Dicerai Karena Dekil(Dinikahi Bos Mantan Suami)

Dicerai Karena Dekil(Dinikahi Bos Mantan Suami)
chap 68


__ADS_3

Didalam gedung pusat CRD Corp.


Malvin memasuki ruangannya pagi itu seusai rapat dengan anggota dewan. Disana sudah berdiri kakek Bram. Pria tua itu melirik Malvin sesaat sebelum dia mengelilingi ruangan.


"Tempat ini sudah banyak berubah."ucap kakek tua itu. "Kamu sangat pandai mengembangkannya menjadi sebesar ini."


Malvin yang masih berdiri didepan pintu perlahan mendekat. "Semua berkat kakek."


Kakek Bram hanya tersenyum tipis."Aku hanya berinfestasi. Kamu sangat pandai menghasilkan uang."


Malvin mengulas senyum."Kakek sudah lama?"


"Belum."


"Akan ku sampaikan pada sekertarisku untuk menyuguhkan teh."Malvin melangkah mendekati pintu.


"tidak perlu. Aku hanya sebentar Vin."cegah kakek Bram.


"Bagaimana keadaan Embun?"


"Dia baik-baik saja. tapi..."


Kakek Bram berbalik menatap Malvin dengan mata Elangnya.


"Apa dia tak ingin bertemu denganku?"


###


Embun memasukkan udang asam manis, union ring dan ayam mwntega fillet kedalam wadah yang berbeda. Tak lupa dia juga memasukkan sekotak nasi kedalam tas bekalnya.


Pagi ini Embun bersiap mengantarkan makan siang untuk Malvin. Setelah semua siap Embun membawa mobil orennya ke gedung utama CRD CORP. Embun langsung menaiki lift menuju lantai atas dimana Ruangan Malvin berada.


Begitu keluar dari lift dan memasuki ruang kekertariat dan menuju pintu ruangan suaminya.


"Maaf. Tuan Malvin sedang ada tamu Nyonya Embun." cegah salah satu sekertaris Malvin.


"Benarkah?"tanya Embun, "Apa aku mengenalnya? Boleh aku tau siapa?"


"Tuan Bramasta."


Embun tersenyum kecut.


Apa yang diinginkan kakek tua itu lagi. pikir Embun.


"dia kakekku. Tidak masalah jika aku masuk kan?"


sekertaris wanita itu terkejut dan sedikit ragu-ragu.


"Tidak apa." Ucap Embun melangkah membuka sedikit pintu ruangan Malvin.


Embun tertegun, mereka sedang membicarakannya. Embun masih mematung. mendengarkan dengan seksama yang dua orang itu bicarakan.


.


.


"Beri dia waktu kek."Suara Malvin.


"Kenapa reaksi nya berbeda dengan Hana. Dulu dia sangat antusias untuk bertemu denganku." kata Kakek Bram, sedikit menekankan ucapannya.


"Saat itu dia masih sangat muda, ditambah lagi hidupnya tak sekeras Embun." jelas Malvin,"Aku harap kakek mau mengerti dan bersabar. Aku akan berusaha membujuknya."

__ADS_1


Kakek Bram tersenyum kecut.


"Kau tau umurku tidak lama lagi kan? Bagaimana aku bisa bersabar saat penyakitku ini terus menggerogoti tubuhku."Kakek Bram meninggikan suaranya.


"Maaf kek, aku akan berusaha semaksimal mungkin."


Pria tua itu menghela nafas beratnya. Dia berjalan mendekati Malvin. "Berjanjilah, kau akan membawanya padaku sebelum aku menjalani operasi minggu depan."


Kakek Bram mencengkram bahu malvin. Malvin menyipitkan matanya. Embun yang berada diluar ruangan itu mencrengkram kuat handle pintu.


"Maaf kek."tolak Malvin halus.


"Kamu tak bisa?"tanya Kakek mendelik.


"Aku tak ingin memaksanya lagi." menatap mata kakek dan melepaskan cengkraman pria tua itu.


"KAUU..."geram kakek Bram.


"Tolong mengertilah perasaannya kek, dia merasa dibuang, tidak diinginkan, dan menjalani kehidupan yang berat seorang diri." jelas Malvin tentang perasaan Embun.


"Kini kakek ingin menemuinya? Apa ini untuk menutupi rasa bersalah kakek? Yang sudah membuangnya?" Frontal Malvin berucap.


PLLAAAKKK!!


"Beraninya KAAUU!!"


Kakek Bram mencengkram baju depan Malvin. Dengan segera Embun membuka pintu.


BRRAAAKKK!


kedua pria itu menoleh.


"Embun!"Seru Malvin


"Cucuku...."


"aku kemari untuk makan siang." ucap Embun membuka suara. Melangkah ke sofa tamu.


