
Setelah tiga hari Yura rawat inap di RS akhirnya Yura kembali kerumahnya. Untuk melakukan masa pemulihannya selama seminggu. Dikediaman Danu, Yura duduk lemas bersandar pada kepala ranjang dikamarnya.
Pintu dibuka dari luar, Danu masuk dengan membawa nampan berisi semangkuk bubur jagung dan segelas susu hangat. Danu duduk dibibir ranjang, melihat prihatin istrinya yang bahkan tak menoleh padanya itu.
Wajah wanita itu menatap keluar jendela yang terbuka, tirai putih dipinggir jendela itu melambai-lambai tertiup angin.
"Yura, ayo makan dulu."Danu mendekatkan sesendok bubur jagung ke mulut Yura. Namun Yura tak merespon sedikitpun.
"Yura sayang, nanti kamu sakit kalau begini terus."
Yura masih terdiam, sedikitpun tak menoleh ke arah Danu.
"Yura, Mas mohon."pinta Danu lemas, meletakan kembali sendoknya.
"Makanlah, sedikit saja."Danu memohon.
Yura masih terdiam tak memperdulikan Danu.
"Bi inah!" panggil Yura, "Bi!"
"Ada apa yura? Mas disini." tanya Danu menatap yura yang beralih melihat kearah pintu masuk kamarnya.
"Bi Inah! " Yura masih memanggil, "Bi, Bi Inah!"
Danu menatap Yura dengan sedih, jelas sekali Yura mengabaikannya.
"Bi Inah!" seru Yura lagi.
Bi Inah datang dengan tergopoh-gopoh, memasuki kamar kamar. Dia tertegun melihat ada Tuan Danu disana, namun masih memanggilnya.
"Ada apa Nyonya Yura?"tanya Bi Inah melirik Danu.
"Aku lapar. Ambilkan aku makan."lirih Yura
"Tapi nyonya, tuan Danu sudah membawakan nyonya bubur." ucap Bi inah. Dia merasa tak enak pada Danu. Melihat tuannya itu memanggku nampan berisi bubur dan susu. tapi Yura masih meminta bubur padanya.
"Ambilkan aku makanan Bi,"ulang yura mengalihkan pandangannya lagi melihat keluar jendela. Membuat bi Inah prihatin pada Danu yang terabaikan.
Kasihan tuan Danu.Batinya.
Danu menghela nafas panjangnya dan mengangguk pada bi Inah yang menatapnya. Gegas, bi Inah berjalan cepat ke dapur. Mengambil bubur yang baru, dan membawanya ke kamar Yura. Dengan tangannya, Yura memakan sesuap demi sesuap.
Danu beranjak dari duduknya dan melangkah keluar kamar. Tak ada gunanya juga terus berada disana namun tetap terabaikan.
Hari-hari Danu lalui dengan Yura yang terus mengabaikannya. Danu pun masih terus bersabar, walau bagaimanapun Dialah penyebab semua ini, dia lah yang patut disalahkan. Sangat wajar bila Yura menjadi sangat marah padanya.
Dia bahkan harus kehilangan anak pertamanya bahkan sebelum anak itu lahir, dan semua itu adalah salahnya. Dialah yang mendorong Yura hingga mengalami pendarahan dan keguguran.
Danu duduk diteras ditemani secangkir kopi hitam. Danu mengirim berkas lamaran pekerjaan ke beberapa perusahaan melalui Email. Sementara ini Danu hidup hanya dengan mengandalkan tabungannya.
Danu menoleh, melihat Yura berdiri diambang pintu depan rumahnya.
__ADS_1
"Mas."
Danu tersenyum lega, sepertinya Yura sudah tak marah lagi.
"Iya sayang." ucap Danu menanggapi. sedikit membenahi posisi duduknya kearah Yura berdiri.
"Mas, Yura minta cerai."lirih Yura
DUUUUAAAARRRR....
Bagai disambai petir. Laki-laki itu terkejut bukan kepalang, pertama kalinya Yura akhirnya mau bicara dengannya dan kata pertama yang terucap adalah cerai? Apakah Danu salah dengar? Tentu saja tidak. Yura memang meminta cerai dari Danu.
"Yu-ra...." suara Danu bergetar. Hatinya terasa teriris dan robek.
"Apa kamu bilang barusan?"tanya Danu lirih,
"Aku minta cerai Mas."tegas Yura lagi.
"Yu-ra..." Tulang Danu terasa lemas. Danu menatap sendu pada Yura, menatap penuh permohonan.
