
Embun masih kesal pagi itu, pasalnya Malvin tak juga mengingat apa yang dia katakan sebelumnya. Pria itu bahkan seolah tak merasakan apa-apa, dengan santai sarapan pagi dan bercanda dengan anak-anak.
Jadi aku diabaikan pagi ini? batin Embun melihat keakraban Malvin dengan kedua gadisnya. Dan dia sedikitpun tidak disinggung.
Embun menggeram.
Malvin dan anak-anak serentak menatapnya. Lalu kembali bercanda dan menyantap sarapannya. Seolah tak ada yang penting.
Astaga! Merekaaa..... Embun tersenyum kesal.
Seusai sarapan, Embun bersiap akan ke resto SE. Daripada kesal dirumah, diacuhkan oleh tiga orang penghuninya.
Sepertinya mereka sepakat mengacuhkanku hari ini. Harusnya disini aku yang mengacuhkan mereka. Bukan sebaliknya.
Embun berjalan mengambil kunci dari dalam tasnya, membuka pintu mobil dan hendak masuk. Namun dengan segera pintu itu ditutup Malvin.
Embun menatapnya protes.
"Pindah kemobilku saja."
"Nggak." kembali hendak membuka pintu.
"Nggak mau?"
"Nggak." ketus Embun masih mencoba membuka pintu yang ditahan tangan Malvin.
"Okeeyyy....." Malvin menyapu pandangan sekitar.
"Aku paksa kalau begitu!"mengangkat tubuh Embun. membopongnya hingga ke sisi mobilnya terparkir.
"Kyaaaa....."jeritt Embun meronta.
"Mommy!" Catty melongok dari jog belakang dalam mobil Malvin.
Embun memukul dada Malvin agar pria itu menurunkannya. Wajah Embun sudah memerah melihat Catty dan Kay menatap mereka. Dengan mata jernih dan tak berdosa.
Mata mereka ternodai oleh kelakuan Malvin.
"Masuk."titah Malvin membukakan pintu penumpang depan, begitu dia menurunkan Embun.
Embun meliriknya kesal, tapi masuk juga. Malvin memutari setengah badan mobil dan duduk didepan setir. Mobil merah itu bergerak keluar dari mansionnya.
Embun berbalik melihat kedua gadis kecil yang duduk dijog belakang.
"kenapa kalian tidak sekolah?" selidiknya.
"Ini hari libur nasional Mom." balas Catty lalu kembali cekikikan dengan Kay.
Embun menatap curiga pada mereka. lalu kembali membenarkan posisinya.
"Kita mau kemana?" menoleh kesamping dimana Malvin fokus menyetir.
Pria itu hanya diam dan tetap fokus menyetir. Membuat Embun mendengus kesal.
"Anak-anak! Kita mau kemana?" tanya-nya menoleh kebelakang.
"Main!" jawab Kay singkat. kembali cekikikan dengan Catty, Entah apa yang mereka berdua bicarakan.
Embun tertawa lucu lalu menyentak nafas kesal.
"Huuuuuuhhhh...."
Malvin tersenyum tipis, sangat tipis hingga Embun tak menyadarinya.
Mobil merah itu berhenti diparkiran Wisata taman bermain Wonderfull World. Embun melongok keluar jendela. Lalu menatap Malvin dan berganti menengok kebelakang dimana kedua gadis kecilnya sudah asyik keluar.
Setelah memasuki area W2, Malvin berjalan dibelakang Embun, Kay dan Catty berjalan didepan.
Ada apa ini? kenapa mereka sengaja menyendirikanku? batin Embun melihat kedua anak gadis yang asyik berdua. Lalu menoleh kebelakang. melirik Malvin yang bahkan tidak menghiraukannya, malah asyik dengan kameranya. Menjepret sana sini.
__ADS_1
Embun menyentak nafasnya kuat dan keras agar ketiga orang itu mendengar. tapi sepertinya mereka cuek.
Merasa diabaikan Embun memisahkan diri melihat berkeliling, daripada kesal sendiri dengan kelakuan Malvin dan kedua anak gadisnya.
Ini aneh, bukankah ini libur panjang? tapi kenapa tempat ini begitu lengang? batin Embun melihat suasana wahana yang jadi favorit itu terasa sepi. Hanya beberapa gelintir orang saja yang terlihat berlalu lalang. Namun tak satupun dari mereka yang naik wahana.
"Hmmm... mungkin begini bagus juga nggak perlu lama mengantri, aku mau coba beberapa wahana. Toh sudah disini dan mereka acuh padaku."Gumamnya pelan.
Embun mendekati kora-kora petugas disana mencegatnya.
"Maaf Nona, wahana ini sudah diboking." ucapnya membuat mulut Embun melongo.
"Hahaha... wahana pun bisa dibooking?" menggelengkan kepalanya dan berpindah kewahana lain. Namun Embun kembali dibuat melongo.
"Apaa? Ini juga sudah dibooking?" Embun menyentak kasar nafasnya.
"Huuuuuuhhh.... Apa kalian bercanda? ini sudah wahana ke lima yang dibooking. Apa semua wahana disini sudah dibooking, hhaaaahhh?"
"Maaf Nona, itu benarr." jawaban yang membuat Embun melongo lagi.
Embun membuang mukanya kesal. Dadanya naik turun saking kesalnya.
