Dicerai Karena Dekil(Dinikahi Bos Mantan Suami)

Dicerai Karena Dekil(Dinikahi Bos Mantan Suami)
chap 55


__ADS_3

Embun menyentuh lengan Malvin. Pria itu menoleh padanya.


"Kamu sudah pulang?" lembut Embun berucap menatap netra Malvin.


"Cium aku. Aku butuh tambahan energi." Embun mencium suaminya itu, lidahnya bergulat lembut dengan lidah Malvin. Menggigit kecil bibir bawah suaminya.


"Apa sekarang energimu dari ciuman?"


"Salah."sangkal Malvin meraih tengkuk Embun,"Dari bibirmu..." kembali menautkan bibir. Malvin menyudahi ciumannya


"Kenapa wajahmu seperti itu Mal? Kamu punya masalah?" tanya Embun dengan nafas cepat, melihat wajah sedih suaminya dari tadi.


"Yaaa....." memeluk tubuh Embun menghirup aroma Embun dalam-dalam. Aroma tubuh yang menenangkannya.


"Kamu bisa menceritakannya padaku. Bukankah kita menikah untuk saling berbagi? Jangan menyimpannya sendiri."ucap Embun lembut memeluk hangat suaminya."Itu namanya serakah Mal."


Malvin tersenyum. "Masalahku adalah.... Aku terlalu mencintaimu."melepas pelukannya.


Embun menatap netra Malvin dalam-dalam.


"Jangan! it's a danger in loving somebody too much Mal."ucap Embun, "Itu akan melukaimu. Cintai seperlunya saja."


"Apa kamu mencintaiku seperlunya?"Malvin menatap sendu pada Embun, mencium lembut bibirnya. Embun membalasnya.


"Prakteknya tidak semudah teori."Embun terkekeh sendiri.


"Dan kamu masih mengguruiku?" menggesek-gesekkan hidungnya dengan hidung Embun.


Embun merungkai senyum.


"Apa kamu sudah selesai?"


"Belum."


"Kenapa lama sekali"protes Malvin sedikit kesal.


"Siklusnya memang begini sayang."


"Call me daddy."


Embun tersenyum kecil.


"Call me Mommy?"


Malvin tersenyum geli."Mommy Embun." Kembali mengecup bibir ranum istrinya.


Kedua bibir itu saling bertaut, lidah yang bergulat lembut diiringi suara kecupan di kamar Malvin. Malvin menekan tengkuk Embun memperdalam ciumannya. perlahan Embun terbaring diatas ranjang, bibir Malvin menyusuri leher Embun hingga kedada atasnya. Membuat beberapa jejak kemerahan disana. Hingga Malvin merasa bibirnya terhalang sesuatu melintang dileher istrinya.


"Kalung ini?"menyusuri hingga kebandulnya, Dia seolah mengenali bandul kalung itu. Malvin menyentuh dan mengusap bandul dikalung Embun.


"Dimana kamu mendapatkannya?"tanya Malvin dengan mimik serius.


"Aku sudah memakainya sejak kecil, aku selalu memakainya karena bu Retno yang menyuruhku. Katanya ini bersamaku saat dia menemukanku." Kata Embun tanpa ekpresi,


"Mungkin suatu hari nanti akan membawaku kembali pada kekeluargaku."Lanjut Embun lagi dengan wajah malas.


"Kenapa, aku tak melihatnya?"menatap mata Embun.


"Aaa,, itu karena rantainya putus, sekarang sudah diperbaiki. Jadi kupakai."jelas Embun.

__ADS_1


"Apa kamu tau sesuatu tentang kalung ini?" tanya Embun penasaran, karena Malvin terlihat antusias pada bandul kalungnya.


"Tunggu sebentar."


Malvin beranjak dari ranjangnya, berjalan menuju ruang ganti, membuka lemari tempat dia menyimpan kalung milik Hana. Lalu kembali dimana Embun terduduk bersandar pada kepala ranjang. Pria itu mendekatkan bandul kalung itu pada kalung milik Embun. Wajah Wanita itu masih terheran dan penuh tanya.


Malvin tersenyum getir. Embun hanya memperhatikannya, menunggu suaminya bicara dengan rasa penasaran yang membuncah.


"Besok pagi, aku akan membawamu kesuatu tempat. Ikutlah denganku."


"Ada apa Mal? Apa kamu tau sesuatu?"


