Disaat Kau Pergi

Disaat Kau Pergi
Pesan terakhir


__ADS_3

Seorang pria paruh baya berusia lima puluh tahun duduk tertunduk di sebuah pusara. Tangannya masih terlihat sangat kuat menarik rumput rumput liar yang tumbuh di pusara itu. Pria itu masih terlihat gagah dan tampan walau usianya tidak muda lagi.


Sesekali dia berdiri membuang rumput yang telah dicabutnya ke samping pusara itu. Setelah terlihat bersih barulah dia duduk kembali menghadap ke pusara itu. Kemudian dia mengusap nisan yang agak kusam tertutup debu.


" Hai, Ri. Lama aku tidak kesini, maaf ! Kami tinggal di Jepang sekarang. Khairani dan anak anak juga. Fariz sudah dewasa sekarang. Dia mirip sekali denganmu. Dingin dan bersahaja, pintar dan berwibawa. Di usianya yang ke duapuluh tahun, dia bisa menyelesaikan S1 nya. Dan sekarang lagi melanjutkan ke S2. Disamping itu kini dia telah mampu memimpin Perusahaan. Hebatkan ?!"


" Itu semua berkat bibitmu yang berkualitas dan didikanku tentunya. Kamu harus berterimakasih padaku .Oh tidak, tidak... aku yang berterimakasih padamu. " Pria itu terkekeh sendiri.


" Terimakasih telah memberiku keluarga yang lengkap. Istri yang sholehah, anak anak yang membanggakan. Juga kesempatan untuk hadir di tengah tengah mereka.Tapi...maaf aku belum menyampaikan wasiatmu yang terakhir. Aku takut dia akan kembali memikirkanmu. Aku egoiskan ? he... he... he. "


"Anggap saja begitu, tapi aku janji akan menyampaikannya nanti, bersabarlah. " Tangan yang masih kokoh itu kembali mengusap nisan itu.


" Ri ,Alma juga sudah besar. Dia persis Khairani hanya saja lebih manja dan sedikit centil. " Farhan terkekeh.


Ingatannya kembali mengenang perdebatan di pagi hari antara Alma dan Khairani.


Flashback on


" Good morning everybody !! Halo Mommy cantik, sarapan apa hari ini ? " Alma yang baru turun dari kamarnya, langsung mencium pipi Khairani setelah mengeluarkan sapaan khas Alma.


" Mommy...mommy... Bunda Alma ! Tidak ada mommy mammyan." Bentak Khairani jengkel dengan panggilan dari Alma.


" Come on, Mom. Ini Jepang bukan Pekanbaru. Benarkan Dad ? " Tanya Alma dengan menatap ke arah Farhan.


" Its right Baby ." Jawab Farhan dan mendapat delikan tajam dari Khairani ." Aku benarkan, ini Jepang bukan Pekanbaru. Trus salahnya dimana ." Lanjut Farhan setengah gugup.


Khairani tidak menjawab, hanya mendengus lalu kembali ke dapur mengambil menu sarapan yang masih tertinggal.


" Oh Daddy ,I love you. " Ucap Alma senang sembari mengirim kiss jauh untuk Papinya.


" Love you too ,Baby. " Balas Farhan sambil tersenyum .


Sementara Fariz yang menyaksikan perdebatan itu hanya geleng geleng kepala.


Begitulah setiap paginya, ada saja perdebatan unfaedah yang terjadi disaat sarapan. Belum lagi perdebatan antara tiga bocah yang seusia yang kini telah duduk di bangku sekolah dasar. Dan teriakan Ezel yang sekalu ingin diperhatikan.


Cerita indah yang mewarnai hidup Khairani dan Farhan dengan keenam anak mereka.


Flashback off


" Tapi maaf aku tidak membawa Fariz dan Alma. Fariz menggantikan aku di Perusahaan, dan Alma lagi sibuk mendaftar kuliah. "


" Apa kamu rindu Khairani ? Tenang, sebentar lagi pasti dia kesini. Dia tambah cantik tapi tambah cerewet. " Farhan kembali terkekeh.

__ADS_1


" Tapi aku suka, walau dia bawel. Kalau dia diam berarti ngambek dan aku tidak suka itu. Duniaku sunyi tanpa mereka, Bakri. "


" Cuph"


Tiba tiba sebuah kecupan mendarat di pipi Farhan. Pelakunya ikutan duduk di samping Farhan. Siapa lagi kalau bukan Khairani.


" Kamu sudah selesai gibahnya. " Ucap Khairani sambil menoleh ke arah Farhan.


" Mana ada aku gibah, Yang.Tanya saja sendiri. " Ucap Farhan pura pura sewot padahal takut ketahuan.


" Aku dengar kok, tadi ada yang bilang aku cerewet ,bawel. " Khairani mengerlingkan matanya.


" O... Oh itu pujian, sayang. Aku suka kamu cerewet. " Farhan terpaksa nyengir kuda menanggapi.


" Alasan. " Khairani kembali menatap pusara Bakri yang tampak bersih.