"Ayo kita makan Sayang."Embun membuka bungkus bekalnya,


"Maaf Tuan Bram. Saya hanya membawa untuk dua orang saja."ucap Embun tersenyum tipis. "Saya tidak tau suami saya punya tamu."


"Jika anda ada yang ingin dibicarakan dengan saya, Suami saya yang akan mengaturnya nanti." sambung Embun


"Apa kamu sedang mengusirku Embun?"tanya Kakek dengan tatapan sayu.


"Tidak." ucap Embun,"Tapi jika anda punya cukup malu, pasti akan memilih pergi dari pada tetap tinggal." sinis Embun dengan senyuman.


Kakek Bram merungkai senyum. "Baiklah, aku pergi." ucapnya. "Vin jadwalkan pertemuan kami segera."


"Baik."


Kakek tua itu pergi meninggalkan ruangan Malvin. Pasangan itu bernafas lega. Baik Embun juga Malvin tercenung, lalu saling melempar pandangan.


Lalu mereka tersenyum bersamaan.


"Kenapa kamu ikut-ikutan?"suara Malvin.


"kemarilah Daddy Mal." ucap Embun membuka tempat makanannya satu per satu.


Malvin mendekat lalu duduk disamping istrinya.

__ADS_1


"Heemmm... ada apa ini? kenapa menunya seafood seafood an?"


"Apaan? Ini cuma udang dan ayam filet." geli Embun mengambil sesendok udang lalu menyuapkannya pada Malvin.


"Enak nggak?"


"Masakanmu selalu enak."


_____


Sudah beberapa hari ini Danu tinggal dirumah mertuanya. Dengan telaten Danu merawat Yura, mengajak nya berinteraksi.


Saat pagi hari, Danu membawa Yura jalan-jalan komplek perumahan sekitar situ dengan kursi roda. Dia juga mengajak Yura mengobrol walau wanita itu masih tanpa respon. Danu tetap sabar.


Sore itu sepulang kerja, Danu membawa Yura ke halaman rumah, disana ada kolam ikan dan kebun yang ditanami beberapa pohon buah.


"Yura lihatlah ikan-ikan itu."Seru Danu menunjuk pada kolam luas yang berisi ikan Nila dan mujair.


"Sekarang sudah sangat besar. Bagaimana kalau kita tangkap satu dan memanggangnya disini?"


Danu mengambil sebuah batu dan melempar batu itu ke kolam ikan. Membuat ikan-ikan menyebar. Danu berjalan ketepian kolam. Lalu dia berjongkok di pinggiran kolam itu. Memainkan air dengan tangannya.


"Yura air disini dingin. sangat menyejukkan, kamu mau mencobanya?" tanya Danu menoleh.


Yura masih diam, tatapannya masih kosong.


"Aku bisa membantumu kemari. Apa kamu mau kemari?" tanya Danu lagi.


"Dulu kamu suka main air kan?" ucap Danu lagi. "Ayo kita main air, dan menangkap ikan."


Yura masih tak merespon. Danu beranjak dan berdiri, hendak berjalan ke arah istrinya itu, namun kakinya tergelincir batu kerikil hingga keseimbangannya hilang. Danu tercebur ke dalam kolam yang setinggi pahanya.


"Aaahh.. sialan!" umpat Danu berdiri.


Yura tersenyum kecil. Dan Danu melihatnya sekilas.


"Yura? Kamu tersenyum?"suara Danu girang. dia lalu mendekat dengan baju yang basah. Danu tersenyum tipis, lalu berjongkok didepan Yura. Danu menggenggam tangan istrinya.


"Yura, aku akan selalu ada disisimu. Sampai kapanpun. Kembalilah menjadi Yura yang aku rindukan. Heemmm?" ucap Danu meminta.


Danu menatap wajah Yura yang masih tanpa ekspresi. Danu mengecup kening Yura.


"Ayo kita memutari halaman belakang lagi Yura. pohon-pohon disini sudah mulai berbuah. Lihatlah!" seru Danu mendorong kursi roda Yura.


Di beranda lantai atas ibuk dan bapak Damar hanya melihat mereka. Ibu mengusap air matanya. dan pak Damar mengelus lengan istrinya.


"Kenapa Yura sampai mengalami ini ya pak?" tanya Ibu dengan berurai air mata.


"semoga saja Danu tidak lantas meninggalkan Yura dengan kondisi seperti ini. Ibuk sangat sedih melihat Yura seperti itu." isak ibu dalam dekapan suaminya.


"Semua sudah digariskan Tuhan Buk."hibur bapak."Semoga dengan kehadiran Danu, Yura bisa sembuh."


"Amiin pak."


___€€€___


Readers, mohon dukungannya ya,biar othor semangat up terus.


Like dan komen.


Terima kasih

__ADS_1


Salam____


😊,


__ADS_2