
Kayla menatap langit-langit kamarnya. Dia menarik sudut-sudut bibirnya. Malam itu Kay merasa bahagia, tadi siang sepulang dari sekolah Kay mengunjungi restoran ibunya. Saat baru turun dari kang ojek, Kay mendengar seseorang memanggilnya.
FLASH BACK
"Kay!"
Merasa namanya di sebut Kayla menoleh. Dia terkejut, pupil matanya sedikit membulat.
"A-ayah."
Danu tersenyum mendekat, kebetulan siang itu Danu baru pulang Dinas kekota sebelah. begitu urusan selesai dia tidak kembali ke kantor tapi berbelok ke restoran Embun. Namun dia justru melihat Kayla. Tentu saja dia girang bukan kepalang.
Kayla menelan ludahnya, rasa takut itu masih ada, ingatan akan sikap ayahnya yang memukulnya dengan tali pinggang masih sangat jelas.
"Maafkan Ayah."ucap Danu lembut."Kamu mau memaafkan Ayah kan, Kayla?"
Kay terdiam mematung. Hatinya bimbang, dia masih takut, tapi sikap maaf ayahnya terlihat tulus.
###
"Terima kasih Kay." ucap Danu lembut sambil menyetir mobilnya. Dan mengelus kepala Kayla.
Kayla akhirnya luluh juga, Dia ikut ajakan Ayahnya untuk bermain bersama hari itu. Ayah Danu mengajaknya pergi ke wonderfull world sebuah tempat wisata yang komplite akan permainan baik yang memicu adrenalin atau yang hanya sekedar untuk hiburan semata.
Kayla dan Danu menaiki banyak wahana secara bergantian. Kayla senang sekali, apa yang dia impikan akhirnya terwujud pergi berlibur bersama Ayahnya.
"Terima kasih Ayah, Kayla senang bisa bermain bersama Ayah."
Danu membalasnya dengan senyuman.
"Sayang ibu tidak ikut."
Danu kembali tersenyum,
"Benar! Lain kali ayo kita pergi bersama ibu juga."
"Benarkah?"
"Huu'uuumm.." Danu mengiyakan dengan mengangkat jari kelingkingnya. "Ayah janji."
Dengan senyum lebar Kayla menautkan jarinya di jari ayahnya.
"Karena itu Kay, bujuklah ibu. Agar dia mau pergi bersama kita."
Kayla mengangguk mantap.
"Bujuk ibu agar mau kembali pada Ayah, jadi kita bisa bermain bersama lagi lebih sering. Heeemm?"
FLASH BACK OFF
Sudut bibir Kayla turun, dia sadar ibu Embun saat ini sedang dekat dengan Daddy Malvin. Dia bahkan sudah beberapa kali memergoki mereka sedang berciuman. Kayla menghela nafasnya.
Bagaimana jika ibu tak mau? Bagaimana jika ibu menolak? Dan bagaimana reaksi Daddy Malvin nanti?
Kayla terdiam sejenak. Dia teringat kembali akan sikap Daddy Malvin padanya. Dia merasakan sosok ayah yang tidak dia dapat dari Ayah biologisnya, Danu.
Daddy Malvin orang yang hangat. cara dia dan Ayah dalam memperlakukanku sangat berbeda. Daddy Mal terasa lebih tulus. Tapi.....Ayaaahhh....
Kayla kembali bimbang. Disatu sisi Kay ingin pergi dengan Ayahnya tapi di sisi lain dia juga tau jika dia jujur pasti ibunya akan sangat marah. Kayla juga tidak menampik bagaimana dulu ayahnya memperlakukan Ibunya dan dirinya.
Dan bagaimana Daddy Malvin begitu baik padanya dan ibunya. Kayla menghela nafas panjangnya.
Dia bimbang antara ayah Danu atau Daddy Malvin.
__ADS_1
"Apa yang kamu pikirkan Kay?"
Kayla tersentak, dia terkejut mendengar suara Daddy Malvin di kamarnya. Kayla menoleh kearah suara itu berasal.
"Daddy?"
Malvin tersenyum dan melangkah mendekat.
"Aku sudah mengetuk pintumu berulang kali, tapi kamunya melamun, sampai tak dengar."jelas Malvin tentang keberadaannya dikamar itu."Apa yang membuat Kayla sampai seperti ini?"
Malvin berjongkok di depan Kayla yang sudah duduk dibibir kasurnya. "Heeemm?"
"Apa yang mengganggu pikiranmu Kay?"
Kayla masih terdiam, Kayla menatap wajah Daddy Malvin. Terbersit rasa bersalah dihatinya.
"Kamu tak ingin membaginya dengan Daddy Mal-mu ini?"
Kayla menggeleng.
"Kayla hanya memikirkan tentang pelajaran sekolah Dad."
Malvin menatap sendu pada gadis kecil didepannya itu. Ada rasa kecewa menelusup didadanya.
"Okey.." Malvin berdiri. "Tidurlah sayang. Ini sudah malam. pelajaran sekolah, pikirkan besok lagi." Malvin membantu Kayla berbaring dan menarik selimut hingga kebatas dadanya.
Malvin mengecup kening Kayla."Good night."
