Dicerai Karena Dekil(Dinikahi Bos Mantan Suami)

Dicerai Karena Dekil(Dinikahi Bos Mantan Suami)
Chap 91


__ADS_3

Di dalam cotege hanya terdengar suara peraduan antara jari dan keyboard.


CETAK TAK TAK TAK TAK


Seven masih bergelut dengan pirantinya. Memerangi pihak sana yang masih mencoba melawan.


Kenan yang masih memegang dan mengecek beberapa bukti itu menoleh, mencari keberadaan Catty.


"Hey! Sudah berapa lama Catty pergi?" tanya nya mulai curiga Catty tak kunjung kembali.


"sudah empat puluh lima menit berlalu sejak pintu itu menutup." terang Seven tanpa mengalihkan perhatiannya pada layar komputernya.


"Benarkah?" Kenan dan Kayla bersamaan.


"Itu terlalu lama untuk membuat kopi dan jus." ucap Kay mulai melemah hendak beranjak.


"Tahan disana Nine!"sentak Seven memperingatkan. Kayla kembali duduk "Kita punya pertarungan sendiri!" tegas Seven.


"Aku akan mencari." Kennan melangkah. "Kalian pastikan tidak kalah kali ini! Jika tidak, kita semua berakhir."


Kenan keluar dari cotage panel mereka. Dan menutup pintu perlahan. Kay melirik Kenan yang berlalu dengan mata cemas.


"Jangan kuwatir percayakan padanya. Mereka akan baik-baik saja." Seven yang mengerti arti tatapan cemas Kay mencoba menenangkan.


"Nine! kita memiliki pertarungan sendiri. Jangan buat mereka yang mengandalkan kita kecewa."Tegas Seven.


Kayla mengangguk.


Iya! Aku harus fokus. Pikirkan Daddy Mal, ibu, Dan juga semua saudaraku. Dan Om Kenan... Juga.... batin Kay melirik Seven yang semakin serius dengan layar pirantinya.


****


"Kalian jaga kedua orang muda didalam. Jangan sampai mereka terganggu oleh apapun." titah Kenan pada empat orang bodyguard untuk menjaga luar cotage.


"Baik tuan." tunduk ke empatnya patuh.


"Sisanya ikut aku!"


Kenan melangkah lebar. Pertama dia melewati jalan setapak yang menghubungkan coyotageote panel ke rumah utama. Dimana mereka menginap.


Lalu Kenan mengecek setiap sudut cotage utama bersama dengan beberapa orang pengawal.


"Sekertaris Kenan!"


Kenan menoleh, melihat wajah cemas pada orang yang baru saja datang itu.


"Ada apa?"


"Kedua tuan muda menghilang!" lapornya.


"APA!?" Kenan terkejut ini diluar prediksinya.


"Hubungi orang yang tadi berjaga disini?" titahnya.


"Baik!"


Setelah beberapa saat.


"Maaf Asisten Ken! Mereka tidak bisa dihubungi."lapor orang itu lagi.


"APA?"


Ken mengusap rambutnya kasar."Empat orang berpencar menyisir pantai. Tiga orang ke depan. Sisanya disekitar cotage. Cari dan temukan apapun yang bisa jadi petunjuk!"


"Siap laksanakan!"

__ADS_1


Orang yang ditunjuk itu menyebar.


Sementara Ken masih diruang utama cotage itu. Matanya berkeliling. Mencari apapun yang mungkin bisa jadi petunjuk.


Mata Ken terpatri pada CCTV yang terpasang di luar pintu cotage utama.


"Dapatkan rekamannya."Kenan menunjuk CCTV itu pada salah satu orangnya.


"Baik."


Lebih baik memeriksa petunjuk yang hanya sedikit itu.


****


Di kota M.


Malvin berdiri depan lobi hotel yang dia sewa. Dengan benda pipih yang menempel di telinganya. Pria bule itu terdiam,


"Baiklah. Aku mengerti!"


Sambungan telepon terputus. Malvin menggeram. Dan menampakkan deretan gigi putihnya. Urat dikepalanya timbul menandakan dia sangat marah.


****


Di pulau sebrang.


Embun yang telah selesai dengan urusannya di kota pelabuhan itu, keluar dari Cafe cabang sebening Embun. Dia hendak kembali ke hotel.


Namun tiba-tiba beberpa orang pria menghadangnya.


"Ada apa ini?" tanya Embun tak suka.