" Assalamualaikum, Bang. " Semoga Abang bahagia dan ditempatkan ditempat yang layak disana. Aku dan anak anak sudah bahagia berkat teman mu ini. Maaf jika kami jarang kemari karena jarak yang membentang ini. Tapi Abang akan selalu di hati kami. "


" Disaat kamu pergi, Bang Farhan lah yang mengambil alih tugas mu terhadap aku dan anak anak juga usaha yang Abang rintis. Semoga sekarang Bang Bakri bisa tenang di sana. " Khairani kembali menoleh ke Farhan. Yang ternyata Farhan sedang menatap Khairani.


" Ada pesan terakhir dari Bakri yang belum aku sampaikan padamu. Karena aku belum siap, sekarang aku siap untuk mengatakannya karena aku yakin akan cintamu padaku. "


" Apa pesannya ? " Tanya Khairani.


Berat rasanya menyampaikan pesan cinta orang lain kepada istrinya sendiri walaupun orang lain itu adalah suami Khairani kala itu.


" Aku tahu, walaupun dia tidak pernah mengatakannya tapi aku bisa merasakannya. " ungkap Khairani. "Bang, apa kamu menikahiku karena wasiatnya. " lanjut Khairani.


"Tentu saja tidak. Aku sudah menyukaimu sejak pertama kali aku melihatmu. Aku kan sudah mengatakan itu dulu padamu. " Ucap Farhan dengan serius.


" Terus kenapa Bang Bakri bisa tahu kalau kamu menyukai istrinya. " Tanya Khairani sengit.


"Aku tidak tahu. Aku sudah payah menutupinya agar tidak terlalu kentara. Tapi ternyata Bakri lebih peka darimu. " Farhan mencubit lembut hidung Khairani.


" Waktu itu aku istri orang, Bang. Mana mungkin aku memperhatikan laki laki lain. "


"He... he... Benar juga ya. Kamu kan istri shalihah. " Farhan mengecup pipi Khairani gemes.


" Huh, rasanya plong setelah mengatakan semuanya. Setidaknya aku tidak merasa berhutang lagi ." Batin Farhan.


Farhan menarik napas dalam lalu melepaskan dengan kasar. Dia meraih tangan Khairani dan menariknya untuk berdiri.


" Kami pamit dulu, Ri. Lain kali kami kesini lagi dengan anak anak, insya Allah. " Ucapnya pamit.

__ADS_1


Setelah pamit Farhan dan Khairani melangkah beriringan meninggalkan pemakaman umum itu. Dengan berjalan kaki mereka menuju ke rumah Khairani yang tidak jauh dari sana.


Farhan melangkah dengan ringan tanpa beban setelah mengungkapkan apa yang selama ini masih mengganggunya. Merangkul istrinya mesra menuju kebahagiaan bersama anak anak mereka.


...TAMAT...


...****************...


...SEKILAS TENTANG SEASON 2...


Sesosok tubuh ringkih kini terbaring di tempat tidur tak berdaya. Beberapa alat penopang kehidupan menempel padanya. Namun dia masih dalam keadaan sadar.


Di sampingnya sang Asisten setia menemaninya dengan wajah sendu. Setelah tadi mendengar dari Dokter bahwa kondisi sang majikan tidak akan bertahan lama.


" Hiru ,bagaimana kabar anakmu, apa sudah ditemukan ? " Tanya Tuan Endriko dengan suara terbata bata.


" Belum Tuan, dan aku rasa kita tidak akan bertemu lagi dengannya. Tuan jangan dipikirkan, aku sudah pasrah. Ini sudah lebih dari lima belas tahun. " Ucap Hiru Amada dengan tatapan putus asa.


" Cucumu pasti sudah dewasa sekarang. "


" Dia sudah duapuluh satu tahun sekarang. Beruntung dulu Tuan telah menutupi identitasnya. Kalau tidak mungkin dia akan jadi sasaran orang orang itu. "


" Sudah waktunya dia keluar dari tempat persembunyiannya, Hiru ."


" Aku rasa anda benar, Tuan. Sudah cukup kita membinanya .Dan dia sudah melewati pelatihan dengan baik. "


" Sebenarnya aku ingin dia mendampingi Fariz. Entah menjadi istrinya ataupun Asistennya. Fariz butuh seorang yang tangguh disampingnya. Aku takut orang orang itu akan mengusik keluargaku. "


" Tuan tenang saja, jangan terlalu mengkhawatirkan itu. Aku masih sanggup melindungi mereka tentu dengan bantuan Syakira. "


" Aku titip mereka padamu ,Hiru .


...****************...


Hai Sista...💖


Disaat kau pergi udah END ya.. .Nanti ada Season 2 dengan judul yang lain. Ceritanya tentang kisah Fariz.


Kisahnya akan dipenuhi oleh kisah cinta yang tidak terduga dan juga perjodohan. Akan dihiasi dengan sentuhan kriminal dan mafia ala jepang.


Tunggu pengumuman berikutnya ya. Sekarang mau tamatin HARGA DIRI YANG TERJUAL dulu.


Sampai jumpa lagi dilain kisah. Terimakasih dukungannya

__ADS_1


Love you all 💖💖💖


__ADS_2