
Malam setelah Yura menyewa para preman untuk memperkosa dan menyebarkan vidio Embun hari itu, Yura duduk diruang tamu. Menatap pintu depan rumahnya. Malam ini Danu tak pulang, tentu saja dia gelisah. Kenapa Danu masih belum pulang? Dalam pikirannya Danu masih bersama dengan Embun.
"Tak mungkin! Tak mungkin mas Danu masih bersama dengan jallaaang itu." gumamnya gelisah.
Yura mengusap keningnya, merasakan kepalanya yang nyut-nyutan.
"Bagaimana jika mereka gagal? Dan mas Danu berhasil menyelamatkannya? Itu akan membuat mereka semakin dekat dan aku... Akuu? Bagaimana denganku?"
Yura terus memegangi kepalanya yang sudah pusing dan frustasi. Yura beranjak dari duduknya. Dia mengambil hp nya dan menghubungi salah satu preman yang dia bayar. Namun nomor mereka sibuk dan tidak aktif.
"Ya tuhan! bagaimana ini? kenapa malah tidak aktif? Bagaimana jika mereka malah kabur membawa uangku?"
Yura makin cemas dan gelisah.
"Tidak! tidak mungkin" yura menggeleng. "Mereka profesional, tak mungkin malah kabur dan membawa lari uangku, apalagi korban mereka cantik. Tidak akan ada yang menolak bila dibayar untuk melakukan hal itu."
"Mereka mendapatkan kesenangan dan yang pasti juga mendapat uang."
Yura mondar mandir. Dia sangat gelisah.
TOKTOK
suara pintu rumahnya diketuk.
"Mas Danu?" sebutnya lirih, Yura bergerak perlahan, Namun segera terhenti, melihat daun pintu yang bergerak-gerak tak sabar. Yura yakin itu bukan suaminya.
Keringat mengucur deras, jantungnya memacu dengan cepat, Yura memundurkan selangkah. menyentuh punggungan sofa.
"Si-siapa?" suaranya bergetar saking takutnya.
"Si-siapa disana?"
BRUUUAAAKKK...
Yura terlonjak, wajahnya tegang dan pucat.
BBBRRRUUUUAAAKKK....!
Pintu terbuka lebar, Yura semakin lemas melihat beberapa orang pria asing menerobos masuk kedalam rumahnya, dia sendirian. Tanpa Danu, tentu membuatnya semakin takut.
"Si-siapa kalian? Mau apa kemari?" sentaknya dengan suara yang bergetar karena takut.
Seorang pria yang dengan baju kasual maju kedepan, dia adalah salah satu pengawal Embun.
"Kami hanya ingin memberikan pengembalian dana." tersenyum sinis.
"Aa-apa?"
Dibelakang pria itu muncul seorang lelaki yang cukup dia kenal, lelaki itu orang yang dia bayar ditaman, wajahnya sudah babak belur namun Yura masih mengenalinya. lelaki itu memegang handycam.
Yura sadar akan situasinya. Dia menggeleng dan berteriak. berusaha kabur kedalam rumah dan masuk kedalam kamarnya. Namun belum sempat dia meninggalkan ruang tamu, tangannya sudah dicekal.
"TIDAAAKKKKK!!!"
______
Keesokan paginya Yura membuka matanya. Dia masih ingat apa yang terjadi semalam. Walau mereka tak melakukan apapun padanya, tetap saja dia ketakutan. Yura yang meringkuk di karpet lantai ruang tengah itu duduk dan memeluk lututnya, dia menangis. Menangisi nasibnya. Dia yang ingin memberi pelajaran pada Embun malah justru dia sendiri yang kini menghadapi ujian.
"Embun.. siapa kau sebenarnya? siapa yang berada dibelakangmu?"lirihnya lemah,
"Kenapa? kamu tak tersentuh sekarang?"isak Yura meratapi nasibnya.
Suara pria yang mencengramnya semalam masih bergaung dikepalanya.
__ADS_1
*Ingatlah satu hal ini. kau akan kehilangan segalanya jika bersikap serakah dan egois. Wanita yang kau ganggu hari ini adalah orang yang spesial. Jadi perhatikan lagi targetmu, sebelum bertindak.
Ini hanya peringatan kecil dari kami. Jika hal ini terjadi lagi, kau akan merasakan hal yang sama, aaahhhh, Tidak! Bahkan lebih buruk! Untukmu dan orang-orang disekitarmu! Camkan itu Yura istri Danuarta*.
Wajah seringai pria itu tadi malam pun masih teringat jelas diotaknya.
"Dia bahkan tau aku istri mas Danu." isak Yura lagi, "Siapa mereka sebenarnya?"
"Nyonya!" seru bi Inah melihat Yura masih meringkuk dilantai. Yura menoleh. Dengan segera Bi Inah membantu majikannya itu berdiri dan duduk dikursi sofa.
"Apa yang terjadi nyonya?" menatap prihatin." Dimana tuan? Apa tuan Danu belum pulang?"
Yura masih terdiam dengan pandangan kosong. Dengan wajah prihatin, Bi inah segera berlari kedapur dan membuatkan teh hangat untuk nyonya-nya. Tak lupa bi Inah menghubungi Danu, namun nomor pria itu tak aktif. Akhirnya bi Inah memilih mengantarkan tehnya dulu pada Yura.
