
Sejak hari itu Danu penasaran. Dia terus kepikiran akan Embun, Danu yang sedang duduk di ruangannya berdiri lalu mondar-mandir disepanjang ruangannya.
Danu mengambil hp yang dia letakkan di meja kerja. Dia mencari nomor Embun.
Ketemu! batinnya girang.
Danu meredial nomor Embun tapi nomor itu sudah tidak aktif. Danu coba sekali lagi. Masih tidak aktif.
Apa dia sudah ganti nomor? Atau, aku diblokir? -batin Danu dengan ekpresi wajah dingin.
Memikirkan dia mungkin diblokir membuat Danu sedikit kesal. Dia mencoba menghubungi dengan telpon kantor dimeja kerjanya. Namun masih sama, hanya operator yang menjawab panggilannya.
Berarti Embun memang sudah ganti nomor. Aaah.. dulu hpnya pernah remuk waktu didepan rumah. Mungkin dia ganti hp sekalian ganti nomor.-pikir Danu
Danu kembali mondar-mandir. Dia memikirkan cara agar bisa bertemu dengan Embun. selama 3hari terakhir ini dia sudah beberapa kali memdatangi restoran Embun. Tapi Embun selalu tak berhasil dia temui.
"Sepertinya, dia memang memghindariku."gumam Danu sedikit menyesal.
"Aaah.. Kenapa dulu aku malah menceraikannya. Kenapa tidak poligami saja sih? toh dibolehkan agama."gumam Danu lagi dia jadi semakin gusar.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?"Danu mulai berfikir lagi.
"aaaahh.. Kay!"Danu tiba-tiba teringat kayla anaknya menjentikkan jarinya merasa mendapatkan ide brilian agar bisa bertemu Embun.
"Akan ku jemput Kay disekolah lalu membawanya pulang kerumahnya agar bisa bertemu dengan Embun."
Danu tersenyum puas. Dia melihat jam ditangannya.
Pukul 11.30
"Bagus! sebentar lagi waktunya Kay pulang."
Danu menyambar jas yang tersampir dikursi kerjanya. Dengan segera Danu mengendarai mobilnya menuju sekolah Kayla. begitu sampai di depan pintu gerbang sekolah Kay, Danu menunggu sejenak. Melihat jam tangannya. lalu melihat ke gerbang sekolah. Banyak anak-anak yang sedang dijemput orang tuanya.
Semoga Embun juga menjemput Kay. batinya
Danu menunggu hingga 15menit. Namun tak dilihatnya Kay ataupun Embun. Danu mulai gelisah. Waktu istirahatnya pun makin sedikit.
Sial!
Akhirnya Danu kembali kekantor tanpa hasil.
Hari berikutnya, Dijam yang sama, lagi-lagi Danu menunggu didepan gerbang sekolah Kay. Dan hasilnya sama Zonk!
Dengan Kesal Danu akhirnya memutuskan mendatangi kamtor sekertariat sekolahan Kayla. Dan bertanya.
"Apa?"Danu tersentak kaget."Kayla pindah sekolah?"
"Iya pak Danu."
"Kapan? Dimana?"Danu sedikit syok mendengar Kayla sudah pindah sekolah. Karena itu berarti kesempatan untuk bertemu Embun pun pupus sudah.
"sudah lebih dari 1bulan yang lalu"
"Apa? pindah kmana?"
"kami kurang tau pak. coba hubungi ibunya."
sialan kalau aku bisa hubungi ibunya buat apa aku kemari. batin danu
Dengan Lesu Danu kembali ke PT. COREN . Dia harus tetap bekerja walau dengan pikiran dan hati tak menentu.
__ADS_1
"satu-satunya penghubung hanya restoran. Aku memang harus kesana!" tekat Danu mantap. "Ahh,, bagaimana dengan Yura? aku berjanji dengannya untuk makan malam bersama diluar."
Aku tak mungkin mempertemukan mereka berdua. bagaimana ini?
Danu kembali berfikir. Dia terdiam sejenak menggigiti kukunya.
______
TOKTOKTOK
Suara ketukan tangan Malvin di pintu kamar Embun yang terbuka lebar membuat wanita itu menoleh dari meja riasnya. Melihat Malvin berjalan mendekat Embun memutar duduknya.
"Ada apa?"
alih-alih menjawab Malvin justru memberi pertanyaan baru.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Mmmm.. melanjutkan perawatan. sekarang waktunya memakai krim malam."
"Biar kulakukan untukmu."menarik kursi lain ke depan Embun.
