
"Kapan kamu mulai menyukaiku Mal?" tanya Embun menatap netra Malvin.
"Entahlah. Aku tidak begitu ingat."
Embun tersenyum tipis,
"Not Love at first sight?"
Malvin mencerna ucapan Embun,
"Aku tidak pernah percaya dengan cinta pada pandangan pertama." jawabnya lugas.
"Benarkah?" tanya Embun dengan senyum ragu.
"Bagaimana dulu kamu dan Hana bisa jatuh cinta?" Tanya Embun sedikit penasaran.
Malvin terdiam, menatap dalam bola mata Embun. Dia mengusap pipi wanita itu, bergeser ketengkuknya dan menciumnya. Sesungguhnya dia tak ingin membicarakan Hana lagi. Entah apa yang membuat Embun terus mendesaknya.
"Aku mencintaimu Embun." mengusap bibir Embun yang basah.
"Benarkah? Apa karena wajah ini?"tersenyum tipis
Malvin tersentil,
"Apa maksudmu?" menatap tajam.
"Bukankah wajah ini mirip dengan Hana?"
"Embun! kamu membuatku tersinggung." ucap Malvin tajam."Ini tak ada hubungannya dengan Hana."
Mereka terdiam sesaat.
"Ini tak ada hubungannya dengan Hana. Aku mencintaimu. Dan kamu istriku. Jangan mengungkit masa lalu yang tidak penting bagi hubungan kita. Huuumm?"
Embun menundukkan kepalanya."Baiklah."
"Tegakkan kepalamu. Kamu istriku."mengangkat dagu Embun dengan jarinya."Dan jangan bahas Hana lagi. Itu hanya akan melukai kita berdua."
Embun mengulas senyum. Malvin mengecup kening Embun.
"Cepatlah selesai banjirnya."
Embun terkekeh.
"Sebenarnya, hanya tinggal flek aja. kalau kamu mau, tidak apa-apa."
"Aaaa... Nggak. Aku masih bisa bersabar nunggu kamu benar-benar bersih."
"Ayo kita lanjutkan makan siangnya. Aku masih lapar." ajak Malvin.
Malvin mengangkat tubuh Embun dan menggendongnya, membawanya ke sofa tamu. Dimana disana masih ada makan siang yang Embun bawa.
_______
__ADS_1
Beberapa hari kemudian.
Yura berjalan menyusuri lorong office menuju ruangan suaminya Danu. Wajah merah menahan amarah. Yura membuka kasar pintu ruangan Danu. Danu terkejut melihat istrinya yang tiba-tiba datang itu.
"Apa ini mas?" tanya Yura dengan emosi yang meluap." Bisa Mas Danu jelaskan? Kenapa ada gosip semacam ini,dan aku nggak tau?"
Danu yang sedang membereskan barang-barangnya kembali melanjutkan aktifitasnya karena tadi sempat terhenti karena Yura.
"Apa maksudmu Yura?"
"Mas Danu tau maksudku!"
"Yura. Aku melakukan ini semua untuk mu!"tanpa melihat Yura, Danu terus membereskan barang-barangnya.
"Jangan beralasan! Katakan saja. kenapa kamu bisa sampai seceroboh ini?" sentak Yura makin tak sabar. Menarik lengan Danu agar berhenti dari aktifitasnya. Dia merasa diabaikan.
"Yura ingat kandunganmu. Kamu tak boleh emosi."
"Ini semua gara-gara Mas Danu, Kenapa mas lakuin ini?"
"Sudah kubilang! aku lakuin ini semua buat kamu!"ujar Danu mulai tak sabar. "Kamu kebanyakan menuntut mas, minta inilah, minta itulah. Kamu pikir uang dari mana? Haaahhh?"
"Mas Danu nyalahin aku sekarang?"Yura makin kesal saja, Danu malah menyalahkannya.
"Ini memang salahmu!"
PPLLAAAAKKK!
"Terus aja nyalahin aku mas. Nggak sadar salah itu dari dirimu sendiri. Tapi masih nyalahin aku."pekik Yura dengan mata berkaca-kaca,"Mau sampai kapan mas nyakitin aku terus? Mulai dari slingkuh dngan mantan istri mas itu sampai ini jga..."
"Tegaa... kamu mas!"Air mata Yura lolos juga. dia menyekanya.
"Kenappa kamu bawa-bawa Embun yura?"ujar Danu geram." ini Nggak ada hubungannya sama dia."
"Wooooww! Hebat ya? Sekarang mas bahkan belain dia?" Yura makin emosi mendengar Danu seolah malah membela mantan istrinya itu.
"Yuuraaa!"