"Yura, Maafkan Mas. Mas salah selama ini! Jangan tinggalin Mas, mas akan perbaiki hubungan kita. Aku mencintaimu Yura." pinta Danu lemas,
"Sore ini ayah dan ibu akan menjemputku." ucap Yura
"Yuraaa..." Danu menitikkan airmatanya.
"Mas mohon Yura." Danu menggenggam tangan Yura, Yura melempar wajahnya kesamping dan menyentak kasar tangannya. Yura berjalan kembali masuk ke dalam rumah dan memasuki kamar.
Yura berjalan dengan menggeret kopernya, sore itu. Didepan halaman rumah Danu, Mobil pak Damar sudah terparkir rapi hendak menjemput Yura.
Danu memohon pada ayah mertuanya itu.
"Pak, tolonglah pak, jangan bawa Yura pergi."pinta Danu memohon dengan wajah memelasnya. Menggenggam tangan ayah mertuanya.
"Danu, ini keputusan Yura. Aku tak bisa berbuat banyak."ucap pak Damar pelan.
"Sekarang ini cobalah biarkan Yura menenangkan diri dulu. Beri dia waktu. Dia masih sangat syok karena kehilangan anaknya."kata pak Damar mencoba memberi Danu pengertian agar menantunya itu lebih bersabar lagi.
"Tapi pak."
"Aku akan berusaha membujuk Yura nanti dikampung. Kamu berdoa saja, dan biarkan hati Yura tenang. Mungkin dengan berpisah sementara waktu akan membuka jalan damai bagi kalian." tutur pak Damar memberi nasihat.
Dia tau hati menantunya itu sedang kalut dengan kepergian putrinya. Mau bagaimana lagi. Ini sudah permintaan Yura, dari pada dia menghilang entah kemana malah susah nyarinya, lebih baik Pak Damar bawa saja dia pulang. Mengingat kepribadian putrinya yang keras itu.
Yura memasuki mobil ayahnya, Damar pamit pada Danu dan menepuk bahunya. agar menantunya itu lebih bersabar. Tubuh Danu berguncang pelan menahan isaknya.
"kami pergi dulu."pamit pak Damar.
Danu masih belum menyerah. Dia menepuk nepuk pintu kaca mobil disamping Yura naiki tadi.
"Yura, Mas mohon Yura.."pinta Danu
__ADS_1
"Yuraaa...."panggil Danu
Danu terduduk lemas ditanah, dia menjambak kepalanya. Menatap Mobil yang ditumpangi yura telah pergi jauh. Air matanya sudah tak dapat dia bendung lagi.
"Mas Danu!"
Danu menoleh kearah suara yang memanggilnya. Embun beserta Malvin berdiri dengan kedua anak mereka, menatap dengan mata sedih.
Danu berdiri, mengusap air matanya. Kayla mendongak menatap wajah ibunya. Meminta ijin agar bisa menghibur ayahnya. Embun mengangguk mengerti arti tatapan anak gadisnya itu.
Dengan segera Kayla berlari kecil memeluk ayahnya. Air mata danu tumpah lagi. Dia menangis sesenggukan dalam pelukan anaknya.
"Maafkan Ayah ya Kay."isak Danu memeluk anaknya.
"Maafkan ayah."
Danu duduk lemas diteras rumahnya, Malvin dan Embun duduk bersisihan. Menatap sayu Danu.
"Apa yang terjadi mas?"
"Yura keguguran."
Embun dan Malvin tersentak kaget, mereka saling berpandangan.
"Keguguran? Bagaimana bisa?" tanya Embun prihatin.
"Ini semua salahku." ucap Danu penuh penyasalan.
"Aku penyebab semua ini. Kami bertengkar beberapa waktu yang lalu, dan aku mendorongnya. Dia terjatuh dan mengalami pendarahan."terang Danu
"Sekarang dia kembali kerumah orang tuanya."tutur Danu lemas, "Dia ingin bercerai dariku Embun."
Danu menutup wajahnya menenggelamkan kesedihannya dengan sedikit membungkuk. Embun merasa prihatin pada mantan suaminya itu. Embun mengusap lengan Danu, mencoba memberinya energi positif.
"Tak tau harus bagaimana lagi."keluh Danu lemah.
"Di kota mana Yura sekarang?"tanya Malvin ikut angkat bicara.
"Kota S."
"Aku bisa membantumu, pergilah kesana dan perjuangkan cintamu."ucap Malvin.
____€€€____
Readers, mohon dukungannya ya,biar othor semangat up terus.
Like dan komen.
Terima kasih
Salam____
__ADS_1
😊,