Dicerai Karena Dekil(Dinikahi Bos Mantan Suami)

Dicerai Karena Dekil(Dinikahi Bos Mantan Suami)
Chap 56


__ADS_3

Danu menuntun Yura memasuki rumah, begitu mereka pulang dari acara Aniv PT Corren.


"Nyonya Yura kenapa, Tuan?" tanya bi Inah menyambut tuannya dari ambang ruang tengah dan ruang tamu. Dia membantu tuannya untuk menuntun Yura duduk disofa ruang tamu.


"Nggak papa bi, kecapean aja." balas Yura lemah." mendudukkan bokongnya di sofa.


"Saya bikinkan teh hangat ya nyah."


"Iya Bi Inah. Mau."


"Saya kopi ya bi."ujar Danu meminta.


"Iya tuan, Nyonyah." bi Inah berlalu menuju dapur.


"Gimana keadaanmu sayang?" tanya Danu sedikit cemas."Masih pusing?"


"Nggak papa mas, cuma syok aja."


"Kenapa?" selidik Danu sedikit hati-hati.


"Mantan istri mas itu..."


Danu menghela nafas panjangnya,


"Pantas saja dia tak tersentuh, rupanya backingannya bos kita." bergumam lirih.


"Tak tersentuh bagaimana Yura?" tanya Danu sedikit curiga. Yura tertegun,


Ya ampun, aku keceplosan didepan mas Danu. Gawat kalau dia tau aku pernah mau nyerang Embun dengan bayar orang. pikir Yura.


"Ya itu mass.... "


Bi Inah datang dengan nampan berisi teh dan kopi hangat.


"Silahkan tuan nyonya." ucap bi Inah lalu pamit untuk pulang.


Danu mengucapkan terima kasih dan memberinya selembar uang biru.


"Bagaimana Embun bisa sampai mengenal Tuan Malvin,mas." yura bertanya-tanya. "Dia bukan dalam jangkauannya, bukan levelnya, bagaimana bisa..."


"Yura, jangan bicarakan Embun lagi. Dia sudah tak ada hubungannya lagi dengan kita."ucap Danu pada Yura yang seolah masih ingin membahas Embun mantan istrinya itu.


"Kita tidur saja. dan istirahat. besok kita klinik dan cek kandunganmu."lanjut Danu beranjak, "Aku mau merokok dulu didepan. kamu istirahatlah."


Danu melangkah keteras,meninggalkan Yura yang masih kesal dan bertanya-tanya.


Danu duduk di kursi teras malam itu, menyalakan rokoknya dan menghisap perlahan lalu hembuskan, mengeluarkan kepulan asap putih di udara.


Embun, ini kah rencana mu untuk membalasku? Ironis sekali, bagaimana kamu bisa mengenal tuan Malvin? Dan bagaimana bisa aku tidak menyadarinya saat pertemuan pertama dipanti? Danu tersenyum miris, kembali menghisap rokoknya.


Hari berikutnya, Danu membawa Yura ke dokter obgyn untuk melakukan kontrol bulanan.


"Semuanya normal ya bapak, debay nya sehat. dan perkembangan sesuai dengan usia kandungan."


"Terima kasih dok." ucap Danu menerima foto USG. Dia mengamati foto itu lalu tersenyum kecil.


"Pastikan makan yang bergisi, kurangi makanan manis."


"Iya dok."


Seusai dari dokter obgyn mereka hendak mencari makan siang.


"Kamu mau makan apa sayang?" tanya Danu sambil menyetir.

__ADS_1


"Terserah mas aja."


"Debaynya nggak mau makan apa gitu?"


"Enggak sih mas, terserah mas Danu aja."


"Ya udah kalau gitu," Danu melihat plang restoran Sebening Embun. Dia lalu berbelok kehalaman restoran.


Yura tau itu restoran milik mantan suaminya, matanya membelalak. Tentu saja Yura kesal, bisa-bisanya suaminya terang terangan mau bertemu dengan mantan istrinya itu.


"Mas! ngapain kemari?" protes Yura dengan nada tinggi.


"Makan. kan mau makan siang."


"Nggka disini juga kali mas."


"Katamu terserah tadi."


"Terus? Mas sengaja mau ketemu sama mantan istri mas yang udah cantik itu?"


"Yuu-raa...." nada bicara Danu dengan helaan nafas mencoba bersabar."Mas nggak ada niat buat ketemu sama Embun."


"Terus ngapain mas belok kesini?"sentak Yura.


"Ini dah jam makan siang, ditambah ini ada restoran pas ada didepan mata. Salah kalau mas belok sini?"


"Salah! karena ini restoran milik mantan istri mas itu."


Danu menghela nafas sabar.


"Putar balik mas, aku nggak sudi makan disini." rajuk Yura mensedakepkan tangannya dan membuang muka.


"Baiklah!"