"Ada yang ingin aku tunjukan padamu. Tapi, ini hanya sebatas dugaan." Malvin berdiri dan menarik tangan Embun, berjalan keluar kamarnya.


"Kita mau kemana?"


"Enggak jauh kok." Malvin mengimbangi langkah Embun, melingkarkan tangan kanannya kepinggang istrinya.


Mereka berhenti di depan sebuah foto alm. Hana yang berukuran cukup besar.


"Apa kamu mengenali nya?"


Dahi Embun mengernyir. Dia masih belum paham maksud mengenali. Yang dia tahu itu foto Hana. Malvin tersenyum kecil.


Malvin menangkupkan tangannya di pipi Embun , menciumnya perlahan dan penuh kelembutan.


"Apa kamu tidak merasa kalian mirip?"


"benarkah? Dia cantik."


"Kamu juga."Malvin memeluknya. Embun kembali menatap wajah cantik berkulit putih bersih terawat di foto itu. Memang sedikit ada kemiripan.


"Saat Catty menyebut Mommy . Wajah kalian bersandingan."Malvin melonggarkan pelukannya, "Aku rasa, karena kami telah terbiasa dengan kehadiranmu, dan perubahanmu yang bertahap. Membuat kami tidak menyadari kalau kalian mirip, sampai malam itu."


Embun menghela nafasnya, menatap Malvin dalam keraguan,


Apakah, alam bawah sadarnya tau kami memiliki kemiripan, hingga dia jadi mencintaiku. Atau Hana? Alam bawah sadarnya melihat bayangan Hana diwajahku. Memikirkannya saja sudah cukup membuatku kesal. - Dalam hati Embun


"Apa yang aku cari selama ini memang sudah ada didepan mata."ucap Malvin menatap wajah Embun, "Ironis sekali bukan? Kenapa aku tak menyadarinya padahal kalian begitu mirip?"


"Apa yang kamu bicarakan?" tanya Embun.


"Aku ingin memakanmu sekarang."


Embun terkekeh, Dia berjinjit dan merangkul Malvin. Mengecup ringan, namun malah dibalas dengan Ciuman yang dalam oleh suaminya.


Uuuuhhh.... Kenapa dia harus datang bulan sih?


_____


Pagi ini saat Embun memasangkan Dasi Malvin.


"Hari ini ikutlah denganku." Dengan sedikit membungkuk, agar Istrinya tak kesulitan menyamakan tinggi badan.


"Kemana?" mode memasang dasi.


"Lab."


"Lab? Ngapain?"

__ADS_1


"Ada yang harus dipastikan."


Menatap mata Malvin sedikit ragu.


"Baiklah."


"cium dulu."


Embun mengecup ringan bibir Malvin. "Apa ini cukup?"


"Kurang! Nggak kerasa," balas Malvin. "Lagi"


Embun terkekeh, lalu menautkan lagi bibir mereka. Malvin memeluk tubuh mungil itu, dan Embun merangkul pundaknya dengan sedikit berjinjit.


"Sudah! kupikir kalau terlalu lama juga nggak baik." kata Malvin melepas bibir istrinya.


"Oke Ayo sarapan."


###


Setelah sarapan, Malvin dan Embun mendatangi klinik. Lalu melakukan beberapa tes. Setelahnya mereka berjalan-jalan dahulu, hingga beberapa jam berlalu dan Malvin kembali mengambil hasilnya.


Malvin mengambil sample rambut Embun dan Hana yang masih tertinggal disisirnya.


"Embun, aku berharap itu kamu. Jadi aku tak perlu melukaimu."gumam Malvin melangkah masuk kedalam Lab Klinik.


Tak berapa lama dokter datang dengan lembaran kertas putih. Malvin mengulas senyum begitu membaca akhirnya. Senyum kelegaan.


"Baiklah. Waktunya ke Vila."


Malvin memasuki mobilnya dimana Embun menunggu.


"Kenapa kamu terlihat bahagia?"selidik Embun ikut senyum,"Senyum-senyum sendiri."


"Embun, bagaimana jika, keluargamu ingin bertemu?" bertanya dengan antusias.


"Keluarga?"


"Heeemm."


"Kalian keluargaku."


"Bukan. Keluarga biologismu, Ayah, Ibu, kakek keluarga besarmu."


"Apa yang kamu bicarakan adalah mereka yang sudah membuangku?"


.


.


Heemmmm... jadi hasilnya gimana?


____€€€____


Readers mohon dukungannya ya😊


like dan komen


salam

__ADS_1


😊


__ADS_2