Disaat Kau Pergi

Disaat Kau Pergi
Menunggu mu...


__ADS_3

Seminggu kemudian....


Bakri baru saja memarkirkan motornya di teras rumah ,sekembalinya dari tokonya. Tiba tiba HP nya bergetar.


" drrrt ... drrrt "


"Halo... yaa Ki ? "


"----"


"Bilang aja minggu depan ,sekarang saya lagi kosong. "


"----"


" Berapa totalnya Ki. "


"----"


"Bilang sama kolektornya, minta waktu satu minggu... kalau saya tidak bayar boleh tarik barang nya kembali ."


"----"


"Ok...waalaikumussalam . "


Pembicaraan itu tak luput dari sepasang telinga di balik pintu. Khairani yang dari tadi menunggu suaminya tak sengaja mendengarnya semuanya . Dia berusaha memahami apa yang dibicarakan oleh suaminya dengan karyawan nya. Apalagi melihat wajah sendu suaminya, bisa dipastikan bukan berita baik.


Ketika Khairani membuka pintu, barulah Bakri tersentak dari lamunannya .


"Abang udah pulang ? Kok enggak langsung ke masuk ." Tegurnya


"Ehh...abang baru sampai, capek sekali hari ini. Jadi nyantai dulu disini ." Jawab Bakri dengan senyuman palsu nya.


"Ooo ...sebentar aku buatkan teh buat abang ." Khairani pun berlalu ke dapur.


Bakri menghela napas kasarnya .Pikirannya buntu masalah yang bertubi tubi membuatnya lemah kini. Berpura pura baik baik didepan istrinya, agar Khairani fokus sama kehamilannya saja.


Beberapa menit kemudian Khairani datang kembali membawa teh hangat untuk suaminya.


" Diminum Bang selagi masih hangat "


" iya baiklah...terimakasih." Bakri pun meminum teh buataa Khairani.


Khairani menatap suaminya dalam, tubuh gagah itu kini sudah terlihat ringkih. Hatinya terenyuh ketika tahu suaminya menyimpan semua masalahnya sendiri. Dia tahu betul kalau Bakri sengaja menyimpan semua itu hanya untuk menjaganya.


Khairani berpura pura tidak tahu ,padahal apapun yang terjadi Luki selalu menyampaikan kepadanya tanpa sepengetahuan Bakri.


"Ayo masuk Ran, udah mau maghrib " Ucap Bakri sambil berdiri dan akhirnya masuk diikuti Khairani dari belakang dengan gelas bekas teh suaminya .


Malam harinya Khairani susah sekali untuk memejamkan matanya. Kehamilan yang terasa semakin berat dan kesusahan mencari posisi tidur yang nyaman di tambah lagi dengan pikirannya yang dipenuhi oleh pembicaraan Bakri dan Luki di telepon.


Akhirnya dia memilih untuk mengadu kepada pemilik kehidupan. Dengan isak tangis yang tertahan Khairani melepaskan kegundahan hatinya. Puas memunajad Khairani pun kembali membaringkan tubuh nya di samping Bakri yang sudah dari tadi terlelap karena kelelahan. Memandang wajah suaminya sebentar dan akhirnya terlelap dengan sendirinya.


Sejak pagi Khairani merasa perutnya sakit ,sebentar hilang terus beberapa lama kemudian rasa sakit itu datang lagi. Tetapi Khairani mengabaikan rasa sakit nya.


Menjelang sore sakit yang semakin sering membuat Khairani melemah. Ketika dia mengambil minum di dapur tak sengaja Fariz melihat Khairani berpegang kuat pada meja sambil merintih menahan rasa sakit. Keringat mengucur deras membasahi keningnya.


"Bunda... ! bunda sakit.. ? " Tanya Fariz cemas.


" Perut bunda sakit.. " Jawab Khairani dengan suara terbata bata.


Setelah membantu bundanya duduk kemudian mengambil gelas yang belum sempat diminum oleh Khairani. Setelah memberi bundanya minum Fariz, berlari ke kamar mengambil keputusan HP untuk menelpon ayahnya.

__ADS_1


"Halo , Yah. "


" Ya Nak , ada apa ? "


" Cepat pulang Yah... Bunda Yah...


"Bunda kenapa ? "


" Bunda perutnya sakit... Fariz takut Yah ."


"Fariz jaga bunda sebentar lagi ayah datang. " Bakri mematikan panggilan telepon dan langsung memesan taksi online. Beberapa menit kemudian taksi yang dipesan pun datang .


"Segera jalan bang... istri saya lagi sakit ."


"Sesuai aplikasi pak.. ?"


"Iya... "Jawab Bakri singkat.


Dua puluh menit kemudian sampai lah Bakri di depan rumah nya.


" Bang.. tunggu sebentar lagi ya ." Tanpa menunggu jawaban supir taksi, Bakri langsung berlari kedalam rumah. Di ruang tamu Khairani telah menunggu bersama Fariz dan Alma.


" Kamu kuat jalan Ran ? "


Dijawab anggukan oleh Khairani. Wajah pucat dan penuh keringat menjadi bukti dahsyatnya rasa sakit yang dia rasakan. Dengan dipapah oleh Bakri, Khairani mulai melangkah kearah taksi ,diikuti oleh Fariz dan Alma dari belakang.


Setelah mendudukan Khairani dengan aman di kursi penumpang Bakri berbalik menghadap Faris dan Alma yang masih menunggu dengan wajah cemas.


" Riz... sini tas dan koper bunda. Kamu sama Alma tunggu dirumah ya, HP bunda kamu pegang aja nanti ayah suruh Bang Luki di temani malam ini. Hati hati dirumah ,kalau ada apa apa telepon Ayah. Ayah pergi dulu ." Bakri langsung masuk ke dalam taksi dan duduk di samping Khairani .


