
Malam itu Kayla tidur dikamar Embun. Seusai menggosok gigi dan mencuci muka bersama, Mereka saling melihat melalui cermin wastafel didepan mereka. Lalu saling melempar senyum.
"Apa ibu bahagia?"
Embun mengulas senyum.
"Apa Kay juga bahagia?"
Kayla tersenyum lebar.
"Kenapa tidak menjawab, Kay tidak?"
"Kayla bahagia melihat ibu bahagia."
Embun terkekeh, lalu mengajak Kay kembali kekamar.
"Ibu, ayo keberanda." Ajak Kay begitu keluar dari kamar mandi.
"Okey."
Kayla menghirup udara malam itu, netranya menangkap ribuan bintang dilangit. Indah!
Embun ikut duduk dilantai dan bersandar pada pagar pembatas beranda.
"Apa yang kamu katakan pada Daddy Mal?"
"Ibu penasaran?"
"Huuuummm.."
"Rahasia."
Embun mengulas senyum lagi.
"Ayolah Kay, ibu sangat penasaran."
"Tidak."
"Kayla!" mengerucutkan bibir. Kayla melirik ibunya.
"Ibu seperti anak kecil." ledek Kay tertawa lebar.
"Jadi ibu tak boleh merajuk?" menowel pipi Kay.
Mereka terdiam sesaat.
"Apa setelah ini aku tak bisa bertemu Ayah?"
"Kenapa tak bisa?"Embun balas bertanya. Kay hanya diam menundukkan pandangannya. Embun meraih pundak anaknya membawanya kedadanya.
"Kay, kapanpun Kayla ingin bertemu Ayah, selama Ayah Kay dan Kayla baik-baik saja. Ibu dan Daddy Mal akan mengantarmu bertemu Ayah." ucap Embun, mengusap-usap lengan Kay.
"Daddy juga bilang begitu."
"Oh ya?"
"Heeemm, Kay tak boleh bertemu ayah diam-diam lagi."lirih Kay."Daddy bersedia mengantar jika Kay mau."
"Tentu saja. Itu sangat melukai hati kami Kay jika kamu pergi tanpa ijin lagi."
"Daddy Mal orang yang hangat."
Embun mengeratkan pelukannya.
"Aku tidak keberatan Ibu menikah dengan Daddy Mal." ucap Kayla." Lagi pula..."
Embun terdiam, masih menunggu Kayla menyelesaikan ucapannya.
"Daddy Mal tulus."
"Kenapa?"
"DADDY Mal tak pernah membicarakan ibu saat bersamaku. Dia sangat perhatian. Berbeda dengan Ayah, Ayah beberapa kali menyuruh Kay untuk membujuk ibu agar mau bersama Ayah. Sejujurnya Kayla kecewa bu." sendu Kay,
Embun memeluk Kay lebih erat lagi."Tidak usah memikirkan Ayah, heeemm?"
"Daddy dan Ayah berbeda memperlakukan Kay. Aku lebih suka Daddy Mal, Karena itu... " kayla menjeda kalimatnya.
"Ibu,, Ibu tidak akan memperlakukanku berbeda jika sudah menikah kan?"mendongak menatap wajah ibunya.
"Tentu saja."Ucap Embun yakin."Tidak akan ada yang berubah Kay. Kamu tetap anak ibu, putri kecil ibu, kesayangan ibu. Tidak ada yang bisa merubah cinta ibu padamu. Daddy Mal sekalipun."
__ADS_1
Kay tersenyum,
"Kita hanya akan saling berbagi, dengan Daddy dan Catty."
"Kayla sayang ibu." memeluk ibunya.
Embun terkekeh.
"Apa kalian merencanakan mengacuhkan ibu semalam?"
Kayla tergelak.
"Heeemmm, setelah bicara, kami kekamar Catty dia yang paling bersemangat."
"Aaaahhh, pantas kalian cekikikan di mobil."
Kay mengangkat jarinya membentuk V.
"Catty bilang Daddy Mal tak punya ahlak"
"Kenapa?" menatap heran.
"Karena suka mencemari pemandangan, dan berotak mesum, apa lagi bila dengan ibu. Sperti hari ini. Kami harus melihat adegan dewasa lagi."
"Kalian melihatnya?" terkejut."ibu pikir kalian tidur."
Kay menghela nafas panjang seolah punya beban berat..
"Ibu, jika nanti kalian sudah menikah, apakah Kay akan segera punya adek kecil?"
Embun terkekeh, "kamu mau?"
"Uuuummm.. Kay ingin adik laki-laki." ucap Kay mantap, "Kay sudah punya saudara perempuan. Catty. Tapi Kayla belum punya saudara laki-laki."
Embun mengulas senyum."Kita bicarakan itu lagi besok. Ayo tidur."
Embun tidur memeluk anak gadisnya, Kayla benar-benar sudah terlelap malam itu. Menyisakan Embun yang masih menatap langit kamarnya. Ponselnya bergetar. Embun menoleh ke nakas kamarnya, dan mengambil hpnya.