"Kenapa tidak kalian tutup saja tempat ini jika semua wahan sudah dibooking!"
"Memang sudah kami tutup Nona." tegas petugas wahana.
"Apa? Lalu kenapa kami bisa masuk?" protes Embun makin kesal, rasanya sudah ditipu. Karena dia tadi yang membayar tiket masuk, sebab Malvin lupa membawa dompetnya. Menyebalkan!
Embun menyebar pandangannya, mencoba mengurai emosinya. Saat itu Embun melihat Kay dan Catty sedang asyik menaiki komidi putar. Embun berbalik dan bertanya,
"Kenapa mereka bisa naik itu?" tanyanya, "Bukankah semua sudah dibooking?"
"Benar, hanya wahana itu dan bianglala yang bisa dinaiki."
Embun tertawa kesal. Lalu meninggalkan petugas, Embun mendekati komidi putar yang bergerak perlahan, menatap Kay dan Catty yang terlihat senang menunggangi kuda-kudaan.
"Ibu!" panggil Kay, gadis itu berlarian kecil mendekat, disusul Catty.
"Ibu, tolong bawakan ini." ucapnya memberi Embun bando makhota yang terbuat dari untaian ranting dan bunga.
"Okey," Embun menerimanya.
"ini juga," Kay menyerahkan beberapa papper bag pada embun lalu pergi entah kemana. Embun yang bingung dengan beberapa barang yang Kay serahkan menunduk memasangkan bando Kay dikepalanya, setidaknya Embun harus mengurangi beban ditangannya. Dan menata kembali bawaannya.
"Mommy! Ini juga." Catty asal mengalungkan sesuatu dileher Embun, lalu meloyor pergi. membuatnya tersenyum kesal sekaligus geli.
"Anak-anak nakal, tadi saja mendiamkanku sekarang malah menyuruhku membawa beban sebanyak ini."gumamnya.
Embun kembali melihat sekeliling, Malvin masih sibuk dengan kameranya. Embun menatap wahana bianglala.
"Baiklah! Naik itu saja."
Embun mulai berjalan menuju Bianglala dengan bawaan milik Kay.
"Aahh" Embun menoleh kearah suara yang tak jauh darinya. Tiba-tiba orang itu menyerahkan sebuah boneka ketangan Embun yang mau tak mau dia terima juga, orang itu lalu pergi entah kemana. Membuat Embun terbengong.
"Apa-apaan dia. "
Datang lagi sebuket bunga asal disodorkan dipelukan Embun. Membuatnya kembali terkesiap.
Datang lagi
sebuket coklat asal disodorkan padanya, yang lagi-lagi membuat Embun kapayahan menerimanya.
"Apa-apaan mereka ini?"
"Uaaaaa....." pekik nya saat ada orang asing asal memakaikanya kacamata hitam.
"Heeiiii..." teriaknya kesal.
__ADS_1
Embun melihat papan kertas yang mengalung dilehernya, dia lalu membacanya.
"Caattyyyy!!!!" jeritnya menghentakkan kaki.
papan itu bertuliskan penitipan barang.
Dengan dada yang naik turun karena emosi, Embun tetap nekat berjalan kearah bianglala.
"Jangan salahkan aku jika barang kalian rusak, karena kalian yang asal memberikannya padaku tanpa bertanya dulu."gumamnya kesal.
Tanpa mengantri, Embun menyapa petugas,
"Aku mau naik ini." ucapnya dengan wajah kesal
"Silahkan."
"Apa aku tak bisa menitipkan ini disini?" menunjukan bawaannya pada petugas.
"Maaf tidak bisa."tersenyum ramah.
"Okey. baiklah." berjalan lemas.
"Butuh bantuan?"
Embun melirik kesal Malvin yang tiba-tiba ada didepannya itu. Lalu menyerahkan bawaannya dengan kasar ketangan Malvin.
"Kenapa baru muncul sekarang?" kesalnya memasuki bianglala.
Wahana itu akhirnya bergerak. Malvin sudah meletakkan semua bawaan nya di meja yang ada di dalam bianglala yang cukup luas itu. bahkan bisa dinaiki Lima orang dewasa sekaligus. Embun menyenderkan punggungnya dan melihat keluar.
"Lelah sekali...."
"Biar kupijit."tawar Malvin.
Embun hanya diam membiarkan Malvin memijit kaki.
"Jadi kamu sudah putuskan tidak mengacuhkanku lagi?"
"Siapa yang mengacuhkanmu?"
"Kamu! Kalian!"
Malvin tersenyum lucu.
"Kenapa malah tersenyum?"
JEEGGGRRREEEEKKKKK....
"Kenapa ini?" seru Embun tersentak, bianglala itu tiba-tiba ngadat tepat dipuncak tertinggi.
Embun melongok ngeri keluar bianglala yang seluruhnya tertutup oleh kaca itu.
"Kenapa tiba-tiba berhenti?" paniknya...
"Mal! Lakukan sesuatu!"
"Kamu mau aku melakukan apa?" dengan senyum lucu.
"Tak bisakah kamu menghubungi seseorang?"
"Aku tak bawa hp."
"Jadi kita terjebak disini?"
____€€€_____
Readers kasih semangat donk. komen dan like nya ya....😊
Terima kasih.
__ADS_1