Dicerai Karena Dekil(Dinikahi Bos Mantan Suami)

Dicerai Karena Dekil(Dinikahi Bos Mantan Suami)
Chap 70


__ADS_3

"Bukankah kita sudah sepakat untuk memanggilku kakek?"tatap tajam Kakek Bram


"Saya tidak tau kesepakatkan apa itu?"


Kakek Bram menghela nafasnya.


"Cucuku. Maafkan aku. Aku yang bersalah telah menelantarkan kalian selama ini. Berilah aku kesempatan."


Embun mengenggam tangan suaminya. Menyusup disela-sela jari tangan Malvin, Pria itu tersenyum lembut pada istrinya, mengusap punggung tangan yang mengenggamnya.


"Dimana orang tua ku? Dan kenapa aku dibuang?"


Kakek Bram sedikit terkejut, tapi memang benar dari sanalah semua bermula. Cepat atau lambat, dia tetap harus menceritakannya.


Kakek menarik nafasnya dan mengganti udara di paru-parunya. Ini pertama kalinya dia merasa tegang menghadapi cucunya. Tidak seperti Hana. Embun sangat berbeda.


"Ayah dan ibumu....."


"Saya ingin kejujuran. Saya sudah dibuang, dan jika harus kembali jangan beri saya kebohongan tuan Bram." Ucap Embun memperingatkan membuat kakek tersentil.


"Baiklah." Kakek menyetujui."Berjanjilah kamu tak akan membenciku."


Embun menyentak nafasnya.


"Dulu, dua keluarga menjodohkan ibumu dengan seorang tuan muda dari keluarga terpandang. Lalu ibumu berselingkuh dengan seorang pria rendah."Kakek bram memulai ceritanya,


Embun tersenyum getir. "Apa? Pria rendah?"lirihnya.


Kakek Bram tidak menanggapi pertanyaan Embun , dia lebih memilih melanjutkan ceritanya.


"Kami sudah memisahkan mereka, tapi cinta mereka sangat kuat, hingga ibumu hamil dengannya. Keluarga dari suaminya tidak terima. Dan menuntut kami. Tentu saja kami sangat marah pada ibumu."cerita kakek bram lagi.


"Tentu saja kehamilan ibumu adalah aib bagi kami, aku mengusirnya setelah dia melahirkan kalian."


"A-apaaa?"Mata Embun mulai berair."Lalu kau membuang kami?"


Kakek Bram menelan ludahnya dengan sangat susah.


"Salah satu pelayan setia kami menyelipkan sebuah kalung berbandul sebagai identitas masing-masing dari kalian, jika suatu saat nanti kami tersadar dan mencari kalian."terang Kakek, mengusap wajahnya, gurat sesal terlihat jelas dimatanya.


Embun tak lagi dapat mengontrol emosinya. Tangannya mengepal kuat,guratan amarah jelas terukir diwajahnya. Embun marah, dia kesal, tentu saja. Bagaimana bisa seorang ayah mengusir anak dan membuang cucunya sendiri? Sungguh tidak bermoral.


Malvin mengusap tangan Embun. Membawa wanita itu kedadanya, dan mengusap kepalanya. Sesekali Malvin mengecup punca kepala Embun. Agar wanita itu tenang.


"Lalu dimana ibu dan ayahku sekarang?" tanya Embun dengan suara bergetar. Menatap nyalang pada kakek Bram.


Kakek Bram sesenggukan. Dia menangis dalam diamnya.


Embun masih menunggu, walau hatinya bergemuruh tak sabar.


"Dimana ibu dan ayahku?" Embun menekankan suaranya.


"Ibumu sudah meninggal."


JLEEEKKKK.....

__ADS_1


Tubuh Embun lemas seketika. Dia menelusupkan wajahnya ke dada Malvin. Malvin hanya memeluknya, mengusap kepalanya. Pria itu menghela nafasnya.


"Dan Ayahku?"


Kakek Bram masih membisu. tak ngatakan apapun.


"Aku tidak tau dimana dia berada."jawab Kakek. "Sejak kami mengirimnya pergi jauh, aku sudah tak bisa melacak keberadaannya lagi."


Hening sesaat, hanya suara isakan Embun yang pelan terdengar. Malvin masih disisinya menguatkan.


Setelah Agak meneng Embun bertanya:


"Jadi, kami dibuang karena aib?"Isak Embun lirih.


"Maaf."


"Lalu kenapa kakek mencari kami?"


"Ituu..." Kakek bram menghisap udara panjang."hidupku sudah tidak lama lagi. Ada tumor yang bersarang di otakku, setidaknya aku tak ingin ada penyesalan."


Hening sesaat,


"Dan lagi, hanya kalianlah satu-satunya ahli warisku."


