
Yura membuka matanya, manatap langit kamar. Pandangan yang semula berkabut semakin lama semakin jelas. Yura menatap berkeliling, ruangan perawatan kelas dua itu kini hanya diisi olehnya saja. sementara brankar sebelah dibiarkan kosong.
Yura menyapu seluruh ruang, Danu tertidur di sofa ujung kamar. Wajah suaminya itu terlihat begitu letih dalam ketenangan tidurnya.
"Mas." lirihnya
Danu langsung terbangun, menatap istrinya yang sudah sadar. Danu lalu mendekat dan mengelus kepala Yura.
"Gimana perasaanmu sayang?"
"Anakku... dimana anakku mas?"
Danu terdiam gurat kesedihan terpancar diwajahnya.
"Anak kita, sudah pergi Yura." lirih Danu mengecup kening Yura,bertahan disana lama.
"Apa mas?" tanya Yura parau. tubuhnya bergetar, airmata meleleh dipipinya.
"Anakku kemana mas?" parau Yura mengulang, tubuhnya masih berguncang oleh tangis.
Danu menatap pilu pada Yura, dia juga merasakan kesedihan yang sama,sakit yang sama, dan air mata yang sama. Dia menyesal, sangat menyesal. Rasanya semakin dalam sesaknya melihat yura menangis sepilu itu.
"Aku mau anakku Mas.. Huuuhuuhuuu.." rengek Yura sesenggukan.
"Mana anakku mass....huuuhuuuhuu... "parau Yura ditengah tangisnya.
"Tenang Yura, tenangkan dirimu. Jangan menangis lagi huuumm?"bujuk Danu pilu, air mata tak lepas dari netranya, menatap dalam istrinya yang tengah berduka itu.
"Kita akan mendapatkannya lagi nanti."lirih Danu menggenggam tangan Yura mencium punggung tangannya.
"Enggak mas! Yura mau anak yura. Huuuhuuuu.... Mana anak Yura mass.."pilunya memohon...
Yura menyentak tangan Danu hingga terlepas, lalu menyimpan tangannya diperutnya. Yura masih menangis. Perasaan sedih, marah, benci, semua berkecambuk didadanya.
"Yura.. maafkan mas, Yura." lirih Danu mengambil kembali tangan Yura.
Yura memalingkan wajahnya, dan sekali lagi melepaskan tangan Danu dari tangannya sendiri. Air mata yura masih mengalir deras..
'Embun maafkan aku. ini pasti karma yang aku dapat dari menyakitimu. maafkan aku Embun. Ini balasan yang harus aku terima. Aku bersalah hingga harus kehilangan anakku yang bahkan belum sempat aku lahirkan. Maaf..
Air mata Yura terus mengalir dengan derasnya. Kini hanya ada penyesalan.
''Yura...."sebut Danu pelan, menatap pilu pada istrinya.
"Tinggalin aku sendiri mas."pinta Yura tanpa melihat ke arah Danu.
"Yu-ra..."
"Tinggalin aku mas! Aku ingin sendiri!" Yura meninggikan suaranya tanpa berpaling melihat Danu lagi.
Dengan berat hati, Danu melangkah keluar. Menutup pintu kamar rawat Yura dengan perlahan. Danu menyenderkan kepalanya pada tembok dan menyusut kebawah hingga duduk dilantai. Air mata nya mengalir lagi. Kini hanya ada penyesalan dalam hatinya.
"Danu!"
Danu menoleh kearah suara. Ibu dan ayah mertuanya sudah datang dari luar kota. Bergegas menghampirinya.
__ADS_1
Danu menyusut airmatanya. Walau bagaimanapun mertuanya tak boleh melihat airmatanya. Danu berdiri menyambut ibu dan Ayah mertuanya. menyalami dan memeluk mereka.
"Bagaimana dengan Yura, Nu?"tanya Bu Mia cemas.
"Yura masih terguncang bu, tubuhnya juga masih lemah." jawab Danu lirih.
"Danuu... bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Damar Ayah mertuanya.
"Ibuk sama ayah lihat yura dulu aja. Dia pasti senang melihat kalian." ucap Danu membukakan pintu.
"Ya udah." jawab bapak masuk keruangan inap Yura.
"Buk, saya kedepan dulu ya cari makan."panit Danu, dia tak mungkin ikut masuk mengingat Yura sedang tak ingin melihatnya. "Dari tadi belum sempat makan."
"Ya udah. Ati-ati Nu. Yura biar ibu sama ayah yang jagain. Kamu pulang aja dulu, istirahat." ucap ibu lembut.
"Iya bu, makasih."