"As your wish."
Malvin tersenyum tipis dan mulai mengaplikasikan krim malam di kulit wajah Embun sampai ke lehernya.
"Kenapa belum tidur?"
"Aku mengunjungimu."
Embun tertawa kecil.
"Kamu tak mengganti bajumu?" ucap Embun yang melihat Malvin masih mengenakan kemejanya.
setelah selesai mengusap krim malam.
"Lotion."
"Dimana lotion nya." beranjak dari duduknya mendekati meja rias. Embun menunjuk, Malvin mengambilnya.
"Seberapa banyak?"Kembali duduk sambil menuang lotion ditangannya.
"stop."ucap Embun.
"Itu terlalu banyak."tertawa geli.
"Bagi dua kalau begitu."Malvin membaginya dalam telapak tangannya dan tangan Embun.
Dan mengoleskannya pada tangan gadis itu.
"Bagaimana hari ini?"
"Masih seperti sebelumnya."ucap Embun. "Mas Danu masih datang beberapa kali."
"biarkan tetap begitu, jangan temui sampai satu minggu."
"Baiklah."
"Dia pasti sangat kesal dan penasaran."tertawa geli.
Malvin sudah menyelesaikan mengusapkan lotion di kedua tangan Embun. Malvin menggeser kursi kesamping dan duduk berjongkok. Dia meletakkan kaki Embun di pahanya dan mulai mengusapkan lotion disepanjang betis hingga telapak kakinya.
__ADS_1
"Ada reservasi atas nama Danuarta besok malam direstoran untuk dua orang."Embun kembali bersuara.
Malvin tersenyum kecil.
"Hmmm... dia akan membawa istrinya kesana."ucapnya.
"Kita gunakan kesempatan itu."Melirik Embun dengan senyuman tipis.
"Sudah selesai."Malvin meletakkan kaki Embun perlahan dan berdiri.
"Lakukan sendiri di pahamu, aku tak bisa melakukan dibagian yang membuat diriku sendiri on." tersenyum mesum dengan mengedipkan sebelah matanya.
Dengan senyum lebar."Baiklah tuan mesum."
"Okey. Aku pergi."Malvin berjalan keluar, "kita bicarakan lagi besok. Ken yang akan atur pertemuannya."
"Aku tau kamu sibuk."
Embun mengantarnya sampai pintu.
"Kunci pintunya."
"Okey."ucap Embun dengan menyatukan ujung jari telunjuk dengan jempol hingga membentuk lingkaran.
"Jangan salahkan aku jika ada yang menyelinap masuk kalau kamu biarkan tanpa menguncinya."Senyum mesum lagi.
"Aku tau." tertawa lucu.
Malvin berjalan menuju kamarnya, dan Embun masih menatap punggungnya dengan pintu yang setengah menutup.
"Jangan lupa kunci pintunya."Seru Malvin sedikit berbalik.
"Baik tuan!"tersenyum lucu.
Embun baru menutup pintunya saat punggung Malvin tak terlihat lagi.
______
Sore ini Yura mendatangi salon tempatnya melakukan perawatan karena malam ini dia akan makan malam direstoran yang sedang viral itu. Tentu, Yura harus tampil cantik. walau perutnya mulai terlihat buncit dia tetap harus terlihat menarik.
Seusai bermake up ria dan lain sebagainya, Yura mendekati kasir. Di menarik sebuah kartu dari dompetnya dan menyerahkan pada petugas kasir. Menunggu sejenak.
"Maaf,kartu ini sudah mencapai limitnya."
"Apa?"terkejut,"Baiklah, coba yang ini."yura memberikan kartu yang lain dengan senyum yang dipaksakan.
"Maaf! ini juga sudah mencapai limitnya nyonya."
Yura terlihat kesal.
"Baiklah! berapa semuanya?"Yura mengeluarkan lagi dompetnya hendak mengambil uang tunai."Aku bayar tunai saja."
"satu juta dua ratus tujuh puluh lima nyonya."ucap petugas kasir.
"Apa? kenapa mahal sekali?"terkejut.
"itu sudah sesuai standar yang anda minta nyonya."jawab petugas kasir itu.
"Ya. ampun aku tidak percaya ini. aku serasa dirampok."kesal Yura menggerutu sambil menghitung uang tunainya.
"Jika tak sanggup membayar datanglah ke tempat yang sesuai uangmu." sebuah suara dari belakang Yura dengan nada menghina. Tentu Yura menoleh tak terima..
__ADS_1
Hmmmm.... siapa ya?🤔