"Iya Yah , jaga Bunda ,Yah .Kabari kalau udah lahir adeknya ."Jawab Fariz


"Baik Nak ,Ayah pergi. "


Sesampainya di rumah sakit ,Khairani di bantu Bakri dan dua orang suster untuk naik ke Stretcher, kemudian didorong ke UGD.


"Maaf pak... sampai disini aja antarnya biarkan kami periksa ibunya dulu ."


Bakri hanya bisa menatap istrinya yang dari tadi merintih tanpa suara dibawa ke ruangan untuk diperiksa .


Beberapa menit kemudian...


"Keluarga Ibu Khairani...


"Saya suaminya sus ."


"Ada yang mau kami tanyakan ,Pak . Ibu Khairani nya bisa kontrol dengan siapa ,Pak ? "


"Dokter Ridha Sus , bagaimana kondisi istri saya. "


"Nanti dokter yang akan menjelaskan nya ya Pak . Permisi saya harus hubungi Dokter Ridha dulu ."


Bakri duduk di kursi tunggu depan ruangan tempat Khairani berada. Menyandarkan punggung nya dengan kepala tengadah keatas. Bakri memejamkan matanya dan kedua tangannya bersedekap di depan dada. Berusaha menenangkan pikirannya yang kacau dan frustrasi. Hingga dia tersentak ketika mendengar seseorang memanggil nama nya.


" Pak Bakri ,bisa ikut saya sebentar..." Ternyata Dokter Ridha sudah ada di hadapannya.


"Baik Dok ."


Setibanya diruangan Dokter Ridha...


"Silakan duduk Pak ."

__ADS_1


"Terimakasih Dok ." Bakri duduk sembari melihat Dokter Ridha yang sibuk mengeluarkan beberapa berkas dan meletakkan nya di dalam sebuah map, kemudian menyodorkan map tersebut kehadapan Bakri.


Menyadari kebingungan Bakri Dokter Ridha langsung menjelaskan .


"Silakan Bapak baca dan tanda tangani . Ibu Kairani tidak bisa menuggu lebih lama lagi ."


"Bagaimana keadaannya sekarang Dokter. " ucap Bakri dengan cemas .


" Harus segera di operasi Pak . Untuk menghindari resiko yang pernah kita bicarakan tempo hari .


"Baiklah dokter... lakukan yang terbaik untuk istri dan anak saya . "Ucap Bakri sambil meraih berkas itu dan menandatangani nya.


"Boleh saya ketemu dengan istri saya Dokter ? "


"Tentu saja boleh... tapi sebaiknya bapak ke bagian administrasi dulu supaya bisa segera dilakukan tindakan ."


"Baik Dokter , terimakasih ...saya pergi dulu... !! " Bakri pergi tanpa menunggu jawaban Dokter Ridha. Bergegas menuju bagian administrasi.


"Selamat sore sus, atas nama Khairani ."


"Baik pak sebentar saya cek dulu.. mau dilunasi atau DP dulu , Pak "


"Dp dulu Sus ,Lima juta dulu boleh... ? " Tanya Bakri sambil menyerahkan uang itu ke arah suster.


"Boleh Pak ."


Setelah menghitung dan memastikan uangnya cukup, suster itu menyerahkan kwitansi pembayarannya.


"Terimakasih , Sus." Ucap Bakri sambil berdiri dari duduknya.


"Sama sama aja Pak ."


*****


Dengan perasaan yang tidak menentu Bakri melangkah menuju ruangan tempat istrinya yang lagi bersiap untuk memasuki kamar ruang operasi. Dengan pelan dia menekan handel pintu, setelah terbuka dia melihat Khairani yang telah memakai pakaian steril .Dia mendekat seraya tersenyum dan meraih tangan lembut istrinya lalu berkata..


"Apa sangat sakit ? "


"Sangat... " Balas Khairani dengan senyum dan tatapan sendu.


"Sabar ya ...sebentar lagi tidak akan terasa sakitnya . Maaf tidak bisa menemani mu ."


"Tidak apa Bang . Bantu doa yaa. Bang... gimana dengan biaya operasi nya ? "


" Fokus untuk operasi aja Rani . Yang lain biar abang yang pikirkan. Jangan stres nanti tekanan darahnya naik, malah susah jadinya ." Khairani mulai berkaca kaca ,ketika seorang suster masuk .


"Permisi Pak , Ibu Khairani sudah waktunya masuk ruang observasi menjelang SC ."


"Baik ,Sus . Ran abang tunggu kamu . Kembalilah dengan membawa malaikat kecil kita." Ucap Bakri sambil menghapus air mata Khairani yang sudah membasahi pipinya.


Selanjutnya yang terdengar hanyalah bunyi bising dari roda strecher yang beradu dengan lantai lorong sepi itu. Bakri hanya dapat memandangi sang istri hingga menghilang terhalang pintu .


Tubuh yang tadi terlihat kokoh akhirnya merosot bersandar di dinding dingin. Berpura pura baik baik saja di depan sang istri seperti biasanya. Tak hanya tubuhnya yang lelah, tapi jiwanya juga rapuh.


Dengan menengadahkan kepalanya ke atas ,menatap langit langit lorong itu, hanya untuk menahan agar cairan bening di mata nya tak luruh.


Ada sepasang mata yang tak sengaja mengamati peristiwa itu.Seakan memahami kepiluan yang tersirat disana.


*****


🌺 Salam hangat untuk semua 😘😘

__ADS_1


kirim semangat lagi yaa Author lagi lemas bingit nih... 🌺


__ADS_2