Dicerai Karena Dekil(Dinikahi Bos Mantan Suami)

Dicerai Karena Dekil(Dinikahi Bos Mantan Suami)
chap 75


__ADS_3

Malvin dan Embun berjalan cepat keruangan dimana kakek Bram dirawat. Disana Sudah ada dokter dan beberapa perawat juga orang yang ditugaskan menjaga kakek selama ini.


"Kami turut berduka cita."


Embun tersenyum getir. Menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukan suaminya.


"Terima kasih atas kerja kerasnya selama ini." ucap Malvin pada para dokter dan perawat disana.


Embun berjalan perlahan mendekat pada tubuh renta yang sudah tak bernyawa itu. Embun melihat para perawat yang melepaskan alat penyokong hidup kakek.


Embun menggenggam tangan kakek Bram.


"semoga engkau tenang disana kek. Kami semua sudah memaafkanmu."lirihnya.


Setelah melakukan serangkaian acara pemakaman, Embun, Malvin dan kedua anak gadis nya menaburkan bunga diatas pusara kakek Bram. Dibelakang mereka Pak Danang berjalan mendekat. Duduk disamping Malvin yang menyadari kehadirannya tersenyum simpul. Malvin membagi keranjang bunga pada pak Danang. Namun dia menolak, dan memilih memandang pusara yang masih basah dan penuh oleh bunga-bunga itu.


"Dulu....."suara pak Danang.


"Aku sempat membencimu, karena memisahkan aku dengan Maia, mencoba membunuhku dan menelantarkan kedua anakku." lirihnya mengenang.


Tapi, itu sudah berlalu. Itu tidak penting lagi, kami sudah tenang dan bahagia. Kau juga tenang dan bahagialah disana." sambung pak Danang lagi.


Pria itu mengulas senyum lalu menepuk punggung Malvin.


Alam terasa hening, angin bertiup membawa dedaunan terbang bersamanya.


###


Disisi lain.. Di rumah sakit khusus kejiwaan.


Hari itu seperti biasa, Yura hanya duduk diam ditaman. Dia memiliki perawat khusus. Perawat itu meninggalkan Yura sendiri untuk berjemur.


"Mbak Yura di sini aja. Aku mau ke toilet sebentar ya skalian ambil obat mbak Yura." ucap Perawat itu. Yura masih diam tak memberi respon sama sekali. Perawat itu lalu pergi meninggalkan Yura.


"Sudahlah, tidak apa-apa toh biasanya juga nggak apa-apa kok. Mbak Yura biasanya hanya diam."gumamnya melangkah.


Di taman RSJ itu ada beberapa pasien yang juga sedang berjemur. Yura masih duduk terdiam dibangku taman dangan tatapan kosong.


Beberapa pasien terlihat bersliweran disana, ada seorang pasien yang mendekat. Pasien itu membawa sebuah boneka. Sepertinya dia juga sama seperti Yura. Stres karena kehilangan anak.


Pasien itu sangat berisik dan tentu bergerak disekitar Yura yang entah mengapa membuat Yura terganggu.


Yura dan pasien itu berebut boneka yang dibawa Si pasien.


"Ini bayi ku."teriak pasien itu ketika Yura memegang bonekanya.


"Berikan!" seru Yura.


"Tidak! ini milikku!" jerit Pasien itu menarik bonekanya hingga terlepas dari tangan Yura. lalu menimangnya seolah itu bayi beneran.

__ADS_1


Yura mengulurkan tangannya. Menarik boneka yang pasien itu bawa. Merebut lalu membawanya pergi. Tentu saja pasien itu tidak terima. Memukul punggung Yura dan merebut kembali bonekanya.


"Kembalikan jalllaaaang! Kau sudah mengambil suamiku, kau juga akan mengambil anakku? Mati saja kau!" pekik pasien itu dengan tongkat kayu ditangannya.


BBUUUUGGG!


Yura jatuh tersungkur. pasien itu melempar balok kayunya dan mengambil boneka. Lalu pergi meninggalkan Yura. Yura yang merasa anaknya juga telah diambil darinya itu. Bangkit mengejar pasien lalu menjambak rambutnya.


"Beraninya kamu!"teriaknya lantang. "Kembalikan anakku!"


Keributan antara Yura dan pasien itu menyita perhatian suster dan perawat. Mereka dipisahkan dan diberi obat penenang. Sementara perawat yang menjaga Yura menelpon Danu. mengabarkan Yura baru saja terlibat pertengkaran dengan sesama pasien sakit jiwa.


Sontak kabar itu membuat Danu panik. dia yang saat itu sedang bekerja.


