
Embun duduk di ruang tamu apartemennya. Dengan sebotol vodka dimeja dan dua gelas wine berkaki tinggi. Embun menatap sendu padanya.
Suara bel berbunyi, pertanda ada tamu datang. Gegas Embun melangkah kepintu depan dan membukanya.
Danu tersenyum lebar dengan membawa sebotol wine ditangannya.
"Masuklah Mas."
"Terima kasih sudah mau menemaniku malam ini." melangkah masuk.
Embun tersenyum tipis.
"Seorang teman memberiku oleh-oleh dan dia membatalkan untuk minum bersama."ucap Embun dengan langkah tenang dan tangan terlipat didada.
Danu duduk di sofa tamu meletakkan wine nya dan berganti mengambil botol Embun.
"wuuuaaahhh... Apa ini? billionare vodka?" Danu berdecak kagum, "temanmu pasti sangat menyukaimu memberimu minuman mahal seperti ini."
Embun tersenyum tipis. "Sudahlah! Ayo kita minum saja."Embun duduk di sofa lain namun masih disamping Danu.
"Biar aku saja!" tawar danu saat Embun hendak mengambil campange dari tangannya.
Embun tersenyum tipis. membiarkan Danu yang bersemangat membuka tutup botol miras itu. Menuang dan cheeerrrsss.
Selama satu jam mereka minum bersama, tentu saja Embun membuat Danu minum lebih banyak. Dengan banyaknya bualan dari mulut Danu cukup membuat Embun muak. Hingga pria itu mulai mabuk dan tumbang. Embun tersenyum tipis. Dia melirik jam tangannya. pukul 23.00 malam.
"Harusnya Yura gelisah sekarang." Embun menghembuskan nafas panjangnya.
Embun mengambil ponsel Danu. tak lama benda itu bergetar. Embun tersenyum tipis. Panggilan telpon masuk dari Yura. Embun menggeser tanda hijau dan menempelkannya di telinga.
__ADS_1
"Mas Kamu dimana? kenapa belum pulang?" suara Yura yang bergetar terselip gelisah disana.
Embun tersenyum licik.
"Selamat malam Yura?"
###
Yura pulang kerja pukul 20.00 malam itu. Dengan badan berat dan pegal Yura menyeret pulang tubuhnya.
Mas Danu! tidak menjemputku lagi. Tega sekali dia, selalu beralasan menemani rekan bisnisnya agar memuluskan karirnya.
Yura yang turun dari taksi online itu membuka pintu rumahnya yang tampak remang. Dia tau Danu sedang rapat diluar dengan rekan bisnisnya karena memang dia bilang tadi lewat pesan singkat. Yura duduk sebentar di sofa tamu, setelah cukup beristirahat. Yura membersihkan diri dikamar mandi.
Yura membuat makan malam untuknya, dan menyiapkan sebagian untuk Danu. Yura yakin Danu sebentar lagi pulang. mengingat tadi Danu berpesan untuk membuatkannya sup pereda pengar.
Waktu berlalu, Yura melirik jam dinding, pukul 21.21 malam. Yura mulai gelisah. Tak biasanya Mas Danu masih diluar selarut ini meski untuk rekan bisnisnya.
Yura melihat jam ditangannya. pukul 22.45 malam. Yura mencoba menghubungi ponsel Danu mwngiriminya pesan yang beberapa saat lalu pesannya masih belum terbaca.
Dengan tangan bergetar, Yura mendial nomor Danu. dua kalipanggilan tidak dijawab oleh suaminya. Sekali lagi dia mendial. tersambung!
"Mas Kamu dimana? kenapa belum pulang?" suara Yura yang bergetar terselip kekawatiran disana.
"Selamat malam Yura?" suara wanita yang menjawab.
Mata Yura membulat, wajahnya berubah merah mendengar suara seorang wanita menjawab telpon suaminya. Dan itu suara Embun!
Bajin*** kamu Mas Danu! Kau bersama pelac** murahan itu!!!
__ADS_1
Dengan mencegat taksi Yura menuju apartemen Embun. Wanita itu sengaja menyebutkan dimana alamatnya agar Yura menjemputnya. Yura terus memggeram dalam perjalanan.. Dia tak henti-hentinya memgumpat. Memaki Danu dan Embun.
####
Pintu apartemen Embun digedor dengan sangat kencang dan tak sabar. Embun membukanya, menyambut Yura dengan senyum tipis. Wanita itu menerobos masuk tanpa memperdulikan sang tuan rumah.
Wajah Yura semakin memerah. Melihat Danu terkapar karena mabuk di kursi ruang tamu.
"Mas Danu...." gigi Yura bergemeletuk menahan amarahnya. Melihat sang suami mabuk tak sadarkan diri diapartemen wanita lain.
Hatinya hancur, amarahnya memuncak hingga ke ubun-ubunnya. Yura berbalik menatap Embun dengan mata merah dan wajah yang penuh amarah siap meledak.
"Kauu!!" suara Yura bergetar saking marahnya." Perempuan Jalllaaangg!"hardiknya menunjuk Embun.
"Beraninya kau merayu suamiku!"
Embun tersenyum miring.
"DASAR PELAC** MURAHAN!!! BAJIN*** KAMU!! JAL*NG!! BIAD**!!" Yura terus memaki dan menunjuk Embun dengan suara bergetar dan lantang hingga memenuhi langit ruang utama.
Embun tak menanggapi, dia hanya tersenyum tipis dan melipat tangannya didada. Menunggu Yura menyelesaikan umpatannya.
Yura terus memakinya dengan kata-kata kotor. hingga dia lemas kehabisan tenaga, merosot terduduk dilantai dengan berurai air mata.
Embun menatap sendu padanya. Walau bagaimanapun dia tetaplah seorang wanita yang punya hati. melihat sesama wanita yang tersakiti oleh orang yang sama membuat hatinya tergugah juga..
Embun mengangkat Yura dan membantunya duduk disofa. memberinya minuman dingin agar wanita itu lebih tenang. Embun menghembuskan nafasnya.
Yura, melihatmu mengingatkanku pada diriku sendiri. Tapi semua ini kalianlah yang memulainya. Jika kau tidak menyakiti anakku aku tak akan seperti ini. Ini belum semua Yura.
__ADS_1
Dengan berlinang air mata Yura membawa suaminya pulang. dengan mengendarai mobil silvernya. Sepanjang jalan Yura masih menyimpan dendam pada Embun. Yura berniat membuat perhitungan dengannya nanti. Setelah dia mengurus Danu suaminya.
"akan ku buat kamu menyesal Embun." geramnya, "Akan kubuat kau tak bisa menegakkan kepalamu lagi."