Disaat Kau Pergi

Disaat Kau Pergi
Ada apa...


__ADS_3

Matahari mulai berubah warna menjadi jingga. Petang pun mulai menampakan pamornya .Udara sejuk khas perbukitan kini terasa menyapa lembut dengan hembusan angin sepoi sepoi.


Dua jam sudah Bakri dan rombongan kecilnya beranjak dari Villa. Kini Farhan beserta rombongannya tengah bersiap menjelajah hutan cemara di belakang Villa. Rombongan itu terdiri dari Farhan ,Fariz, Alma, Meta ,Qori, dan anak Qori yang masih berusia tiga tahun.


Sementara Dwi dan istri Qori tidak ikut, memilih menemani Khairani yang mengasuh tiga bayi. Mereka sedang bersantai di Gazebo pinggir danau sambil ngemil beberapa makanan kecil dan minuman kopi ala cafe. Sedangkan Gaza, Aliya dan Alika tertidur di dalam Stroller masing masing.


Setelah beberapa lama di luar, udara terasa semakin dingin, takut anak anak nya terkena udara luar terlalu lama Khairani kembali ke kamarnya dengan membawa para bayi bersamanya. Sedangkan Dwi dan istri Qori masih betah bersantai di Gazabo.


Sampai di kamar Khairani memindahkan anak anaknya ke atas ranjang. Kemudian dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai Khairani juga memandikan para bayi berganti ,memasang baju dan kemudian menyusui mereka.


Setelah menyelesaikan rentetan aktivitasnya Khairani duduk di sofa yang ada di kamar Villa. Matanya menangkap HP nya yang dari tadi belum dia sentuh. Membuka HP tersebut berharap ada kabar dari Bakri . Ternyata nihil...


Khairani menelepon Bakri, setelah beberapa panggilan tidak ada sahutan dari seberang sana. akhirnya Khairani berhenti sejenak ,dia berpikir mungkin Bakri sibuk mengurus Luki, atau lagi mengemudi. Kemudian dia mengulang menelepon suaminya, tapi tetap tidak ada sahutan.


Satu jam berlalu begitu saja. Perasaan Khairani semakin tidak menentu. Suaminya tak kunjung mengangkat telepon. Khairani sekarang duduk diteras Villa. Berharap udara segar bisa mengurangi sesaknya.


Dari kejauhan Khairani melihat anak anaknya telah kembali dari hutan. Tapi dia merasa aneh ketika yang kembali hanya anak anak dan Meta. Farhan dan Qori tidak kelihatan. Khairani tidak sabar ingin bertanya ,tanpa sadar melangkah mendekati mereka.


"Ta... kenapa kembali hanya berempat ,Bang Farhan dan Qori mana. " cecarnya tak sabar.

__ADS_1


"Pak Farhan tadi dapat telepon buk... trus buru buru pergi sama bang Qori. Beliau berpesan sama saya buat jaga anak anak sampai ke Villa. Oh iya buk beliau pesan agar kita nginap disini malam ini. Disuruh gabung satu Villa aja. "jawab Meta dengan lugas.


"Kok nginap lagi, kan malam ini kita mau check out ,ada apa sih... " Khairani merasa ada sesuatu yang terjadi. Dia memilih menanyakan langsung ke Farhan. Berjalan kembali ke kamar untuk mengambil HP nya. Dia ingin segera menelepon Farhan.


Panggilan pertama langsung diangkat oleh Farhan " Halo Khairani, aku lagi nyetir nanti ku telepon lagi yaa. Sekarang kamu dan anak anak di Villa dulu nanti ku jelaskan. " tut... tut...tut... " Farhan langsung memutuskan panggilan tanpa memberi kesempatan Khairani bicara.


Dengan perasaan yang semakin kacau Khairani kembali menemui Meta.


"Ta... kamu tau Farhan terima telepon dari siapa... ? meta cuma mengeleng saja sebagai jawaban.


"Kamu tidak dengar apa apa gitu...