"Apa?" pekiknya saat Danu menerima kabar dari perawat Yura.


"Bagaimana bisa?"


("Maaf pak, tadi saya sempat meninggalkan nya sebentar ke toilet dan mengambil obat.")suara perawat disebrang sana.


"Baiklah. bagaimana keadaannya sekarang?"


("Sudah diberi obat penenang pak. Anda tak perlu kwatir ")


"Baik-baik! Nanti aku akan kesana. akan kuselesaikan dulu pekerjaanku."


("Baik pak. Maaf.")


Sesegera mungkin menyelesaikan pekerjaannya, karena dia sedang bekerja sebagai ceeff sv di geraii itu. Danu harus memastikan semua berjalan lancar tanpa hambatan dulu. Baru bisa keluar ijin.


Beberapa jam kemudian Danu mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit kejiwaan tempat Yura dirawat. Dalam perjalanan kesana sempat terjebak macet. Bebrapa kali Danu mengumpat.


"Shhiiiitt!!" umpatnya.


"Kenapa siihh? lagi buru-buru juga. malah macet!"


"Semoga. Yura baik-baik saja. Aku sangat kwatir, tapi dia merespon pergerakan orang lain itu kemajuan yang bagus kan harusnya." bergumam-gumam.


Danu tak sabar dengan kemacetan. Sehingga dia putuskan untuk mencari jalur lain.


"Nggak apa lewat jalur yang lebih jauh. dari pada terjebak macet."Gumamnya.


Danu menyetir dengan kecepatan sedang. sampai disebuah persimpangan hp nya berbunyi. Danu segera mengangkatnya.


"Halo!"


("Pak Danu! Gawat! Mbak Yura ngamuk lagi.") suara suster diseberang sana.


"Apa?" pekik Danu terkejut."Bukankah kalian bilang dia sudah diberi obat penenang?"

__ADS_1


("iya pak, sudah.")


"Lalu kenapa?"


("saya tidak tau, sepertinya mbak Yura mimpi buruuk. dia menyebut-nyebut nama Danu dan Embun.")


"Appaa?" Danu tercengang.


"Kenapa menyebut Embun?" lanjut Danu.


("Bapak sebaiknya segera kesini! Bapak bisa melihatnya sendiri.")


"Apa? Jadi kalian akan membiarkannya seperti itu terus tanpa memberikan apapun?" ucap Danu tak terima.


("Sabar pak. Kami sedang menanganinya.")


"Yaaa.. sebaiknya kalian lakukan dengan benar.!" ucap Danu tegas. "Aku sedang dalam perjalanan."


Danu memacu mobilnya cepat. Dia harus segera sampai disana. dia harus tau apa yang terjadi dengan Yura.


Karena terlalu cepat, Danu tidak menyadari dia sudah melebihi batas ditentukan. Dia hanya memikirikan Yura.


Danu mengendarai mobil dengan ugal-ugalan. Beberapa kali dia mengklakson pengguna jalan lain. Hingga disebuah pertigaan jalan ada sebuah truuuk melintas lambat. Danu yang sudah terlanjur dengan kecepatan tinggi tentu sudah tak bisa lagi mengendalikan laju mobilnya.


"Aaaaggggg! Shhiittt!!"


CKKKKIIIIIIITTTTT...... BRRRUUUUUUAAAKKKKK,, BUUUUUUMMMMMM


Mobil Danu menghantap kuat Badan Truk itu hingga sempat terdorong beberapa meter. Mobil Danu merangsek dibawah truk dan tentu saja badan truk menimpa mobil Danu.


"Yuuu-raaaa....." sebutnya dengan air mata berlinang ditengah tubuhnya yang terhimpit itu.


Darah mengalir deras, orang-orang disekitar berusaha menolong sebisa mungkin. ada yang mengamankan jalan, memanggil polisi dan ambulans.


Langit yang perlahan tertutup awan mendung, sedikit -demi sedikit tetesan air dari langit membasahi bumi.


Maafkan aku. Siapapun. Yura... Embun... Kay.... dan bayiku yang telah gugur. aku mencintai kalian. suara hati Danu.


____€€€____


Readers, ini udah mau End ya, tinggal beberapa part lagi. Menurut kalian nih, Yura udah dapat karmanya, sementara Danu, mau dibikin mati aja atau hidup segan mati tak mau? (wkwkwk. keknya kejem bangat ya kalau ini.)


mohon dukungannya ya,biar othor semangat up terus. Tinggal beberapa bab lagi kok.


Like dan komen.


Terima kasih


Salam____

__ADS_1


😊,


__ADS_2