Dicerai Karena Dekil(Dinikahi Bos Mantan Suami)

Dicerai Karena Dekil(Dinikahi Bos Mantan Suami)
Lanjutan


__ADS_3

Dikamar Kayla.


Gadis berusia 14 tahun itu menggerakkan jari-jari lentik di atas keyboard komputernya. Matanya fokus menatap layar datar didepannya. Sesekali bola matanya bergerak mengikuti apa yang pampang dilayar itu.


TOK TOK TOK


Pintu kamarnya diketuk, Kay menoleh dan sesegera mungkin mengalihkan dan menutup komputernya.


"Iya?" Kay beranjak dari duduknya, setelah memastikan komputernya mati. Dan membuka halaman buku. Pintu dibuka, Malvin muncul membawa segelas susu hangat.


"Sedang apa?"


"Belajar Dad."jawab Kayla dengan senyum kecil.


Malvin mengangsurkan segelas susu ditangannya. Kay mengambilnya dan meminumnya.


"Belajar itu bagus, tapi jangan terlalu lama mengurung diri dikamar."ucap Malvin memasukkan tangan di saku celananya.


"Okey Dad."angguk Kay.


"Sesekali ajaklah Catty belajar. Dia terlalu sering bermain-main."


"Kami sering belajar bersama Dad."


"Baiklah. Turun ke bawah sekarang, Daddy dan Momy ada pembicaraan." Malvin melangkah keluar kamar Kayla.


"Oke."


BLAM! (suara pintu ditutup)


Kayla menghela nafasnya, melirik pada layar komputernya yang gelap. Kay memicingkan matanya, menatap dengan pandangan yang sulit diterjemahkan.


Diruang keluarga bawah, Catty dan Kedua adik kembarnya, Sean dan Kian bermain PS. Permainan berburu hantu itu tentu didominasi oleh Catty. Dengan wajah penuh kepercayaan diri dan keyakinan menang, gadis 14 tahun itu menyeringai melirik adik-adiknya.


Ingat kalau kalian kalah....Haaahh." suaranya meremehkan.


"Huuuhh.. kami tidak akan kalah! Dua lawan satu."seru keduanya bersamaan.


Caty terkekeh.


"Kalian hanya bocah."


Embun yang duduk agak jauh memperhatikan ketiga anaknya itu, menghela nafas. Beberapa saat kemudian, Malvin muncul dari atas dan duduk bergabung disamping istrinya itu. Melintangkan tangannya dibelakang punggung Embun.


"Bagaimana dengan Kay?"tanya Embun menoleh pada Suaminya.


"Sebentar lagi turun." ucapnya pelan.


"Kenapa begitu lesu?"tanya Embun menusuk potongan buah yang ada diatas meja lalu menyuapkannya pada sang suami.


"Ada sedikit masalah diperusahaan di kota M. Aku akan kesana selama beberapa hari." jelas Malvin mengunyah buah dimulutnya.


"Harus turun tangan sendiri?"


"Hemmm.. pesaingku bermain tidak sehat. Mereka menyerang jaringan web."


Embun terkejut.


"Itu pasti sngat sulit bagimu."


"Tidak juga, tapi aku harus kesana melihat perkembangannya langsung."terang Malvin lagi.


"Kapan?"

__ADS_1


"Lusa."


Embun tersentak kaget.


"Tapi Lusa aku harus ke pulau sebrang, untuk peresmian beberapa outlet baru. Aku sudah mengatakannya padamu kan?"


"Karena itu kita butuh partner yang tepat." Malvin tersenyum misterius. Embun menatap penuh tanya.


"Tuan, "kepala pelayan Niar mendekat memberi info."Kenan sudah datang."


"Suruh dia langsung keruang kerjaku."titah Malvin melongok pada Pak Niar.


"Kita bicarakan lagi nanti." kembali menoleh pada istrinya.


Embun mengangguk. Malvin lalu berdiri dan melangkah, sesaat Malvin membalikkan tubuhnya menatap punggung Catty yang masih asyik dengan permainannya.


"Cat!"


Catty tak bergeming. Masih asyik dengan permainannya dengan si kembar.


"Catty!" Malvin mengeraskan suaranya.


"Apa Daddy?"


"Buatkan dua cangkir kopi dan bawa keruang kerja Daddy. Sekarang."


"Catty sedang main Dad."


"Cattyyy!"


Catty berdecit. "Sean! buatkan kopi!"


"kakak yang disuruh! kenapa malah balik menyuruhku? Apa kakak tak memperhitungkan usiaku?"


"Catty!"panggil Daddy Mal dengan nada tegas.


"Tak ada bantahan. Daddy tunggu lima menit. Atau uang sakumu dipotong."Malvin melanjutkan langkahnya


"AAPAA?" Catty langsung berdiri untuk protes, tapi Daddy Mal berlalu sambil menutup lubang telinganya dengan jari.


"Uuugghh...." geram Catty.


"Kak. kau tau hukumannya kalau kalah kan?" ledek Kian menyeringai.


"Mommy!" dengan tampang memelas.


"Lakukan saja titah Daddy mu Catt."


Catty menendang udara saking kesalnya. Niat mau mencari dukungan dari ibu sambungnya justru malah dia tetap harus melaksanakan perintah Daddynya.