"Gimana kalau disini?"tawarnya bertanya.


"Nggak papa. dari pada di resto mantan istrimu." mendorong pintu disampungnya dan keluar dari mobil, Yura yang masih merasa kesal membanting pintu. Danu hanya bisa geleng-geleng kepala saja melihat istrinya itu.


Danu dan Yura akhirnya memesan makanan lalu menyantapnya. Ditengah makan siang, Danu mendapat panggilan dari salah satu rekannya.


Danu terdiam sejenak, lalu melirik Yura yang masih menjejalkan nasi padangnya.


"Mas angkat telepon dulu ya." ucap Danu sambil berdiri.


"Disini aja kenapa sih mas?"


"Urusan kerjaan Yura. nggak enak kalau disini."


"Bukan dari selingkuhan mas kan?"


"Astaga Yura! Lihat ini."Danu menunjukan layar diponselnya, tertulis kontak bernama bambang berikut dengan fotonya."Apa ini terlihat seperti selingkuhan Mas?"


"Yaahh.. mana tau mas, "


"Mas Masih normal ya."


Yura tergelak."Ya mana tau mass..." masih mode tertawa.


"Sudah, Mas angkat telpon dulu." Danu berlalu menjauh.


Setelah sekitar beberapa meter jauhnya dari Yura dan dilokasi yang agak sepi,


"Ada apa, bam?"

__ADS_1


("Gawat pak Danu, hasil inspeksi tidak berpihak pada kita") suara Bambang diseberang sana.


"Apa?" Danu mengepalkan tangannya. Ritme nafasnya berubah jadi memburu, urat-urat kepalanya pun mulai menonjol.


("Aku sudah mencoba memanipulasi kemarin, tapi tidak berhasil.")


"Lakukan sesuatu Bam, kita tidak bisa masuk penjara?" Danu mengusap kebelangan rambutnya.


"Dulu sudah kubilang untuk mencari kambing hitam kan?"


("Iya pak Danu, tapi tetap berujung pada kita. Aku sudah melakukan semaksimal mungkin, tapi.....")


"Itu artinya Kamj tidak maksimal."geram Danu,"sudah! Temui aku dikantor."


("Sekarang pak?") bambang tertegun


"Iyalah. Masak taon depan!" danu menutup telponnya kasar, dia mengangkat tangannya tinggi hendak membanting hpnya, namun dia urungkan. Danu berpindah melihat pot tanaman hias, dia lalu menendang kasar pot itu hingga berhamburan dan pecah.


"Sialan!"


I**ni kah akhir dari karirku? Apakah ini juga bagian dari pembalasanmu? Embun! bisa-bisanya kau meminta backinganmu menghancurkanku. Lihat saja. Jika aku berhasil lolos dari ini. Kamu akan jadi tergetku! Pikir Danu geram.


Danu kembali ketempat Yura makan. Semua sudah licin tandas.


"Yura! kita kembali sekarang!"


"Nggak jadi piknik mas?"tanya Yura.


"Nggak Yura! Ada panggilan dikantor."


"ini kan masih libur mas."


"Ini mendesak Yura. Mas harus kekantor. Kamu mau mas antar atau pulang pake taksi?" tegas Danu yang jadi makin jengkel karena sikap Yura.


"Iya deh mas. Mas Anter aja." Cemberut Yura.


Setelah mengantar Yura kerumah Danu lengsung tancap gas menuju Gedung PT CORREN. Sesampainya disana, Danu memarkirkan mobilnya dan bergegas menuju ruangannya. Danu memanggil Bambang melalui sambungam telpon kantor.


"Kamu dimana? Keruanganku sekarang!"


Tak lama Bambang masuk keruangannya.


"Bagaimana ini bisa terjadi? bukankah kita sudah menyiapkan kambing hitamnya dan juga kupikir sudah cukup rapi." ucap Danu mengintervensi.


"Iya pak. Harusnya memang tidak ketahuan, tapi mereka sangat teliti. semua manipulasi yang sudah kita siapkan sebelumnya, berhasil mereka bongkar dan hasilnya menujukkan pada kita." terang Bambang dengan wajah pucat.


"saya nggak mau dipenjara pak." melasnya Bambang."saya masih punya keluarga untuk dihidupi."


"Aku juga! Aku pun tak mau berakhir disana. Karena itu kita harus menyusun rencana lagi. Jadi jangan merengek!"Sentak Danu makin kesal.


Sialan! Kalau begini terus, yang ada aku benar-benar akan dipenjara. Tunggu apa kujadikan saja Bambang sebagai kambing hitam. dan mencuci bersih tanganku. pikir Danu melirik pada Bambang...


Danu menyeringai.....


___€€€___


Mohon dukungannya yahh readerskuuhh.


Like dan komen


Terima Kasih.


😊

__ADS_1


__ADS_2