
Kita balik ke Embun dan Malvin ya readers😊
"Keluarga?" tanya Embun.
"Heeemm.."sahut Malvin masih fokus menyetir." keluargamu yang sesungguhnya."
"Kalianlah keluargaku."
Malvin tersenyum tipis."keluargamu yang lain."
"Panti?"
"Bukan. Yang satu lagi."
"Aku sudah tidak punya keluarga lain Mal."ucap Embun dengan senyum geli.
"Kamu masih punya satu keluarga lagi. Mereka mencarimu selama ini. Keluarga biologismu."
Embun terdiam, dia berfikir sejenak.
"Ahahahhahaha...." Embun tertawa geli membuat Malvin mengerutkan dahinya.
"Hahahaha.... Mal, Mal... Apa yang sudah dibuang, untuk apa dicari lagi."ucap Embun, "Haaaaahhh.... kamu ini lucu sekali. Hahaha." masih mode tertawa.
Malvin terdiam dengan raut wajah canggung.
"Jika memang keluarga, tidak akan dibuang."lanjut Embun,"Itu artinya, aku sudah tidak punya keluarga lain selain kalian dan panti." Embun tersenyum penuh arti. Malvin membalas senyumannya dengan sedikit kikuk.
Sepertinya, ini bukan waktu yang tepat untuk mempertemukan mereka. Jangan buru-buru Mal, itu tidak baik. pikir Malvin.
"Kemana kita akan pergi?" Embun yang merasa dari tadi jalan yang mereka lalui lebih banyak pohon dari pada rumah.
"Heemmm... benar. Kemana kita akan pergi?"
"Jadi kamu membawaku tanpa tujuan?" tanya Embun merasa aneh.
Malvin terdiam, berfikir sejenak. Dia lalu menepikan mobil.
"Kenapa menepi ditempat seperti ini?" Embun celingukan karena jalan yang mereka lalui sangat sepi.
Malvin memang salah perhitungan, dia tidak berfikir mungkin Embun akan tidak setuju. sementara dia sudah terlanjur membawa mobilnya menuju vila. Vila kakek Bram berada dipuncak, sehingga jalan yang dilaluipun masih sangat asri dan penuh dengan pohon-pohon dikanan kiri jalannya. Sangat jarang ada perumahan disana.
Malvin melepas sabuk pengamannya. Lalu dia melepas sabuk pengaman Embun. Wanita itu hanya menatapnya dengan tatapan tanya.
Malvin menarik pinggang Embun, dan mendudukkan tubuh mungil itu kepangkuannya, mereka duduk berhadapan.
"Apa yang kamu rencanakan ditempat sepi ini?"
"Apa menurutmu?"Malvin balik bertanya,"Mau bermain?" memeluk.
"Huuuuuhhh.... Kamu masih ingat aku lagi pendarahan kan?" merangkul pundak Malvin.
"Tentu saja. Aku hanya mengajakmu bermain." tangan Malvin sudah menjelajah kemana-mana.
"Main apa? Kondisikan tanganmu!" ujar Embun dengan nada kesal. Walau begitu tetap menikmati sentuhan suaminya.😁
"Permainan yang menyenangkan." mencium leher Embun.
"Kondisikan tanganmu Mal." ucap Embun menutup matanya menikmati sentuhan bibir Malvin yang sibuk membuat tanda sana sini.
"Kondisi tanganku sudah sangat baik."
"Pede banget." dengan senyum jenaka.
Malvin terkekeh, dengan cepat dia menyambar bibir Embun, bergulat lembut dengan lidah istrinya. Tangan Malvin makin merayau kemana-mana. Sibuk dengan aktifitasnya yang entah apa.
"Kapan kamu selesai?"
Embun tergelak, pria didepannya ini entah sudah berapa kali menanyakan hal yang sama.
"Tunggulah satu minggu."
"Bukankah ini sudah lebih dari seminggu?"
"Hahaha... ayolah. ini baru berapa hari?"
__ADS_1
"Kenapa rasanya lama sekali. Aku pikir sudah sebulan."Malvin mengerutkan keningnya."Padahal aku tadi hanya asal menyebut seminggu. rasanya udah sebulan lebih. Ini menyiksaku."
"Kamu terpancing?"goda Embun menyentuh jakun Malvin.
"Heemmm.. Kamu terus merayuku."
Malvin menyambar lagi bibir wanita didepannya, kali ini lebih agresif. Setelah beberapa saat berciuman, Malvin tersenyum. mengusap bibir Embun yang basah.
"Ayo keluar." ucap Malvin membenahi pakaian Embun yang sudah berantakan karena tangan jahilnya."Ada danau yang indah disekitar sini. Nggak jauh kok."
Mereka berjalan menyusuri jalan setapak yang indah, di kanan kirinya berjajar pohon-pohon berwarna merah, banyak daun yang berguguran. Terlihat begitu indah dan berwarna.
"Indah sekali tempat ini?"
"Tentu saja, ada danau diujung sana." Malvin menunjuk ke sisi kiri jalan setapak.
"Danaunya masih sangat jernih. Airnya juga sangat sejuk. Kamu pasti menyukainya."
Malvin memeluk pinggang Embun, mengambil dagu wanita itu dengan jarinya. Malvin sedikit membungkukan badannya. Embun menutup matanya, merasakan bibir lembut Malvin menyesap bibirnya. Kedua lidah bergulat lembut dan perlahan. Mengganti ludah didalam mulut dengan aroma memabukkan lainnya.
Malvin melepas bibirnya,sedikit menjauhkan wajahnya dari Embun.