"Nyonya! Keadaan sedang tidak baik. Kita kembali!" ucap salah satu pria yang memakai pakaian serba hitam itu.


"Apa?"


****


Daniel gelisah, beberapa kali mondar mandir dari dalam gudang ke pintu depan.


"Kenapa lama sekali ?"


"Sabar tuan."


"Sabar?" Daniel mencengkram kerah leher anak buahnya itu.


"Jika sampai kali ini gagal. Mammppuuuss kalian semua."tukas Daniel penuh emosi.


Karena serangan melalui Web Malvin sudah endus kegagalan. Daniel merubah rencana dengan menculik anak Malvin. Daniel berniat membuat Malvin merasakan kehilangan seperti dirinya.


Daniel marah karena mengetahui Malvin sudah menikah lagi. Tanpa peduli bagaimana Hana meninggal dulu. Ditambah Malvin bahagia dan sukses. Membuatnya semakin marah saja.


"Jika aku tak bisa menghancurkan bisnisnya. Maka hancurkan kehidupan pribadinya." seringai Daniel.


"Tuan!" panggil seseorang memdekat dengan wajah takut.


"Apa?"


Daniel menoleh dengan wajah kesal.


"Itu! Kami tak berhasil membawa istri dari Malvin." lapor pria itu.


"Apa?"


Daniel marah. Menendang apa saja yang ada didekatnya.

__ADS_1


"Wa-wanita itu sudah dijaga bodyguard tuan."


"Lalu apa kalian tak bisa mengatasinya?" murka Daniel.


"Bagaimana dengan anaknya?"


"Nona itu..."


"Apa lolos juga?"sentak Daniel murka."Kalian benar-benar tak berguna."


"Waaahh.. Jangan marah-marah seperti itu paman...." Suara seorang gadis cilik di pintu masuk gudang mengagetkannya.


****


Kenan mengecek Kamera pengawas. Hanya ada sedikit petunjuk. Si kembar terlihat keluar dari cotage bersama. Mereka berdua berjalan sendiri.


"Hanya ini petunjuknya?" gumam Kenan. "Bagaimana dengan kamera pengawas yang lain.


Anak buah Ken menunjukkan rekaman dari kamera lain yang mengarah pada jalan.


"Hanya ada kegelapan." Gumam Kenan. "Tunggu!"


Ken mememukan sesuatu pada rekaman itu. Ken memperhatikan beberapa bayangan hitam menaiki sebuah mobil lalu entah kemana. Ada mobil lain yang mengikuti.


"Kau bisa buat resolusinya lebih baik?"


"tentu saja."


Setelah itu tampak sedikit jelas. Beberapa orang berkerumun lalu masuk kedalam mobil. Mobil satu pergi. Lalu mobil lain menyusul.


"Mereka membawa Catty." gumam Ken.


"Buat plat nomor mobilnya lebih jelas."


"Baik."


Anak buah Ken berhasil mendapatkan plat nomornya.


"Bagus lacak mobil ini." titah Ken pada yang lain. tepat saat beberapa orang Ken kembali berkumpul.


"Apa yang kalian dapatkan?"


Salah satu menyodorkan sebuah anting. "Ini ditemukan beberapa meter di depan cotage panel.


"Ini milik Catty." Gumam Ken menerima anting itu."Ada lagi?"


"Dan ini.."


Ken menerima sebuah gelang. Gelang itu ada sedikit bercak warna merah. Ada sebuah tulisan.


gii X 186


"Apa ini? gii X 186?" salah satu anak buah Ken bertanya-tanya. Ken menggaruk dagunya berfikir.


"Asisten Ken bagaimana jika meminta Se7en memecahkan sandi ini?"


"Tidak!" tolak Ken yang terlihat mulai menyungging senyum.


"Jangan ganggu mereka. Kurasa aku tau maksudnya." Ken tersenyum misterius.


"Panggil polisi ke alamat yang aku tunjukkan!" lanjutnya.


"Asisten Ken! Kami menemukan orang-orang ini di pantai tanpa busana.Mereka pingsan dalam keadaan terikat." seru beberapa orang menggiring beberapa orang yang menggigil kedinginan.


"Beri mereka minunan hangat dan selimut. Kita interogasi nanti." ujar Ken, "Hubungi pusat untuk mengirim beberapa pengawal lagi kemari. tiga orang berjaga disini, sisanya ikut aku!"

__ADS_1


____^^^____


__ADS_2