Malvin mulai melangkah lalu berbalik lagi,"Jika kamu punya masalah dan ingin berbagi cerita,Daddy selalu ada Kay."tersenyum tipis.
"Iya Dad."lirih kay.
Malvin melanjutkan langkahnya kembali dan menutup pintu kamar Kay tanpa suara. Malvin berjalan kembali kekamarnya, tak jauh dari kamar Kay dua orang bodyguard yang selalu mengawasi Kay menunduk padanya. Sudah dipastikan Malvin tau Kay diam-diam bertemu dengan Ayahnya,dan kini gadis kecil itu sedang bimbang.
Malvin kembali melangkah menuju kamarnya, dia tertegun, melihat Embun berada didepan pintu kamarnya. Hanya diam, lalu hendak berbalik, Dengan sigap Malvin menangkap tubuhnya.
"HAAAPP!"serunya, "Aku menangkapmu! Kenapa berdiri didepan kamarku, Heeeemm?" mengerling nakal
Embun tersenyum kecil.
"Tadi siang ada yang bilang, akan melamarku besok. Aku ingin lihat bagaimana perkembangannya?"
Wajah Malvin sedikit berubah, masih memeluk dari belakang.
"Sedikit ngadat."
"Kenapa?"
"Kita bicarakan nanti,"sambil membuka pintu,"karena sudah disini, ayo masuk!" mendorong sambil memeluk,
Embun terkekeh...
"Apa yang ngadat?"tanya Embun begitu sudah berada didalam kamar Malvin, pria itu tak bereaksi.
"Kayla?"bertanya dengan hati-hati.
Malvin terdiam dengan senyuman tipis. Wajah Embun berubah sedikit masam. Malvin memutar tubuh wanita didepannya hingga mereka berhadapan. Menangkup wajahnya dan mengecup lembut. Untuk sesaat mereka saling menggulum lidah.
"Aku akan bicara dengan Kayla." lirih Embun,
"Tidak Usah." Malvin kembali menautkan bibirnya.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Kayla akan jadi urusanku. Heeeemmm?"
"Tapi,, Kau sudah berjuang selama ini sendirian Mal."
"Aku mencintaimu, aku juga menyayangi Kayla. Aku ingin hati kalian benar-benar terbuka untukku."
Embun mendessaahh kesal.
"Kayla pasti mengerti jika aku jelaskan Mal."
"Kenapa kamu jadi tidak sabar?"tanya Malvin, "Kau sangat ingin menikah denganku heeeem..?"godanya mengangkat tubuh Embun.
"Tidak!"
"Lalu?"
"Aku hanya kasihan padamu. Kau sudah berjuang meluluhkan kayla."
"Hmmmm.... Kalau begitu beri pria kasihan ini penyemangat."
Embun tersenyum lebar. Mereka kembali saling menautkan bibir.
###
Keesokan paginya, hari sabtu siang Kayla berdiri didepan sekolahnya. Dia sedang menunggu sendirian, kemana Catty? Kay beralasan dengan Caty agar gadis itu pulang lebih dulu dengan mobil jemputan, karena Kay masih ada kelompok belajar dengan teman sekelasnya. Kay dan Catty satu sekolah namun beda kelas.
Setelah menunggu, wajah Kay berubah gembira melihat mobil silver mendekat perlahan dan berhenti tepat didepannya. Kay membuka pintu penumpang.
"Ayah!"
"Kay mau makan siang dimana?" tanya Danu saat mobil mulai meluncur.
"Aku ingin makan seafood,yah."
"Baiklah! Kita kerestoran seafood." seru Danu bersemangat.
Dilain sisi, di kediaman Malvin.
Ponsel Malvin berdering, saat Malvin sedang berada diruang kerjanya dengan beberapa berkas yang sedang diperiksa. Malvin menempelkan hpnya ditelinganya.
"Ada apa?"
terdiam sejenak, lalu tersenyum kecut.
"Jadi mereka bertemu lagi?"
Terdiam lagi menunggu suara disebrang sana menyampaikan laporannya.
"Terus ikuti dan lakukan tugas kalian."
Malvin mengakhiri telponnya. Wajahnya gusar, rasa gelisah kembali mendatanginya. Dengan kesal dia melempar berkas ditangannya. Dia mengusap wajahnya kasar. Malvin belum merasa lebih baik. dia mengusap semua yang ada dimejanya hingga jatuh berantakan.
"AAAAAAARRRRGGGGGGG!!"
Dadanya naik turun...
Aku melewatkan yang satu ini. Kemungkinan mereka bertemu secara diam-diam. Kupikir sudah aman dengan memindahkan sekolah Kay. pikir Malvin mengusap kasar wajahnya.
Wajah Malvin berubah sendu. Tubuhnya merosot dan terduduk dilantai. Dia sandarkan punggungnya di kaki meja kerjanya.
"Bagaimana jika Danu berhasil membujuk Kay? Bagaimana jika Embun kembali padanya demi Kay? Apa yang bisa kulakukan tanpamu, Sayangkuuu.." gumam Malvin lirih menyembunyikan wajahnya dibalik tangannya.
"Kau sudah menjeratku terlalu jauh...."
__ADS_1
____€€€____