
Dalam sebuah taman dekat PT COREN sehabis pulang kerja. Siang itu Yura duduk dibangku yang agak menjorok ke sisi dalam rimbunan pohon beringin. Dia sedang menunggu orang. Yura melihat lagi arloji yang melingkar di tangannya.
Yura menghela nafasnya.
"Lama sekali sih?"gumamnya tak sabar.
Sepuluh menit kemudian, datang dua orang pria berbadan besar menghampirinya.
"Kenapa lama sekali?"
"Kami masih ada urusan yang harus diselesaikan."
"Huuuhhh...." Yura mengeluarkan amplop coklat yang cukup tebal. lalu menyerahkannya pada salah satu dari mereka.
"Target dan bayaran kalian ada didalam. Itu baru sebagian." ucapnya memasang kacamata hitamnya. Para pria berbadan besar itu mengecek jumlah uang dan target mereka. Lalu mengulas senyum.
"Sisanya akan kalian dapatnya setelah pekerjaan kalian selesai dan sesuai dengan yang aku harapkan." tegas Yura berdiri lalu mulai melangkah.
______
Dalam sebuah restoran Seafood, Danu dan Kayla menikmati makan siang mereka, Danu memperhatikan bagaimana Kay makan dengan lahap. Danu tersenyum kecil.
"Kay!"sebutnya,
"Heeeemmmm?" Kayla menoleh pada Ayahnya,
"Bagaimana Ibu?"
"Ibu baik-baik saja."
"Apa ibumu sudah punya kekasih?"
Kayla terdiam, dia memilih melanjutkan makan siangnya.
"Kenapa Ayah?" akhirnya Kay bertanya juga.
"Ayah, hanya ingin tau."
"Bagaimana dengan Mama Yura?"
"Mama Yura baik-baik saja."
Kayla terdiam lagi.
"Bagaimana dengan adikku?"
"Dia juga sangat sehat."ucap Danu lembut."Kamu tak perlu mengkhawatirkan mereka."
"Aaahh, yaaa."
Danu meminum jus oren yang dia pesan. Lalu meletakkannya kembali.
"Apa kamu sudah bicara dengan Ibu?"
Kay terdiam lagi.
"Belum ayah."
__ADS_1
"Cepatlah bicara dengan ibu, agar kita bisa pergi berlibur bertiga." ucap Danu,"Bagaimana kalau kita kepantai? Ibumu suka pantai bukan?"
Kay tersenyum kecut.
Ibu...... Ibu..... Ibu..... Selalu ibu...
"Kita bisa menginap bersama disana. Aku kamu senang Kay?"
###
"Dimana kamu tinggal Kay?" Tanya Danu sambil menyetir. seusai makan siang Danu berniat memulangkan Kay, skalian dia ingin tau dimana Kayla tinggal. Kenapa Embun menyembunyikan fakta jika Kayla masih dikota ini? Dan kenapa Kay tidak tinggal di apartemen Embun?
"Ayah akan mengantar mu pulang."
Kay terdiam. dia berfikir sejenak.
"Bawa aku ke restoran Ibu saja Ayah."
"Kenapa? Ayah bisa mengantarmu pulang." Danu kecewa.
"Kay ingin menemui ibu."
"Aaahh, ayah tau, kamu ingin membujuk ibu agar mau piknik bersama kepantai bukan?" Ujar Danu asal mengambil kesimpulan."Baiklah Kay, Akan Ayah antar kesana." tersenyum senang.
Mobil silver itu berhenti didepan restoran Embun. Setelah menurunkan Kayla, Danu langsung tancap gas dan tidak mampir. Dia masih memiliki urusan sendiri.
Kayla berjalan perlahan dihalaman restoran, tanpa sengaja Kayla melihat ibunya keluar dari restoran menuju halaman samping dengan bag sampah besar. Kay tersenyum dia berlari kecil menghampiri ibunya. Namun tiba-tiba dia berhenti, wajahnya berubah tegang, matanya membulat, Kay menutup mulutnya dengan tangan.
Ibu!
###
"Iya Nona Embun."
"Biar aku saja." memgambil dua bag sampah dari tangan karyawannya.
"Tapi...."
"Ini masih jam sibuk, kamu bantu yang lain. biar aku yang membuangnya." Ucap Embun tersenyum ramah sambil berjalan menuju halaman samping restoran.
Setelah membuang sampah, di bak besar samping restonya, Embun berbalik untuk kembali masuk. Namun, seseorang menariknya sambil membekap mulutnya, Embun berontak. Namun kekuatan pria itu sangat besar, dia memasukkan paksa Embun kedalam mobil dan langsung tancap gas.