"Ini jelas sangat ada hubungannya sama mantan Mas itu. Coba lihat, siapa suaminya sekarang?Dan coba lihat, apa yang coba dia lakukan padamu? Kau dipecat sekarang dengan sangat tidak hormat." Yura mendorong bahu Danu.
"Mungkin sebentar lagi kamu akan dikirim kepenjara. Karena kasus penggelapan dana."Manatap remeh pada suaminya,"apa dana itu juga kau alirkan pada Embun. Haaaahhh?" sentak Yura,"Wanita jallaang itu juga pasti menikmatinya kaan?"
"Cukup yura!" Danu mengangkat tangannya tinggi. Namun tidak sampai memukul Yura.
"Apa mas? mas mau mukul istri sendiri?" dengan mata mendelik, "pukul mas, pukul!"
Danu menarik kembali tangannya, sekuat itu menahan emosinya. Mau bagaimanapun Yura istrinya yang tengah hamil. Tak mungkin dia memukulnya seperti Embun dulu. Kini saja dia sudah cukup menyesal.
"Kenapa heeemm?" tatap Yura dengan menantang."Kenapa nggak jadi mukul?"
"Yu-raaa...." Danu masih berusaha mengontrol emosinya."Sudahlah,kembali bekerja. Jangan habiskan jam kerjamu disini. Kita bicarakan lagi nanti dirumah."
Yura terdiam, jelas dia masih sangat emosi dengan semua yang Danu lakukan, namun benar mereka masih di kantor dan dijam kerja. Yura mau tak mau menghentikan dulu marah-marahnya.
__ADS_1
________
Embun membawa mobilnya menuju rumah Danu. Hari ini, dia berencana mengantar Kayla kesana. karena gadis itu ingin bertemu dengan ayahnya. Embun memarkirkan mobilnya dihalaman rumah Danu.
Di halaman ada mobil Danu yang terparkir. Embun keluar dari mobilnya, begitupun dengan Kay. Tak lama, Danu keluar dibelakangnya disusul Yura. Terlihat sekali mereka sedang bertengkar.
Yura yang melihat Embun dan Kay lebih dulu, menghampiri.
"Mau apa kalian kemari haaah?" sentak Yura kasar.
Embun tersenyum tipis. Menarik Kay dibelakang punggungnya, apapun itu Embun harus menjaga Kay. Dia tak boleh terluka.
"Embun, Kay! Kalian sudah datang?" Danu mendekat,
Embun memang sudah memberitahu Danu bahwa dia akan mengantar Kayla kerumah. Namun sepertinya keadaan rumah Danu sedang tidak baik, buktinya Embun melihat pasangan itu sedang bertengkar.
"Mau apa kalian datang kemari? mau ngejek kami yaaa?" sinis Yura frontal.
Embun tersenyum kecil."Apa maksudmu? Aku hanya bermaksud mengantar Anakku menemui ayahnya."
"Jangan beralasan kamu! Setelah Mas Danu dipecat kamu mau menertawakan kami kan? puas kamu? beraninya pake backinganmu?"ucap Yura frontal. Membuat Embun terkejut, ia tak tau jika Danu sudah tidak bekerja.
"Yyyuuuuraaaa!" sentak Danu, "Apa-apaan kamu ini?"
"Apa mas? Memang begitu kan? Wanita jallaang ini pasti yang berada dibalik semua ini."Lantang Yura bersuara menatap suaminya.
Yura berpindah menatap nyalang Embun.
"Puaass kamu? Kamu udah ngancurin kami. Kamu udah bikin mas Danu nggak bisa kerja dimanapun karena kalian. Puaas??" sentak Yura penuh Emosi.
"Apa maksudmu? Mas Danu dipecat? Atas dasar apa?" tnya Embun yang memang tidak tau duduk permasalahannya,
"Halahh... jangan sok nggak tau kamu. Ini emang udah jadi rencana busukmu kan? Merayu tuan Malvin dan menyuruhnya untuk memecat mas Danu, lalu membuat dia tak bisa diterima diperusahaan manapun."sinis Yura makin lantang."HEBBAAATTT KAMU EMBUN !"
"Yuu-rraaa...."
"aku tidak mengerti apa maksudmu, sepertinya kami datang diwaktu yang tidak tepat."ucap Embun mencoba untuk tidak terprovokasi.
"Kay, ayo kita kembali. Lain kali saja bermain dengan Ayah."
Kay mengangguk. Dia berjalan memasuki mobil. Begitu pun dengan Embun. Dia hendak membuka pintu mobilnya. Tangan Yura terulur menarik rambutnya...
___€€€___
dukung othor terus ya...
like dan komen
biar makin semangat up nya
makasih
salam😊
__ADS_1