"Minum tehnya dulu Nyonyah."ucapnya sambil membantu Yura meminum teh yang dia buat.
setelah Yura terlihat lebih segar. Bi Inah menuntunnya kekamar. Membantu Yura berbaring dan menyelimutinya. Jujur saja walau Yura kadang membuatnya kesal dengan tugas dan pekerjaan disertai ucapan yang tidak mengenakkan, Namun melihat Yura seperti itu membuatnya iba dan prihatin. Apa yang sebenernya telah dilalui nyonyah-nya itu?
Menjelang sore Yura duduk diteras rumahnya. Dia msih syookk, ditemani bi Inah. Yura tak mengijinkan Bi Inah pulang, karena masih takut dan syok.
Mobil Danu terlihat memasuki halaman rumah dan terparkir sempurna didepan teras. Dengan segera Danu menghampiri Yura yang terduduk melamun di kursi teras.
"Ada apa ini Bi?"
"Nggak tau juga tuan, dari tadi nyonyah seperti ini"jawab bi Inah.
"Yura? Apa yang terjadi?" tanya Danu pada Yura.
Yura tak menjawab, dia justru menangis. Danu dan bi Inah saling melempar tatapan bingung.
"Ayo kita masuk kedalam Yura." lembut Danu, terbersit rasa bersalah dihati Danu..
"Mas. Jangan tinggalkan aku mas, aku takuutt..." lirih Yura dalam pelukan Danu membuat pria itu semakin merasa bersalah.
Apa yang sebenarnya terjadi? Embun? apa yang sudah kamu lakukan?
Embun memasuki kediaman Malvin, dia berjalan dan terhenti di depan tangga. Melihat Malvin juga baru mau turun dan berhenti ditengah-tengah tangga. Mereka saling menatap untuk sesaat dalam diam.
"Kau sudah pulang?"
"Eeemmm...." Balas Embun dengan masih menatap Malvin. Perlahan dia melangkah menaiki tangga, Hingga mereka semakin dekat.
"Apa kamu bersenang-senang?" Tanya Malvin saat Embun melewatinya.
Embun berhenti, tepat satu anak tangga diatas Malvin. Embun berbalik dan membalikkan tubuh pria itu, hingga mereka saling berhadapan. Embun mengambil tengkuk Malvin dan menautkan bibir mereka.
Dengan lembut Malvin melum** Embun begitupun dengan Embun yang menyatukan lidah, bergumul lembut dengan lidah Malvin.
Diujung tangga atas, Kayla melihat adegan dewasa itu, mematung, terdiam tanpa bergerak dan bersuara.
"Apa kalian bersenang-senang?"
"Kami bahagia bersamamu, Mal."
Malvin tersenyum kecut. "Bagaimana pertemuannya?"
Tanpa menjawab Embun menarik tangan Malvin menaiki tangga. Tak ada Kay disana, gadis itu sudah pergi bersembunyi begitu menyadari Ibu dan Daddynya hendak kelantai dua.
Embun menarik lengan Malvin yang mengikuti langkahnya dengan lemas. Membawa pria itu kedalam kamarnya, sekali lagi Embun menciumnya.
"Maafkan kami..."Sendu Embun lirih, "Aku tau kamu pasti terluka Kay pergi menemui Danu diam-diam. Ini pasti bukan yang pertama, dia pernah bertemu dengan Danu sebelumnya. Kenapa kamu tak mengatakannya padaku Mal?"
"Kenapa?"
__ADS_1
"Dia berhak bertemu dengan Ayahnya, siapa aku ini berani melarangnya?"
"Maaaallll!!!"pekik Embun.
Embun menatap sendu pada pria didepannya.
"Aku mencintaimu Mal."
Malvin tersenyum kecil, memeluk tubuh mungil wanita yang dicintainya. Mengecup ringan tengkuk, leher, pundak dan kepala Embun.
"I love you more."
Embun tersenyum, "Aku akan bicara pada Kay. Dia pasti mengerti."
"Jangan!"
"Kenapa?"
"Biar dia jadi urusanku, sudah kubilang, aku ingin mendekatinya perlahan sampai gadis itu bisa benar-benar menerimaku sebagai Daddynya"
Embun tersenyum geli, "kau sudah melakukannya selama ini. Mana hasilnya?"
"Diamlah! Nggak ada yang instan!"mengeratkan pelukannya.
Terdiam sesaat, sama-sama mendekap dan menikmati kehangatan pasangannya.
"Kamu belum memenuhi janjimu Mal."
"Janji apa?" masih memeluk Embun.
"Kamu lupa?" melepas pelukan Malvin dengan wajah kesal.
Malvin menautkan alisnya bingung.
"Memangnya apa yang sudah kujanjikan?"
Embun makin kesal, dipukulnya lengan Malvin.
"Aaaauuuuuwwww..kenapa memukulku?" protes Malvin mengaduh.
"Kamu lupa ucapanmu sendiri? Ini bahkan sudah lebih dari besok yang kamu janjikan." kesal Embun merajuk...
Malvin masih menatapnya bingung, alisnya berkerut memikirkan janjinya yang terlupa. Membuat Embun makin kesal.
"Keluarlah!" mendorong paksa tubuh Malvin keluar dari kamarnya. "Jangan masuk sebelum kamu ingat!" menutup pintu tepat dimuka Malvin, membuat pria itu terkaget.
"Hei... katakan dulu! Tentang apa ini?" mengetuk-ngetuk pintu dengan tak sabar.
"Embun!"
"Sayang?"
masih mengetuk pintu... pandangannya teralih merasakan bayangan mendekat dari sisi kirinya.
"Kayla....."
"Daddy... Bolehkah kita bicara?"
Malvin tersenyum kecil,
"tentu saja."
____€€€______
__ADS_1
Readers kasi semangat up donk😢😢
like dan komen ya..👌