"Ibu!"
"Ibuuuu!!!"
"IBBUUUUU!!" jerit Kayla sambil berlari memanggil ibunya yang sudah dibawa pergi jauh. Kay panik. Dia bingung, apa yang harus dilakukan? Pikirannya terasa buntu.
_______
Didalam mobil Embun masih berontak.
"Lepaskan aku! Siapa kalian? Kenapa membawaku?" sentaknya terus memberontak.
Pria-Pria itu tak menjawab, mereka hanya tertawa. Membuat Embun merasa ngeri. Embun masih terus melakukan perlawanan, pria disampingnya menjadi tak sabar dan memukulnya beberapa kali.
Hingga mobil itu berhenti disebuah bangunan kosong. Mereka masih tertawa dengan menyeret Embun, melempar tubuh mungilnya begitu saja didasar lantai. Disana ada seorang pria lainnya sedang memasang sebuah handycham pada tripod.
__ADS_1
Apa ini? Siapa mereka? Mau apa mereka?
"Hei! berjaga diluar! Jika sudah giliran kalian aku panggil."
Apa? Giliran? apa maksudnya ini? Apa yang akan mereka lakukan padaku? Dada Embun bergemuruh, melihat situasi disana. Ada dua orang pria didalam bangunan itu bersamanya. Dan entah berapa tadi yang berjaga didepan, yang jelas mereka banyak.
Pria yang memasang Handycam mendekat dan berjongkok didepan Embun, wajah Embun sudah menegang, dan takut menjalari tubuhnya. Pria itu tersenyum menyentuh dagu Embun.
"Ternyata lebih cantik dari foto. Ini pasti akan menyenangkan. Tenanglah, kami akan memperlakukanmu dengan lembut."
"Hahahhahaa..." Pria yang satu lagi tertawa mengerikan. Tubuh Embun sampai bergetar karena takut.
Embun menampik tangan pria yang menyentuh dagunya.
"Apa yang kalian inginkan? Apa salahku pada kalian?" tanyanya dengan suara bergetar.
"Kami hanya ingin bersenang senang. Aku dengar kamu sudah lama tidak mantap mantap kan? Pasti sarangmu sudah gatal sekali!" pria itu menyusuri wajah Embun dengan jarinya,
"Anakonda kami juga akan dengan senang hati masuk kedalam sarangmu. Akan kami puaskan kamu sampai menjerit njerit keenakan."
"Hahahahaa... " pria satu lagi tertawa terbahak-bahak.
"Jangan kuatir, kami akan rekamkan untukmu sebagai kenangan-kenangan, heeeemm?"
Dengan wajah pias Embun melirik handycam yang ada dibelakang pria itu. Jelas menyorot kearahnya.
Appa? Apa aku akan berakhir seperti ini? Batin Embun, tanpa terasa airmatanya menetes.
"Hei! jangan menangis, Sebentar lagi akan kubuat kamu merasakan kenikmatan. Jadi jangan menangis!"
Pria itu tersenyum miring, jarinya menelusuri leher Embun turun hingga kedadanya. Embun menampiknya.
"Jangan melawan. Nanti kau akan kesakitan. bersenang-senang saja." kembali meraba dada Embun.
BUUUUIIIHHH !
Embun meludah diwajah pria itu . Pria itu lalu memejamkan matanya, mengusap wajah yang terkena ludah Embun, bahunya bergoyang, lalu tertawa. Begitu membuka matanya lagi, pria itu menatap dingin pada Embun membuat tubuhnya semakin bergetar.
"PELAC** SIALAANN!!" teriaknya sambil mendorong jatuh tubuh Embun, menarik kemejanya hingga beberapa kancingnya terlepas. Tangannya mencengkram kuat tubuh mungil itu, hingga Embun hanya bisa memukul mukul tangan yang mencengkram dadanya tanpa bisa bergerak.
Terdengar suara gaduh diluar, pria itu menoleh, juga dengan pria yang berdiri dibalik handicam.
"Periksa!" titah pria itu.
Dia kembali melihat Embun yang tergolek dilantai dengan bagian atas tubuhnya yang sedikit terbuka, menampakan bagian penutup dadanya. Pria itu tersenyum mesum, dia mendekatkan wajahnya dan....
BRRAAAKKKK!!
___€€€___
Readers dukung othor ya, biar up terus.
like dan komen
terima kasih.
Salam___
__ADS_1
😊