"Waktumu tinggal empat menit." goda Embun mengedipkan sebelah matanya.


"Uugghh... Mommy, itu sama sekali tidak membantu."Gerutu Catty berlari cepat kedapur.


Di dapur, Catty benar-benar membuat kopi, dengan dibarengi gedumelan. Catty memasukkan garam sebagai pengganti gula pada kopi buatannya.


"hehehehe..." Catty tertawa jahat.


Dengan riang gadis itu mengetuk pintu ruang kerja Daddynya.


"Daddy! Ini kopinya!" ucap Catty menerobos masuk,


Malvin dan Kennan menoleh. Membuat Catty terpaku ditempatnya tanpa bisa bergerak.

__ADS_1


"Kakak tampan. dalam hati Catty.


Malvin tersenyum tipis, pertunjukan dimulai!!


"Kenapa malah membeku disitu? Cepat kemari!" Malvin mengibaskan tangannya diudara.


Catty masih mematung.


Kenapa aku jadi tak bisa bergerak? Reaksi alam macam apa ini? batin Catty masih membeku.


"Sepertinya Nona kecil tak enak badan. Wajahmu pucat. Biar aku kesana saja." ucap Kennan melangkah mendekat.


Aaarrggg..... dia mendekat kemari! Oksigen! Jangan pergi jauh-jauh! aku tak bisa bernafas. batin Catty dalam otaknya langsung terlintas kopi rasa garam berlebihan itu.


Ya Tuhan!! Kopi garamnya. Gawat jika kakak tampan ini meminumnya.. Aku harus gercep. pikir Catty saat itu mencoba sekuat tenaga menggerakan tubuhnya yang tak bisa diajak kompromi. Sedangkan Kennan sudah semakin mendekat dengan bunga-bunga yang bertebaran disekitarnya. Membuat Catty semakin panik saja.


Oooouuuhh.. Tuhan! Pemandangan berlebihan apa ini? Darimana datangnya bunga-bunga ini? batin Catty.


Setelah susah payah berhasil menggerakkan kakinya,


Akhirnya.... batin Catty dengan kibaran bendera di dalam pikirannya karena berhasil menggerakkan sebelah kakinya.


Kenan semakin mempersempit jarak, Catty yang sudah kepalang panik itu melangkah sejengkal dan terantuk sesuatu. Kopi diatas nampan yang dia bawa ikut terlontar bersamaan dengan dirinya yang kehilangan keseimbangan.


Ooohh tidak! keanggunanku... kemanisanku... hancuurr..


BRUUUAAAKKKK....


"Aarrrggghhh... Panas! Panass.." Kenan kelimpungan, pasalnya kopi itu tumpah dicelana Kenan. Dari pinggang kebawah, tepat disana.


"Aaarrggg!! " Catty yang melongok melihat pujaan hatinya kepanasan dibagian 'itu' Sontak bangkit berlutut meniup dan mengibaskan tangannya di sana.


"No-nona Kecil apa yang kau lakukan?" Kenan dengan wajah memerah.


Catty tersentak kaget. Sadar akan kekonyolannya. Sedangkan Malvin sudah tertawa berguling-guling dipojokan.


uuugghh bisa bisanya dia.. batin Catty geram melihat Daddynya sebahagia itu melihatnya malu.


"A-akan kuambilkan hair dryer."Catty yang sudah malu tingkat langit ketujuh itu, kabur dengan kecepatan cahaya.


"Tu-tuan, ini bukan sesuatu yang pantas ditertawakan." Kenan masih dengan wajah merahnya. Melihat bahu Malvin masih berguncang, wallau tak mengeluarkan suaranya.


Kenan menatap pintu yang terbuka dimana gadis kecil yang malang itu kabur. Lalu beralih pandang ke bosnya yang masih cekikikan memegangi perutnya. Kenan menghela nafasnya.


Punya bos gini amat yyaaaa.. batin Kenan, dia memberesi cangkir yang pecah dan berserakan dilantai. Malvin mendekat, lalu ikut membantu.


"Maaf ken. Tapi itu lucu sekali." kekehnya memunguti pecahan cangkir.


****


"Mommy!" Catty mengulurkan hairdryer pada Embun dengan wajah sedih. Embun menatapnya bingung.


"Untuk apa ini?"


"Tadi Catty menumpahkan kopi dicelana kak kenan. Bisakah mommy mengantarnya." ucap Catty lemas dengan wajah memerah, sekaligus sedih menyodorkan lagi hairdyer ditangannya.


"panggil dia Om saja. Kenan jauh lebih tua darimu." Embun berdiri dan mengambil hairdryer ditangan Catty dan menepuk pundak Catty pelan.


"Lanjutkan permainanmu."


Catty berjalan dengan lesu menghampiri kedua adiknya.


"Kenapa kak? Kau terlihat seperti orang sakit perut saja." tukas Kian masih asyik dengan PS nya.

__ADS_1


Uuggghhh... Ini semua salah Daddy. Bisa bisa nya Daddy menindas anaknya sendiri! Catty pasti akan balass!! batin Catty dengan kobaran api disekelilingnya.


___€€€___


__ADS_2