
Embun terkejut, melihat siapa yang memasuki ruangan yang sama dengannya. Begitupun dengan sosok pria itu. Dia mematung ditempatnya, diambaang pintu geser.
"Masuklah Vin, kenapa kamu hanya mematung disitu?"
###
Digedung utama CRD CORP yang menjulang tinggi, dalam ruangan khusus CEO lantai atas.
Pagi itu Malvin menerima pesan dari Kakek Hana, ajakan makan siang bersama. Malvin menatap layar hpnya lama. lalu meletakkannya di meja kantornya. Malvin menghela nafas panjang. Dia masih ada janji dengan kakek itu untuk menemukan dan mempertemukan cucunya.
Melihat bagaimana reaksi Embun kemarin membuat Malvin ragu dan enggan, salah-salah malah dia yang balik benci wanita itu. Sekarang saja Malvin sudah cukup merasa resah, Embun berulang kali menyebut Hana, mengaitkan kemiripannya dengan Hana. Rasa cintanya bahkan terus diragukan istrinya itu.
"Sudahlah, hanya makan siang. Apa yang perlu aku bingungkan?" gumam Malvin kembali mencoba fokus pada kerjaannya.
Tak lama Kenan datang dengan setumpuk berkas ditangannya. Malvin menatapnya dengan perasaan tidak enak.
"Apa ini?" ucapnya curiga menatap tumpukan berkas yang Kennan letakkan di meja kerjanya.
"Hanya pekerjaan yang tertunda tuan." ucap Kenan dengan senyum manis diwajahnya.
"Kamu bercanda? sebanyak ini?" protes Malvin.
"Anda bisa memulainya tuan." lagi-lagi dengan senyum yang sama.
Malvin memijit kepalanya, dan bersandar pada kursi kerjanya.
"Saya permisi tuan."
"Ken, siang ini kakek Bram mengundang makan siang."
"Baik tuan akan saya kosongkan jadwal anda setelah makan siang"
"Terima kasih Ken. Bisakah kamu ikut dengan ku?"tanya Mavin menawari.
"Apa itu tidak masalah?"Kennan malah balik bertanya.
"Heemm... aku ingin menghindari kakek itu menyita waktuku terlalu lama." ucap Malvin beralasan.
"Apa anda belum mempertemukan Nona Embun dengan tuan Bram?"
"Belum."
"Itu tidak baik Tuan, apa lagi jika tuan Bram tau lebih dulu." kata Kenan
"Aku tau."jawab Malvin menerawang jauh."Kau bisa pergi."
Ken membungkuk setengah badan dan berjalan keluar ruangan Malvin.
Wakktu berlalu dengan cepat, beberapa jam sebelum waktunya makan siang, hp Malvin berdering. Malvin yang sedang sibuk dengan lembaran berkas dimejanya melirik hpnya. Embun calling, gegas Malvin menekan tombol hijau.
"Whats up Baby?"
("Bisakah kamu menemaniku makan siang?") suara Embun disebrang sana.
Malvin melongok jam ditangannya.
__ADS_1
"Im sorry honey, aku sudah punya janji makan siang." sesal Malvin dengan nada sedih.
("Mmmm.. begitu. Tidak apa-apa. Selamat bekerja.")
"Hey wait. Bagaimana kalau makan malam berdua?"tawar Malvin
("Mmmm, ajak catty dan Kayla juga.") kata Embun disebrang sana.
"Itu namanya bukan berdua sayang, tapi berempat."
("Kamu keberatan?")tanya Embun dengan nada nakal. Membuat Malvin tersenyum lebar.
"Tidak. Kamu mau makan malam dimana?"
("Coba nanti aku tanya anak-anak. Mereka mungkin punya pilihan.")
"Okey honey. maaf membuatmu kecewa siang ini." ucap Malvin lagi, dia merasa tak enak menolak ajakan Embun, namun dia sudah membuat janji makan siang dengan kakek Hana.
("Tak apa, kamu akan menggantinya dengan makan malam. itu sama saja.")
"I love you." tutup Malvin diakhiri dengan kecupan di telponnya
("I love you.") balas Embun dari balik speaker.
Panggilan berakhir. Malvin kembali menyelesaikan tugasnya. Begitu pekerjaannya selsai, Malvin mengintip jam ditangannya. Lima belas menit sebelum makan siang. Gegas Malvin keluar dari ruangannya, dismbut Kennan di depan lift.
Mereka berjalan keluar gedung CRD Corp dan melaju dengan mobil merah menuju sebuah restoram korea ternama di kota itu. Malvin mengambil langkah lebar, ia terlambat dua menit dari waktu yang dijanjikan.
"Semoga kakek tua itu tidak komplain." gumam Malvin. Disampingnya ada Kennan.