Suasana di Villa menjadi tegang, karena melihat kekhawatiran diwajah Khairani membuat semua orang takut untuk bicara. Sekarang mereka telah berkumpul satu Villa seperti yang diperintahkan Farhan.


Semua tahu ada sesuatu yang terjadi, termasuk Fariz dan Alma. Mereka merasa ada sesuatu yang buruk, tapi mereka takut untuk bertanya, apalagi Fariz melihat mata bundanya berkaca kaca. Alma mendekat duduk dekat Fariz ,ketika Khairani masuk ke kamar.


"Bang apa terjadi sesuatu sama ayah.." tanya Alma yang sudah berurai air mata.


" Abang tidak tahu, jangan menangis, kasihan bunda nanti ikutan sedih. Berdoa saja yaa semoga ayah baik baik saja. " ucap Fariz menenangkan.

__ADS_1


Begitu juga saat makan malam, semua makan dalam keadaan diam. Hanya dentingan sendok dan piring yang terdengar. Khairani menahan diri untuk tidak bicara, karena takut air matanya ikut keluar. Dia tahu anak anak nya juga tidak dalam keadaan baik baik saja. Ada ketakutan dan kesedihan disorot mata mereka. Tapi Khairani mencoba untuk mengabaikan nya saja. Karena Khairani sendiri sedang berusaha berdamai dengan perasaan nya.


Dari sekian banyak panggilan yang Khairani lakukan tak satupun jawaban yang didapatnya. Telepon suaminya sudah tidak aktif, mungkin sudah kehabisan baterai. Farhan dan Qori tidak mengangkat panggilan nya. Sampai akhirnya masuk sebuah pesan dari Farhan.


Farhan .....


Khairani.. tunggulah di Villa, jangan menelepon dulu. tenanglah... semua akan baik baik saja. Anak anak butuh kamu sekarang. Apapun yang terjadi disini biar jadi urusan ku. Aku tahu kamu pasti sangat khawatir sekarang. Kami butuh doa mu, jangan menangis. Aku segera datang menjelaskan nanti. dan jangan terlalu banyak berpikir. percaya lah aku akan melakukan yang terbaik. berdoa lah.


Khairani langsung terisak tertahan. Air matanya telah berhamburan tak terbendung lagi. Kalau bukan karena takut bayi bayi mungil dihadapannya terkejut, mungkin dia sekarang sudah berteriak. Suara tangis lirihnya sangat menyayat hati. Tergugu sendiri dengan sesak di dadanya.


Khairani paham betul isi pesan Farhan padanya. Ada makna tersirat yang di isyaratkan padanya. Suaminya tidak baik baik saja. itulah yang dipahaminya. Khairani tidak bisa berbuat apa apa. Dia hanya bisa menunggu Farhan datang menjelaskan semua padanya. Dia hanya bisa berdoa semoga suaminya baik baik saja. Iya... itu harapannya....


Meta dapat mendengar suara tangis Khairani yang tertahan. Dia hanya bisa diam tidak berani berucap. Meta sudah tahu kalau Bakri mengalami kecelakaan. Waktu di hutan tadi setelah Farhan menerima telepon, Farhan telah menjelaskan sekilas dan meminta Meta menjaga Khairani dan anak anak. Farhan melarang Meta menceritakan kepada Khairani karena Farhan belum tahu seberapa parah kondisi ketiga orang itu.


Meta hanya bisa membawa Alma ke kamar dan menyuruh untuk tidur. Begitu juga Fariz. Setelah menyelimuti Fariz dan Alma , Meta mematikan lampu, lalu keluar menuju kamarnya .


Malam ini sungguh sepi dan mencekam. Tidak seperti tadi malam yang hangat dan penuh tawa. Semua berubah dalam satu malam.Begitulah hidup , kadang air mata datang dikala bahagia. Kadang ada senyuman yang datang mengobati lara. Ada kalanya tawa berubah jadi air mata ataupun air mata berubah jadi tawa.


*****

__ADS_1


🌺 Hai semua... selamat membaca 🌺


__ADS_2