Danu berjalan melewati lorong rumah sakit. Dan berhenti dibangku taman yang ada di dalam rumah sakit itu. Danu terduduk lemas. Dia masih meratapi hidup dan juga Yura. Kenapa semua ini terjadi? kenapa ini harus terjadi? Dan bagaimana selanjutnya? Mampukah dia menjalani ini semua?
Danu membuang nafasnya perlahan. menatap langit diatasnya. Dengan ribuan bintang yang berkelip dan sinar bulan yang sedikit tertutup awan yang bergerak tersapu angin. Danu memejamkan matanya. Berharap ini semua adalah mimpi dan dia bisa segera bangun.
_____
Malam itu Embun dan Malvin duduk di meja dapur, menikmati tokpogi yang Embun masak tadi. Setelah melewati saat-saat yang penuh gairah, Malvin menyuapkan tokpokgi ke mulut Embun. lalu memakan untuknya sendiri.
"Heemm... ini enak banget. kenapa nggak kamu masuki dalam menu?" tanya Malvin memakan lagi tokpoginya.
Embun tersenyum kecil.
"Next time."ucapnya,"Kalau udah bisa buka satu restoran lagi. Khusus masakan korea." ujarnya diselingi cengiran.
"Enggak. Ini udah cukup. Aku nggak mau terlalu serakah, yang penting ada kegiatan."
Malvin tersenyum tipis. Ucapan Embun membuatnya kembali mengingat reaksi yang Hana berikan ketika mendapat tawaran yang sama.
("Satu cabang lagi? Uuummm.. tentu saja sayang. Lebih banyak lebih bagus." wajah Hana yang terlihat riang dengan senyum manisnya.)
Malvin tersenyum kecut.
Netranya menatap sayang pada wanita disampingnya itu. Malvin mendekat, mengikis jarak wajahnya dengan Embun, dan menyesap lembut bibirnya. Embun berbalik menciumnya. Bergumul lidah dalam ruang yang sama.
"Tokpogi ini rasanya pedas, tapi berbeda saat ada dimulutmu." ucap Malvin memakan lagi tokpoginya yang dia ambil dengan tusuk sate.
"Benarkah? Apakah lebih pedas?"
"Lebih enak."
Embun terkekeh. "Ayo kita bereskan ini dan tidur."
"Baiklah."
_____
Keesokan paginya, Embun duduk diruangannya mengecek kembali keuangan restorannya. Tak berapa lama, pintu diketuk.
__ADS_1
"Masuk."
Ana selaku cheef di resto SE datang dengan sebuah kabar.
"Ada apa?"
"Ada seorang tamu yang ingin bertemu dengan anda."
"Denganku? atau dengan koki utama?"
Ana tersenyum kecil.
"Dengan anda nona."
"Apa aku makin terkenal sekarang?"
"Sepertinya begitu." ucap Ana membenarkan.
"Apa dia Danu?" tanya Embun dengan hati-hati. Ana sudah tau siapa Danu. Jadi Embun menanyakannya langsung. Jujur saja, saat ini Embun malas bertemu dengannya.
"Bukan Nona. Seorang kakek, dia bilang kerabat."
Embun memelengkan kepalanya heran. Dia tak merasa memiliki kerabat kakek-kakek. Embun terlintas, Malvin.
Mungkinkah keluarga Malvin? Tapi dia tak pernah bercerita tentang kakek. Saat menikah dulu pun hanya ayah dan ibunya yang datang. Lalu apa maksudnya kerabat? pikir Embun menekan-nekan pena ke bibirnya.
"Nona Embun?"panggil Ana, melihat bosnya itu melamun.
"Heeemmmm?"
"Apa anda akan menemui nya?"
"Aaaahh, iya. tentu saja." Ucap Embun bangkit dari duduknya.
Embun melangkah mengikuti Ana berjalan. Dan mereka berhenti di ruang VVIP yang memang hanya orang tertentu yang biasa membokingnya.
"Disini?" tanya Embun meyakinkan menatap pintu masuknya yang tertutup itu.
Ana mengangguk. "Haruskah saya melakukan yang biasa?"
Embun tersenyum lucu. "iya tentu saja." balasnya.
Embun membuka pintu geser itu, dan memasuki ruang VVIP disana duduk seorang kakek tua dengan rambut yang putih sebagian, juga sedikit kumis dan jenggot.
Pria tua itu tersenyum pada Embun.
"Senang akhirnya bisa melihatmu."
___€€€___
Readers, semangatin Othor donk, biar up terus.
Like dan komen
Terima Kasih
__ADS_1
Salam___
😊