"Maaf tuan, ada yang harus saya selesaikan dulu." pamit Kennan menunjuk ponselnya. membuat keduanya berhenti sesaat.
"Apa? Sekarang? Kita sedang makan siang." protes Malvin mengerutkan alisnya.
"Maaf."sesal Kennan."Akan saya usahakan untuk segera kembali."
Malvin menyentak nafasnya."Baiklah, pergilah."
Malvin kembali memulai langkahnya, mengikuti pelayan yang menuntun jalannya. Sampailah Malvin di depan sebuah ruangan privat. Pelayan itu mengetuk pintu,
"Tuan, tamu anda sudah datang."ucap pelayan itu.
"Persilahkan dia masuk!" sahut suara berat seorang pria tua dari dalam.
Pintu digeser, Malvin berjalan memasuki ruangan itu. Betapa terkejutnya dia, selain Kakek Hana, disana juga ada Embun. Wanita itu tak kalah terkejut melihatnya, berbeda dengan Kakek Bram, dia tersenyum puas seolah menantikan momen ini.
"Masuklah Vin, kenapa malah mematung disana?" suara berat Kakek Bram menegur Malvin yang masih berdiri diambang pintu.
Malvin menatap sendu diwajah Embun yang memilih mengalihkan pandangannya. Malvin duduk didepan Kakek Bram, mereka hanya bersekat meja.
"Makanlah." Kakek Bram mengambil suapan pertamanya.
Malvin manatap lekat Embun, Ia tidak menyangka akan dipertemukan dalam situasi seperti ini. Malvin menyesalkan tindakan Kakek hanya yang terksan terburu-buru.
"Ada apa ini kek?" Malvin beralih menatap kakek Bram meminta penjelasan, Malvin menyipitkan matanya.
__ADS_1
"Kita sedang makan siang. Makanlah." ucap Kakek santai,
"Kek..."sebut Malvin masih menatap Kakek Bram Serius.
Kakek Bram meletakkan kasar sumpit dan sedoknya menggebrak di meja. Embun terlonjak kaget.
"Vin, Aku yang seharusnya bertanya, ada apa?" geram Kakek Bram. Menatap nyalang pada Malvin. Ia marah karena Malvin bahkan seolah tak ada niat mempertemukan dia dengan cucunya yang hilang.
"kau sudah menemukannya, bahkan sudah menikahinya juga. Beraninya kau tidak segera mempertemukan kami!" Sentak kakek Bram berapi-api.
"Apa begini caramu berterima kasih?" Sinis Kakek Bram menatap dingin pada Malvin.
"Kakek, ada hal yang tidak anda mengerti. Anda seharusnya lebih bersabar."Malvin masih berusaha tenang."Anda seharusnya lebih percaya padaku."
Embun menatap sendu Malvin. Selama ini Ia merasa Malvin menyembunyikan sesuatu darinya, dan sepertinya dia mulai mengerti. Terlalu banyak kebohongan yang tidak dia ketahui.
BRRAAAKKK!
"Bersabar katamu? Aku sudah hampir mati dan kau menyuruhku bersabar untuk menemui cucuku?" sentak Kakek lagi dengan luapan emosi.
Malvin mengepalkan tangannya dibawah meja. Dia menutup matanya menahan egonya untuk mengucapkan kata yang mungkin akan menyakiti Embun. Malvin kembali menatap kakek.
"Kau sudah membuatku kecewa dengan kematian Hana, Kau semakin menambah kekecewaanku dengan ini?" sentak Kakek Bram lagi."Aku berhak untuk bertemu dengan cucuku!"
Embun tersenyum muak dengan semua ini. Drama yang sangat menyebalkan. Embun berdiri,
"Aku sudah cukup."ucapnya berjalan kepintu geser.
"Embun please!"
"Cucuku, kita.."
"Aku juga berhak untuk tidak mendengar omong kosong semacam ini." kata Embun menoleh sedikit. Dia membuka pintu geser."Sedikitpun tak ada yang mempertimbangkan bagaimana perasaanku."
"Sayang, kita harus bicara." Malvin ikut beranjak
"Tak ada satupun dari kalian yang aku inginkan. Biarkan aku sendiri." Embun melangakh keluar dari ruangan itu.
"Embun"sebut kakek dan Malvin bersamaan.
Kedua pria beda generasi itu saling bertatapan.
"Inilah alasannya aku tak segera mempertemukan kalian kek, dia tidak bisa menerima orang-orang yang sudah membuangnya." ucap Malvin sebelum berlalu meninggalkan Kakek Hana.
___€€€___
Readers, mohon dukungannya ya,biar othor semangat up terus.
Like dan komen.
Terima kasih
Salam____
😊,
__ADS_1