"Tak apa-apakah meninggalkan mobilmu disana?"
"Tidak apa. Ada orang yang menjaga."
"Siapa?"
Malvin hanya tersenyum tipis.
"Bodyguard ku?"
"Heeem."
"Kenapa mereka tidak ikut kemari?"
"Sudah ada aku disini."
"Ooouuuhhhh.. yang benar saja." mendorong tubuh Malvin hingga pelukan mereka terlepas.
"Kamu yang seharusnya diwaspadai."Embun melanjutkan perjalanan.
"Kau seperti Angsa. Kamu tau angsa?"
"Heemmm... binatang berbulu putih."
Embun terkekeh.
"Kenapa dengan binatang itu?"
"mereka suka sekali mengejar dan mencium, dengan paruhnya yang menyakitkan itu."
"Aaahhh,, kamu samakan aku dengan angsa putih?" Malvin mengangguk-angguk. "Baiklah.. Bersiaplah kukejar dan kucium!"
Embun berlari kearah danau yang mulai terlihat riaknya itu. berkilau terterpa matahari.
"Hahahaha... coba saja apa kamu bisa mendapatkanku Mal!" Seru Embun sambil berlari.
Malvin mengejar. Dengan cepat tubuh itu menubruk tubuh mungil Embun. Hingga Embun terjatuh diatas tumpukan daun kering berwarna merah.
Embun menatap wajah pria yang kini berada diatasnya, menatap lembut padanya.
"Kau terlalu meremehkanku." Ucap Malvin, "Kaki pendekmu itu mau melawan kaki panjangku,Heeeem?" mengambil dagu Embun dengan jarinya.
"Jangan bermimpi untuk menang." lanjut Malvin mencium bibir mungil Embun.
"Apa kamu menghitung berapa kali kamu sudah menciumku hari ini?"
"Tidak karena jariku tak akan cukup."
"menjauhlah! Aku mau lihat danau."mendorong tubuh Malvin.
"Tidak mau."
"Astaga Mal! Ini dihutan. Jangan macam-macam deh."
__ADS_1
Malvin terkekeh. Dia mengangkat tubuhnya sendiri lalu duduk memandang danau didepannya.
Embun juga mengangkat tubuh, duduk sejajar disamping Malvin. Embun menyenderkan kepalanya dibahu suaminya itu.
"Terima kasih Mal."kata Embun, "Tempat ini indah sekali."
Malvin tersenyum tipis dan merangkul pundak Embun. membawanya semakin dekat kedada.
Setelah puas menikmati keindahan danau Malvin dan Embun kembali ke kediamannya.
"Aku ingin suatu saat kita ke danau bersama anak-anak." ucap Embun berjalan menuju tangga.
"Baiklah." Malvin menarik tangan Embun dan berhenti di anak tangga pertama.
"Aku mencintaimu."
"Aku tau."
"Tau? bukan Juga?"
Embun tersenyum geli.
"Baiklah. aku juga."
Malvin mendekatkan wajahnya lagi hendak mencium istrinya.
"cukup!"Menahan bibir Malvin dengan jarinya."Lidahku sudah kelu meladenimu yang tidak pernah puas."
"Baiklah! Kalau begitu ditempatt lain saja."ujar Malvin mencium ceruk leher.
"Huuuuuhhhh.. Nggak pagi nggak siang nggak malam. makanan kami adegan dewasa terroooosss!!!" suara Catty dari ujung tangga atas. Disamping Catty Kayla menutup wajahnya dengan muka memerah.
Malvin meliriknya, Catty balas menatap Daddy dengan tatapan sadis.
"Kamu lihat putrimu itu."Ucap Malvin pada Embun."Lagaknya luar biasa."
Embun menyikut perut Malvin.
"Auuuu... sakit honey."
Embun menggelengkan kepalanya. Melangkah lebar hingga ke lantai dua.
"Maafkan Ibu dan Daddy ya."
"Mommy tidak bersalah! Pria mesum itu yang salah." Catty melirik dingin pada Daddynya.
"Catty! Benarkah kamu Anak Daddy? Bisa bisanya...." Malvin menyusul menaiki tangga untuk protes.
"Sudahlah. Ayo kekamar. Tinggalkan saja lelaki itu." ajak Embun menuntun kedua putrinya.
"Benar. Mommy, tidurlah bersama kami."
"Hei hei... Tidak bisa! Mommy Embun akan tidur dengan Daddy." menarik lengan Embun.
"Daddy! Jangan curang! Seharian ini Daddy memonopoli Mommy. Daddy pasti sudah berbuat tidak senonoh dengan Mommy." Mata Embun membulat,
Mengerikan sekali mulut Catty. Embun menutup mulutnya, mendengar jawaban lugas Anak sambungnya.
"Jadi malam ini Mommy tidur dikamar Catty." Menarik balik tangan Embun.
"Ya tuhan. Aku tidak percaya kamu anakku!"
"Sudah! Apa-apaan kalian ini." ucap Embun mulai jengah. "Aku akan tidur dikamar Kay. Terserah kalian mau ikut atau nggak." sambung Embun menarik tangan Kayla. lalu memasuki kamar gadis itu. Catty yang berjalan dibelakang mereka langsung berbalik begitu diambang pintu Kamar Kay.
"Girls space!"tegas Catty menutup kasar pintu tepat didepan wajah Daddynya.
Malvin tertawa geli.
"Benar! Kamu memang sudah terlalu cepat dewasa Cat."
____€€€____
Thanks udah baca sampai bab ini. Dukung terus Othor ya.
Like dan komen.
__ADS_1
Salam
😊