
Hari itu Danu membawa Yura ke sebuah rumah sakit khusus kejiwaan, tentu saja dengan ayah dan ibunya serta. Danu terpaksa negikuti kemauan ayah dan ibunya, setelah dia mempertimbangkan dan melalui beberapa diskusi dengan beberapa teman dan bawahannya digerai makanan.
Danu beberapa kali melirik istrinya itu. Yang bahkan tak menunjukkan ekspresi apapun. Membuat Danu beberapa kali menghela nafasnya.
Sesampainya di rumah sakit khusus kejiwaan mereka menemui dokter spesialis dan Yura tentu harus melewati beberapa test daan terapi. Tentu saja dia juga harus tinggal disana hingga Yura sembuh.
Ditaman lingkungan rumah sakit khusus itu, Danu berjongkok di depan Yura yang duduk diatas kursi roda.
"Yura. Aku harus meninggalkan kamu disini. agar kamu bisa mendapatkan terapi dan perawatan yang tepat." ucap Danu pada istrinya itu.
"Aku akan datang setiap hari untukmu. Cepatlah sembuh, agar kita bisa kembali menjadi keluarga dan memiliki anak lagi." lanjut Danu menatap manik mata Yura.
"Percayalah padaku. aku akan selalu berkunjung. ini semua demi kebaikanmu. agar kamu bisa cepat sembuh." sambut Danu dengan mata berkaca.
"Aku menyayangimu Yura." ucap Danu.
Danu berdiri. "Aku pergi dulu." pamitnya.
Danu melangkah menjauh bersama dengan ayah dan ibunya.
Yura hanya menatap kosong, namun tampak tetesan kecil mengalir di pipinya.
###
Pagi ini Embun kembali merasa tak enak badan, sudah muntah beberapa kali, badannya sampai lemas. Wanita itu sedang berjongkok di depan kloset kamarnya. Malvin dengan telaten menggosok tengkuk Embun dengan minyak.
"Udah enakan?"
"Lebih baik." jawab Embun dengan wajah pucat.
"Sayang, aku panggilin dokter aja ya?" ucap Malvin menuntun Embun kembali ke kamar.
Membaringkan istrinya kembali ke ranjang lalu menyelimutinya sebatas dada. Malvin mengecek suhu Embun.
"Padahal enggak panas."
"Yaahh.... mungkin masuk angin."
"Badanmu emang banyak ngeluarin keringat dingin sih." Malvin menatap Embun sayu."Hari ini nggak usah kerja dulu ya."
Emnun menganggukkan kepalanya.
"Aku juga mau ambil cuti dulu. jagain kamu."
Embun tersenyum tipis.
"aku baik-baik aja Mal. Jangan kwatir."
Malvin menatap intens Embun.
"Aku mau jagain kamu. Selesai."
"Iya deh, iya."
Tak lama salah satu pelayan rumah datang dengan membawa minuman hangat.
"Tuan ini jahe hangatnya." ucap pelayan itu.
Malvin menoleh lalu berdiri. dan mengambil minuman itu.
"Oke makasih ya."
Malvin kembali ke sisi Embun.
"Oiya, kami mau sarapa disini. tolong siapkan. Dan buatkan yang ramah lambung."
"Baik."ucap pelayan itu. "saya pamit."
Malvin mengangguk dengan senyuman. Pelayan itu pun meninggalkan Kamar mereka.
"ini monumlah dulu."Malvin menyendokkan jahe hangat ke mulut Embun."ini sangat bagus untuk meredakan mual."
__ADS_1
"Makasih Daddy Mal."
Setelah memberi Embun beberapa suapan jahe hangat Malvin melihat jam tangannya.
"Ini, dokternya kenapa lama bangaet sih?" gerutunya.
"Kenapa sih?" ucap Embun lirih."Aku dah baik-baik aja kok."
"Lagian, aku punya diagnosis lain."ucap Embun melirik manja suaminya.
"Oohh ya?"mendekat dan menatap inten istrinya
"Mungkin ini akan jadi kabar gembira."terang Embun membuat Malvin semakin penasaran.
"Jngn membuatku penasaran."kata Malvin mencium bibir istrinya gemas.
Embun terkekeh.
"Nanti aja, kalau dokternya udah datang."
Malvin memicingkan matanya.
"Untung kamu lagi sakit."celetuknya, "Kalau nggak, udah kumakan kamu.."