Pesan dari Malvin.
("Aku didepan kamarmu")
Embun mengulas senyum. Perlahan dia turun dari ranjangnya agar Kayla tidak terbangun.
"Ada apa?"
"Aku kangen."
Embun mengulas senyum lagi.
"Jangan tersenyum, selain padaku."Malvin menyipitkan sebelah matanya dengan pandangan sinis yang dibuat buat.
Embun terkekeh.
"Siapa kamu?"
"Malvin."
"Siapa kamu melarangku?"
"Aku Malvin. Kau sudah lupa?" menarik tubuh Embun dengan kedua tangannya. Mengecup bibir Embun yang menggodanya, melahab dan melummaaattnya perlahan.
"Aku cemburu pada Kay."
"Kenapa?"
"Dia tidur bersamamu malam ini."
Embun terkekeh.
"Kamu boleh ikut bergabung jika mau."
"Aku tak mau. Nanti aku dianggurin."
Mencium lagi wanita didalam pelukannya itu.
"Terima kasih untuk hari ini. Aku sangat bahagia." Malvin menyatukan keningnya dengan kening Embun. Tanpa menjawab, Embun hanya mengulas senyum.
Mereka terdiam, menikmati keheningan malam, mendengar suara hembusan nafas dan terpaan nafas hangat dari pasangannya. Embun menautkan kembali bibirnya, yang disambut hangat oleh pria itu.
"Mungkin sebaiknya kita akhiri disini, sebelum aku menyeretmu kekamar." ucap Malvin dengan senyum mesum.
__ADS_1
Embuun merungkai senyum.
"Dikamar ada Kayla."
"Aku tau." melepas Embun. "Masuklah."
"Okeeyy." masuk kedalam kamarnya.
"Good night."
"Good night." Embun menutup kembali pintu kamarnya.
####
Pagi itu, Malvin berjalan memasuki gedung CRD CORP seluruh karyawannya menyambut dengan membungkuk setengah badan padanya. Malvin tak acuh, berjalan memasuki lift menuju lantai 17 dimana ruangannya berada.
Pintu lift terbuka dengan langkah cepat Malvin memasuki ruangannya, duduk dikursi kerjanya dan mengambil ganggang telpon.
"Kenan. Keruanganku sekarang!" perintahnya.
Tak lama pintu ruangannya di ketuk. Kenan masuk dan memberi salam.
"Kennan, lakukan Inspeksi internal sekarang!"titah Malvin mutlak.
"Baik tuan." Ken tersenyum tipis.
Di PT CORREN
Kennan memasuki gedung pabrik itu melalui lobi, bersama beberapa orang penyidik internalnya.
"Ada apa ini?" tanya Danu dengan wajah marah melihat kumpulan orang mendatangi gedungnya.
"Kami akan melakukan inspeksi internal." Balas Kennan datar.
"Apa?" Danu terkejut."kenapa tak ada pemberitahuan?"
"Ini adalah inspeksi internal. Tentu saja harus tanpa pemberitahuan. Karena ini inspeksi penyidikan. Selama kamu bersih, kamu tak perlu kuwatir." lanjut Kennan datar dan dingin.
"Menyebar!"titahnya tanpa bisa dibantah. Semua timnya menyebar dan menghilang dari pandangan, hanya menyisakan Danu beserta beberapa manager bagiannya dan Kenan.
Danu menatap dengan mata mendelik tak terima. Dia marah, tangannya mengepal kuat dan urat dikepalanya timbul. Bagaimana bisa ada penyidikan dadakan seperti ini? Dia belum mempersiapkan segalanya.
"Ini tidak pernah terjadi sebelumnya."menggeram pada Kennan.
"Benar."balas Ken datar.
Tim penyidik internal itu memasuki setiap ruang kantor di PT CORREN. Mengambil beberapa File dan perangkat yang dirasa mencurigakan dan mendukung penyidikan. Seluruh ruangan gaduh. Mempertanyakan ada apa ini?
Mereka lalu kembali ke lobi dimana Kenan menunggu dengan beberapa box berisi file dan perangkat sebagai barang bukti.
"Kalian akan membawa itu semua?"
"Tenang saja, akan kami kembalikan begitu penyidikan internal ini selesai. Tidak akan memakan waktu lama. Anda tak perlu khawatir Tuan Danuarta." Ujar Kenan lalu berbalik. "Selama anda bersih, tak ada yang perlu ditakutkan." dengan senyum smirk.
Wajah Danu menegang, dia mengusap rambutnya kesal. Dengan berjalan cepat Danu kembali keruangannya, Kemarahan sudah meliputi dirinya, urat-urat dikepala Danu makin jelas timbul.
"AAAAARRRRRGGGGGGG!!!!"
Danu mengusap meja kerjanya dengan kasar, hingga semua barang diatasnya berhamburan kemana-mana.
"Kenapa bisa begini?" geramnya, "Kenapaaa????"
_____€€€______
Othor kasih visual lagi ya
Embun
Malvin
Danu
Yura
__ADS_1
Kennan