"Haahahahahh.. Harusnya tumor bersarang di hatimu bukan di otakmu kek." ucap Embun frontal. Dia masih sangat marah pada kakeknya itu."Aaahh,, tidak mungkin dihati. Kau bahkan tidak punya. Memang tepat tumor itu bersarang di otakmu."


"Embun, jangan terlalu kasar."lembut Malvin mengingatkan."Beliau orang tua. Kau ingat bagaimana kamu mengajari Kayla dan Catty untuk menghormati orang tua?"


Embun membuang nafas beratnya. Lalu memeluk tubuh suaminya. Menyembunyikan wajahnya disana.


"Eheemm..."


"Apa kakek sudah tak memiliki anak lain selain ibu?"


"Ada."


"Lalu?" tanya Embun."Bukankah kakek masih memiliki ahli waris lain selain kami? Anak yang tidak di inginkan ini?"


"Aku menyesal setelah membuang kalian. juga bersedih. Terlebih lagi, Maia adalah anak kesayanganku, hingga aku begitu sakit hati dia sampai hamil dari pria yang tak memiliki derajat yang sama. Aku kalap, dan mengusirnya."


Kakek terisak mengingat semuanya. Tubuhnya sampai berguncang.


"Aku ditumbuhi rasa marah tapi juga rindu. Aku menyesal tapi juga masih menyimpan amarah. Hingga aku mendengar dia meninggal dalam keadaan yang menyedihkan."isak kakek.


"Aku sangat menyesal. Apalagi, aku mendapati tubuh yang terus digerogoti oleh kanker ini. Aku pun mencari cucu-cucuku yang entah ada dimana dengan bermodal kalung yang kalian pakai."


"Hana, sudah aku dapatkan tinggal satu lagi tersisa. Belum sempat aku temukan, Hana sudah meninggal. Aku merasa sangat dikutuk. Dengan semua yang sudah aku lakukan dan aku alami. Karena itu Embun. Aku mohon. Maafkan aku."


"Maafkan kakek."


______


Embun dan Malvin beserta kedua anak gadis mereka meninggalkan vila kakek Bram. Tanpa Embun mengatakan apapun. Dia ingin pergi dari sana dan menenangkan diri dengan melihat pesta lampion di kota sebelah.


Dalam mobil hanya ada keheningan, dengan mata sembabnya Embun menatap jalanan melalui kaca pintu disampingnya.

__ADS_1


Begitu sampai dilokasi dan memarkirkan mobilnya, keluarga kecil itu memilih tempat strategis dan tak banyak orang. Namun tetap ramai.


Suara bising dan indahnya lampion yang bergemerlapan juga beberap yang memang sengaja diterbangkan membuat pemandangam disana sangat indah dah romantis. Tentu saja itu cukup membantu suasana hati Embun yang sedang tidak baik dan bersedih itu.


"sudah merasa lebih baik?"lirik Malvin memeluk bahu Embun.


"Terima kasih sudah membawa kami kemari." ucap wanita itu dengan senyum teduhnya.


"Mal, bisakah kamu membantuku?"


"Apapun."


"Aku ingin mencari ayahku."


Malvin menoleh menatap wajah Embun dari samping.


"Baiklah."


Embun tersenyum menatap wajah suaminya itu. Perlahan Malvin mendekatkan wajahnya mengikis jarah, hingga dua bibir kembali bertemu, dua lidah berperang dalam satu ruang.


Seusai menonton pesta lampion mereka menginap disebuah hotel tak jauh dari lokasi. Kedua anak gadis mereka sudah terlelap. Begitu pun dengan Malvin, dia terlelap diantar dua anak gadisnya. Mereka memang hanya memesan satu kamar dan tidur berdempetan karena hotel sangat penuh saat itu.


Embun yang masih terjaga, menatap langit yang terlihat dari jendela kamarnya.


"Kakek, aku akan memaafkanmu, hanya beri aku waktu. Sebelum kakek operasi nanti aku pasti ada bersamamu." gumam Embun.


"Mommy?"


Embun menoleh, mendapati Catty berdiri dibelakangnya.


"Ada apa sayang? kenapa bangun?" tanya Embun mendekat.


"Aku terbangun tapi mommy tak ada disana, jadi Catty mencari mommy."


Embun tersenyum.


"Ayo kita tidur lagi."


"Mommy, Catty tak bisa tidur. Ayo kita jalan-jalan sebentar."


Embun menatap Catty, Bocah ini lebih berfikiran dewasa, apa dia ingin menyampaikan sesuatu? Karena itu dia mengajakku jalan-jalan? batin Embun.


"Baiklah." Embun akhirnya menyetujui."Sebentar saja ya."


____€€€____


Readers, mohon dukungannya ya,biar othor semangat up terus.


Like dan komen.


Terima kasih


Salam____


😊,

__ADS_1


__ADS_2