Embun terkekeh."Kamu udah nyium aku tadi"
"Itu hanya kecupan!"sanggah Malvin.
"Kecupan apaan? Lidahmu kemana-mana."protes Embun mengerucutkan bibirnya.
"Bibir ini menggemaskan." kekeh Malvin memcubit bibir Embun dengan tangannya.
"Uuuugggghhh....." Embun menutup kembali mulutnya dan berjalan cepat ke kamar mandi.
"Baby...." pekik Malvin mengikuti Embun dengan cemas.
HUUUUEEEEEKKKK.......
"Uuuhuuuukk...."
"Kenapa baru datang Dok." keluh Malvin.
"Maaf, jalan macet."ucap Dokter pria itu.
"Tolong di periksa."pinta Malvin tak sabar.
Dokter mendekat dan melakukan pemeriksaan. Tak lama dokter itu tersenyum.
"Aku menyarankan untuk membawanya ke dokter obgyn saja."
"Apa?" Malvin sedikit terkejut. "Obgyn? apa itu artinya....?"
Embun tersenyum lebar.
Malvin menatap Dokter dan Embun bergantian.
"Yaah, diagnosis saya sementara ini ibu Embun hamil tiga minggu." jelas dokter. mengulurkan tangannya.
"Selamat ya."
Malvin menjabat tangan dokter yang memberi selamat.
"Baiklah, hari ini kami akan ke dokter obgyn. Terima kasih."
Dekter pamit undur diri, setelah mengantar dokter itu sampai didepan pintu, Malvin kembali, dengan raut wajah bahagia terpancar di wajah Malvin.
"Tambah satu baby boy lagi." seru nya memeluk tubuh Embun.
Embun mengulas senyum.
"Kenapa baby boy? Bisa aja baby girl."
__ADS_1
"Apapun semua aku suka. Tapi aku ingin baby boy. kita udah punya dua anak gadis."
Embun terkekeh.
"Kapan kita akan memberi tahu mereka?"tanya Embun. walau bagaimana pun Kay dan Catty harus tau kabar bahagia ini.
"Nanti saja setelah kita pastikan di dokter obgyn."balas Malvin.
"Baiklah."
###
Pagi itu Malvin dan Embun bertolak ke RS untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Malvin dan Embun memasuki ruang dokter Obgyn. Disana perawat mengoleskan gel diperut Embun. Dan dokter mulai menguliti perutnya.
"Hmmm... ini usia kehamilan tiga minggu ya ibu Embun." ucap dokter.
"Ini janinnya " jelas Dokter lagi, "Dan ini ada dua."
"jadi?"
"Artinya...."
"Apa itu laki laki atau perempuan?" tanya Malvin tidak sabar.
Dokter obgyn tersenyum geli.
"Ini masih minggu ke tiga pak, jadi belum bisa melihat jenis kelaminnya."terang sang dokter.
"Yaahh.." nada kecewa terdengar dari mulut Malvin.
"Jenis kelamin akan terlihat di minggu ke delapan belas."jelas dokter lagi.
"jadi ini saya hamil anak kembar dok?"
"tepat ibu Embun."
Malvin dan Embun kembali berpandangan, lalu senyum merekah diwajahnya.
Malvin dan Embun berjalan keluar dari ruang dokter obgyn, Malvin menggandeng istrinya, tangannya msih memegang foto usg melihat tak percaya.
"Kita akan punya dua bayi sekaligus."Gumam Malvin dengan rekahan senyum diwajahnya.
Embun tersenyum kecil.
"Itu akan sangat berat." ucapnya lirih, "Tapi aku bahagia, kita akan lalui ini bersama kan?"
"Tentu saja." Malvin memeluk tubuh istrinya."Terima kasih."
"Untuk apa?"tanya Embun menatap wajah Malvin.
"Karena sudah mengandung anakku." ucapnya mengecup ringan kening Embun.
"Aku mencintaimu."
"Tuan Malvin!" panggil seseorang dikejauhan berlari mendekat
Malvin dan Embun menoleh kearahnya, pria itu adalah salah satu orang yang menjaga pak Bram di rs selama beberapa hari ini.
"Saya dengar anda ada disini. Jadi saya nerlari kemari." ucap pria itu mengatur nafasnya.
"Ada apa?"tanya Malvin
"Tuan Braamm..."
____€€€____
Readers, mohon dukungannya ya,biar othor semangat up terus.
Like dan komen.
Terima kasih
__ADS_1
Salam____
😊,