Danu tersenyum puas menatap Embun.
"Tentu. sesuai permintaanmu."
Embun melangkah masuk kedalam kamarnya. membanting pintunya. Embun mengusap wajahnya. Menenggelamkan wajahnya di kedua telapak tangannya.
Malvin menyaksikan itu semua melalui cctv.
Jangan Goyah sayang! Kumohon jangan goyah!
Embun sudah sedikit menenang. Dia berjalan mengambil tas dan ponselnya. Embun juga mengganti bajunya.
"Tutup matamu Ken!" ucap Malvin. "aku bunuh kamu jika mengintip."
"Baik tuan. saya tidak mengintip."
Setelah urusan dikamarnya selesai Embun berjalan dan berhenti diruang utama. Danu menoleh menatap wanita yang makin cantik saja dengan pakaian berwarna hitam polkadot selututnya.
__ADS_1
Danu menatap tanpa berkedip dia benar-benar sudah tersihir oleh penampilan Embun.
"Kamu mau kemana?"Danu berdiri.
"Karena kamu akan tidur disini. Jadi aku akan menginap dihotel malam ini." Ucap Embun dingin.
"Apaaa?" Danu berjalan mendekat.
"Kamu membayar kamar disini mas, bukan membayarku untuk menemanimu disini!" ketus Embun.
Embun berjalan menuju pintu, Danu menyusul dan menarik tangan Embun hingga berbalik menghadapnya, tangannya yang lain menangkap tengkuk Embun dan dengan segera melahab bibir nya.
Malvin membuang nafasnya. Melihat wanitanya di cium paksa oleh Mantan suaminya itu membuat darahnya mendidih.
Kuatkan dirimu Mal. ini sudah kamu perhitungkan sebelumnya. Lihat! lihatlah! -batin Malvin.
Mata Malvin masih melihat untuk sesaat. hingga dia kehilangan kesabarannya. Malvin beranjak dari duduknya mengawasi melalui cctv itu.
Malvin berlari keluar dari apartemen Ken yang berada 2 lantai diatas apartemen Embun.
Mata Embun membulat. dia terkejut Danu bisa senekat itu mencium paksa dirinya. Embun memberontak. tapi tenaga Danu begitu kuat mencengkramnya. Hingga pria itu puas mengobrak-abrik seluruh rongga mulut Embun.
Embun mendorong lepas tubuh Danu, Embun melayangkan tangannya dan mendarat keras dipipi mantan suaminya itu hingga terhempas kesamping.
Buiihhh...
Embun meludah kesamping.
"Sayang..."
"Huuuhh." Embun tartawa remeh.
"Semoga kamu menikmatinya Mas, karena tidak akan ada selanjutnya!" sinisnya dingin.
Embun berjalan keluar apartemennya Dengan perasaan marah, meninggalkan Danu yang terdiam mematung disana.
Embun menekan tombol dilift. Pintu langsung terbuka. Embun kembali terkejut. Ada Malvin didalam sana dengan ekspresi yang sama. Namun terlihat jelas wajah marahnya disana. Malvin mulai melangkah, embun dengan segera mendorongnya hingga keujung sisi terdalam lift. Memencet tombol lantai terdasar. Dan mendekat pada pria yang sedang emosi itu.
Embun mengunci tubuhnya dan menautkan bibir mereka. Dalam lift mereka berdua saling memeluk dan melahab.
Mereka hanya berdua suara kecapan memenuhi dalam lift yang hanya dapat mereka berdua dengar. Hingga transfer emosi itu berakhir dengan bibir Embun yang merekah.
"Aku sudah mengatakannya Embun, ini akan sangat menguras perasaanku dan memguji semua emosiku." ucap Malvin lirih, "Dan aku tak sekuat skenarioku."
"Aku juga tak sekuat peran yang kamu berikan Mal." menatap lembut penuh permohonan pada wajah Malvin. "Ayo kita akhiri ini."
Mereka kembali menautkan bibir mereka.
______
Didalam mobil yang hening, Malvin fokus mengendarai dijalurnya. Dan Embun hanya terdiam dalam lamunannya. Mobil merah itu bergerak kearah pantai, dan berhenti tepat dimana mereka pernah kunjungi. Saat Embun sedang dalam masa sulitnya akibat perselingkuhan Danu.
__ADS_1
Mereka terdiam dalam pikiran masing-masing. Hingga mereka saling menoleh menatap wajah lawannya. lalu kembali menautkan bibir.
"Maafkan aku, tak bisa menjaga bibirku hanya untukmu."
"Aku sudah memperhitungkannya. Hanya ini terlalu cepat."mengusap pipi Embun.
Embun tersenyum tipis,
"Yura sudah mengirim detektif, mungkin sebentar lagi dia akan datang padamu. Jadi bersiaplah." Malvin kembali memperingatkan,
Embun tersenyum kecil.
"Kamu bahkan tau sejauh itu."
"Puncaknya di aniversary PT COREN bulan depan."
"Aku tau."
"Masih ada tiga minggu lagi."Ucap Malvin mengingatkan,"Apa kamu sanggup? melanjutkan ini?"
Embun mengangguk.
"jangan terpengaruh lagi."
"Itu juga berlaku untukmu Mal."tersenyum tipis.
"Aku tau."Malvin menegakkan punggungnya."Jadi, kemana kita akan tidur malam ini?"
"Di rumah saja. Aku sudah rindu dengan anak-anak."
Malvin tersenyum geli.
"Baiklah. kita kembali."
_____
Di dalam apartemen Embun.
Danu mengusap rambutnya kebelakang. Dia kesal, dia marah pada dirinya sendiri, tindakan spontan yang kini justru disesalinya.
*Bagaimana jika dia berbalik membenci sekarang?
Aaaaarrrrggggghhhhh..... kenapa aku tak sabaran? Kenapa aku tak bisa menahan diri? Rasa bibirnya masih sama, jika dia membalasnya pasti akan menjadi ciuman panas, tapi dia menolakku.Sial! sial! sial*!
Danu menendang udara.
Aku hanya ingin mengingatkan dia bagaimana dasyatnya ciumanku lagi. aku sudah mengorek sejauh itu dan dia sama sekali tidak tergoda? Huuuuhh! Sialan!
Danu terus mengumpat. dia menyesal sudah mencium Embun karena mengikuti dorongan didalam dirinya yang tidak terima Embun memilih tidur dihotel dari pada berada satu atap dengannya.
"Aku pasti akan mendapatkanmu Embun. Apapun caranya." gumam Danu berobsesi.
__ADS_1
Danu bahkan lupa jika dirumah Yura sedang menunggunya dengan kesal dan amarah,